Neo Christposting

Neo Christposting "Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan,
tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan." Sayap Pendidikan Kristen Neo Historia Indonesia

Amsal 1:7 (TB)

Kami memperkenalkan wawasan dan ilmu pengetahuan Kristiani dengan lebih menyenangkan.

Yang tenggelam dianggap tak penting, yang selamat merasa paling benar. Logika seperti ini yang bikin para miliarder hari...
31/05/2026

Yang tenggelam dianggap tak penting, yang selamat merasa paling benar. Logika seperti ini yang bikin para miliarder hari ini sibuk borong bunker di Selandia Baru.

Ada ketakutan itu yang kita rawat yaitu tentang bagaimana sebuah penyelamatan sering kali cuma kedok untuk mengunci pintu bagi orang lain. Karenanya, kita sibuk membangun benteng dan tidak ada niat memperbaiki bumi.

Bukan sekadar perdebatan teks, ini adalah refleksi tentang bagaimana identitas "umat terpilih" dibentuk dan dipahami dal...
27/05/2026

Bukan sekadar perdebatan teks, ini adalah refleksi tentang bagaimana identitas "umat terpilih" dibentuk dan dipahami dalam semangat Pentakostalisme.

Tomas bukan sekadar si peragu. Ia adalah murid yang berani jujur pada pertanyaannya dan tetap mencari Yesus di tengah ke...
24/05/2026

Tomas bukan sekadar si peragu. Ia adalah murid yang berani jujur pada pertanyaannya dan tetap mencari Yesus di tengah keraguannAllahku Yesus tidak menjauh darinya. Ia datang, menunjukkan luka-Nya, lalu mengubah ragu menjadi pengakuan iman: “Ya Tuhanku dan Allahku.”

"Kerajaan Allah" adalah frasa yang sangat sering diucapkan di dalam gereja TAPI sangat jarang diperiksa. Diperiksa dalam...
13/05/2026

"Kerajaan Allah" adalah frasa yang sangat sering diucapkan di dalam gereja TAPI sangat jarang diperiksa. Diperiksa dalam artian:

Apakah cara kita (mengelola uang, memilih pemimpin, memperlakukan yang miskin, dan mendefinisikan keberhasilan pelayanan) konsisten dengan apa yang Yesus maksudkan dengan frasa itu?

Ada lubang yang tidak bisa ditambal oleh banyaknya modal maupun kestabilan mental.Jika segalanya tampak beres tapi batin...
10/05/2026

Ada lubang yang tidak bisa ditambal oleh banyaknya modal maupun kestabilan mental.

Jika segalanya tampak beres tapi batinmu tetap terasa asing, berhentilah mendiagnosis diri. Itu disebut adalah krisis eksistensial. Janganlah kita menjadi terlalu sibuk mengumpulkan definisi tentang-Nya sampai lupa bagaimana rasanya disapa Allah.

Banyak film horror membuat kita takut pada apa yang “ada.”Namun, “The Conjuring” (2013) mengganggu karena ia menunjukkan...
03/05/2026

Banyak film horror membuat kita takut pada apa yang “ada.”

Namun, “The Conjuring” (2013) mengganggu karena ia menunjukkan sesuatu yang berbeda:
mungkin yang paling berbahaya... adalah apa yang sudah hilang.

Dalam teologi Augustinus dan Thomas Aquinas, kejahatan bukanlah “sesuatu.”
Kejahatan adalah kebaikan yang seharusnya ada—tetapi hilang.

"The Conjuring" menampilkan gejalanya:

Rumah tidak lagi aman.
Tubuh tidak lagi utuh.
Seorang ibu tidak lagi menjadi dirinya sendiri.

Tidak ada yang ditambahkan.
Yang ada—perlahan diambil.

Dan ini belum yang paling mengerikan.
Karena kejahatan moral tidak hanya merusak korban.
Ia juga merusak pelaku.

Setiap kali kita memilih kejahatan,
kita mengurangi kemanusiaan kita sendiri.

Itulah sebabnya horror terasa dekat.
Kita tidak hanya takut pada monster.

Kita takut pada kemungkinan itu—
bahwa kita sendiri bisa menjadi lebih “kosong” dari yang kita kira.

“The Conjuring” mengajarkan kita bahwa pertanyaanya bukan: “Apakah kejahatan itu nyata?”

Tapi:

Apakah kebaikan dalam diri kita... sudah mulai hilang?

Referensi
R. Duns. (2024). Theology of horror: The hidden depths of popular films. Notre Dame, IN: University of Notre Dame Press.

Banyak orang tahu siapa Freddy Krueger.Wajah terbakar. Sarung tangan pisau. Pemb*nuh di dalam mimpi.Tapi sedikit yang be...
29/04/2026

Banyak orang tahu siapa Freddy Krueger.
Wajah terbakar. Sarung tangan pisau. Pemb*nuh di dalam mimpi.

