Cerita Para Sesepuh Mahayana

Cerita Para Sesepuh Mahayana Cerita para sesepuh (pelatih senior) Mahayana yang unik, dan begitu menyentuh. Cerita-cerita mereka yang begitu fantastis sekaligus sangat menginspirasi.

22/11/2025

Di dunia ini…
kita lahir, terluka, berjuang, lalu mengulang lagi.
Samsara tidak pernah memberi akhir yang bahagia.

Tapi Buddha menunjukkan jalan pulang —
ke negeri tanpa tangis, tanpa usia, tanpa sakit, tanpa kematian.
Sebuah alam bernama Sukhāvatī.

Di sana tidak ada neraka.
Tidak ada karma yang mengejarmu.
Tidak ada duka yang membuatmu tersungkur.

Hanya kedamaian abadi
dan sukacita tanpa batas.

Dan pintunya…
selalu terbuka untuk siapa pun
yang memanggil nama Amitābha
dengan keyakinan dan ketulusan.

Karena bagi Buddha,
tidak ada makhluk yang terlalu berdosa untuk diselamatkan.
Tidak ada hati yang terlalu gelap untuk diterangi.
Semoga pintu Sukhāvatī tidak kita lewatkan ketika waktunya tiba.

22/11/2025

🪷 **RIWAYAT HIDUP MASTER JIZANG (吉藏大师):

Sang Samudra Kebijaksanaan Tri Abhidharma**

(Versi Panjang ±10 Halaman A4)

---

I. Zaman Bergolak, Lahirnya Bintang Agung (550 M)

Tiongkok abad ke-6 adalah era pergolakan. Dinasti-dinasti runtuh satu per satu, wilayah utara dan selatan terpecah, dan kehid**an rakyat menderita. Politik kacau, kehid**an agama pun berada di tengah perubahan besar. Ajaran Buddha baru berusia beberapa abad di Tiongkok, tetapi telah berkembang pesat: aliran Prajñā (般若), Tiantai, Dilun, Chengshi, dan berbagai cabang meditasi.

Di tengah semua perubahan itu, pada tahun 549 M, lahir seorang anak di wilayah Wuxing (吴兴)—kini bagian dari Huzhou, Zhejiang. Anak itu diberi nama 藏 (Zang), dan kelak dijuluki 吉藏 (Jizang).

Asal-usul keluarga ayahnya menarik: mereka adalah keturunan imigran dari wilayah Parthia (安息, Anxi) di Asia Barat. Karena itu Jizang tampak berbeda dari anak-anak Tiongkok kebanyakan—wajah sedikit lebih mancung, sorot mata lebih dalam, alis tebal. Banyak orang menatapnya dengan rasa ingin tahu.

Namun, sejak kecil, Jizang bukanlah anak yang menatap kembali dengan rasa malu atau takut. Ia justru menatap dunia seakan sedang menganalisis sesuatu yang lebih dalam dari sekadar rupa.

Kisah tradisi menyebutkan bahwa saat berusia 5 tahun, ia pernah bertanya pada ibunya:

“Kalau tubuh ini berubah setiap hari, yang manakah ‘aku’?”

Ibunya terdiam, karena itu bukan pertanyaan untuk usia se-muda itu. Pertanyaan itu seperti benih karunā dan prajñā yang disimpan dari kehid**an lampau.

---

II. Pertemuan Pertama dengan Dharma: “Bentuk adalah Kekosongan”

Saat berusia 7 tahun, ia dibawa ke sebuah vihara setempat. Di sana ia mendengar seorang bhiksu senior melantunkan bagian dari Prajñā-pāramitā:

“色即是空,空即是色。”
Rupa adalah kekosongan; kekosongan adalah rupa.

Anak kecil itu terpaku. Suasana seolah berhenti. Ia bahkan menghentikan napas sejenak.

Guru di vihara melihat sorot matanya yang berbeda.

> “Anak ini bukan benih biasa,” gumam sang guru.

Keesokan harinya, ketika para bhiksu membersihkan aula, Jizang kembali bertanya:

“Jika semuanya kosong, mengapa kita menderita?”

Kata-kata ini membuat para bhiksu saling menatap.
Anak ini membawa pertanyaan besar dari kehid**an sebelumnya, pikir mereka.

