Wesley Methodist Church

Wesley Methodist Church Satu-satunya yang Sah dan terdaftar di Pemerintah. SK Dirjen BIMAS Kristen Depag RI
No.136 Tgl. 3 Juli 1989

GEREJA METHODIST WESLEY
(Wesley Methodist Church)
GMW

SK Dirjen BIMAS Kristen Depag RI
No.136 Tgl. 3 Juli 1989

Kantor Dewan Kebishopan Methodist :
Jl Taud/Sukaria No.76 s.d 90 Kota Medan
Sumatera Utara Kode Pos: 20222

PERNYATAAN SIKAP ATAS KLARIFIKASI JURUBICARA MUH. JUSUF KALLA Menanggapi berbagai dinamika yang berkembang, saya memanda...
14/04/2026

PERNYATAAN SIKAP ATAS KLARIFIKASI JURUBICARA MUH. JUSUF KALLA

Menanggapi berbagai dinamika yang berkembang, saya memandang klarifikasi dari pihak juru bicara Jusuf Kalla sebagai hal yang penting untuk meluruskan persepsi publik. Pernyataan yang sempat beredar sebelumnya ternyata tidak disampaikan secara utuh dan berpotensi menimbulkan penafsiran yang keliru.

Setelah saya mencermati secara langsung penjelasan beliau secara lengkap, terlihat jelas bahwa pesan utama yang hendak disampaikan adalah ajakan untuk menahan diri dari segala bentuk kekerasan—terutama konflik yang dapat merusak hubungan antarumat beragama. Substansi ini seharusnya menjadi titik temu, bukan sumber perpecahan.
Karena itu, saya mengajak semua pihak untuk menyikapi klarifikasi ini dengan kedewasaan berpikir. Perdebatan yang lahir dari potongan informasi sebaiknya tidak terus dipelihara. Energi kita jauh lebih dibutuhkan untuk hal-hal yang konstruktif: memperkuat persatuan, membangun kepercayaan, dan bekerja nyata bagi kemajuan bangsa.
Kita sedang menghadapi berbagai tantangan yang tidak ringan. Tidak ada ruang bagi perpecahan yang disebabkan oleh kesalahpahaman. Yang dibutuhkan saat ini adalah sikap saling menghargai, kemampuan menahan diri, dan komitmen untuk tetap berdiri bersama dalam keberagaman.
Persatuan bukan sekadar slogan, tetapi keputusan sadar untuk menjaga satu sama lain. Di situlah masa depan bangsa ini ditentukan.

Dalam konteks iman, khususnya bagi gereja-gereja yang mengikuti kalender liturgi, saat ini kita berada dalam rangkaian masa Paskah, termasuk Minggu Quasimodogeniti—yang menggambarkan kehidupan baru “seperti bayi yang baru dilahirkan”.

Momentum ini mengingatkan kita pada inti iman Kristen: kemenangan Kristus atas penderitaan dan kematian. Dia yang disalibkan tidak membalas dengan kebencian, melainkan menghadirkan pengampunan. Dia yang mati, bangkit membawa harapan baru yang tidak tergoyahkan.

Kebangkitan Kristus bukan sekadar doktrin, melainkan panggilan hidup. Kita dipanggil untuk meninggalkan pola lama yang penuh kebencian, dan masuk ke dalam kehidupan yang baru—hidup yang ditandai oleh kasih, pengampunan, dan kerendahan hati.

Sebagai pengikut Kristus, kita tidak boleh berhenti pada pengakuan iman, tetapi harus mewujudkannya dalam tindakan nyata. Hidup dalam terang kebangkitan berarti berani mengampuni, menolak konflik yang sia-sia, dan terus bertumbuh menjadi pribadi yang membawa damai.

Inilah iman yang hidup—iman yang tidak hanya dipercayai, tetapi dijalani.

