23/10/2024
Bhiksu Tiga Kereta Bag.3
Apakah Khuji akhirnya bisa mengingat kelahiran sebelumnya sebagai Arahat yang ingin bertemu dengan Buddha? Jika ada kereta arak, kereta wanita cantik dan kereta buku buku sastra & puisi, apakah Khuiji bisa benar benar berlatih diri? Ayo kita ikuti kisah selanjutnya dari Sang Master tiga kereta.
Saat itu, bahkan Kaisar Tang Taizong merasa bingung dan bertanya kepada Mahaguru Xuanzang, "Apakah ini bisa diizinkan juga?" Xuanzang, yang sangat ingin membimbing seorang Arahat ini (yang sudah tidak mengingat kehid**an sebelumnya), merasa bahwa lebih baik menyetujui permintaan tersebut untuk sementara. Setelah Yuchi Gong menjadi biksu dan mulai belajar Buddha Dharma, hubungan karma dari kehid**an sebelumnya akan terhubung kembali, dan segalanya akan berjalan lebih lancar. Maka dengan tekad kuat, Xuanzang pun menyetujui syarat tersebut.
Dengan demikian, Yuchi Gong tidak bisa lagi menolak untuk menjadi biksu. Setelah ia meninggalkan kehid**an duniawi dan menjadi seorang pengikut Buddha, ia diberikan nama Dharma Khuiji. Khuiji kemudian belajar Yogācāra dan Vijñānavāda dari Xuanzang, dan kelak menjadi penerus kedua dari aliran Faxiang di Tiongkok. Karena keadaan yang melingkupi prosesnya menjadi biksu, ia kemudian dikenal sebagai Bhikkhu "Tiga Kereta". Tiga kereta tersebut melambangkan satu kereta untuk buku-buku novel, satu kereta untuk pelayan, dan satu kereta lagi untuk makanan dan minuman beralkohol.
Sebagaimana disebutkan di atas, Bhikkhu Khuiji menjadi terkenal karena prosesnya meninggalkan duniawi. Sebagai perwakilan kaisar, ia menjadi biksu yang sangat dihormati pada masa Dinasti Tang. Karena itulah, ia dijuluki sebagai Bhikkhu Tiga Kereta. Pada masa itu, hanya mereka yang berasal dari kalangan terbaik yang bisa menjadi biksu dan mempelajari Buddha Dharma. Untuk menjadi biksu, diperlukan surat izin dari pemerintah. Karena buku-buku suci Buddha masih sangat terbatas, hanya kaum bangsawan atau cendekiawan yang bisa mengaksesnya. Banyak dari mereka juga adalah pejabat kerajaan yang dipilih melalui sistem ujian kekaisaran. Hal ini sangat berbeda dengan situasi saat ini, di mana sebagian orang yang belajar Buddhisme melakukannya karena mengalami kegagalan dalam bisnis, cinta, atau kehid**an lainnya.
Karena ketenaran yang besar, serta posisinya sebagai wakil kaisar yang meninggalkan duniawi, Bhikkhu Khuiji dihormati oleh banyak orang. Namun, ada satu bhikkhu yang tidak menghormatinya—ia adalah Bhikkhu Taoxuan. Taoxuan adalah nama Dharmanya, dan "律師" (lǜshī) di sini artinya ahli Vinaya. Pada masa Dinasti Tang, Buddhisme sangat berkembang dengan banyak aliran, seperti Chan (Zen), Pure Land, dan Vinaya. Aliran Pure Land menekankan pelafalan nama Buddha dan kelahiran kembali di Sukhavati, Tanah Suci Buddha Amitabha. Sementara Chan berfokus pada pencapaian pencerahan melalui pengenalan diri sejati. Adapun Vinaya, adalah aliran yang menekankan ketaatan pada aturan disiplin Buddha.
Bhikkhu Taoxuan adalah seorang penganut ketat aliran Vinaya, yang memandang ajaran Vinaya sebagai gurunya. Ia menjalani hidup dengan sangat ketat dan membangun gubuk kecil di Gunung Zhongnan untuk berlatih. Karena semangatnya yang luar biasa dalam berlatih, bahkan para dewa tergerak dan datang untuk memberikan makanan kepadanya. Bisa dikatakan, ia telah mencapai tahap di mana ia tidak lagi bergantung pada makanan manusia. Karena kepatuhannya yang sangat ketat pada Vinaya, Bhikkhu Daoxuan sangat dihormati pada masanya.
Namun, karena gaya hidupnya yang keras dan ketat, Bhikkhu Taoxuan memandang rendah Bhikkhu Khuiji, dan ia selalu mencari kesempatan untuk mempermalukannya.
Suatu hari Bhikkhu Daoxuan menulis surat yang isinya mengatakan bahwa ia telah lama mendengar nama besar Khuiji, namun belum berkesempatan bertemu. Taoxuan menyatakan bahwa dirinya sedang dalam masa pelatihan keras di gunung sehingga tidak dapat turun untuk berkunjung. Ketika Khuiji menerima surat tersebut, ia dengan sopan membalas, mengatakan bahwa ia tidak layak menerima kunjungan Bhikkhu Taoxuan, dan kebetulan ia sedang memiliki waktu luang. Maka, Khuiji memutuskan untuk mengunjungi Bhikkhu Taoxuan di Gunung Zhongnan.
