26/04/2026
Banyak orang mengira horror itu soal hantu atau “jump scare.”
Padahal yang mengganggu dari genre ini bukan keduanya.
Menganalisis film “Insidious” (2010), teolog Jesuit Ryan Duns menunjukkan bahwa horror menakutkan karena ia merusak cara kita memahami realitas.
Di awal semua tampak normal: keluarga, rumah, rutinitas.
Lalu perlahan muncul gangguan.
Perabotan berpindah sendiri.
Terdengar suara aneh.
Ada “sesuatu” yang tidak bisa dijelaskan.
Sampai akhirnya terungkap:
“Bukan rumahnya yang berhantu. Tapi anakmu.”
Di titik itu, masalahnya bukan lagi “ada hantu atau tidak.”
Masalahnya: bagaimana kalau dunia ini memang tidak tertutup?
Kita biasanya hidup seolah realitas itu sederhana.
Yang ada hanya yang bisa kita lihat, sentuh, dan jelaskan.
Tapi “Insidious” mengungkapkan kemungkinan lain:
Realitas itu terbuka... dan kalau terbuka, bukan hanya yang baik yang bisa masuk.
Itu yang membuatnya terasa tidak nyaman.
Di sini teologi masuk.
Horror berkata: di balik keterbukaan itu ada sesuatu yang gelap.
Iman Kristen menjawab: di baliknya ada Sang Pencipta.
Kalau dalam “Insidious” yang masuk ke dunia kita adalah sesuatu yang jahat,
maka iman Kristen membuat klaim yang lebih radikal:
yang terutama “masuk” ke dunia ini adalah Tuhan sendiri—
bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk menyelamatkan.
Jadi mungkin, tanpa sadar, film horror melakukan sesuatu yang penting.
Ia meretakkan ilusi kita...
bahwa dunia ini sederhana dan tertutup.
Referensi:
R. Duns. (2024). Theology of horror: The hidden depths of popular films. Notre Dame, IN: University of Notre Dame Press.