15/06/2022
GIKI DAN KOTA MEDAN
...
GIKI ( Gereja Injili KARO Indonesia ) merupakan salah satu denominasi gereja yang ada di Indonesia, terdaftar di Pemerintah RI melalui SK Dirjen Bimas Kristen Departemen Agama Republik Indonesia: SK DIRJEN BIMAS KRISTEN DEPAG RI No. DJ III/KEP/HK.00.5/93/3726/2003 ---- dan juga tergabung di PGLII (Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili di Indonesia).
GIKI juga merupakan salah satu nama denominasi gereja yang mengambil nama satu suku dan wilayah, yakni KARO. Dan penggunaan nama Karo ini tentu berkaitan dengan visi - misi pembentukan dan juga fokus pelayanan utamanya, yakni bagi Suku Karo dan Taneh Karo Simalem.
KOTA MEDAN sebagai kota terbesar di Pulau Sumatera yang juga sebagai ibukota dari Provinsi Sumatera Utara menjadi kota tujuan dan salah satu fokus utama pelayanan GIKI di Sumatera.
Apakah karena semata-mata sebagai kota terbesar di Pulau Sumatera dan ibukota dari Provinsi Sumatera Utara sehingga GIKI memfokuskan pelayanannya di Kota Medan?
Ada benarnya, tetapi bukan itu alasan utamanya.
Sebagai denominasi yang memakai nama kesukuan dan kedaerahan (KARO) tentu GIKI juga harus terbeban dalam pelayanannya kepada Suku Karo dan Taneh Karo Simalem, termasuk eksistensi Karo dengan segala unsur budayanya.
Kota Medan merupakan salah satu basis terbesar keberadaan masyarakat Suku Karo di Sumatera Utara, selain Kabupaten Karo, Kabupaten Deliserdang, Kabupaten Langkat, Kota Binjai, dan lainnya.
Dalam nomenklatur tradisional Karo, dikatakan kalau Taneh Karo Simalem itu terbentang dari Pantai Barat dan Dataran Tinggi Karo (Bukit Barisan) hingga Pesisir Pantai Timur Sumatera bagian Utara; atau dari Teluk Aru (sekarang Langkat) hingga ke Siak (Riau), dan tentu Kota Medan yang kita kenal saat ini termasuk di dalamnya.
Jika kam ragu, dapat kam uji dengan membaca literatur kuno penjelajah asing seperti John Anderson atau seperti novelnya M.H. SzΓ©kely-Lulofs. Atau bisa kam uji langsung dengan jalan-jalan keliling wilayah Medan khususnya di bagian Hulu. Lihat masyarakat dan perkampungan tuanya, serta nama-nama tempat, sungai, dsb. Saya berani jamin itu semua akan terhubung ke Suku Karo, dan di Hilir-nya berkaitan dengan Melayu.
Dalam sejarah terbentuknya Kota Medan versi resmi Pemerintah dan DPRD Kota Medan juga dikatakan kalau Medan awalnya satu kampung kecil bernama Madaan yang didirikan seorang tokoh bersuku Karo dari merga Sembiring Pelawi, yakni Guru Patimpus Sembiring Pelawi. Dan jauh sebelumnya juga sudah ada perkampungan-perkampungan Karo di wilayah yang saat ini kita kenal Medan.
Jadi Kota Medan juga termasuk dalam wilayah Taneh Karo Simalem (bedakan dengan Kabupaten Karo).
Karena itu GIKI sebagai denominasi Gereja Kristen beraliran Injili (Evanglism) yang memakai nama Karo dan mengusung semangat Kinikaron (KK : Kristus - Karo; Cinta Kristus - Cinta Karo; Menyembah Kristus dengan budaya Karo) tentu harus terbeban untuk pelayanan ke Karo dan Taneh Karo Simalem (termasuk Kota Medan) dan tentu turut bertanggung jawab dalam menjaga eksistensi Karo dengan segala unsur budayanya. Jika tidak, maka sia-sialah nama Karo itu tersemat di GIKI dan tentu semboyan KK (Kristus - Karo) itu tidak berguna lagi !!!
Mejuah-juah
TUHAN YESUS Simasu-masu kita kerina πβ€
...
Foto: Tugu Guru Patimpus Sembiring Pelawi (Pendiri Kota Medan) --- dan Walikota Medan Boby Nasution (mengenakan baju corak Uwis Karo Bekabuluh dan bulang-bulang khas Pria Karo).