GKPI J.K Martoba Medan

GKPI J.K Martoba Medan Melayani Bukan Untuk Dilayani

Syaloom amang-inang, saudara-saudari yang di kasihi Kristus Yesus,,dalam pekan suci (Minggu Suci) ini yang akan kita per...
24/03/2024

Syaloom amang-inang, saudara-saudari yang di kasihi Kristus Yesus,,dalam pekan suci (Minggu Suci) ini yang akan kita peringati sebagai hari kebebasan atas dosa² kita melalui pengorbanan Yesus Kristus di Kayu Salib untuk menebus dosa² kita. Maka mari bersama² kita menghadiri jadwal acara yang tertera sebagai wujud nyata kita bahwa kita bersyukur atas segala kebebasan dosa melalui darahNya yang Kudus.

https://drive.google.com/drive/folders/1aIL4S8Wtp-4KkHEIgHA3pIQ2pGlYcOEi?usp=sharing  (Foto Baptisan Kudus)https://drive...
27/12/2022

https://drive.google.com/drive/folders/1aIL4S8Wtp-4KkHEIgHA3pIQ2pGlYcOEi?usp=sharing (Foto Baptisan Kudus)

https://drive.google.com/drive/folders/1zuGRzKP5EPe_kE2oH_fTTUnfA3MSwDtb?usp=sharing (Foto Lepas Sidi)

Shalom, Amang inang dan saudara terkasih GKPI Jemaat Khusus Martoba Medan dalam Tuhan Yesus Kristus, berikut di atas adalah link Foto dalam Acara Baptisan Kudus dan Lepas Sidi..kiranya menjadi berkat untuk kita semua.

Shalom
Horas
Selamat Natal dan Selamat menyambut Tahun baru🎄❄️🎉

Renungan hari ini: *“JANGAN BERBUAT CURANG, TETAPI MENGADILI DENGAN KEBENARAN”* Imamat 19:15 "Janganlah kamu berbuat cur...
21/07/2022

Renungan hari ini:

*“JANGAN BERBUAT CURANG, TETAPI MENGADILI DENGAN KEBENARAN”*

Imamat 19:15 "Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran"

Ada dua kata kunci dalam nas hari ini, yakni pertama adil dan kedua kebenaran. Kita harus adil dalam membela perkara orang kecil dan harus menghindari kecurangan bahkan jangan terpengaruh oleh orang-orang besar. Dengan berlaku adil maka kita juga tentu akan melakukan kebenaran sehingga terhindar dari segala tipu daya.
Keadilan dalam mitologi dilambangkan dengan beberapa gambaran. Menurut mitologi Yunani ada Dewi Themis, ia selalu membawa seperangkat timbangan yang digunakan untuk menimbang kebaikan dan keburukan seseorang sebelum memberikan mas**an terakhir untuk ditentukan nasib jiwa seseorang oleh Hades masuk ke neraka atau surga. Ada juga yang sering kita lihat sehari-hari yang diambil dari mitologi Romawi, Dewi Justitia yang selalu membawa timbangan, pedang bermata dua dan dengan mata yang tertutup kain.

Sebagai seorang manusia, biasanya kita selalu berhitung tentang keadilan memakai timbangan. Orang itu baik menurut kita karena sering baik terhadap kita, orang itu jahat karena dia sering menyakiti kita. Banyak orang selalu berharap bahwa Tuhan juga berlaku seperti kita manusia, pada saat pengadilan khusus nanti saat kita berpulang ke rumah Bapa kebaikan kita dan kesalahan kita ditimbang dan kita berharap kita bisa masuk surga karena kebaikan kita lebih banyak daripada kesalahan kita.

*Kebenaran [dari kata benar] dapat bermakna tindakan dan kata-kata yang jujur dan benar; sesuai dengan asas-asas yang berlaku; dan diterima secara universal oleh [hampir] seluruh umat manusia.* Kebenaran juga bisa berarti ungkapan atau tindakan yang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Benar dan kebenaran yang diterima secara universal tidak terpengaruh oleh sikon apapun, sehingga ada ungkapan bahwa kebenaran harus ditegakkan biarpun dunia runtuh.
Seringkali kebenaran hanya dimaknai dalam hubungan dengan kata-kata dan tindakan seseorang, sehingga muncul ungkapan seperti ia bertindak benar ataupun mereka berkata-kata dengan benar. Padahal, benar dan kebenaran menyangkut atau berhubungan dengan banyak hal, misalnya ajaran-ajaran agama, hukum, sosio-kultural dan iptek. Dengan itu, kebenaran selalu dihubungkan dengan ruang lingkup sikon yang mengikutinya; misalnya kebenaran hukum, kebenaran iptek, kebenaran matematis, kebenaran Ilahi, dan lain sebagainya.
Firman Tuhan mengungkapkan bentuk keadilan yang dikehendaki Tuhan. Kebenaran tidak ditentukan oleh lemah/kuat, miskin/kaya, kecil/besar seseorang. Kebenaran adalah kebenaran sehingga, entah orang besar ataupun orang kecil, semua harus diadili sesuai dengan standar kebenaran yang berlaku. Kita memang cenderung bersimpati kepada mereka yang satu kelompok atau sama posisi dengan kita. Ketika kita masih "orang kecil", kita mempertahankan mati-matian bahwa yang lemahlah yang benar. Namun, saat kita sudah menjadi "orang besar", kita ngotot bahwa "orang besar" juga benar. Kesalahan sikap dan cara pikir yang demikian adalah karena kita mendasarkan kebenaran hanya pada kesamaannya dengan kita. Mungkin kita tidak menjabat sebagai hakim tetapi apa yang kita ucapkan, lewat suara dan jari-jemari yang menghasilkan teks, juga bisa mengadili orang lain. Maka dari itu, kita perlu bijak melihat informasi, terlebih melakukan check and recheck dari berbagai sumber. Janganlah kita menuntut keadilan menurut kita masing-masing. Dalam menjalani hidup ini kita memang harus berjuang, kita harus bekerja dengan tetap semangat, tetap berjalan dalam jalan Tuhan. Karena itu, marilah kita belajar untuk bersikap adil dan benar tanpa memandang kesamaannya dengan kita.