Sejak saat itu, seorang guru memberi saran agar Jizang dibawa kepada seorang mahācārya besar pada masa itu: Master Falang (法朗大师), ahli Tri Abhidharma terkemuka yang tinggal di Gunung Zhongnan.

---

III. Di Bawah Naungan Master Falang: Membentuk Intuisi Kebijaksanaan

Master Falang adalah sosok yang sangat dihormati. Beliau menguasai tiga Abhidharma utama Buddhisme Madhyamika India:

1. 中论 (Zhonglun) – Mūla-Madhyamaka-śāstra karya Nagarjuna

2. 十二门论 (Shiermenlun) – Dvādaśadvāra-śāstra

3. 百论 (Bailun) – Śata-śāstra karya Āryadeva

Tiga karya inilah yang kemudian menjadi dasar aliran Tri Abhidharma (三论) di Tiongkok.

Ketika kecil Jizang dibawa menghadap, Falang melihat matanya yang jernih namun tajam. Setelah sedikit berbicara, sang guru berkata:

“Kau memahami sesuatu yang bahkan orang dewasa sulit mengerti.
Buddha Dharma telah menunggumu.”

Dari hari itu, Jizang mulai belajar Tri Abhidharma:

• Hakikat śūnyatā (空),
• Pembedahan konsep-konsep dualistik,
• Analisis batin melalui logika Madhyamika,
• Pemahaman “dua kebenaran” (二谛 erdi):
– kebenaran relatif (俗谛 su di)
– kebenaran mutlak (真谛 zhen di).

Falang tidak mengajarinya seperti mengajar murid biasa. Ia tidak memberikan hafalan, tidak menyuruh mengulang. Ia justru sering balik bertanya:

“Apa kesulitanmu hari ini?”

Jizang menjawab dengan jujur, dan pertanyaan-pertanyaannya selalu lebih dalam.

---

IV. Remaja Berbakat yang Bangkit Melebihi Gurunya

Saat berusia menjelang 18 tahun, ia telah menamatkan Tri Abhidharma berkali-kali. Ia bahkan mulai mengajar murid-murid muda.

Pada usia 20-an, ia menemani Falang dalam beberapa diskusi filsafat penting. Para intelektual Buddhis terkejut melihat seorang pemuda mampu membalik argumen mereka hanya dengan satu kalimat.

Salah satu peristiwa terkenal:

Seorang cendekiawan berkata,
“Jika semua adalah kosong, bukankah ajaran Buddha pun kosong?”

Jizang menjawab:

“Benar. Karena itu jangan melekat pada ‘ajaran kosong’-mu.”

Jawaban itu bukan untuk menang debat.
Jawaban itu adalah cermin.

Sejak itu, ia dijuluki oleh para sesepuh:

“Zang, sang pemuda yang membebaskan dengan memotong konsep.”

---

V. Pengembaraan Dharma: Menyebarkan Kebijaksanaan Tri Abhidharma

Selepas kematian Master Falang, Jizang berkelana dari satu vihara ke vihara lain:

• Chang’an
• Luoyang
• Yangzhou
• Zhuangyan Temple
• Guangfu Temple

Di mana pun ia pergi, diskusi besar selalu muncul. Para bhiksu, cendekiawan, bahkan pejabat istana ikut hadir.

Ia bukan orator yang berapi-api. Ia tidak banyak gestur.
Tetapi setiap kata-katanya seperti pedang tipis yang menembus kabut kebingungan.

Kekuatan pemikirannya ada pada dua hal:

(1) Ia tidak memaksakan pandangan

Jika seseorang terlalu keras memegang pandangan “ada,” ia menunjukkan sisi “tidak ada.”
Jika seseorang terlalu keras memegang konsep “tidak ada,” ia menunjukkan sisi “ada.”

(2) Ia tidak melekat pada “kekosongan” itu sendiri

Bagi Jizang, kekosongan bukan tujuan.
Kekosongan adalah jalan menuju kebebasan batin.

Karena itu ia sering mengulang konsep penting:

破相显空 (po xiang xian kong)

Menghancurkan penyangkaan; menampilkan kekosongan.

