07/08/2018
(BILANGAN 28-34; MARKUS 7-12)
Dalam Markus 7:9,13 secara eksplisit Yesus menentang adat-istiadat Yahudi yang mensakralkan ritual cuci tangan sebelum makan dan indoktrinasi persembahan yang mengesampingkan kemanusiaan.
Kata "adat istiadat" (Yun. "paradosis") dalam teks ini merupakan nomina kasus datif (obyek tak langsung). "Paradidomi" merupakan bentukan dari kata kerja "paradisis" yang berarti: mempercayakan, mempertaruhkan. Ini mengindikasikan bahwa "adat istiadat" yang ditentang Yesus bukan pada unsur lahiriah yang kelihatan namun lebih pada unsur batiniah yang mendasari sehingga terjadi pengkultusan terhadap sikap/perbuatan lahiriah tertentu. YESUS menentang "pengabdi-pengabdi adat istiadat atau melakukan sesuatu karena tatanan manusia semata."
Intinya tidak ada yang salah dengan mencuci tangan sebelum makan atau memberi persembahan kepada Allah.
Pelayanan yang dilakukan untuk mencari kehormatan diri adalah adat istiadat yang harus dijauhkan dari kehidupan Kristen. Mengagungkan seseorang termasuk para pimpinan rohani tertentu juga merupakan sesuatu yang menyesatkan. Pengklasifikasian para hamba Tuhan berdasar apa yang dipakainya itu kesombongan. Berdoa untuk menyenangkan pimpinan juga merupakan bentuk keberhalaan. Termasuk jika kami bangun Komunitas Baca Alkitab di rumah hanya untuk berpamer diri apa lagi sampai menghakimi yang belum melakukannya itu juga dicibir Tuhan. Apalagi jika tulisan ini kutujukan hanya untuk menyerang sahabat dari kalangan (maaf) yang "anti adat" terkutuklah aku.
Bagaimana dengan adat istiadat tradisional yang diwariskan leluhur? Tergantung bagaimana kita menyikapi, apa konsep diri tentangnya. Suatu saat Yesus menghadiri acara pernikahan di Kana dan merubah air menjadi anggur itu karena tradisi bukan karena Firman Tuhan yang berkata bahwa "Pesta yang benar harus disertai jamuan anggur" (bd Yoh 2:1-11).
Jangan kita coba menjadikan sesuatu yang etis, klinis, estetis, tradisis, rutinis, pengalaman menjadi standar kebenaran dengan memperalat Firman Tuhan.
Sesuatu yang dilakukan dan ditekankan namun keluar dari nilai kasih terhadap TUHAN Allah dan manusia itu salah. Perhatikan bagaimana Yesus akhirnya mengarahkan opini pendengar pada Markus 12:30-31:"Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.
Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini."
Akhirnya:"Apa pun juga yang kita perbuat, perbuatlah dengan segenap hati seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia" (Kol 3:23) atau lakukanlah sesuatu yang tujuannya bukan untuk menghantam sesama kita.
Aplikasi terhadapku jika aku bersharing mengenai renungan singkat dari sari bacaan kami setiap hari itu adalah karena mengikuti dorongan Roh Kudus dalam diri. Terkadang letih menulis di layar sempit setiap tengah malam namun itu didedikasikan untuk TUHANku semoga bisa menjadi berkat bagi sesama atau sahabat.
Jangan kita menyepelekan atau mensakralkan salah satu yang ada di bawah ini ya. Mau pakai silahkan mau tidak juga tidak apa. Yang tidak memakai jangan menghina yang memakai demikian sebaliknya. Adalah baik memakai sesuatu yang pantas.
Tetaplah membaca Alkitab karena FIRMAN-NYA ITU PELITA BAGI KAKI DAN TERANG BAGI JALAN KITA.
Selamat Sore dan Tuhan memberkati