Pondok Pesantren Ihya'us Sunnah

Pondok Pesantren Ihya'us Sunnah AMANAH FATHONAH USWAH HASANAH

10/02/2026
Doa Ijazah Dari Syaikhona Kiai Dalhar Magelang yang di berikan kepada Kiai Mahrus Aly kemudian di ijazahkan kepada KH. A...
22/01/2026

Doa Ijazah Dari Syaikhona Kiai Dalhar Magelang yang di berikan kepada Kiai Mahrus Aly kemudian di ijazahkan kepada KH. Ahmad Chalwani

Sebelum menjadi pengasuh besar Lirboyo, Kiai Mahrus Aly adalah sosok santri pengembara.

Beliau mondok dari satu guru ke guru lain, bahkan ketika putra-putranya sudah menjadi kiai.

Kerendahan hatinya luar biasa, bagi beliau, mencari ilmu bukan fase, tapi napas hidup.

Dari sekian guru yang beliau temui, salah satu yang sangat berpengaruh adalah Syaikhona KH. Dalhar Watucongol, Magelang.

Dari ulama inilah Kiai Mahrus menerima ijazah tawassul yang kemudian menjadi amalan luar biasa di kalangan para kiai.

Bertahun-tahun kemudian, ijazah doa itu diwariskan

kepada murid pilihan: KH.

Chalwani Berjan Purworejo.

Namun sebelum mengijazahkan, Kiai Mahrus bertanya, "Kalau kalian selesai tahlil, ziarah wali, bagaimana kalian bertawassul?"

Lalu Kiai Mahrus mengajarkan doa ini, doa yang jarang diketahui orang:

يَا صَاحِبَ هَذِهِ الْمَقْبَرَةِ إِنِّي أَتَوَسَّلُ بِكَ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى فِي قَضَاءِ .... حاجتي

"Wahai pemilik makam ini, aku bertawassul denganmu kepada Allah agar dikabulkan hajatku..."

Kiai Mahrus berkata, "Kalau kamu di makam para wali, sebutkan nama shohibul maqbaroh."

Contoh: Yaa Shoohiba haadzihil maqbaroh... Raden Syahid Sunan Kalijogo... Begitulah adab dalam bertawassul, menghormati wali, bukan menyembah. Semua tetap kembali kepada Allah.

Inilah sanad doa yang tidak jatuh ke sembarang tangan.

Dari wali ke wali, dari guru ke murid yang siap memikul amanah. Semoga kita mendapat keberkahan ilmu para ulama.

Hatim Al-Ashom adalah seorang lelaki miskin. Ia hampir tidak memiliki harta dunia, sementara tanggungan keluarganya cuku...
10/01/2026

Hatim Al-Ashom adalah seorang lelaki miskin. Ia hampir tidak memiliki harta dunia, sementara tanggungan keluarganya cukup banyak.

Suatu hari, ia keluar untuk duduk bersama sahabat-sahabatnya. Mereka berbincang tentang haji, tentang thowaf di Baitulloh, manasik, wukuf di Arofah, doa, munajat, dan limpahan pengalaman ruhani dalam perjalanan suci itu. Hati Hatim pun bergetar, rindu untuk berhaji ke Baitulloh.

Namun ia sadar, dirinya miskin. Tidak ada bekal yang cukup untuk sampai ke Makkah.

Hatim pulang ke rumah. Ia memandang istri dan anak-anaknya lalu berkata: “Wahai keluargaku, aku ingin berhaji tahun ini.”

Istrinya terkejut dan berkata: “Dari mana biaya haji itu?. Engkau hendak pergi dari mana?. Engkau akan meninggalkan kami dengan apa?. Engkau pergi dan membiarkan kami seperti ini?”

Di saat suasana menjadi berat, muncullah cahaya dari dalam rumah.