---

VI. Gaya Pengajaran yang Membebaskan, Bukan Mengacaukan

Banyak orang salah mengira bahwa ajaran Tri Abhidharma hanya memusingkan. Tetapi ketika belajar di bawah Jizang, banyak murid justru mengatakan:

“Dada kami lega, seakan beban banyak pandangan runtuh.”

Sebab Jizang selalu mengajarkan:

空 (kong) bukan berarti nihilisme.

Kong berarti segala sesuatu tidak mempunyai “inti tetap” (自性, zixing).
Karena tidak punya inti yang beku, segala sesuatu bisa berubah, berkembang, dan bebas.

Ia menjelaskan:

• Kalau kita melekat pada “baik,” kita menderita.
• Kalau kita melekat pada “buruk,” kita menderita.
• Kalau kita melekat pada “kekosongan,” kita juga menderita.

Maka ia berkata:

“Arah dari Tri Abhidharma adalah menghancurkan semua beban konsep.
Saat semua beban runtuh, kebijaksanaan muncul sendiri.”

---

VII. Karya-karya Besar: Gunung Emas dalam Sejarah Mahayana

Master Jizang menulis lebih dari 90 karya, namun beberapa di antaranya menjadi mahkota pemikiran Mahayana Tiongkok:

1. 《中观论疏》 – Komentar Besar atas Madhyamika

Menjelaskan pemikiran Nagarjuna dengan kedalaman Tiongkok klasik.

2. 《三论玄义》 – Makna Misteri Tri Abhidharma

Menjelaskan struktur logika tiga Abhidharma Madhyamaka.

3. 《大乘法苑义林章》 – Taman Dharma Mahayana

Ensiklopedi konsep-konsep Mahayana dalam bentuk sistematis.

4. 《死不怕论》 – Abhidharma “Tidak Takut Mati”

Ditulis pada akhir hayatnya, berisi pemahaman mendalam tentang kelahiran dan kematian.

Karya-karya ini kemudian menjadi fondasi perkembangan pemikiran Mahayana di Jepang dan Korea.

---

VIII. Masa Tua: Guru yang Lembut Namun Tegas

Dalam kisah-kisah viharanya, ia dikenal sebagai guru yang:

• tidak pernah meninggikan suara,
• selalu tersenyum ketika murid bingung,
• tetapi sangat tegas ketika melihat murid terjebak dalam keangkuhan intelektual.

Salah satu murid pernah berkata:

“Guru, saya sudah memahami kekosongan.”

Jizang menatapnya dan menjawab:

“Jika kau merasa sudah memahami, berarti kau belum memahami.”

Kata-katanya seakan halus, tetapi menghantam dinding ego.

---

IX. Detik-detik Terakhir: Keteguhan yang Menggetarkan Dunia

Ketika berusia 75 tahun, Jizang jatuh sakit. Murid-murid menangis, tetapi ia justru tenang.

Suatu hari ia berkata:

“Pertemuan dan perpisahan hanya permainan sebab dan kondisi.
Aku akan pergi dengan ringan.”

Ia mandi, mengenakan jubah yang paling bersih, lalu duduk bersila.
Kemudian ia menuliskan satu karakter besar:

「死」— mati.

Ia tidak menulisnya untuk menantang kematian, tetapi untuk menegaskan bahwa ia telah melihat menembusnya.

Lalu ia menulis sebuah Abhidharma kecil:

《死不怕论》

Abhidharma: Tidak Takut Mati

Isi utamanya adalah:

“Bila kau melihat bahwa kelahiran dan kematian tidak memiliki inti tetap,
kau tidak terikat ketika lahir,
dan tidak takut ketika mati.”

Setelah selesai menulis, ia tersenyum.
Ia merapatkan kaki dalam posisi padmāsana,
menutup mata,
dan mengembuskan napas terakhir dengan sangat pelan—
seperti lampu minyak yang padam bukan karena angin,
melainkan karena minyaknya telah habis dengan alami.

---

X. Warisan Abadi Sang Mahācārya Tri Abhidharma

Warisan Jizang tersebar luas di Tiongkok, Jepang, dan Korea.
Ia dianggap:

• Penerus sejati Nagarjuna,
• Bapak Tri Abhidharma Tiongkok,
• Salah satu logikus terbesar Mahayana.

Tetapi yang terpenting:
Ia adalah guru yang memerdekakan batin, bukan menambah beban intelektual.