Pada hari yang telah ditentukan, Bhikkhu Khuiji berangkat menuju Gunung Zhongnan dengan iringan tiga keretanya yang membawa buku-buku, pelayan, dan makanan. Namun, setibanya di kaki gunung, jalan tidak memungkinkan untuk kereta lewat, sehingga Khuiji memerintahkan pengiringnya menunggu di sana dan ia melanjutkan perjalanan seorang diri mendaki gunung. Ketika ia tiba di gubuk sederhana Bhikkhu Taoxuan, Taoxuan sudah menunggunya di depan pintu, dan mereka saling bertukar sapaan sopan. Keduanya lalu duduk untuk minum teh dan berbincang-bincang.
Saat waktu mendekati siang, Bhikkhu Taoxuan berpikir dalam hati, "Sebentar lagi, makanan surgawi akan tiba, dan Khuiji akan tahu seperti apa hidup seorang pertapa yang sebenarnya." Namun, ia menunggu dan menunggu, tetapi makanan tidak datang. Ketika waktu menunjukkan lewat tengah hari, Bhikkhu Taoxuan terpaksa meminta maaf kepada Bhikkhu Khuiji, dan mereka berdua harus berpuasa, karena Bhikkhu Taoxuan mengikuti disiplin ketat untuk hanya makan sekali sehari sebelum tengah hari. Bhikkhu Khuiji tidak mempermasalahkan hal ini dan terus berbincang sambil minum teh hingga hari mulai gelap.
Bhikkhu Taoxuan dengan hangat mengundang Khuiji untuk bermalam di gubuknya, berpikir bahwa ini akan menjadi kesempatan bagi Khuiji untuk belajar merasakan kehid**an keras seorang pertapa. Karena undangan itu sangat tulus, Bhikkhu Khuiji pun setuju. Malam itu, seperti biasa, Bhikkhu Taoxuan duduk bermeditasi sepanjang malam tanpa berbaring. Sementara itu, Bhikkhu Khuiji tidur dengan nyenyak, bahkan mendengkur keras. Dengkurannya sangat mengganggu Bhikkhu Taoxuan, yang berpikir dalam hati, "Apakah ini perilaku seorang biksu sejati? Besok pagi, aku harus mengajarinya sedikit tentang aturan Sangha."
Menurut aturan monastik, ada etiket yang harus diikuti dalam segala aktivitas—berjalan, berdiri, duduk, dan berbaring. Ada pepatah yang berbunyi: "Berjalan seperti angin, berdiri seperti pohon pinus, duduk seperti lonceng, dan berbaring seperti busur." Cara tidur Bhikkhu Khuiji malam itu sangat jauh dari yang diharapkan dari seorang biksu. Keesokan paginya, Bhikkhu Taoxuan mulai menegur Bhikkhu Khuiji, mengatakan bahwa tidurnya tidak rapi, tidak mengikuti aturan, dan dengkurannya sangat mengganggu hingga ia tidak bisa beristirahat sepanjang malam.
Namun, Bhikkhu Khuiji dengan tenang menjawab, "Yang menyebabkan orang tidak bisa tidur tadi malam, bukan saya. Semalam, ada seseorang yang sedang bermeditasi dan digigit oleh seekor kutu. Dia sangat marah dan hampir membunuh kutu itu, tetapi dia teringat bahwa membunuh makhluk hidup tidak diperbolehkan. Akhirnya, dengan sangat tidak rela, dia melemparkan kutu itu ke tanah. Malangnya, kutu itu patah kakinya dan menangis sepanjang malam, membuat saya tidak bisa tidur."
Mendengar ini, wajah Bhikkhu Taoxuan berubah pucat, karena ia teringat bahwa tadi malam memang benar ada seekor kutu yang menggigitnya, dan ia benar-benar melemparkannya ke tanah. Tapi bagaimana mungkin Bhikkhu Khuiji yang sedang tidur dan mendengkur bisa mengetahuinya?
Akhirnya, setelah beristirahat sejenak, Bhikkhu Khuiji berpamitan dan turun dari gunung. Saat waktu makan siang tiba, dewi yang biasa membawa makanan surgawi muncul kembali. Bhikkhu Taoxuan, dengan marah, bertanya kepada dewi itu, "Mengapa kemarin kau tidak datang ketika aku memiliki tamu?"
Dewi itu menjawab dengan wajah polos, "Kemarin aku juga datang, tapi seluruh Gunung Zhongnan diliputi oleh awan keberkahan yang berwarna-warni, dan keempat Raja Dewa Agung dari empat penjuru dunia menjaga tempat ini. Aku hanya seorang dewi kecil, jadi aku tidak bisa masuk. Sebenarnya, tamu seperti apa yang datang kemarin?"
Mendengar hal ini, Bhikkhu Daoxuan tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Bagaimana kisah Bhikkhu Khuiji, menarik bukan? walaupun ia melanggar aturan Bhikkhu, tapi itu hanyalah awalnya saja pada tahun pertamanya ia menjadi Samanera. Setelah tahun berikutnya ia telah mengingat kelahirannya sebagai Arahat yang ingin mepelajari Buddha Dharma sejati.
Melalui bimbingan Master Xuanzang yang sabar, Khuiji dengan cepat menguasai Yogācārabhūmi-śāstra 瑜伽師地論 dan mendirikan aliran Yogācāra (法相宗-Faxiang Zong, aliran ini menyatakan bahwa semua sifat dan bentuk dari berbagai fenomena hanyalah perubahan dari kesadaran (唯識). Oleh karena itu, semua fenomena yang ada di alam semesta dianalisis berdasarkan sifat dan esensinya, lalu diorganisasikan dan disistematisas oleh kesadaran.) Pada masa Khuiji, aliran Yogacara sangat terkenal dan memiliki banyak peminat dari para terpelajar yang ingin mendalaminya.