*Selamat berkarya untuk TUHAN*

17/05/2022

Renungan hari ini:
*“PERJANJIAN TUHAN”*

Yehezkiel 16:8
*"Maka Aku lalu dari situ dan Aku melihat engkau, sungguh, engkau sudah sampai pada masa cinta berahi. Aku menghamparkan kain-Ku kepadamu dan menutupi auratmu. Dengan sumpah Aku mengadakan perjanjian dengan engkau, demikianlah firman Tuhan ALLAH, dan dengan itu engkau Aku punya"*

*Perjanjian yang dilakukan TUHAN kepada umat Israel biasanya merupakan sebuah perjanjian untuk pemulihan umat-Nya.* Pemulihan berlaku selepas Israel bertobat. Contoh-contoh sebelumnya tentang hal ini jelas ternyata. Tuhan berurusan dengan bangsa itu di dalam tawanan. Tampaknya Israel hanya berpaling kepada Tuhan apabila berada di dalam kesusahan. Israel telah ditawan oleh Salmaneser. Mereka telah diselerakkan ke utara Asyur. Ini adalah supaya Israel dapat menerima hak sulungnya. Yehuda telah ditawan oleh orang-orang Babilon. Tuhan menyelamatkan nyawa mereka yang menyerah diri (Yer. 38:17) tetapi membiarkan mereka yang cuba menentang atau lari (Yer. 38:18 hingga 42:22, khususnya 42:17).

*Biasanya perjanjian yang TUHAN buat akibat dari penghukuman-Nya atas bangsa Israel.* Allah tidak tega melihat umat-Nya mati dalam penghukuman-Nya. Itu sebabnya Ia membuat sumpah untuk tidak lagi menghukum umat-Nya dan melakukan pemulihat atas mereka. Kita bisa melihat bagaiamana Babilon menghukum Israel namun telah diadili bersesuaian dengan belas kasihan yang ditunjukkan TUHAN.

*Dengan pemulihan yang dilakukan TUHAN itu, maka bangsa Israel menjadi kepunyaan TUHAN, dan umat Israel menjadi Allah sebagai TUHAN mereka yang harus disembah dan dipuja.* Pemulihan itu akan membawa perubahan besar bagi Israel. Jika mereka mengalami perubahan maka TUHAN akan tetap memegang sumpah dan janji-Nya bagi umat-Nya, tetapi jika umat Israel ingkar dari janjinya maka TUHAN pun akan murka kembali kepada mereka. *Karena itu, setialah kepada TUHAN agar murka-Nya tidak terjadi atas kita.*

Renungan hari ini:*“DASAR IMAN KRISTEN”*2 Timotius 2:19 Tetapi dasar yang diletakkan Allah itu teguh dan meterainya iala...
16/05/2022

Renungan hari ini:

*“DASAR IMAN KRISTEN”*

2 Timotius 2:19
Tetapi dasar yang diletakkan Allah itu teguh dan meterainya ialah: "Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya" dan "Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan"

*Paulus sebagai bapa rohani Timotius bertanggung jawab memberikan dasar iman agar Timotius mampu menjalankan tugas pelayanannya.* Dalam suratnya yang kedua ini rasul Paulus menguatkan Timotius dengan perkataan, “Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya.” Pada waktu itu Timotius mendapat tugas penggembalaan jemaat di kota Efesus. Tugas in tidaklah ringan. Salah satu tugas yang harus dilakukan Timotius adalah menata ibadah dan pelayanan yang masih belum tersusun dengan baik. Dia harus mengatur banyak hal di dalam jemaat yang masih berantakan. Namun, tugas ini menjadi semakin berat karena dia harus menghadapi para “pengacau” di gerejanya. Pengacau itu adalah para pengajar palsu. Mereka adalah tua-tua gereja yang mempunyai ajaran berbeda dengan apa yang diajarkan oleh rasul Paulus.

