GsjA Talitakum Korowou

GsjA Talitakum Korowou 1 Timotius 6:12
Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Un STAF

02/09/2021

Renungan Pagi

Tema : Rindu Mengenal Yesus
Nats : Matius 16:1-12

Perikop ini kembali menunjukkan ketegangan antara orang-orang Farisi dan Saduki dengan Yesus. Bagian ini menjadi sangat kontras dibandingkan dengan bagian sebelumnya yang menunjukkan bagaimana orang banyak dapat menyaksikan dan mengalami sendiri perbuatan-perbuatan Yesus yang luar biasa. Tetapi, orang-orang terkemuka itu justru meminta tanda dari Yesus. Persoalannya adalah mereka tidak memiliki iman sehingga tidak bisa melihat kemesiasan Yesus di depan mereka.

Yesus mengingatkan murid-murid agar tidak terpengaruh oleh ragi orang Farisi (6). Tetapi, mereka berpikir bahwa Yesus sedang menyindir mereka (7). Padahal, apa yang dimaksud Yesus adalah pengajaran orang Farisi dan Saduki yang telah menyimpang dari maksud Taurat yang sesungguhnya.

Orang-orang Farisi hanya ingin melihat apa yang ingin mereka lihat sesuai dengan pengetahuan dan perspektif yang mereka miliki. Mereka tidak terbuka bagi kebenaran yang dianugerahkan Allah. Di sisi lain, para murid juga mencoba menafsirkan kata-kata Yesus menurut pemikiran mereka sendiri, dan mereka pun tidak mengerti maksud Yesus.

Seperti orang Farisi dan Saduki, kita kerap kali hanya ingin melihat apa yang ingin kita lihat, sehingga kita tidak pernah terbuka untuk mengalami apa yang telah disingkapkan Tuhan. Bahkan, kita juga kerap kali seperti murid-murid yang mencoba menafsirkan firman Tuhan menurut apa yang menjadi pandangan pribadi kita sendiri. Inilah yang membuat kita kadang tidak dapat melihat pekerjaan-pekerjaan Tuhan atau memahami firman-Nya dengan benar sesuai maksud Allah.

Iman kepada Yesus akan membuat kita terbuka kepada apa yang Dia singkapkan. Ketika kita membaca firman Tuhan, kiranya kita tidak mengartikannya seperti apa yang ingin kita mengerti. Kita harus senantiasa rindu untuk makin mengenal Yesus dan mengerti kebenaran-Nya. Dengan demikian, kita akan makin mengenal dan memiliki pengalaman baru bersama Tuhan. Apakah setiap kali kita membaca firman-Nya, ada hati yang rindu dan terbuka untuk makin mengenal Dia?

29/08/2021

Renungan pagi

Tema : Janganlah Meragukan Tuhan Yesus
Nats : Matius 11:2-19

Firman Tuhan hari ini mengisahkan pertanyaan dari Yohanes Pembaptis kepada Tuhan Yesus. Dalam Matius 11:3 dituliskan bahwa Yohanes menyuruh murid-muridnya bertanya kepada Tuhan Yesus, "Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?"

Yohanes Pembaptis adalah cecala (bhs.Jawa, perintis), voor rijder/pembuka jalan bagi kedatangan Mesias. Ia dengan tegas menyerukan pertobatan dan pemberitaan tentang kedatangan Kerajaan Allah dan Sang Mesias. Dengan berani ia menyerukan pertobatan kepada Herodes. Karena itu, ia ditangkap dan dipenjarakan di benteng Makaerus. Ketika ditahan di dalam penjara, ia mengutus murid-muridnya untuk bertanya kepada Tuhan Yesus.

Yohanes Pembaptis mengharapkan Sang Mesias bersikap sama kerasnya seperti dia. Namun, kenyataan berbeda dari harapannya. Yesus justru lemah lembut, banyak menolong, menyembuhkan orang sakit, memberi makan orang banyak, dan membangkitkan orang mati. Mengapa Yesus tidak bertindak keras seperti dia? Mengapa Yesus tidak melawan Herodes dan membebaskannya?