Bishop R Romalbest Silitonga
[Pimpinan Pusat Gereja Methodist Wesley] Pedang Kasih II Pedang Kasih I

11/04/2026

BAPAK M JUSUF KALLA YANG SAYA HORMATI

Dalam beberapa hari terakhir, kembali beredar pernyataan yang dikaitkan dengan nama Bapak Jusuf Kalla dan menimbulkan kegelisahan di tengah masyarakat. Situasi ini tidak dapat dianggap ringan, karena menyentuh isu sensitif yang berkaitan langsung dengan hubungan antarumat beragama di Indonesia.

Apabila benar terdapat pernyataan yang menyebutkan bahwa “orang Kristen yang dibunuh atau membunuh orang Islam adalah syahid”, maka hal tersebut perlu ditegaskan sebagai pernyataan yang keliru dan tidak dapat dibenarkan. Dalam ajaran Kekristenan, tidak ada legitimasi teologis terhadap tindakan kekerasan, apalagi pembunuhan, dalam konteks apa pun. Oleh karena itu, narasi semacam ini bukan hanya menyesatkan secara teologis, tetapi juga berpotensi merusak tatanan sosial yang selama ini dijaga dengan susah payah.

Sebagai tokoh nasional yang memiliki pengaruh luas, setiap pernyataan yang dikaitkan dengan Bapak memiliki dampak besar terhadap stabilitas persepsi publik. Di titik inilah tanggung jawab moral dan keteladanan menjadi sangat penting.

Sehubungan dengan itu, izinkan saya menyampaikan dua hal secara lugas namun penuh hormat:

Pertama, apabila pernyataan tersebut tidak pernah disampaikan, maka klarifikasi terbuka menjadi kebutuhan mendesak. Di tengah derasnya arus disinformasi, sikap diam justru berpotensi memperkeruh keadaan dan memperpanjang polemik yang tidak perlu.

Kedua, apabila pernyataan tersebut memang pernah diutarakan, maka langkah untuk mengakui dan menyampaikan permohonan maaf secara terbuka bukanlah bentuk kelemahan, melainkan wujud kebesaran jiwa dan kedewasaan seorang negarawan. Dalam konteks kepemimpinan publik, keberanian untuk meluruskan kesalahan adalah bagian dari integritas itu sendiri.

Kepada seluruh umat Kristiani dan seluruh elemen bangsa, penting untuk tetap menahan diri dan tidak terprovokasi. Namun pada saat yang sama, kita juga tidak boleh membiarkan narasi yang berpotensi merusak kerukunan berkembang tanpa klarifikasi dan pertanggungjawaban.

Persatuan bangsa tidak dibangun di atas pembiaran terhadap kekeliruan, melainkan di atas keberanian untuk menjaga kebenaran dengan cara yang bermartabat.

Kiranya kebijaksanaan, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap keberagaman terus menjadi dasar kita dalam merawat Indonesia yang damai, adil, dan bersatu.

Bishop Romalbest Silitonga
[Pimpinan Pusat Gereja Methodist Wesley Wilayah Indonesia, Timor Leste dan Papuanugini]

Pedang Kasih I Pedang Kasih II

13/12/2025
10/12/2025

PERNYATAAN SIKAP

Bishop Romalbest Silitonga - Pimpinan Pusat
Gereja Methodist Wesley**

Shalom, Salve, horas

Saya melihat dinamika mengenai isu “Tutup TPL” semakin hari semakin rumit.

Banyak suara yang muncul, banyak emosi yang dimainkan, dan tidak sedikit pihak yang—disadari atau tidak—memperkeruh keadaan.

Karena itu saya perlu menyampaikan posisi saya secara terbuka dan jujur.

Pertama, saya tidak menggunakan media sosial, buzzer, atau pengerahan massa untuk menyerang siapa pun atau memprovokasi masyarakat.

Gereja Methodist Wesley tidak memakai cara-cara seperti itu. Yang kami lakukan adalah pendekatan persuasif, dialog langsung, dan komunikasi yang bertanggung jawab dengan pihak TPL.

Dalam pertemuan kami, saya menegaskan satu hal: TPL wajib menjalankan SOP, tidak meresahkan, dan tidak merugikan masyarakat. Itu sikap dasar kami—tegas namun dialogis.

Namun ada hal lain yang juga perlu masyarakat ketahui.