Dari pihak mereka inilah sering muncul tuduhan dan fitnah. Tentu ada rasa takut dan gentar di dalam diri Timotius. Dia yang masih berusia sekitar 30 tahun, harus menghadapi orang-orang tua yang sudah lama bercokol di gereja itu. Hal ini menyebabkan Timotius sering mengalami kecemasan. Belum lagi secara umum dia harus menghadapi para penyembah dewi Artemis.

*Maka, tidak salah kalau rasul Paulus menguatkan hatinya dengan mengatakan melalui suratnya bahwa Tuhan mengenal kepunyaan-Nya.* Paulus menguatkan Timotius bahwa Tuhan mengenal dirinya sebagai hamba-Nya yang setia. Tuhanlah yang akan membela Timotius ketika ada tuduhan dan fitnah yang ditujukan kepadanya. Meminjam istilah dalam bahasa sehari-hari, mungkin Tuhan akan berkata kepada para penuduh dan pemfitnah: “Hei, Aku kenal siapa Timotius itu. Dia tidak melakukan apa yang kalian tuduhkan. Dia setia dan dia milik-Ku.” Dan rasul Paulus menghendaki agar pengertian ini menjadi fondasi yang kokoh dalam kehidupan Timotius dan kita semua.

*Seperti halnya fondasi rumah, demikian juga pentingnya fondasi kehidupan kita.* Kehidupan ini tidak akan pernah mudah untuk dijalani. Problema akan selalu ada, tekanan dan berbagai rintangan akan berusaha terus menerjang dari segala lini. Kehidupan bahkan bisa saja terserang banjir masalah selama bertahun-tahun bagaikan hujan yang mengguyur banyak kota hari-hari ini. Bagaimana seseorang bisa bertahan dan tetap tegar di tengah banjir bahkan badai jika tidak memiliki fondasi yang kuat?

Dari nas hari ini, kita dapat belajar beberapa hal, yakni:
*Pertama, kita harus menyadari bahwa kita ini kepunyaan TUHAN.* Salah satu penyebab manusia bersikap sombong dan angkuh karena ia lupa dari mana ia berasal, sedang di mana, dan mau ke mana arah kehidupannya. Dia menganggap bahwa segala sesuatu yang ada padanya (hidup, harta, masa depan) adalah miliknya sendiri, adalah karena usahanya sendiri. Akibatnya, ia berkata dan berbuat sekehendak dirinya sendiri. Orang seperti ini sering kecewa dalam hidupnya karena segala sesuatu berpusat dari dan pada dirinya sendiri.

Ingat, janganlah kita lupa bahwa kita adalah milik Tuhan, mutlak milik kepunyaan Tuhan baik hidup dan mati kita. Artinya tidak ada seorang manusia pun yang mengetahui kapan dia mati dan di mana dia mati. Dokter mana pun tidak dapat memastikan dan menyatakan bahwa umur pasiennya hanya 1 minggu, 2 bulan atau 1 tahun lagi, karena persoalan hidup atau mati adalah persoalan Tuhan. Karena itu dalam hidup yang sementara ini mari bermakna bagi oran lain di lingkungan kita. Hidup yang berkualitas adalah hidup yang selalu digerakkan dan dipimpin oleh pemilik hidup yang sejati, yakni Tuhan kita Yesus Kristus.

*Kedua, kita harus menyadari yang menjadi dasar tindakan kita adalah meninggalkan kejahatan.* Salah satu tantangan yang dihadapi oleh Timotius pada waktu itu adalah tuduhan dan fitnahan yang dilontarkan oleh sesama orang-orang percaya yang memiliki ajaran dan pengertian yang berbeda dari kebenaran yang ia terima selama itu. Di antaranya adalah perkataan yang sengaja ditularkan oleh Himeneus dan Filetus. Alkitab mencatat bahwa perkataannya adalah kosong dan tidak suci yang menjalar seperti penyakit kanker (ay. 16). Mengapa sampai Alkitab mengibaratkan perkataan tidak suci tersebut sebagai kanker? Mengapa bukan dosa lain yang diibaratkan sebagai kanker?

Tidak mudah menjawab pertanyaan tersebut, tetapi memang perkataan itu sangat mudah menyebar. Lihat saja gosip-gosip yang ada seputar kehidupan, bukankah hal tersebut sangat mudah menyebar? Gosip seputar pelayanan pun sangat mudah menyebar antar orang-orang percaya yang belum dewasa. Mereka yang tersinggung dan tidak puas dengan keputusan yang diambil oleh pemimpin-pemimpin mereka. Oleh karena itu, karena perkataan itu sangat mudah menyebar, maka kita perlu menjaga perkataan yang akan kita dengarkan dan perkataan yang akan kita sampaikan kepada orang lain. Jangan sampai kita terkena “kanker” bahkan menjadi penyebar “kanker” itu sendiri. *Karena itu, perkuat fondasi iman kita agar kita menang menghadapi segala perkara hidupkita.*

*“HAMBA TUHAN YANG MENDERITA”**Yesaya 52:13-15* Hari ini kita merayakan hari besar umat Kristiani yang mengagungkan yakn...
15/04/2022

*“HAMBA TUHAN YANG MENDERITA”*
*Yesaya 52:13-15*

Hari ini kita merayakan hari besar umat Kristiani yang mengagungkan yakni *Peringatan Hari Kematian Yesus, Jumat Agung.* Disebut Jumat Agung karena pada hari inilah Yesus mati disalibkan di Golgota demi menanggung dosa manusia dan dunia ini.