Keraguan dan pertanyaan dalam hati Yohanes Pembaptis tidak membuat Tuhan Yesus marah atau kecewa. Tuhan Yesus justru meminta murid-murid Yohanes Pembaptis untuk melihat apa yang telah diperbuat-Nya. Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan, dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Tuhan Yesus menceritakan pekerjaan-Nya sebagaimana yang sudah dinubuatkan para nabi dalam PL (bdk. Yesaya 35:5, 6; 42:7; 61:1, 2a).

Kita sering mengalami keraguan tatkala permintaan doa kita tidak dijawab Tuhan. Belajar dari kisah Yohanes Pembaptis dan para muridnya, Tuhan Yesus punya rencana indah untuk kita, tetapi tidak harus sesuai dengan apa yang kita pikirkan dan kita minta. Kita belajar menempatkan kehendak kita di bawah kehendak Tuhan.

Kiranya Tuhan mengampuni kebodohan kita dan mengajar kita untuk bertindak sesuai kehendak-Nya.

29/08/2021

Renungan harian

Tema : Kesungguhan dalam Mengikut Yesus
Nats : Matius 10:34-11:1

Siapa saja yang mengasihi bapa atau ibunya dan anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada Yesus, ia tidak layak bagi-Nya. (37). Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Yesus, ia tidak layak bagi-Nya (39).

Tuhan Yesus telah datang untuk membarui kehidupan menjadi ciptaan baru (bdk. 2Kor 5:17). Dia berkarya dengan tidak tanggung-tanggung, bahkan memenuhi tugas-Nya sampai mati di kayu salib. Kemudian melalui kebangkitan-Nya, Dia membarui ciptaan-Nya dengan kuasa-Nya. Sekarang, siapa saja yang ingin menjadi ciptaan baru, ia harus memiliki sikap yang tidak tanggung-tanggung. Kalau ya, harus ya; kalau tidak, harus tidak. Jadi, siapa saja yang akan menjadi pengikut-Nya dan masuk ke dalam Kerajaan-Nya harus memilih dengan tegas, tidak dengan sikap setengah-setengah.

Siapa saja yang memilih mengikut Yesus harus bersedia menanggung segala konsekuensi atau risiko yang akan dihadapi dalam perjalanan mengikut Tuhan Yesus. Ia harus berani kehilangan segala kesenangan hidup atau kesukaan duniawi bila ia bersedia mengikut Kristus. Hal itu berarti, mengikut Kristus harus 100%, total; sekali lagi, tidak bisa setengah-setengah. Siapa saja yang tidak bersungguh-sungguh dalam mengikut Kristus, ia tidak layak bagi-Nya. Mengapa tidak layak? Karena Tuhan Yesus sudah mengerjakan pertumbuhan kehidupan ciptaan baru 100%.

Ada konsekuensi dalam menanggapi panggilan Kristus. Siapa saja yang menyambut utusan Tuhan Yesus dengan sungguh-sungguh, ia akan mendapat berkat. Akan tetapi, siapa saja yang menolak utusan Tuhan Yesus, ia akan menghadapi penolakan dari Tuhan Yesus di hadapan Allah Bapa. Janganlah kita ragu dalam melakukan pelayanan. Oleh sebab itu, kita harus bersungguh-sungguh dan percaya bahwa misi yang kita emban adalah berdasarkan mandat dari Tuhan Yesus.

Kiranya Allah menolong kita untuk mengikuti dan melayani-Nya dengan 100%. Kita juga harus bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan Yesus yang telah menjadikan kita sebagai ciptaan baru.

28/08/2021

Renungan pagi

Tema : Penyertaan Allah dalam Pelayanan Kita
Nats : Matius 10:16-33

Pemberitaan Kerajaan Allah memiliki konsekuensi yang tidak ringan, seperti yang dialami oleh para rasul. Mereka menghadapi banyak penolakan di mana dunia tidak bersedia bertobat dan kembali kepada Allah.

Penolakan datang dari orang-orang yang akan menyerahkan para rasul kepada majelis agama (17). Orang-orang juga akan menggiring para rasul ke hadapan penguasa-penguasa dan raja-raja (18). Tampaknya, orang-orang bersikap kaku terhadap berita Kerajaan Surga. Saat itu masih banyak orang yang tidak bersedia melepaskan ortodoksi keagamaan mereka. Orang-orang lebih menghargai aturan-aturan agama menurut pikiran mereka sendiri ketimbang merespons cinta kasih Allah.

