26/07/2026
Minggu, 26 Juli 2026
Liturgi, homili bapak DPSI Ama Teti Gulo
Dalam Homilinya menyampaikan beberapa hal yang harus kita renungkan bersama.
**Menjual Segala Sesuatu demi Harta yang Tak Ternilai**
(Merenungkan Matius 13,45-52)
Di bawah atap gereja yang penuh dengan jemaat yang berhimpun, sebuah pemandangan yang menyentuh hati terhampar. Kita melihat umat Allah yang sederhana, duduk di kursi plastik yang utilitarian, namun pandangan mereka tertuju pada pusat perhatian: Salib Kristus yang agung dan Gua Maria yang teduh. Pemandangan ini mengingatkan kita akan perumpamaan tentang pedagang yang mencari mutiara berharga dan orang yang menemukan harta karun di ladang.
**Sebuah Panggilan untuk Penyerahan Total**
Tema "ia menjual seluruh miliknya, lalu membeli Ladang itu" bukan hanya tentang transaksi fisik, melainkan tentang pengorbanan rohani yang total. Kristus yang tersalib, yang menjadi pusat gambar, adalah "Ladang Berharga" itu. Dia memberikan segalanya—nyawa-Nya—untuk menyelamatkan umat manusia. Sekarang, kita, jemaat yang berkumpul, dipanggil untuk "menjual seluruh milik" kita: ego kita, kesombongan kita, keterikatan duniawi kita, dan keraguan kita.
**Mutiara Berharga dalam Kesederhanaan**
Mungkin kita tidak memiliki harta benda yang melimpah, seperti yang tercermin dari kesederhanaan tempat duduk kita, namun ketaatan dan kehadiran kita di hadapan Allah adalah "harga" yang kita bayar untuk "membeli Ladang" itu. Setiap do’a yang dipanjatkan, setiap nyanyian pujian, dan setiap momen keheningan adalah bagian dari penyerahan diri kita.
Bunda Maria di Gualistri adalah model sempurna dari penyerahan total ini. Dengan "Ya" yang tulus kepada kehendak Allah, dia "menjual" semua rencana dan mimpinya untuk "membeli Ladang" demi keselamatan manusia dengan menjadi Bunda Allah. Kehadirannya di gua mengingatkan kita bahwa penyerahan total membawa damai dan pencerahan spiritual.
**Kerajaan Allah di Tengah-tengah Kita**
Perumpamaan ini bukan tentang kehilangan, melainkan tentang perolehan yang tak ternilai. Dengan "menjual" hal-hal yang fana dan egois, kita memperoleh "mutiara" pengenalan akan Kristus dan kedamaian-Nya. Kerajaan Allah tidak jauh; Ia hadir di antara kita, di dalam persekutuan iman ini, di mana setiap orang dipanggil untuk berkontribusi, sekecil apa pun, pada persembahan hati.
Mari kita, seperti jemaat di gambar ini, terus mengarahkan pandangan kita kepada Kristus yang tersalib dan meneladani ketaatan Bunda Maria. Semoga kita memiliki keberanian untuk melepaskan segalanya demi memiliki Harta Abadi dan menjadi saksi Kerajaan Allah di dunia ini.
Amin.
Umat stasi santo Hendrikus tuhemberua, Komsos Paroki SalibSuci Mandrehe sangat antusias mendengarkan firman tuhan yang disampaikan beliau.
Yayasan Salib Suci
Komsos Keuskupan Sibolga