*“Hamba TUHAN yang Menderita”,* secara umum istilah “hamba” adalah “budak belian; abdi.” Tentunya sebagaimana yang dituliskan oleh Yesaya dalam kitabnya, hamba yang dimaksud dalam konteks “Hamba yang menderita” bukanlah “hamba manusia,” melainkan “hamba Allah,” atau “hamba Tuhan,” yang secara umum memiliki pengertian “orang yang mengabdi kepada Allah.” Dalam terminologi teologis, istilah “hamba” dijelaskan sebagai berikut: “Kata Ibrani “ebhed”, budak, hamba, pelayan.‟ Artinya, seseorang bekerja untuk keperluan orang lain, untuk melaksanakan kehendak orang lain, juga dapat memiliki arti sebagai pekerja, yang menjadi milik tuannya. Dengan kata lain, yang dimaksudkan dengan pengertian *“hamba Tuhan,” adalah “seseorang yang bukan hanya menjadi milik Tuhan, tetapi juga bekerja khusus untuk Tuhan.”*

Istilah “hamba Tuhan” di dalam Kitab Yesaya, khususnya terdapat di dalam bagian yang lebih dikenal dengan “Nyanyian Hamba,” yang terdiri dari empat bagian yang terdapat di dalam pasal 42:1-9, sebagai bagian pertama dari nyanyian hamba; 49:1-13, bagian kedua; 50:4-11, bagian ketiga; dan 52:13-53:12 merupakan bagian keempat dari nyanyian hamba tersebut.

*Penderitaan dan kematian Tuhan Yesus adalah merupakan hal yang penting dalam kehidupan orang Kristen.* Tuhan Yesus menjelang disalibkan mengamanatkan pada murid-murid-Nya untuk mengingat penderitaan-Nya melalui Perjamuan Kudus.

Sentralitas penderitaan Tuhan Yesus bukan hanya merupakan pemberitaan Perjanjian Baru belaka, namun juga merupakan nubuatan Perjanjian Lama. Sekalipun tidak sejelas Perjanjian Baru, Perjanjian Lama memberikan indikasi mengenai penderitaan Tuhan Yesus. Salah satu bagian yang terpenting adalah Yesaya 52:13-15. Di dalam perikop ini, penderitaan Tuhan Yesus digambarkan dalam figur penderitaan dari seorang Hamba Tuhan. Identitas sang Hamba Tuhan yang menderita ini telah banyak diperdebatkan. Bagi orang-orang Yahudi tradisional, sang Hamba adalah bangsa Israel yang mengalami penderitaan. Penafsir lain mengidentifikasi sang Hamba sebagai raja Koresy (Yes. 44:28, 45:1) dan Zerubabel (Ezr. 3:2). Dengan membandingkan detil pengalaman sang Hamba, sebagaimana dilukiskan dalam perikop ini, dengan pengalaman yang dialami oleh Tuhan Yesus, kita dapat menemukan kesamaan yang mengejutkan dan jauh dari kebetulan. *Pararel ini mendorong kita untuk menyimpulkan bahwa hanya Tuhan Yesus, dan Dialah yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya dalam figur Hamba yang menderita.*

*Dari perikop ini kita dapat belajar tentang karakter dari hamba TUHAN yang menderita itu, yakni:*

*Pertama, hamba TUHAN yang menderita itu melakukan pelayanan kepada Allah.* Ini adalah perkataan Allah Bapa yang mengucapkan kata-kata ini dalam ayat 13 ini, “Lihatlah, hamba-Ku akan berhasil, ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan”. Allah meminta kita untuk memandang “hamba”-Nya. Ketika Yesus turun ke dunia, Ia “mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Flp. 2:7).

Sebagai Hamba Allah di dunia, Kristus tampil dengan bijaksana, dan bertindak dengan hikmat. Semua yang Yesus katakan dan lakukan, di sepanjang pelayanan-Nya di bumi, telah dilakukan dengan hikmat yang agung. Ketika Ia berumur dua belas tahun di Bait Suci, para rabi dikejutkan dengan hikmat-Nya. Orang-orang Farisi dan Saduki tidak dapat menjawab Dia, dan mulut Pilatus, gubernur Roma, terdiam ketika Ia berbicara.