Demikianlah beberapa konsekuensi yang akan ditanggung para utusan Tuhan Yesus. Namun, mereka diminta tetap bertahan, sebagaimana ditulis dalam ayat 22: "Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat". Artinya, para rasul diminta mempertahankan konsistensi pelayanan mereka.

Hal yang sama tampaknya juga dialami oleh gereja, baik pada abad pertama maupun pada abad berikutnya, hingga termasuk abad sekarang. Betapa banyak ATHG, yaitu Ancaman, Tantangan, Hambatan, dan Gangguan yang dialami oleh gereja. Walau demikian, Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya sendirian. Allah senantiasa menyertai umat-Nya menghadapi konsekuensi pelayanan gerejawi. Selalu terbukti bahwa pada akhirnya gereja dapat bertahan dengan selamat dalam menghadapi dan melewati segala ATHG.

Ada sebuah ungkapan iman yang indah: "Tuhan tidak menjamin pelayaran yang mulus tanpa gelombang dan badai, tetapi Dia menjamin perahu kita akan sampai di pelabuhan dengan selamat." Mari kita sadari konsekuensi di dalam pelayanan kita. Oleh sebab itu, kita diminta konsisten dan teguh melayani dengan keyakinan iman bahwa dalam semuanya itu Tuhan menyertai dan menolong kita.

Kiranya Tuhan menyertai dan memampukan kita untuk memiliki konsistensi dalam menghidupi panggilan pelayanan kita. [SRH]

Baca Gali Alkitab 9

Matius 10:16-33

Yesus menceritakan penderitaan-penderitaan yang akan dialami oleh orang-orang yang diutus-Nya dan dari siapa datangnya berbagai penderitaan tersebut (16). Para murid pun kemudian diajak untuk waspada dan siap menghadapi berbagai macam penderitaan (17-22). Mereka juga diberi petunjuk bagaimana cara untuk menanggung penderitaan dan terus bekerja di tengah penderitaan mereka (23-28).

Namun demikian, Yesus juga menceritakan bahwa Allah sangat peduli terhadap para utusan-Nya. Mereka lebih berharga dari burung pipit (29-31). Jelas, para utusan Allah diminta untuk mengakui Yesus dan tidak menyangkal Dia, baik di hadapan-Nya maupun manusia (32-33).

Sampai saat ini pun, mengikuti, menaati, dan memberitakan Yesus sering kali membangkitkan perlawanan atau penolakan. Pesan Allah bagi orang percaya pada masa kini tidak berubah. Orang percaya tidak perlu takut dan khawatir. Mereka yang bertahan sampai akhir akan mendapat penghargaan yang mulia dari Allah.

26/08/2021

Renungan pagi

Tema : Dipanggil untuk Menyelamatkan Kehidupan
Nats : Matius 10:1-4

Tuhan Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk menyembuhkan orang-orang dari berbagai penyakit dan kelemahan (1).

Angka dua belas mempunyai makna simbolis kedua belas suku Israel, umat pilihan Allah dalam Perjanjian Lama. Pemanggilan kedua belas rasul memiliki makna umat Allah yang dibarui, yaitu jemaat Kristus dalam Perjanjian Baru. Kita dapat belajar dari kedua belas rasul yang diberi kuasa untuk mengusir roh-roh jahat dan menyembuhkan berbagai penyakit dan kelemahan. Hal itu berarti bahwa umat Allah dalam Perjanjian Baru, yaitu gereja, mendapat kuasa sekaligus tugas yang sama.

Pertama, mengusir roh-roh jahat. Roh-roh jahat tidak hanya dimaknai sebagai kekuatan magis atau kekuatan kegelapan seperti jin, setan, dan hantu saja. Roh-roh jahat juga meliputi segala keinginan dan perbuatan jahat dalam kehidupan manusia. Segala bentuk kejahatan dan kriminalitas manusia termasuk di dalamnya. Semua kejahatan harus dilawan oleh para pengikut Kristus.

Kedua, melenyapkan segala penyakit. Hal tersebut berkaitan dengan segala penyakit fisik yang diderita oleh manusia. Artinya, gereja perlu memperlengkapi diri dengan kemampuan teknis dan medis untuk menolong orang sakit.

Ketiga, melenyapkan segala kelemahan. Artinya, gereja dapat melihat kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam kehidupan masyarakat, antara lain keterbelakangan, kebodohan, dan kemiskinan.