Dari berbagai perbincangan dengan petinggi TPL, muncul data bahwa hampir 400 gereja non-aras besar selama bertahun-tahun menerima dana dukungan dari TPL.

Ada yang menerima rutin, ada yang mendapatkan kendaraan, ada yang mendapat alokasi dana miliaran rupiah per tahun.

Saya tidak menyebut nama, saya tidak meminta datanya, dan saya tidak berkepentingan memviralkan daftar tersebut.

Tetapi informasi itu disampaikan langsung kepada saya, dan saya membacanya sendiri.

Di tengah fakta itu, saya perlu menegaskan:

Gereja Methodist Wesley tidak pernah menerima dana tersebut.

HKBP juga tidak pernah menerima, sejauh informasi yang disampaikan.

Kami tidak pernah mengajukan proposal bantuan, bansos, proposal natal, atau bentuk apapun sejak era Indorayon hingga TPL sekarang.

Bahkan pada tahun 1980an, gereja Methodist Wesley pernah menyampaikan protes resmi terkait pendirian Indorayon di lokasi yang sekarang digunakan.

Karena itu, saya mengajak seluruh masyarakat Tapanuli, khususnya jemaat-jemaat gereja, untuk melihat persoalan ini dari berbagai sisi, bukan hanya dari potongan video atau narasi yang disusun untuk memancing emosi.

Banyak gereja yang selama puluhan tahun menerima dana dari Indorayon hingga TPL.

Pertanyaannya:
ke mana dana itu digunakan?

Apakah benar untuk masyarakat?

Untuk jemaat?

Atau hanya memperkaya kelompok tertentu?

Jangan buru-buru menuduh siapa pun sebagai “buzzer TPL” sementara kita belum mengaudit pihak-pihak yang justru menerima dana besar sejak dulu.

Fakta lain yang perlu dicermati:

Pernyataan yang viral dari Pak Maruli Siahaan anggota DPRRI Komisi XIII Fraksi Golkar sebenarnya adalah lanjutan dari pernyataan Ketua DPD PDI Perjuangan Sumut, Pak Rapidin Simbolon. Banyak cuplikan video yang sengaja dipotong agar memunculkan persepsi tertentu.

Inilah sebabnya saya selalu meminta masyarakat Batak:
jangan mau diprovokasi.
Siapa yang memprovokasi dan apa tujuannya—kita belum tahu. Tetapi arah gerakannya menunjukkan bahwa ada kemungkinan bukan soal tutup atau tidak tutup, melainkan soal mengambil alih pengelolaan, seperti kasus Torganda yang baru terjadi.

Karena itu, saya menyerukan:
Bijaklah. Telitilah. Jangan emosional. Jangan mau diperalat.

Dan khusus kepada para pendeta, saya mengajak:
periksa dulu data 400 gereja itu sebelum ikut berteriak-teriak.
Kalau selama puluhan tahun menerima dana, tetapi hari ini berteriak paling keras, itu artinya ada sesuatu yang tidak jujur.

Saya tidak menyebut nama siapa pun.
Saya hanya meminta masyarakat untuk melihat seluruh gambar besar, bukan potongan yang sengaja dibuat untuk memecah-belah kita orang Batak di Tapanuli.

Gereja Methodist Wesley berdiri atas integritas.
Kami tidak menerima dana, tidak meminta dana, tidak mengajukan proposal.

Kami tetap pada jalur:
bersuara untuk kebenaran, menjaga martabat masyarakat, dan mendorong TPL agar bekerja dengan SOP serta tidak merugikan rakyat.

Mari kita tetap tenang.

Gunakan nalar.

Lihat realitas secara utuh.

Dan jangan biarkan Tapanuli dipermainkan oleh kepentingan yang tidak kita ketahui.

Pimpinan Pusat *Gereja Methodist Wesley*

Bishop Romalbest Silitonga

Address

Jalan Taud No. 90
Medan
20222

Opening Hours

Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00
Saturday 09:00 - 17:00
Sunday 09:00 - 17:00

Telephone

+62 61 6612 998

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Wesley Methodist Church posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to Wesley Methodist Church:

Share