Kemudian ayat kita ini berbicara berhubungan dengan Hamba Tuhan, “Ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan” (ay. 13). Kata-kata ini dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris modern dengan “raised,” “lifted up,” and “highly exalted” (“dibangkitkan,” “diangkat,” dan “diagungkan”). Tidaklah mungkin membaca perkataan-perkataan ini tanpa mengingat pengagungan atau pemuliaan Kristus seperti yang dilukiskan dalam Filipi 2:9-11 dan Kisah Rasul 2:33”. “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama” (Flp. 2:9). “Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi. Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah….maka dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengar di sini” (Kis. 2:32-33).

Ditinggikan – “dibangkitkan.” Disanjung “diangkat.” Dimuliakan – “diagungkan.” Ini adalah kata-kata yang merefleksikan langkah-langkah pemuliaan Kristus. Ia dibangkitkan dari kematian! Ia diangkat ke Sorga pada hari kenaikan-Nya. Sekarang Ia duduk di sebelah kanan Allah sedang berdoa untuk anda! Ditinggikan – “dibangkitkan”! Disanjung – “diangkat.” Dimuliakan – bahkan duduk di sebalah kanan Allah di Sorga!

*Kedua, hamba TUHAN yang menderita itu berkorban bagi manusia berdosa (ay. 14). * Yesus secara brutal dibuat tampak jelek atau mengerikan pada waktu penderitaan-Nya. Malam sebelum Ia disalibkan Ia ada “dalam penderitaan,” “Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah” (Luk. 22:44). Ini adalah sebelum mereka menangkap Dia. Di sana di kegelapan Getsemani, penghakiman karena dosa kita mulai turun atas Kristus. Ketika para prajurit datang untuk menangkap Dia, Ia telah berlumuran peluh darah. Kemudian mereka membawa Dia dan memukul wajah-Nya. Yesaya menceritakan kepada kita bahwa Hamba Menderita itu berkata, “Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi” (Yes. 50:6).
Lukas berkata, “Mereka menyerang wajah-Nya” (Luk. 22:64). Markus berkata bahwa Pilatus “menyesah Dia” (Mrk.15:15). Yohanes berkata, “Lalu Pilatus mengambil Yesus dan menyuruh orang menyesah Dia [mencambuki Dia]. Prajurit-prajurit menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya. Mereka memakaikan Dia jubah ungu, dan sambil maju ke depan mereka berkata: "Salam, hai raja orang Yahudi!" Lalu mereka menampar [memukul] muka-Nya” (Yoh. 19:1-3).

Kemudian mereka memaku tangan dan kaki-Nya di kayu Salib. Rupa-Nya begitu rusak atau jelek sehingga tampaknya tidak seperti manusia lagi. “Seperti banyak orang akan tertegun melihat dia--begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi” (ay.14). Banyak lukisan modern tidak ada yang hampir seakurat “The Passion of the Christ” oleh Mel Gibson dalam menggambarkan seperti apakah keadaan Kristus setelah mereka mencambuk Dia, menyesah Dia, dan menyalibkan Dia. Dipakukan di kayu terkutuk dalam keadaan telanjang, Menjadi tontonan bumi dan sorga. Tontonan luka menganga dan darah. Luka dari keajaiban kasih!

*Ketiga, hamba TUHAN yang menderita itu mengaplikasikan keselamatan bagi manusia berdosa (ay. 15).* Pengorbanan dan penderitaan Kristus di dalam ayat 14 diterangkan dan diaplikasikan. Nabi menjelaskan mengapa Ia [Kristus] dibuat jelek. Dalam kondisi jelek ini, “Ia akan membuat banyak bangsa tercengang.” Pribadi yang dibuat jelek itu, hamba yang melakukan sesuatu untuk orang lain itu, di dalamnya Ia melakukan upacara penyucian. Penampilan-Nya yang jelek [dalam penderitaan-Nya] adalah kondisi yang di dalamnya Ia mengharuskan diri-Nya sendiri membawa penyucian bagi banyak bangsa. Kata kerja “Ia akan membuat tercengang” [berbicara tentang] pemercikan air, atau darah sebagai penyucian. Ini adalah pekerjaan [Kristus sebagai imam] yang ditunjukkan di sini, dan tujuan pekerjaan ini adalah untuk membawa penyucian dan pembersihan orang lain. Ia sendiri sebagai imam akan memercikkan air dan darah untuk menyucikan banyak bangsa. Ia melakukan ini ketika menderita, yaitu menderita demi penyucian dan menghasilkan perubahan dalam sikap orang-orang yang telah memandang Dia.

*RENUNGAN*
Apa yang hendak kita renungkan dalam rangka Peringatan Kematian Yesus Kristus hari ini? Ada beberapa hal penting yang harus kita renungkan dan hayati, yakni:

*Pertama, hamba TUHAN yang menderita itu adalah Yesus Kristus.* Hamba Allah dalam diri Yesus telah mengalami direndahkan dan dihina sebelum ia ditinggikan dan dimuliakan. Hamba Allah ini mengalami penderitaan yang melebihi batas, sampai dia hampir tidak dikenali lagi sebagai manusia. Tetapi justru penderitaannya itulah keberhasilannya, karena membuat semua bangsa tercengang karena kerelaannya menanggung penderitaan mereka. Siapakah hamba Allah ini, yang telah menderita bahkan mati demi menyelamatkan umat yang dikasihi Allah dan bangkit mengalahkan kuasa dosa secara tuntas? Dalam Perjanjian Baru dan sampai sekarang hanya Yesus Kristus satu-satunya yang menggenapi Nyanyian Hamba Allah ini. Yesus Kristus sama sekali tak terlihat berusaha melakukan pembelaan diri-Nya.