Kedua belas rasul itu kini mewujud dalam keberadaan gereja yang mendapat tugas serupa. Karena itu, sebagai utusan Tuhan Yesus, gereja perlu membantu memerangi dan mengusir kejahatan dalam masyarakat, juga perlu terlibat dalam menanggulangi berbagai penyakit dan kelemahan dalam kehidupan masyarakat dengan misalnya menyediakan sarana kesehatan bagi jemaat dan bukan jemaat jika memungkinkan.

Kiranya kita dimampukan untuk mewujudkan karya Kristus, yaitu memberi pertolongan bagi kehidupan masyarakat di dunia.

24/08/2021

Shalom. Selamat malam buat semua sahabat GsjA Talitakum Korowou. Terima kasih sudah mengunjungi, menyukai dan mengikuti halaman kami. Kami sangat berterima kasih dan bersyukur kepada Tuhan Yesus Kristus karena kasih karuniaNya sampai saat ini di tengah tengah pandemi covid-19 ini saya percaya kita semua masih dalam lindungan dan penyertaan Tuhan masih bisa merasakan kesehatan dan umur panjang. Dan kami sangat bersyukur bisa mengenal bapak/ibu, saudara saudara semua melalui halaman kami😊.
Kami, berharap melalui renungan setiap hari yang akan kembali kami bagikan kepada bapak/ibu, saudara saudara sekalian (setelah beberapa bulan kami mengalami gangguan sehingga tidak dapat berbagi renungan setiap hari) dapat menjadi berkat, mengubahkan dan memulihkan kehidupan bapk/ibu, saudara saudara sekalian.

Sekali lagi terima kasih dan kiranya Tuhan Yesus menyertai kita semua. Shalom.

26/05/2021

Renungan Pagi
Kamis, 27 Mei 2021

Tema : Bebas Berekspresi Memuji Tuhan
Nats : Mazmur 150

Ketika kita membaca Mazmur ini, kita dapat membayangkan betapa meriah dan megahnya pesta pujian yang diselenggarakan di dalam tempat ibadah. Pesta yang penuh semarak, sukacita, dan kegembiraan! Pesta yang menyuarakan kesyahduan dalam memuji Tuhan yang kudus dan kebesaran karya-Nya.

Dinamika yang indah dalam puji-pujian tersebut bisa kita lihat dari berjenis-jenis alat musik yang digunakan. Ada tiupan sangkakala, gambus, dan kecapi; ada juga rebana, tari-tarian, permainan kecapi dan seruling. Ada ceracap yang berdenting dan berdentang (3-5). Di sana terdengar pujian yang penuh sukacita dan kesyahduan.

Sang pemimpin ibadah dengan lantang dan penuh semangat terus mengajak umat untuk memuji Tuhan. Ia terus berseru, "Pujilah Allah ... Pujilah Dia ..." (1-5). Umat pun menanggapinya dengan penuh sukacita, menyanyikan pujian bagi Tuhan dengan iringan berbagai alat musik dan tarian.

Melalui Mazmur ini kita belajar bahwa aksi memuji Tuhan dapat kita nyatakan secara bebas melalui berbagai cara. Adanya berbagai alat musik tersebut menandakan bagaimana setiap orang dapat mengekspresikan luapan hatinya. Baik sukacita maupun kesyahduan menjadi dinamika ibadah yang bisa dihayati dan diekspresikan oleh umat. Kesempatan berekspresi ini sesuai dengan gerak yang ada di dalam hati setiap orang. Tidak ada yang membatasi. Dari situ kita sungguh-sungguh bisa merasakan betapa dahsyatnya kuasa pujian dalam nama Tuhan.

Kalau pada zaman dahulu pemazmur saja diberi kebebasan dalam memuji Tuhan, apalagi pada zaman sekarang di mana tuntutan kebebasan makin kuat! Lagu pujian, karya seni, cerita kesaksian, atau bahkan perbuatan menolong sesama, semuanya menyatakan pujian penuh sukacita bagi Allah.

Apa yang disampaikan oleh pemazmur itu sesuai dengan status kita sebagai anak Allah. Oleh karya Kristus, status tersebut kita peroleh. Status itu mestinya menjadikan kita tidak perlu malu atau canggung di hadapan Tuhan. Biarlah semua yang bernapas bebas memuji Tuhan.