Kontribusinya bukan hanya pada filsafat, tetapi pada praktik hidup:

**Ia mengajarkan cara menghirup kehid**an tanpa melekat,

dan cara menghadapi kematian tanpa gentar.**

Dengan inilah, namanya bertahan lebih dari 1400 tahun.

---

🪷 Penutup: Mata Air yang Tidak Pernah Kering

Riwayat hidup Jizang adalah riwayat manusia yang:

• belajar,
• melihat,
• membebaskan,
• dan akhirnya melampaui batas hidup dan mati.

Membacanya seperti mengikuti aliran sungai yang panjang—kadang deras, kadang tenang—tetapi selalu membawa kita menuju samudra kebijaksanaan.

Master Zhiyi - Sang Buddha Kecil“法华宗主,释迦再世”“Pemimpin aliran Sutra Teratai, Sakyamuni yang hidup kembali.”“Ia menolak ist...
04/07/2025

Master Zhiyi - Sang Buddha Kecil
“法华宗主,释迦再世”
“Pemimpin aliran Sutra Teratai, Sakyamuni yang hidup kembali.”

“Ia menolak istana megah, memilih hidup di gunung sunyi. Tapi dari keheningan itulah lahir ajaran besar yang kini menyinari dunia.”

Bagian I: Tanda-Tanda Sebelum Kelahiran – Cahaya dalam Rahim

Di langit Huayang, sebuah daerah tenang di Provinsi Sichuan, tahun 537 M menandai datangnya malam-malam yang tak biasa. Langit malam kala itu tampak jernih, namun di tengah keheningan itu, seorang wanita dari keluarga sederhana bermimpi tiga malam berturut-turut.

Di malam pertama, ia melihat seekor tikus putih besar masuk ke rumahnya dan melompat ke atas meja makan. Saat ia hendak mengusirnya, tikus itu memandangnya—bukan dengan ketakutan, melainkan ketenangan—sebelum berubah menjadi seberkas cahaya putih dan menyelinap masuk ke dalam tubuhnya melalui pusarnya.

Malam berikutnya, mimpi itu berulang. Kali ini, ia memakan semangkuk bubur putih yang rasanya tidak seperti makanan duniawi—lembut, dingin, dan harum seperti bunga teratai. Saat bangun, lidahnya masih mengecap rasa itu, dan udara kamarnya dipenuhi aroma wangi seperti d**a.

Di malam ketiga, ia melihat cahaya lima warna—biru, kuning, merah, putih, dan hijau—berputar di langit-langit kamar, kemudian turun perlahan dan masuk ke dalam rahimnya. Ia terbangun dengan tubuh hangat dan damai yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Wanita itu pun segera memberi tahu suaminya. Sang suami, seorang pejabat lokal yang berpendidikan, menyadari bahwa istri dan anak yang dikandungnya sedang menyatu dengan sesuatu yang luar biasa. Ia meminta seorang biksu tua untuk menafsirkan mimpi itu. Sang biksu hanya mengatupkan tangan dan berkata,

> “Itu adalah pertanda. Anak ini bukan kelahiran biasa. Ia membawa benih Dharma besar ke dunia ini.”

Beberapa bulan kemudian, tepatnya tahun 538 M, seorang anak laki-laki lahir ke dunia. Ia diberi nama Chen De’an (陳德安). Saat bayi itu lahir, para tetangga menyaksikan keanehan lain—seekor burung putih besar hinggap di atap rumah mereka dan berkicau keras sebelum terbang ke arah timur.

Wajah sang bayi begitu tenang. Ia tidak menangis keras seperti bayi kebanyakan, hanya mengeluarkan suara lirih seolah sedang melafalkan mantra. Kulitnya bersih, matanya bening, dan ketika diletakkan di bawah cahaya pagi, tubuhnya memantulkan cahaya lembut.

Ibunya menangis haru sambil memeluknya, dan dalam hati ia teringat kembali pada cahaya yang dulu memasuki perutnya.

> “Anakku ini akan membawa terang… bukan hanya bagiku, tetapi bagi dunia.”