*Kedua, keberhasilan Tuhan Yesus menjalankan misi penyelamatan melalui jalan salib adalah teladan yang agung bagi kita semua.* Seharusnya kita tidak mengejar kesuksesan dengan cara menjatuhkan orang lain. Kita tidak mengejar kesuksesan dengan memanfaatkan dan mengekploitasi orang lain. Yesus sangat mungkin memanfaatkan kuasa namun Ia tidak melakukannya. Kita tidak boleh juga mengejar kesusksesan dengan menyingkirkan orang lain apalagi dengan fitnah atau dengan sengaja berkata-kata yang membuat orang lain menjadi terlihat buruk. Hendaklah kita mengejar cita-cita dengan mengangkat, menolong, melayani dan menjadi berkat bagi orang lain. Bila niat baik kita disalahmengerti oleh orang lain, kita tidak perlu heran, tidak usah takut, cemas dan tidak usah putus asa karena Yesus saja ditolak apalagi kita.

*Ketiga, manusia adalah makluk yang diciptakan mulia.* Yang membuat manusia tidak mulia adalah sesamanya. Itu terjadi melalui penghinaan dan cercaan yang kita nyatakan kepada sesama. Manusialah yang membuat wajah sesamanya buruk maka diperlukan dari manusia adalah pribadi yang berhati mulia untuk menghormati sesama sebagai makluk mulia serta menempatkan sesama sebagai makluk mulia. Berhentilah mencederai sesama dan tidak memberi hormat. Untuk itu setiap orang butuh pengurapan khusus dari Allah supaya setiap pribadi yang s**a mencederai sesama diurapi dengan Roh yang baru.

*Keempat, penderitaan adalah cara yang mesti kita pilih.* Kalau tidak mau menderita maka jangan jadi pendeta atau hamba Tuhan. Konsekwensinya adalah kadang kita lelah, tertekan, kecewa, sakit hati, marah, tidak s**a. Berhadapan dengan hal itu terkadang kita mengungkapkan dengan tidak tepat atau menyimpan dengan cara yang salah. Banyak orang baik yang mati muda karena s**a menyimpan kekecewaan dengan cara yang tidak tepat. Di lain pihak menyalurkan kemarahan dengan cara yang tidak tepat juga tidak terhormat. Segala hal baiknya diterima sebagai kesempatan berefleksi dan belajar menerima penderitaan sebagai cara Tuhan menyempurnakan kita.

*Kelima, Hamba Tuhan tidak mungkin tanpa penderitaan maka mesti ada pembaharuan panggilan dan motivasi melayani.* Tidak mungkin kita jadi Hamba Tuhan tapi menghindari resiko. Tidak ada pelayanan tanpa tantangan walau ada juga yang s**a cari enak dan menghindari hal yang menyulitkan. Akhirnya kata yang ia dapatkan dari Tuhan adalah: hai hamba yang jahat. Seringkali jalan kompromi dipilih sehingga kebenaran didiamkan. Berhenti jadi hamba Tuhan kalau menghindari resiko kehambaan. Hati-hati bagi kita yang s**a cari aman. Dosa kalau menghindari penderitaan. Hamba Tuhan yang tidak mengalami resiko maka ia bukan hamba Tuhan. *Karena itu, milikilah karakter hamba TUHAN yang menderita sama seperti Yesus agar kita mampu membawa keselamatan bagi orang lain.*

*“PERINGATAN AKAN PENGORBANAN KRISTUS”*Kotbah: *1 Korintus 11:23-34*     Bacaan: Keluaran 12:1-14 Hari ini kita akan mer...
14/04/2022

*“PERINGATAN AKAN PENGORBANAN KRISTUS”*
Kotbah: *1 Korintus 11:23-34* Bacaan: Keluaran 12:1-14

Hari ini kita akan merayakan Kamis Putih. *Kamis Putih adalah hari pertama dari Tri Hari Suci Paskah.* Kamis Putih ini menandai dimulainya *Triduum Paskah.* Pada hari ini kita merayakan kembali perjamuan Malam Terakhir yang dilakukan Yesus bersama 12 Rasul. Dikatakan sebagai perjamuan terakhir karena pada malam itu Yesus dikhianati oleh murid-Nya, Yudas Iskariot. Malam itu, Yesus menunjukkan kasih-Nya hingga rela kehilangan nyawa bagi seluruh manusia di dunia. Pada malam itu Yesus menyerahkan tubuh dan darah-Nya pada Bapa di Surga dalam wujud roti dan anggur yang diberikan kepada para rasul untuk memberi kekuatan bagi mereka. Yesus juga meminta apa yang Dia lakukan malam itu terus dilakukan oleh para pengikut-Nya.