24/05/2021

Renungan Pagi.
Selasa, 25 Mei 2021

Tema : Bersama Alam Memuji Tuhan
Nats :Mazmur 148

Mazmur 148 berisi ajakan kepada seluruh ciptaan, baik yang di surga maupun di bumi, untuk memuji Tuhan. Pertama, ada ajakan kepada seluruh isi surga. Kedua, ada ajakan kepada segala yang diciptakan di bumi, baik makhluk hidup yang bernapas maupun benda mati yang tidak bernapas. Dasar dari ajakan tersebut adalah semua yang diajak itu merupakan ciptaan Tuhan dan punya panggilan yang sama untuk memuji Tuhan.

Semua ciptaan bergantung penuh pada Tuhan Sang Pencipta, yang sekaligus Sang Pemelihara. Ia yang menciptakan segala sesuatu dengan firman-Nya, Ia p**a yang memberikan segala ketetapan agar semesta terus berjalan dengan baik (5-6).

Rasa kebersamaan dengan seluruh alam, baik di surga maupun di bumi, yang pemazmur rasakan adalah sesuatu yang sangat indah, istimewa, dan berharga. Perasaan dan ajakan sang pemazmur ini didasarkan pada penghayatan bahwa pemazmur sebagai manusia ada bersama dengan ciptaan yang lain.

Ada kesadaran bahwa alam pun adalah subjek yang turut menyembah Tuhan, bukan objek untuk dieksploitasi. Kesadaran seperti ini menjadi teguran keras kepada kita yang sering kali hanya memusatkan segala sesuatu oleh, dari, dan untuk manusia. Kita bersikap sangat antroposentris. Akibatnya, kita cenderung mengabaikan keberadaan, keterkaitan, bahkan kebersamaan dengan ciptaan yang lain, termasuk ciptaan yang ada di surga yang tak terlihat.

Di tengah kerusakan alam yang menyebabkan ketidakteraturan, bahkan kekacauan musim, banjir, tanah longsor, dan lain-lain, kidung yang dinaikkan pemazmur mengajak kita untuk peduli terhadap alam. Kita diajak untuk tidak menjadikan alam semesta sebagai alat pemuasan nafsu, tetapi sebagai sesama ciptaan yang menyembah Sang Pencipta yang Agung.

Mari kita selalu ingat, peduli, dan melibatkan alam di dalam pujian kepada Allah. Biarlah kiranya semuanya bersama-sama memuji nama Allah Sang Pencipta dan Pemelihara ciptaan-Nya.

23/05/2021

Renungan Pagi
Senin, 24 Mei 2021

Tema : Allah yang Unik
Nats : Mazmur 147

Salah satu sifat manusia adalah kagum akan hal-hal yang unik. Sesuatu yang unik akan bernilai lebih, dan keunikan itu kita sematkan pada sesuatu yang tidak ada bandingannya. Pernahkah kita merenungkan seberapa unik pengenalan kita akan Allah?

Mazmur 147 menguraikan keunikan Allah yang hidup. Allah membangun kota di mana umat-Nya menyembah Dia, dan memulihkan mereka yang patah hati (2-3). Dia berdiri sebagai pembela kaum yang lemah dan menentang mereka yang fasik (6). Allah menciptakan bumi dan memelihara segenap ciptaan (8-9). Ia meneguhkan umat-Nya dan memberkati mereka dengan kesejahteraan hidup (13-14). Dengan kuasa firman-Nya, Ia memerintah bumi (15-18) dan berkomunikasi dengan umat pilihan-Nya (19). Inilah rangkuman segala karya Allah yang diberikan secara unik dan khusus kepada umat-Nya (20).

Pemazmur menegaskan bahwa semua tindakan Allah dikerjakan semata-mata oleh kedaulatan-Nya, tanpa meminta nasihat dari ciptaan-Nya. Maka, satu-satunya respons yang tepat adalah: "Haleluya!" (1, 20). Pujian inilah yang mengawali dan mengakhiri Mazmur.

Allah yang kita sembah di dalam Alkitab adalah Allah yang tidak dapat dibandingkan dengan apa pun di dunia ini. Maka, memuliakan Allah adalah sikap dan tindakan yang seharusnya muncul secara alami dari dalam diri kita.