Meskipun hidup dalam zaman yang diliputi perang dan ketidakstabilan politik, keluarga kecil ini merawat De’an dengan kasih dan hormat. Mereka tahu anak ini memiliki takdir istimewa. Dan memang benar: langit telah menanamkan sebutir benih Buddha ke dalam rahim ibunya, untuk tumbuh menjadi salah satu guru terbesar dalam sejarah Buddhisme Mahayana.

Bagian II: Masa Kecil dan Kehilangan Awal – Batin yang Tertempa Duka

Kehid**an kecil Chen De’an tidak diselimuti kemewahan, namun penuh dengan ketenangan dan keteraturan khas keluarga terdidik di Tiongkok selatan. Ayahnya, seorang pejabat lokal yang saleh, menanamkan kebiasaan membaca klasik dan menghormati para bijak sejak usia dini. Ibunya, yang semakin yakin bahwa anak ini adalah anugerah surgawi, mengajarinya welas asih sejak mulai berbicara.

Namun, saat De’an baru menginjak usia tujuh tahun, ayahnya meninggal dunia secara tiba-tiba karena sakit demam yang melanda daerah Huayang. Duka itu mengguncang keluarga mereka, dan menjadi pengalaman pertama De’an menyaksikan ketidakkekalan hidup yang begitu dekat. Ia tidak menangis seperti anak kecil pada umumnya, tapi diam di dekat jenazah ayahnya selama dua hari dua malam tanpa bicara, hanya memandang.

Orang-orang mulai mengatakan bahwa bocah ini "terlalu dalam untuk usianya".

Sejak saat itu, De’an sering duduk sendiri menatap sungai atau melihat daun gugur. Ia pernah berkata kepada ibunya dengan polos,

> “Ayah hanya pergi lebih dulu. Tapi aku akan mencari jalan supaya kita bisa berkumpul lagi. Tapi bukan di dunia ini…”

Kehid**an tanpa ayah membuat keluarganya semakin miskin. Namun hal itu malah mempercepat kematangan batinnya. Di usia sepuluh tahun, ia mulai tertarik pada kitab-kitab klasik dan cerita kehid**an Buddha yang ia dengar dari biksu keliling.

Suatu malam, saat baru berusia 14 tahun, ia bermimpi bertemu seorang bhiksu berjubah emas, duduk di atas teratai yang melayang. Bhiksu itu berkata:

> “Jalanmu panjang, tapi terang. Dunia ini penuh penderitaan, dan engkau tidak dilahirkan untuk tenggelam di dalamnya.”

Setelah terbangun, ia langsung mendatangi sebuah vihara kecil di pinggir kota dan meminta izin untuk tinggal dan belajar. Para bhiksu terkejut, sebab anak itu tidak hanya memahami dasar-dasar ajaran Buddha, tapi juga mengajukan pertanyaan-pertanyaan filsafat yang dalam, seperti:

“Apakah welas asih itu jika semua adalah kosong?”

“Bagaimana seseorang membebaskan makhluk lain jika tiada yang bebas dan tiada yang terikat?”

Di usia 17 tahun, De’an akhirnya ditahbiskan sebagai bhiksu penuh, dan mengganti namanya menjadi Zhiyi (智顗)—yang bermakna "Keteguhan dalam Kebijaksanaan".

Namun bahkan sebelum ia menerima jubah, satu peristiwa aneh lagi terjadi. Seorang pengemis buta yang sering datang ke vihara tiba-tiba menunjuk ke arah Zhiyi muda dan berkata,

> “Anak ini bukan dari dunia ini. Cahaya di kepalanya tidak seperti kita semua. Ia akan membuat gunung-gunung bersujud.”

Setelah itu, sang pengemis menghilang dan tak pernah ditemukan lagi.

Orang-orang mulai membicarakan keanehan dan keagungan anak muda ini. Namun Zhiyi tidak pernah mencari ketenaran. Dalam diam, ia menyimpan tekad yang membara:

> menemukan jalan sejati menuju pembebasan, bukan hanya bagi dirinya, tetapi untuk semua makhluk.

Dan demi itu, ia tahu ia harus mencari seorang guru sejati. Ia pun memulai perjalanan besar berikutnya: mendaki Gunung Dasu, untuk bertemu dengan bhiksu agung Huisi (慧思)—yang kelak menjadi penuntunnya dalam menembus samudra Dharma.