Tema yang akan kita renungkan pada Kamis Putih ini adalah *“Peringatan akan Pengorbanan Kristus”.* Pengorbanan Yesus Kristus haruslah kita ingat dan hayati dengan betul dan benar agar membawa dampak dalam hidup keberimanan kita. Hal itu ditegaskan Paulus dalam teks kotbah hari ini.

Dalam perikop kotbah ini, Paulus mengajarkan tentang *Perjamuan Kudus yang benar, baik pelaksanaannya maupun tujuannya.* Apa yang seharusnya kita lakukan dalam melaksanakan Perjamuan Kudus dalam rangka mengingat pengorbanan Kristus? *Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan agar pelaksanaan dan pemaknaan Perjamuan Kudus bisa kita lakukan dengan baik, yakni*:

*Pertama, hal-hal yang berkenaan dengan pelaksanaan Perjamuan Kudus:*
*a) Kita harus menyediakan roti (ay. 23-24).* Yesus mengambil roti dan memecah-mecahkannya. Apakah ini merupakan hal yang mengikat bagi kita dan harus kita lakukan? Ya, karena: (1). Hal ini diperintahkan (ay. 24: perbuatlah ini!). (2.) Hal ini mempunyai arti: roti = simbol tubuh Kristus; pemecahan roti = simbol penghancuran tubuh Kristus. Karenanya, dalam Perjamuan Kudus, tidak boleh digunakan hosti, karena penggunaan hosti itu menghapuskan pemecahan roti! Sebenarnya roti itu bukanlah hosti, seperti yang sekarang dipakai oleh orang-orang Roma Katolik, dan bahkan diikuti oleh orang Protestan, tetapi roti biasa yang dipakai dalam peristiwa-peristiwa seperti itu. Kata “dipecahkan” (broken) merupakan sebagian dari upacara aslinya. Karena itu, pemecahan roti tidak seharusnya dibuang, seperti dalam penggunaan hosti.
*b) Kita harus mengucap syukur.* Ada hal-hal yang perlu dipelajari tentang pengucapan syukur yang Yesus lakukan dalam Perjamuan Kudus yang pertama itu: (1). “Sesudah itu la mengucap syukur atasnya” (ay. 24). Kata-kata “Dia mengucap syukur” (he had given thanks) itu, bahasa Yunaninya adalah EU-CHARISTESAS (= having given thanks). Dari kata Yunani inilah lalu diturunkan kata Eucharist. Dari pengertian tentang asal usul kata itu, maka jelaslah bahwa adalah salah kalau kata Eucharist itu digunakan untuk menunjuk pada seluruh Perjamuan Kudus! (). Apakah pengucapan syukur yang Yesus lakukan itu mengikat atau tidak? Ya! Alasannya: Kata-kata “perbuatlah ini” dalam ayat 24, menunjuk bukan hanya pada pemecahan roti, tetapi juga pada pengucapan syukurnya. (3). Yesus melakukan pengucapan syukur 2 kali, yakni sebelum roti maupun anggur (ay. 25). Artinya, Yesus memperlakukan cawan sama seperti Ia memperlakukan roti, yaitu: Ia mengucap berkat dan syukur lebih dulu (bnd. Mat. 26:26-27). Kebanyakan gereja menggabungkan kedua pengucapan syukur ini menjadi satu dan dilakukan sebelum makan roti. Tetapi ada juga gereja yang mempertahankan 2 kali pengucapan syukur ini.
*c) “Inilah tubuhKu!” (ay. 24).* Yang dimaksud dengan “ini” jelas adalah roti yang sedang Yesus pegang. Dari bagian ini, orang Roma Katolik menemukan doktrin Transubstantiation = perubahan zat (a change of substance). Doktrin ini mengatakan bahwa pada waktu Perjamuan Kudus itu dilakukan, roti dan anggur betul-betul berubah menjadi tubuh dan darah Kristus, tetapi “kenyataannya” (warna, rasa, bau, bentuk) tetap sama. Kalau doktrin ini benar, ini berarti bahwa setiap kali diadakan Perjamuan Kudus, Kristus dikorbankan lagi! (bnd. Ibr. 9:28). Orang Lutheran menganggap bahwa roti dan anggur tetap adalah roti dan anggur, tetapi Yesus hadir secara jasmani di dalam, di atas, di bawah, di samping roti dan anggur itu. "Orang Calvinist/Reformed menganggap: (1). Roti dan anggur hanya merupakan simbol dari tubuh dan darah Kristus. Jadi, pada waktu Yesus berkata “Inilah tubuhKu!” maka artinya sama seperti pada waktu Yesus berkata “Akulah pintu” “Akulah pokok anggur yang benar”. dsb. (2). Dalam Perjamuan Kudus, Kristus hadir secara rohani, bukan secara jasmani. Tubuh jasmani Kristus ada di surga dan tubuh jasmani Kristus itu tidak maha ada!

