14/04/2026
PERNYATAAN SIKAP ATAS KLARIFIKASI JURUBICARA MUH. JUSUF KALLA
Menanggapi berbagai dinamika yang berkembang, saya memandang klarifikasi dari pihak juru bicara Jusuf Kalla sebagai hal yang penting untuk meluruskan persepsi publik. Pernyataan yang sempat beredar sebelumnya ternyata tidak disampaikan secara utuh dan berpotensi menimbulkan penafsiran yang keliru.
Setelah saya mencermati secara langsung penjelasan beliau secara lengkap, terlihat jelas bahwa pesan utama yang hendak disampaikan adalah ajakan untuk menahan diri dari segala bentuk kekerasan—terutama konflik yang dapat merusak hubungan antarumat beragama. Substansi ini seharusnya menjadi titik temu, bukan sumber perpecahan.
Karena itu, saya mengajak semua pihak untuk menyikapi klarifikasi ini dengan kedewasaan berpikir. Perdebatan yang lahir dari potongan informasi sebaiknya tidak terus dipelihara. Energi kita jauh lebih dibutuhkan untuk hal-hal yang konstruktif: memperkuat persatuan, membangun kepercayaan, dan bekerja nyata bagi kemajuan bangsa.
Kita sedang menghadapi berbagai tantangan yang tidak ringan. Tidak ada ruang bagi perpecahan yang disebabkan oleh kesalahpahaman. Yang dibutuhkan saat ini adalah sikap saling menghargai, kemampuan menahan diri, dan komitmen untuk tetap berdiri bersama dalam keberagaman.
Persatuan bukan sekadar slogan, tetapi keputusan sadar untuk menjaga satu sama lain. Di situlah masa depan bangsa ini ditentukan.
Dalam konteks iman, khususnya bagi gereja-gereja yang mengikuti kalender liturgi, saat ini kita berada dalam rangkaian masa Paskah, termasuk Minggu Quasimodogeniti—yang menggambarkan kehidupan baru “seperti bayi yang baru dilahirkan”.
Momentum ini mengingatkan kita pada inti iman Kristen: kemenangan Kristus atas penderitaan dan kematian. Dia yang disalibkan tidak membalas dengan kebencian, melainkan menghadirkan pengampunan. Dia yang mati, bangkit membawa harapan baru yang tidak tergoyahkan.
Kebangkitan Kristus bukan sekadar doktrin, melainkan panggilan hidup. Kita dipanggil untuk meninggalkan pola lama yang penuh kebencian, dan masuk ke dalam kehidupan yang baru—hidup yang ditandai oleh kasih, pengampunan, dan kerendahan hati.
Sebagai pengikut Kristus, kita tidak boleh berhenti pada pengakuan iman, tetapi harus mewujudkannya dalam tindakan nyata. Hidup dalam terang kebangkitan berarti berani mengampuni, menolak konflik yang sia-sia, dan terus bertumbuh menjadi pribadi yang membawa damai.
Inilah iman yang hidup—iman yang tidak hanya dipercayai, tetapi dijalani.
Bishop R Romalbest Silitonga
[Pimpinan Pusat Gereja Methodist Wesley] Pedang Kasih II Pedang Kasih I