Putrinya seorang gadis yang salehah, berilmu, zuhud, dan mengenal Tuhannya menatap ayahnya dengan penuh keyakinan, lalu berkata: “Wahai Ayah, ambillah harta itu dan berangkatlah berhaji. Bertawakallah kepada Allah. Kami tidak pernah mengenal Ayah sebagai pemberi rezeki, kami hanya mengenal Ayah sebagai orang yang memakan rezeki. Jika yang makan pergi, maka Sang Pemberi Rezeki tetap ada.”

Betapa dalam pemahaman ini, betapa jernih keyakinan tersebut.

Hatim pun menerima nasihat putrinya. Ia mengambil setengah dari harta yang ada dan meninggalkan setengahnya lagi untuk keluarganya, lalu berangkat menuju Baitulloh.

Hari demi hari berlalu… satu hari, dua hari, tiga hari… Hingga makanan habis dan harta pun lenyap.

Istri dan anak-anak mulai gelisah. Mereka menoleh kepada sang putri dan berkata: “Begini akibatnya?. Engkau yang menyuruh ayahmu pergi, lalu meninggalkan kami dalam kesulitan. Di mana hikmahmu sekarang?”

Putri itu tidak membantah. Ia masuk ke kamarnya, berwudhu, lalu berdiri untuk shalat.

Di sinilah pelajaran pentingnya: Kesabaran saja tidak cukup saat musibah datang, ia harus disertai dengan sholat.

Allah Ta’ala berfirman:

يا ايها الذين امنوا استعينوا بالصبر والصلاة

Dan Rosululloh Shollallohu Alaihi Wasallam apabila menghadapi suatu perkara yang berat, beliau segera menunaikan shalat. Beliau bersabda kepada Bilal:

ارحنا بها يا بلال

Gadis itu pun larut dalam sholatnya. Ia mengadu kepada Allah dengan doa yang keluar dari hati terdalam:

يا من عودتنا فضلك لا تحرمنا من فضلك

Pada saat yang sama, di istana penguasa negeri, sang amir tiba-tiba berdiri dari singgasananya, seakan ada kekuatan yang menggerakkannya. Ia berkata kepada para pengawalnya: “Mari kita keluar melihat keadaan rakyat.”

Mereka pun berkeliling hingga Allah mengarahkan langkah mereka ke rumah Hatim Al-Asham. Sang amir berhenti di depan rumah itu dan merasakan dahaga yang sangat.

Ia berkata: “Aku ingin minum.”

Pintu diketuk. Putri Hatim keluar dan memberikan segelas air. Ketika sang amir meminumnya, ia merasakan seolah-olah air itu lebih manis daripada madu.

Ia bertanya: “Rumah siapa ini?”

Mereka menjawab: “Ini rumah Hatim Al-Ashom.”

Sang amir berkata: “Hamba Allah yang saleh! Di mana dia?”

Dijawab: “Ia sedang dalam perjalanan menuju haji.”

Sang amir berkata: “Wajib bagi kita memuliakan keluarganya saat ia tidak ada.”

Ia pun mengeluarkan sebuah kantong berisi emas dan meletakkannya ke dalam rumah. Lalu ia berkata kepada para pejabat dan pengiringnya: “Siapa yang mencintaiku, hendaklah ia berbuat seperti yang aku lakukan.”

Maka rumah itu pun dipenuhi emas dan dinar.

Ibu dan anak-anak tertawa bahagia. Namun sang putri justru menangis.

Ibunya bertanya: “Mengapa engkau menangis, wahai anakku? Kita kini menjadi orang kaya.”

Putri itu menjawab dengan hati yang penuh iman: “Wahai Ibu, Seorang hamba Allah saja memandang kita, lalu kita menjadi kaya. Maka bagaimana jika Rabb semesta alam memandang kita?”

Oleh Mbah Wahyudi

Address

Dsn. Kesono RT. 10. RW. 02 Ds. Candiharjo Ngoro
Mojokerto
61385

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Pondok Pesantren Ihya'us Sunnah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share