21/01/2023
Sebelum Tuhan Yesus dipakukan di kayu salib, Dia benar-benar mengalami kehidupan manusia dan membuat banyak perumpamaan. Tapi tahukah Anda pikiran seperti apa yang dimiliki Anak Manusia saat Dia mengalami kehidupan manusia? Membaca firman Tuhan berikut ini selama 3 menit akan membawa Anda masuk ke dalam dunia batin Tuhan Yesus dan merasakan belas kasih dan kasih sayang-Nya bagi umat manusia.👇️👇️👇️
Untuk membaca lebih banyak Firman Tuhan, silakan hubungi kami
“Ketika Tuhan menjadi daging dan hidup di tengah umat manusia untuk waktu yang lama, setelah Ia mengalami dan menyaksikan berbagai macam gaya hidup orang, pengalaman-pengalaman ini menjadi panduan-Nya untuk mengubah bahasa ilahi-Nya ke dalam bahasa manusia. Tentunya, hal-hal yang Ia lihat dan dengar dalam kehidupan turut memperkaya pengalaman Sang Anak Manusia. Ketika Ia ingin membuat orang mengerti akan beberapa kebenaran, membuat mereka mengerti sebagian dari kehendak Tuhan, Ia dapat menggunakan perumpamaan yang mirip dengan yang telah disebutkan di atas untuk menyampaikan kehendak Tuhan dan persyaratan-Nya terhadap manusia. Perumpamaan-perumpamaan tersebut semuanya terkait dengan kehidupan manusia; tidak ada satu pun yang tidak bersentuhan dengan kehidupan manusia. Ketika Tuhan Yesus hidup di tengah umat manusia, Ia melihat petani bekerja di ladang mereka, Ia mengetahui apa itu lalang dan apa itu ragi; Ia mengerti bahwa manusia menyukai harta, jadi Ia menggunakan perumpamaan tentang harta dan mutiara; Ia sering melihat nelayan melempar jala ke laut; dan sebagainya. Tuhan Yesus melihat aktivitas-aktivitas ini dalam kehidupan manusia, dan Ia juga mengalami kehidupan semacam itu. Ia sama seperti manusia-manusia biasa lainnya, Ia makan tiga kali sehari dan mengalami rutinitas sehari-hari. Ia secara pribadi mengalami kehidupan seorang manusia kebanyakan, dan Ia menyaksikan kehidupan orang-orang lain. Ketika Ia menyaksikan dan secara pribadi mengalami semuanya ini, apa yang Ia pikirkan bukanlah tentang bagaimana memiliki kehidupan yang baik atau bagaimana Ia dapat hidup dengan lebih bebas, dengan lebih nyaman. Ketika Tuhan Yesus sedang mengalami kehidupan manusia yang autentik, Ia menyaksikan kesukaran dalam kehidupan orang-orang, Ia menyaksikan kesusahan, kemalangan, dan kesedihan orang-orang yang hidup di bawah pengrusakan Iblis, di bawah kekuasaan Iblis, dan dalam kehidupan berdosa mereka. Ketika Ia sedang mengalami kehidupan manusia secara pribadi, Ia juga mengalami betapa tidak berdayanya orang-orang yang hidup di tengah kerusakan, dan Ia menyaksikan dan mengalami kepedihan yang dirasakan mereka yang hidup dalam dosa, yang tersesat dalam siksaan oleh Iblis, oleh kejahatan. Ketika Tuhan Yesus melihat hal-hal ini, apakah Ia melihatnya dari kacamata keilahian atau kemanusiaan-Nya? Kemanusiaan-Nya itu benar-benar ada—benar-benar hidup—Ia dapat merasakan dan melihat semuanya ini, dan tentu saja Ia juga melihatnya dalam esensi-Nya, dalam keilahian-Nya. Artinya, Kristus itu sendiri, Tuhan Yesus sang manusia menyaksikan ini, dan segala hal yang Ia saksikan membuat-Nya merasakan betapa penting dan betapa perlunya pekerjaan yang telah Ia pikul pada waktu itu dalam daging. Meskipun Ia sendiri mengetahui bahwa tanggung jawab yang perlu Ia pikul dalam daging sangatlah berat, dan betapa kejamnya rasa sakit yang harus Ia tanggung nantinya, saat Ia melihat bahwa umat manusia tidak berdaya dalam dosa, ketika Ia menyaksikan malangnya hidup mereka dan lemahnya pergumulan mereka di bawah hukum Taurat, Ia semakin merasakan kesedihan, dan menjadi semakin gelisah untuk segera menyelamatkan manusia dari dosa. Tak peduli kesulitan seperti apa yang akan Ia hadapi atau derita seperti apa yang harus Ia tanggung, tekad-Nya menjadi semakin bulat untuk menebus umat manusia yang hidup dalam dosa. Selama proses ini, bisa engkau katakan bahwa Tuhan Yesus mulai memahami lebih jelas pekerjaan yang perlu Ia lakukan dan apa yang telah dipercayakan kepada-Nya. Ia juga menjadi semakin ingin menyelesaikan pekerjaan yang harus Ia pikul—untuk menanggung dosa seluruh umat manusia, menebus umat manusia agar supaya mereka tidak lagi hidup dalam dosa dan Tuhan akan dapat melupakan dosa manusia karena korban penebusan dosa, yang memungkinkan-Nya untuk melanjutkan pekerjaan-Nya menyelamatkan umat manusia. Dapat dikatakan bahwa dalam hati Tuhan Yesus, Ia rela menawarkan diri-Nya demi umat manusia, mengorbankan diri-Nya. Ia juga rela menjadi korban penebus dosa, untuk dipakukan pada kayu salib, dan Ia sangat ingin menyelesaikan pekerjaan ini. Ketika Ia menyaksikan betapa menyedihkannya hidup manusia, Ia semakin ingin untuk memenuhi misi-Nya secepat mungkin, tanpa tertunda semenit atau sedetik pun. Ketika merasakan keterdesakan seperti itu, Ia tidak lagi memikirkan betapa luar biasanya rasa sakit yang akan Ia tanggung, Ia tidak lagi memikirkan seberapa dalam penghinaan yang harus Ia terima—hanya ada satu keyakinan dalam hati-Nya: selama Ia mempers