25/04/2022
Apakah Lailatul Qadar Hanya untuk yang Beritikaf saja?
Sedikit catatan seputar malam kemuliaan (Laitaul Qadar).
Dua malam lalu dalam kajian selingan untuk peseta itikaf, ada dua pertanyaan menarik yang dilontarkan oleh seorang peserta kajian. Saya record di sini mudah mudahan bermanfaat.
“Ustadz, apakah keutamaan Lailatul Qadar itu khusus bagi orang yang beritikaf? Atau juga bisa didapatkan oleh kaum muslimin secara umum meskipun mereka tidak bisa beritikaf?”
Kemudian ustadz memberikan jawaban yang lebih kurang begini;
Pertama, Lailatul Qadar sebagaimana kita pahami adalah malam paling istimewa. Bulan paling istimewa dalam setahun adalah bulan Ramadhan, dan yang paling istimewa dari bulan Ramadhan adalah sepuluh hari yang terakhir, karena disitu terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Oleh itu sudah selayaknya seorang muslim berusaha sekuat kemampuan untuk mendapat bagian dari kemuliaan itu. Termasuk dengan cara beritikaf. karena dengan beritikaf berarti seseorang bisa lebih fokus pada ibadahnya.
Kedua, lalu apakah kemuliaan malam Lailatul Qadar itu hanya bisa didapat oleh orang yang beritikaf di masjid? Jawabannya tentu saja istikaf bukan syarat untuk mendapatkan kemuliaan Lailatul Qadar. Artinya keutamaan malam kemuliaan itu -dengan karunia Allah- bisa didapatkan oleh setiap orang yang beriman. Tentu saja mereka yang mengisi malam itu dengan ragam amal ketaatan dan ibadah kepada Allah. Bukan untuk mereka yang mengisinya dengan kesia-siaan. Oleh itu yang tidak bisa beritikaf di masjid, tidak bisa ikut shalat malam di masjid, masih memiliki peluang yang untuk mendapatkan keutamaan malam kemuliaan itu. Kita bisa tetap membaca Al-Qur’an di rumah, yang sakit bisa tetap shalat malam di rumah, yang sudah sepuh tetap bisa shalat dengan duduk bahkan berbaring, tetap bisa memperbanyak dzikir, sedekah, dan segala macam amal shalih lainnya, sehingga dengan demikian kita berharap mendapatkan keutamaan Lailatul Qadar itu.
Pertanyaam keduanya, apakah malam Lailatul Qadar itu ada pada jam tertentu dari malam-malam tertentu, atau berlangsung sepanjang malam?
Ustadz menjawab, jika kita simak kembali surat Al-Qadar, maka kita bisa menyimpulkan bahwa malam Lailatul Qadar itu berlangsung sepanjang malam. Sebagaimana kata ‘lail’ dalam Bahasa Arab adalah sebutan untuk waktu sejak matahari tenggelam di barat hingga terbit fajar: ‘Inna anzalnaahu fii lailatil Qadri….” kemudian ditutup dengan firmanNya, ‘Salaamun hiya hatta? hata? mathla’il fajri’.
Artinya bahwa peluang mendapatkan keutamaan malam kemuliaan itu terbentang dari sejak tenggelam matahari hingga terbit fajar pada setiap malam di sembilan atau sepuluh malam akhir Ramadhan. Maka, jika kita karena suatu keadaan luput dari menghidupkan satu dari sembilan malam, masih ada sisa peluang delapan. Jika luput dua malam dari sepuluh, kita masih punya pelung delapan malam tersisa dan seterusnya. Karena itu p**a orang yang membiarkan sepuluh malam berlalu tanpa makna Rasulullah SAW mengatakan,
"man hurima khairuha faqad hurima..."
"Siapa yang tiada memperoleh keutamaan (malam lailatul qadar itu) dia telah terhalang dari kebaikan yang tidak tergantikan."
Intinya, adalah mari kita berusaha memaksimalkan sisa ramadhan kita dengan sebaik-baiknya dengan amal apa pun yang kita bisa, amal yang sesuai dengan keadaan dan kondisi kita.
Bagi kita yang mungkin siang hari masih harus bekerja keras, sehingga malam hari sudah tubuh sangat lelah, lalu tidur awal, masih ada kesempatan bangun tengah malam. Bangunlah! Baca Al Quran, shalat malam, dzikir, bangunkan keluarga dan seterusnya. Jika terlewat tengah malam, bangunlah pada sepertiga akhir! Bukankah pada sepertiga akhir terkumpul tiga kemulian? Kemuliaan malam Ramadhan, kemuliaan sepuluh malam terakhir, dan kemuliaan sepertiga malam. Wallahu a'lam.