Sayangnya, manusia memilih untuk menghindari Allah. Dosa menjadi penghalang bagi kita untuk melihat dan mengenali kemuliaan Allah yang unik. Keunikan Allah justru digantikan dengan apa yang fana dari dunia ini. Itulah sebabnya, pemazmur mengingatkan kita kepada pelbagai karya Allah. Dunia tidak mengenali firman Allah, tetapi kita dapat melihat kuasa Allah dan mendengarkan pengajaran-Nya. Seunik itulah pengenalan kita akan Allah! Maka, sekarang kita hidup untuk Allah yang unik, dalam arti menyembah-Nya sebagai satu-satunya Allah yang sejati.

Kemegahan Allah dinyatakan ketika Dia mampu memperlihatkan keunikan-Nya yang melampaui siapa pun. Kepada Allah yang demikian kita bermazmur dan menyanyikan: "Haleluya!"

22/05/2021

Renungan Pagi
Sabtu, 22 Mei 2021

Tema : Haleluya! Pujilah TUHAN!
Nats : Mazmur 146

Kita sering menyanyikan kata "Haleluya". Pertanyaannya: apakah kita tahu alasan dan makna kata yang kita ucapkan dalam nyanyian itu?

Pemazmur mengawali dengan memuji Allah (1-2), dan dia segera mengingatkan kita untuk tidak menaruh kepercayaan kita kepada manusia, seberapa pun tinggi pangkat dan kedudukannya (3). Pemazmur mengingatkan tentang betapa fananya manusia yang tidak memiliki keselamatan pada dirinya. Ketika manusia mati, lenyaplah segala ingatan dan kenangan atas dirinya (4). Apa yang terjadi dengan harta dan simpanannya? Ke mana segala hal yang menjadi tumpuan dan pegangannya selama ini? Itu semua sirna begitu saja.

Maka, diberkatilah mereka yang memiliki Tuhan Allah sebagai sandarannya (5). Ia menciptakan dunia, menebus umat-Nya dari penindasan, dan memulihkan hidup mereka (6-9). Bahkan, kematian tidak dapat menaklukkan-Nya karena Dia adalah Raja untuk selama-lamanya (10).

Inilah keyakinan iman bagi kita yang bersandar pada Tuhan Yesus Kristus, yang berkuasa atas kematian. Dialah jaminan abadi bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Dari keyakinan inilah kita menyanyikan "Haleluya!" Seruan "haleluya" bukanlah sebuah mantra atau ucapan jimat yang menenteramkan jiwa. Lebih daripada itu! Haleluya adalah ungkapan pengakuan iman kita ketika kita mengenali siapa Allah yang kita sembah.

Persoalan terbesar dalam diri banyak manusia adalah mereka ingin memiliki kuasa atas diri dan kehidupan mereka. Manusia lupa bahwa hakikat hidupnya adalah buah karya ciptaan Allah Yang Mahakuasa. Maka, kepada Allahlah kita seharusnya bersandar. Siapa yang kita puji bukan lagi orang lain, atau diri sendiri, melainkan Tuhan, Sang Raja kita. Sebab di dalam nama-Nya ada keselamatan dan pemeliharaan yang kekal.

Jangan mengandalkan harapan pada apa yang fana, karena kuasa kasih Allah jauh lebih nyata, dan akan tetap ada untuk selamanya. Sampai kapan pun, dengan penuh keyakinan iman kita menyanyikan "Haleluya! Pujilah TUHAN!"

20/05/2021

Renungan Pagi

Tema: Di Hadapan Allah
Nats : Mazmur 145

Alkitab mengakui dan menegaskan bahwa Allah adalah Pencipta, Penguasa, dan Pemelihara kehidupan. Allah menciptakan manusia supaya manusia dapat menjadi mitra Allah dalam mengelola dan memimpin dunia ini dalam gaya hidup yang memuliakan Allah.

Mazmur 145 adalah mazmur yang merangkum pengenalan Daud akan Allah yang dia sembah, sebuah pujian syukur atas pemeliharaan Allah yang senantiasa bermurah hati kepada umat-Nya.

Melalui mazmur ini, Daud mengajarkan bagaimana kita memuji Allah. Ia meninggikan Tuhan sebagai Raja karena kebesaran-Nya (1-3). Generasi-generasi akan menyatakan kebesaran karya Tuhan (4-7), demikian juga semua ciptaan.

