10/12/2025
PERNYATAAN SIKAP
Bishop Romalbest Silitonga - Pimpinan Pusat
Gereja Methodist Wesley**
Shalom, Salve, horas
Saya melihat dinamika mengenai isu “Tutup TPL” semakin hari semakin rumit.
Banyak suara yang muncul, banyak emosi yang dimainkan, dan tidak sedikit pihak yang—disadari atau tidak—memperkeruh keadaan.
Karena itu saya perlu menyampaikan posisi saya secara terbuka dan jujur.
Pertama, saya tidak menggunakan media sosial, buzzer, atau pengerahan massa untuk menyerang siapa pun atau memprovokasi masyarakat.
Gereja Methodist Wesley tidak memakai cara-cara seperti itu. Yang kami lakukan adalah pendekatan persuasif, dialog langsung, dan komunikasi yang bertanggung jawab dengan pihak TPL.
Dalam pertemuan kami, saya menegaskan satu hal: TPL wajib menjalankan SOP, tidak meresahkan, dan tidak merugikan masyarakat. Itu sikap dasar kami—tegas namun dialogis.
Namun ada hal lain yang juga perlu masyarakat ketahui.
Dari berbagai perbincangan dengan petinggi TPL, muncul data bahwa hampir 400 gereja non-aras besar selama bertahun-tahun menerima dana dukungan dari TPL.
Ada yang menerima rutin, ada yang mendapatkan kendaraan, ada yang mendapat alokasi dana miliaran rupiah per tahun.
Saya tidak menyebut nama, saya tidak meminta datanya, dan saya tidak berkepentingan memviralkan daftar tersebut.
Tetapi informasi itu disampaikan langsung kepada saya, dan saya membacanya sendiri.
Di tengah fakta itu, saya perlu menegaskan:
Gereja Methodist Wesley tidak pernah menerima dana tersebut.
HKBP juga tidak pernah menerima, sejauh informasi yang disampaikan.
Kami tidak pernah mengajukan proposal bantuan, bansos, proposal natal, atau bentuk apapun sejak era Indorayon hingga TPL sekarang.
Bahkan pada tahun 1980an, gereja Methodist Wesley pernah menyampaikan protes resmi terkait pendirian Indorayon di lokasi yang sekarang digunakan.
Karena itu, saya mengajak seluruh masyarakat Tapanuli, khususnya jemaat-jemaat gereja, untuk melihat persoalan ini dari berbagai sisi, bukan hanya dari potongan video atau narasi yang disusun untuk memancing emosi.
Banyak gereja yang selama puluhan tahun menerima dana dari Indorayon hingga TPL.
Pertanyaannya:
ke mana dana itu digunakan?
Apakah benar untuk masyarakat?
Untuk jemaat?
Atau hanya memperkaya kelompok tertentu?
Jangan buru-buru menuduh siapa pun sebagai “buzzer TPL” sementara kita belum mengaudit pihak-pihak yang justru menerima dana besar sejak dulu.
Fakta lain yang perlu dicermati:
Pernyataan yang viral dari Pak Maruli Siahaan anggota DPRRI Komisi XIII Fraksi Golkar sebenarnya adalah lanjutan dari pernyataan Ketua DPD PDI Perjuangan Sumut, Pak Rapidin Simbolon. Banyak cuplikan video yang sengaja dipotong agar memunculkan persepsi tertentu.
Inilah sebabnya saya selalu meminta masyarakat Batak:
jangan mau diprovokasi.
Siapa yang memprovokasi dan apa tujuannya—kita belum tahu. Tetapi arah gerakannya menunjukkan bahwa ada kemungkinan bukan soal tutup atau tidak tutup, melainkan soal mengambil alih pengelolaan, seperti kasus Torganda yang baru terjadi.
Karena itu, saya menyerukan:
Bijaklah. Telitilah. Jangan emosional. Jangan mau diperalat.
Dan khusus kepada para pendeta, saya mengajak:
periksa dulu data 400 gereja itu sebelum ikut berteriak-teriak.
Kalau selama puluhan tahun menerima dana, tetapi hari ini berteriak paling keras, itu artinya ada sesuatu yang tidak jujur.
Saya tidak menyebut nama siapa pun.
Saya hanya meminta masyarakat untuk melihat seluruh gambar besar, bukan potongan yang sengaja dibuat untuk memecah-belah kita orang Batak di Tapanuli.
Gereja Methodist Wesley berdiri atas integritas.
Kami tidak menerima dana, tidak meminta dana, tidak mengajukan proposal.
Kami tetap pada jalur:
bersuara untuk kebenaran, menjaga martabat masyarakat, dan mendorong TPL agar bekerja dengan SOP serta tidak merugikan rakyat.
Mari kita tetap tenang.
Gunakan nalar.
Lihat realitas secara utuh.
Dan jangan biarkan Tapanuli dipermainkan oleh kepentingan yang tidak kita ketahui.
Pimpinan Pusat *Gereja Methodist Wesley*
Bishop Romalbest Silitonga