Bodhidharma: Sang Master Zen Pertama - Jejak Sunyi Sang Penyebrang SamudraDalam bayang-bayang pegunungan Songshan, di de...
16/06/2025

Bodhidharma: Sang Master Zen Pertama - Jejak Sunyi Sang Penyebrang Samudra
Dalam bayang-bayang pegunungan Songshan, di dekat dinding batu kuil Shaolin yang sunyi, seorang pertapa tua duduk menghadap tembok. Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun—tanpa kata, tanpa gerak, tanpa keluh. Ia dipanggil Bodhidharma, namun dunia mengenalnya dengan berbagai nama: Daruma di Jepang, Putidamo di Tiongkok, dan Bhodhitāra dalam naskah-naskah tua. Seorang pelintas zaman, seorang penembus dualitas, sang pembawa dhyāna—meditasi hening Mahayana—ke daratan Timur.
Namun siapakah Bodhidharma sejatinya? Ia bukan sekadar legenda berjubah merah dengan mata yang menatap tajam. Ia adalah simbol dari keheningan yang paling lantang, dari ajaran tanpa huruf, dari kesadaran yang menembus batas-batas bentuk dan nama.
________________________________________
Lahir di Selatan, Menyala di Utara
Catatan Kuno menyebutkan bahwa Bodhidharma berasal dari Selatan India, mungkin dari kawasan Tamil Nadu, dan dipercaya sebagai putra ketiga dari seorang raja brahmana dari dinasti Pallava. Ada yang mengatakan ia adalah seorang pangeran yang telah membangkitkan khodam-nya, menanggalkan mahkota, dan menempuh jalan sunyi sebagai bhikṣu. Dalam versi Tibet, ia digambarkan sebagai siddha berkulit gelap dari India Selatan—penuh kekuatan batin dan pembebasan.
Namun semua garis keturunan duniawi itu menjadi samar ketika ia menerima Dharma dari gurunya, Prajñātāra, yang kemudian mengubah namanya menjadi “Bodhidharma” — Dharma dari Bodhi, Kebijaksanaan Kesadaran. Maka sejak saat itu, tak lagi ia berjalan sebagai manusia biasa, melainkan sebagai pewaris silsilah spiritual dari para Bodhisattva dan Buddha.
________________________________________
Mewariskan Dharma Melalui Keheningan
Catatan tua seperti Lengqie Shizi Ji (楞伽師資記), atau “Catatan Guru dan Murid aliran Laṅkāvatāra,” mencatat bahwa Bodhidharma bukanlah leluhur pertama Chan (Zen), melainkan pewaris dari Gunabhadra, penerjemah Sūtra Laṅkāvatāra yang membawa ajaran Yogācāra dari India ke Tiongkok. Bodhidharma diyakini sebagai penerus keduapuluh delapan—terhitung dari Y.A Kassapa murid utama Sang Buddha, yang menjadi pelopor Dharma Zen pertama.
Menurut catatan klasik Zen seperti Wudeng Huiyuan (五燈會元), suatu hari Buddha Śākyamuni mengadakan pertemuan di Gunung Vulture. Di hadapan para muridnya, Beliau mengangkat sekuntum bunga teratai emas tanpa berkata apa pun. Semua hadirin bingung, hanya Mahākāśyapa (Kasyapa) yang tersenyum memahami. Buddha kemudian bersabda:
"Aku memiliki Harta Mata Dharma Sejati, Hati Nirwana yang Sempurna, ajaran tanpa bentuk, gerbang kebijaksanaan halus, yang tidak tergantung pada tulisan, diteruskan di luar ajaran biasa. Kuserahkan semuanya kepada Mahākāśyapa."
Peristiwa ini menandai Kasyapa sebagai Patriark Pertama Zen, memulai tradisi penerusan "hati ke hati".
Namun yang membuat Bodhidharma begitu menonjol bukan hanya silsilahnya, melainkan caranya menyebarkan Dharma. Ia datang ke Tiongkok bukan membawa segunung kitab, tapi sebatang tongkat sunyi dan sebuah tatapan yang menembus dinding batin. Ia mengajarkan "Dua Pintu dan Empat Praktik" (二入四行論), yakni jalan masuk melalui prinsip (laksana kebijaksanaan batin) dan melalui praktik (tanpa kemelekatan). Ajaran dan Praktik Bodhidharma
Bodhidharma dikenal sebagai tokoh yang memperkenalkan praktik meditasi Mahayana (dhyāna) ke Tiongkok. Karya satu-satunya yang dianggap otentik adalah Dua Pintu Masuk dan Empat Praktik (二入四行論), yaitu:
o Pintu Masuk Prinsipil: Pencerahan seketika atas hakikat sejati, yaitu sifat Buddha dalam diri kita.
o Pintu Praktik: Meliputi empat poin—
1. menerima penderitaan sebagai akibat karma,
2. hidup dalam ketenangan,
3. tidak mengejar nafsu,
4. melepas pikiran keliru sambil mempraktikkan Enam Paramita.
Menurut Yanagida Seizan, ajaran ini berasal dari pengaruh ajaran pencerahan seketika (dunwu) ala Tao-sheng, dan empat praktiknya merupakan pengembangan dari “empat landasan perhatian” (smṛtyupasthāna).

