03/03/2023
Selamat Pagi dan damai sejahtera Allah atas kita semua, 🙏✝️🙏
Renungan Jumat, 03 Maret 2023
Mazmur 57: 1-12
1 Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Jangan memusnahkan. Miktam Dari Daud, ketika ia lari dari pada Saul, ke dalam gua.
2 Kasihanilah aku, ya Allah, kasihanilah aku, sebab kepada-Mulah jiwaku berlindung; dalam naungan sayap-Mu aku akan berlindung, sampai berlalu penghancuran itu.3 Aku berseru kepada Allah, Yang Mahatinggi, kepada Allah yang menyelesaikannya bagiku.4 Kiranya Ia mengirim utusan dari sorga dan menyelamatkan aku, mencela orang-orang yang menginjak-injak aku. S el a Kiranya Allah mengirim kasih setia dan kebenaran-Nya.5 Aku terbaring di tengah-tengah singa yang s**a menerkam anak-anak manusia, yang giginya laksana tombak dan panah, dan lidahnya laksana pedang tajam.6 Tinggikanlah diri-Mu mengatasi langit, ya Allah! Biarlah kemuliaan-Mu mengatasi seluruh bumi!7 Mereka memasang jaring terhadap langkah-langkahku, ditundukkannya jiwaku, mereka menggali lobang di depanku, tetapi mereka sendiri jatuh ke dalamnya. Sela
8 Hatiku siap, ya Allah, hatiku siap; aku mau menyanyi, aku mau bermazmur.9 Bangunlah, hai jiwaku, bangunlah, hai gambus dan kecapi, aku mau membangunkan fajar! 10 Aku mau bersyukur kepada-Mu di antara bangsa-bangsa, ya Tuhan, aku mau bermazmur bagi-Mu di antara suku-suku bangsa;11 sebab kasih setia-Mu besar sampai ke langit, dan kebenaran-Mu sampai ke awan-awan.12 Tinggikanlah diri-Mu mengatasi langit, ya Allah! Biarlah kemuliaan-Mu mengatasi seluruh bumi!
Mazmur ke-57 adalah mazmur doa di mana Daud sekali lagi mengeluh tentang Saul dan para pegawainya - saat dia merangkak menjauh dari mereka ke dalam gua. Ini memiliki makna yang sama dengan mazmur sebelumnya. Oleh karena itu, kita juga akan menggunakannya juga terhadap para raja lalim dan bisa para penasehat dan para pemfitnah, yang memutarbalikkan Firman Tuhan terhadap kita. Mereka memiliki taring dan lidah untuk pekerjaan semacam itu, seperti - kata Daud - tombak, anak panah, dan pedang tajam. Tapi syukur kepada Tuhan, yang tidak meninggalkan kita, tapi melemparkan mereka ke dalam lubang yang telah mereka persiapkan untuk kita. Persekongkolan mereka akhirnya turun atas kepala mereka sendiri.
(Renungan ini diambil dan diterjemahkan secara bebas dari buku : Reading the Psalms with Luther")
Doa
Tuhan, yang telah memerintahkan kami untuk berdoa dan telah berjanji untuk mendengar, lihatlah bahwa kami tidak mampu dan tidak tahu bagaimana harus berdoa seharusnya. Berilah kami RohMu, Roh doa, untuk mengajar kami berdoa dalam roh dan kebenaran, dan untuk menengahi kami dengan keluh yang tidak bisa diucapkan; dan setiap kali kami berdoa, dengarkanlah kami dari takhta-Mu di sorga, melalui Yesus Kristus yang memerintah bersama Engkau dan Roh Kudus, Allah yang Esa, dulu sejak permulaan, kini dan selamanya. Amen. 🙏✝️❤️🙏
Ayat Bacaan Hari ini :
* # Mika 1:1-7 # Bacaan Pagi #
* #. Mazmur / Psalm 57 # Khusus dijelaskan
* #. Lukas 1:1-4 # Bacaan Malam #
Pengajaran/ Penjelasan Katekhismus Besar Martin Luther tentang Doa :
Allah Memerintahkan Kita untuk Berdoa
[4] Namun, sebelum kita menjelaskan Doa Bapa Kami secara terinci, yang terpenting ialah menggugah dan mendorong orang untuk berdoa, sebagaimana juga dilakukan Kristus dan para rasul.[5] Pertama sekali,
perlu diketahui bahwa kita berdoa karena Allahlah yang menyuruh kita berbuat demikian. Inilah yang dikatakan dalam Firman Kedua: ”Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan.” Firman ini menghendaki agar kita memuji nama Allah dan berseru kepada nama
itu atau berdoa dalam setiap kes**aran. Sebab berseru kepada namaNya sama dengan berdoa. [6] Maka perintah untuk berdoa sungguh penting dan tegas sama seperti perintah ”Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku”, ”jangan membunuh”, ”jangan mencuri” dan lain-lain. Jangan seorang pun berpikir seperti orang bebal yang mempunyai pikiran yang keliru: tidak menjadi masalah apakah saya berdoa atau tidak.