Karya agung-Nya akan diberitakan ke segala penjuru dunia. Tuhan menopang dan memelihara hidup umat-Nya. Segala jalan-Nya ditandai dengan keadilan dan kesetiaan (10b-20). Karena itu, Daud menyimpulkan puji-pujian kepada Allah sebagai tindakan yang berkelanjutan untuk selamanya (21).

Kejatuhan manusia membawa manusia ke dalam pergumulan untuk dapat memuliakan Allah. Namun, Allah tetap menunjukkan kasih-Nya kepada umat-Nya. Melalui Abraham, Allah memanggil satu umat yang akan memuliakan nama-Nya. Di sepanjang sejarah, Allah adalah Raja atas umat-Nya. Bagaimana kita menghadap Dia? Apa yang harus kita lakukan ketika kita menghadap Dia? Mazmur 145 memberikan jawabannya.

Allah kita adalah Tuhan yang Besar dan Agung. Tangan-Nya menjangkau, meraih, dan menolong kita. Allah setia dalam perkataan-Nya, dan Ia penuh kasih setia dalam perbuatan-Nya. Kuasa kasih Allah tidak pernah berhenti mencari dan meraih umat pilihan-Nya. Oleh karena itu, kita pun tidak akan berhenti memuliakan-Nya. Mari kita menghadap Dia dengan puji-pujian, berharap kepada kasih dan keadilan-Nya. Di hadapan-Nya, kita turut memberitakan karya Allah yang agung seumur hidup kita.

Terpujilah Allah kita yang sejati! Di hadapan Allah, segala ciptaan memuji nama-Nya, Raja yang kekal dan Allah yang setia.

19/05/2021

Renungan Pagi
Kamis, 20 Mei 2021

Tema : Sandaran Kekal
Nats : Mazmur 144

Daud menuliskan nyanyian yang dicatat sebagai Mazmur 144 sebagai ucapan syukur atas penobatannya sebagai raja. Ia kemudian mengungkapkan doanya kepada Tuhan bagi bangsanya dalam perang dan dalam damai. Daud ingin menekankan pentingnya melihat kepada Tuhan sebagai dasar dari sandaran umat kepada-Nya.

Daud mengawali nyanyiannya dengan pujian dan ungkapan yang terus terang di hadapan Allah, karena ia mengenali perhatian Allah atas umat-Nya (1-4). Pengenalan akan Allah memungkinkan Daud untuk menyerukan permohonan supaya Allah bertindak atas bangsa-bangsa yang menindas umat (5-8). Daud kemudian menaikkan syukur kepada Allah atas pemeliharaan-Nya baik dalam kondisi perang maupun damai (9-14). Daud mengajarkan bahwa bagi umat Allah, posisi dan prestasi bukan semata-mata hasil pencapaian mereka, melainkan suatu bukti karya pemeliharaan Allah mereka (15).

Bagaimana kita dapat mengatakan bahwa seseorang diberkati oleh Allah? Apakah artinya kita akan memiliki harta berlimpah dan posisi yang bergengsi? Lihat bagaimana Daud menjabarkan realitas berkat: Allah menyertai dalam keadaan sulit seperti perang, dan keadaan baik yakni damai. Setiap pemberian yang kita terima adalah buah karya Allah bagi pekerjaan-Nya. Hal yang terutama adalah sikap hidup yang siap dan rela merendahkan diri di hadapan Allah.

Yesus Kristus memberi kita kekuatan ketika Ia menjanjikan bahwa Ia pergi menyediakan tempat bagi kita, dan akan kembali menjemput ketika tempat itu sudah tersedia (lih. Yoh 14:1-3). Kalimat ini sesungguhnya menekankan tentang kepastian Allah yang dapat dijadikan sandaran. Masalah muncul ketika manusia tidak mau menyandarkan diri kepada Allah.

Harta abadi bukanlah soal apa yang kita bisa pamerkan, melainkan siapa yang hadir dalam kehidupan kita, baik dalam susah maupun senang. Allah yang sejati adalah Tuhan yang setia, yang senantiasa hadir dalam kehidupan umat-Nya. Dialah sandaran kita yang kekal.

Address

Morowali
94965

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when GsjA Talitakum Korowou posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to GsjA Talitakum Korowou:

Share