Tapi sedikit yang benar-benar tahu ceritanya.

Menariknya, teolog Jesuit Ryan Duns bilang hal yang sama juga sering terjadi pada Yesus:
Ia dikenal, tetapi tidak sungguh dimengerti.

Dalam “A Nightmare on Elm Street” (1984), ada satu aturan:
“Kalau engkau m*ti di mimpi, engkau m*ti sungguhan.”
Batas antara khayalan dan realitas ternyata tidak sekuat yang kita kira.

Tapi yang lebih mengganggu dari itu:
Freddy tidak sekadar memb*nuh.
Dia hidup dari rasa takut.
Semakin engkau takut, semakin kuat dia.

Dan dia tidak hanya merusak tubuh—
dia “menyimpan” korbannya sebagai bagian dari dirinya.

Di titik ini, Duns membuat perbandingan yang tidak biasa:
Freddy vs Yesus.

Kedengarannya aneh. Tapi kriteria pembandingnya sederhana:
“Kita mengenal sesuatu dari ‘buah’-nya”

Freddy menghasilkan ketakutan, kehancuran, kematian.
Yesus menghasilkan pengampunan, pemulihan, kehidupan.

Freddy mengambil.
Yesus memberikan diri-Nya.

Dua logika bertolak belakang:
hidup dari ketakutan
atau memberi hidup melalui kasih

Dan di sini filmnya berbalik arah.
Bukan lagi tentang Freddy—
melainkan tentang kita.

Realitas seperti apa yang sedang kita hidupi?

Yang dibentuk oleh ketakutan?
Atau oleh kasih?

Referensi:
R. Duns. (2024). Theology of horror: The hidden depths of popular films. Notre Dame, IN: University of Notre Dame Press.

Kami turut mendoakan proses evakuasi yang berlangsung, tim yang membantu, keluarga yang ditinggalkan semua diberikan kek...
28/04/2026

Kami turut mendoakan proses evakuasi yang berlangsung, tim yang membantu, keluarga yang ditinggalkan semua diberikan kekuatan dalam menghadapi duka ini. Semoga dapat terselesaikan dan dipulihkan dengan baik dan lancar. Amin.

Pdt.  (salah satu anggota ) resmi ditahbiskan sebagai Pendeta GKI Temanggung, 27 April 2026.Selamat melayani. Soli Deo G...
27/04/2026

Pdt. (salah satu anggota ) resmi ditahbiskan sebagai Pendeta GKI Temanggung, 27 April 2026.

Selamat melayani. Soli Deo Gloria. 🙏

Banyak orang mengira horror itu soal hantu atau “jump scare.”Padahal yang mengganggu dari genre ini bukan keduanya.Menga...
26/04/2026

Banyak orang mengira horror itu soal hantu atau “jump scare.”
Padahal yang mengganggu dari genre ini bukan keduanya.

Menganalisis film “Insidious” (2010), teolog Jesuit Ryan Duns menunjukkan bahwa horror menakutkan karena ia merusak cara kita memahami realitas.

Di awal semua tampak normal: keluarga, rumah, rutinitas.
Lalu perlahan muncul gangguan.

Perabotan berpindah sendiri.
Terdengar suara aneh.
Ada “sesuatu” yang tidak bisa dijelaskan.

Sampai akhirnya terungkap:
“Bukan rumahnya yang berhantu. Tapi anakmu.”

Di titik itu, masalahnya bukan lagi “ada hantu atau tidak.”
Masalahnya: bagaimana kalau dunia ini memang tidak tertutup?

Kita biasanya hidup seolah realitas itu sederhana.
Yang ada hanya yang bisa kita lihat, sentuh, dan jelaskan.

Tapi “Insidious” mengungkapkan kemungkinan lain:
Realitas itu terbuka... dan kalau terbuka, bukan hanya yang baik yang bisa masuk.
Itu yang membuatnya terasa tidak nyaman.

Di sini teologi masuk.

Horror berkata: di balik keterbukaan itu ada sesuatu yang gelap.

Iman Kristen menjawab: di baliknya ada Sang Pencipta.

Kalau dalam “Insidious” yang masuk ke dunia kita adalah sesuatu yang jahat,
maka iman Kristen membuat klaim yang lebih radikal:
yang terutama “masuk” ke dunia ini adalah Tuhan sendiri—
bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk menyelamatkan.

Jadi mungkin, tanpa sadar, film horror melakukan sesuatu yang penting.

Ia meretakkan ilusi kita...
bahwa dunia ini sederhana dan tertutup.

Referensi:
R. Duns. (2024). Theology of horror: The hidden depths of popular films. Notre Dame, IN: University of Notre Dame Press.

Address

COHIVE At Clapham
Medan
20231

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Neo Christposting posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share