”Mengapa saya harus berdoa?” tanya mereka. ”Siapa yang tahu, apakah
Allah mempedulikan doa saya atau mau mendengarnya? Kalau saya tidak berdoa, toh orang lain akan berdoa juga.” Lalu saya tidak berdoa sama sekali. Sebagai alasan, mereka mengatakan bahwa kami menentang doa yang kosong dan palsu – seolah-olah kami mengajarkan tidak perlu berdoa sama sekali.
Allah Menghendaki Kita Berdoa
[7] Memang benar, ”doa” yang biasa diulang-ulangi dan didengung-dengungkan di gereja dan tempat-tempat lain sama sekali bukanlah doa. Sepintas tampaknya doa yang demikian dapat menjadi latihan bagi anak-
anak kecil, anak-anak sekolah dan orang awam. [8] Seperti yang kita pelajari dari Firman Kedua, doa berarti berseru kepada Allah dalam setiap kes**aran.
Ia menghendaki kita berbuat demikian, bukan kita yang memutuskan demikian. Kita mesti dan harus berdoa jika kita ingin
menjadi orang Kristen, sebagaimana kita harus patuh kepada orangtua kita dan semua penguasa. Sebab dengan berseru kepada Allah dan berdoa, kita menunjukkan bahwa kita menghormati nama-Nya dan memakainya dengan benar. Inilah yang paling penting dicamkan sehingga kita
dapat membungkam dan menyingkirkan pikiran-pikiran yang menghalangi dan melemahkan kita untuk tidak berdoa. [9] Seorang anak tidak sepantasnya berkata kepada ayahnya, ”Untuk apa patuh kepadamu? Masa bodoh! Aku akan berbuat ses**a hatiku.” Akan tetapi, firman itu
menegaskan, ”Engkau harus patuh!” Jadi bukan tergantung pada saya untuk memutuskan apakah saya berdoa atau tidak. Saya mesti dan harus berdoa; {kalau tidak, saya membuat Allah marah dan merasa tidak senang}.
Allah Menghendaki Doa-doa Kita
[10] Inilah yang paling penting dipahami dan dicamkan sehingga kamu dapat membungkam dan menyingkirkan pikiran-pikiran yang menghalangi dan melemahkan kita agar kita tidak berdoa, seakan-akan tidak apa-apa jika kita tidak berdoa, atau seolah-olah orang yang disuruh untuk berdoa lebih kudus dan lebih baik hubungannya dengan Allah ketimbang kita. Hati manusia pada hakikatnya begitu lemah sehingga selalu berpaling dari Allah, dan membayangkan bahwa Ia tidak meng-
hendaki atau menyukai doa-doa kita karena kita adalah orang-orang berdosa dan tidak layak menerima apa pun selain murka-Nya. [11] Dengan kata lain, agar kita luput dari pikiran-pikiran ini mesti mengindahkan
perintah untuk berdoa dan berpaling kepada Allah sehingga kita tidak membuat-Nya makin murka dengan tidak patuh kepada-Nya. Dengan perintah ini, Dia menyatakan dengan cukup jelas bahwa Dia tidak ingin menolak atau menghalau kita sekalipun kita adalah orang-orang ber-
dosa. Sebaliknya, Dia ingin mendekatkan kita kepada-Nya supaya kita merendahkan diri di hadapan-Nya, menyampaikan segala kesulitan dan persoalan kita kepada-Nya, serta memohon kemurahan hati dan perto-
longan-Nya. Dalam Kitab Suci kita membaca bahwa Allah murka sebab walaupun Dia telah menghukum orang-orang yang berbuat dosa, mereka tidak kembali kepada-Nya, meredakan murka-Nya dan memohon kemurahan hatinya-Nya melalui doa.