*Kedua, tujuan Perjamuan Kudus.* Setiap kita mengikuti Perjamuan Kudus, kita harus ingat akan tujuan dilaksanakannya Perjamuan Kudus itu, yakni:

*a) Untuk memperingati kematian Kristus untuk kita (ay. 24, 25).* Mengingat akan kematian Kristus bagi kita adalah sesuatu yang sangat penting. Hal ini bisa menolong kita: (1) pada saat kita merasa dan menganggap bahwa Allah tidak mengasihi kita (bnd. Rm. 5:8). (2) pada saat kita mengutamakan sesuatu dan seseorang lebih dari Tuhan. (3) pada saat kita segan berkorban, menyangkal diri, memikul salib, dsb. (4) pada saat kita kikir dalam memberi persembahan. (5) pada saat kita mundur / suam, malas melayani, berdoa, belajar Firman Tuhan, dsb. (6) pada saat kita kurang berjuang dalam mengalahkan dosa (bdk. Ibrani 12:3-4). Tetapi Tuhan tahu bahwa kita cenderung untuk melupakan kasih-Nya, dan karena itu, Tuhan menyuruh kita untuk melakakan Perjamuan Kudus supaya melalui Perjamuan Kudus itu, kita selalu ingat akan kematian Kristus bagi kita!
*b) Untuk memberitakan kematian Kristus (ay. 26).* Tuhan memerintahkan orang Israel dalam Perjanjian Lama untuk merayakan Paskah (hari keluarnya mereka dari Mesir), supaya kalau ada orang asing/kafir atau anak-anak mereka yang bertanya tentang arti dari Perjamuan Paskah itu, maka mereka bisa menceritakan tentang kebaikan Tuhan yang telah mengeluarkan dan membebaskan mereka dari Mesir (Kel. 12:26-27; 13:8). Dalam Perjanjian Baru, Tuhan menyuruh kita mengadakan Perjamuan Kudus, juga dengan tujuan untuk memberitakan sesuatu, tetapi sesuatu itu bukan pembebasan dari Mesir, melainkan kematian Kristus bagi kita! Pasti akan sering muncul pertanyaan dari orang kafir dan anak-anak tentang Perjamuan Kudus, dan itu merupakan kesempatan bagi kita untuk memberitakan kematian Kristus! Gunakanlah kesempatan itu!

*Ketiga, kelayakan mengikuti Perjamuan Kudus (ay. 27).* Dalam mengikuti dan melaksanakan Perjamuan Kudus kita harus memeriksa apakah dirikita layak atau tidak. Karenanya ada beberapa hal yang harus kita periksa, seperti:
*a) Kita harus serius mengkikuti Perjamuan Kudus.* Kata “tidak layak” dalam ayat 27 ini tidak menunjuk kepada orang yang ikut Perjamuan Kudus itu, tetapi menunjuk pada cara mengikuti dan melakukan Perjamuan Kudus! Kita bisa mengetahui hal itu, karena kata Yunani yang dipakai, yaitu ANAXIOS, yang artinya tak adanya keseriusan, rasa hormat dan khidmat, membuat roti dan anggur sebagai bahan untuk bergurau, memberikannya kepada anak-anak yang untuk mainan atau sekedar untuk menenangkan anak yang rewel dsb.
*b) Laksanakan sesuai perintah TUHAN.* Ketidaklayakan pelaksanaan Perjamuan Kudus itu juga dilihat dari pelaksanaannya yang salam, seperti dengan menggunakan hosti, menahan cawan hanya untuk hamba Tuhan, atau dengan menyembah roti dan anggur itu! Kalau kita sering melakukan hal-hal ini, baca sekali lagi ayat 27 ini! Itu menunjukkan kita berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan!
*c) Menguji diri sendiri (ay. 28).* Yang harus diuji adalah: (a) Imannya, yaitu apakah ia betul-betul percaya kepada Yesus (bdk. 2Korintus 13:5). (b) Kehidupannya, yaitu apakah ia secara sadar dan sengaja memegangi dosa tertentu atau tidak! Kalau ya, maka orang itu tidak berhak ikut Perjamuan Kudus! Mengapa demikian? Ingatlah bahwa Perjamuan Kudus juga merupakan persekutuan antara pengikut Perjamuan Kudus itu dengan Tuhan (1Kor. 10:16). Sedangkan dosa yang dipertahankan jelas menghalangi dan merusak persekutuan itu (bnd. Yes. 59:1-2)!

*RENUNGAN*
Dalam rangka merayakan Kamis Putih ini kita diajarkan untuk mengerti dan memahami serta menghayati ati dan makna Perjamuan Kudus. *Karena itu, rayakan dan nikmati serta terimalah Tubuh dan Darah Kristus melalui Perjamuan Kudus dengan hati yang tulus dan iklas untuk menguatkan iman kita memercayainya sebagai Tuhan dan Penebus dosa-dosa kita.*

*Selamat Merayakan Ibadah Kamis Putih*

Address

S. M RAJA Km 9. 5
Medan

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when GKPI J.K Martoba Medan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category