________________________________________
Menembus Tembok, Bukan Sekadar Melihat
Istilah “menghadap tembok” (壁觀 bìguān) sering muncul dalam catatan tentang Bodhidharma. Ia duduk menghadap dinding selama sembilan tahun di gua Shaolin, sebuah praktik yang bukan sekadar duduk kosong, melainkan perwujudan dari praktik zazen — duduk hening dalam kesadaran murni. Dalam keheningan itulah, tidak ada aku, tidak ada yang lain. Tidak ada pemisahan antara orang biasa dan para suci. Semua kembali pada satu hakikat—Tathatā, “demikian adanya.”
Ia mengajarkan, “Melihat ke dalam batin, dan menyadari hakikat sejati—itulah jalan menjadi Buddha.” Bukan hafalan sūtra, bukan ritual panjang, tapi kesadaran langsung atas Buddha-nature di dalam diri.
“Mereka yang meninggalkan delusi dan kembali ke kenyataan, bermeditasi bagaikan menghadap tembok, menyadari tiadanya aku dan orang lain, menyatu antara awam dan suci, dan tetap tak tergoyahkan walau oleh kitab suci, merekalah yang sejalan dengan kebenaran.”
Sebagian kalangan mengartikan praktik ini sebagai meditasi duduk (坐禪 zuòchán), mirip dengan zazen dalam tradisi Chan.
Namun, interpretasi lain menyebut bahwa menghadap tembok tidak selalu bermakna harus ada tembok untuk dihadapi. Dalam manuskrip Dunhuang versi Tibet, istilah tersebut diterjemahkan sebagai “meninggalkan diskriminasi dan berdiam dalam terang”, bukan “menghadap dinding”.

Bhiksu Tiga Kereta Bag.3Apakah Khuji akhirnya bisa mengingat kelahiran sebelumnya sebagai Arahat yang ingin bertemu deng...
23/10/2024

Bhiksu Tiga Kereta Bag.3
Apakah Khuji akhirnya bisa mengingat kelahiran sebelumnya sebagai Arahat yang ingin bertemu dengan Buddha? Jika ada kereta arak, kereta wanita cantik dan kereta buku buku sastra & puisi, apakah Khuiji bisa benar benar berlatih diri? Ayo kita ikuti kisah selanjutnya dari Sang Master tiga kereta.

Saat itu, bahkan Kaisar Tang Taizong merasa bingung dan bertanya kepada Mahaguru Xuanzang, "Apakah ini bisa diizinkan juga?" Xuanzang, yang sangat ingin membimbing seorang Arahat ini (yang sudah tidak mengingat kehid**an sebelumnya), merasa bahwa lebih baik menyetujui permintaan tersebut untuk sementara. Setelah Yuchi Gong menjadi biksu dan mulai belajar Buddha Dharma, hubungan karma dari kehid**an sebelumnya akan terhubung kembali, dan segalanya akan berjalan lebih lancar. Maka dengan tekad kuat, Xuanzang pun menyetujui syarat tersebut.

Dengan demikian, Yuchi Gong tidak bisa lagi menolak untuk menjadi biksu. Setelah ia meninggalkan kehid**an duniawi dan menjadi seorang pengikut Buddha, ia diberikan nama Dharma Khuiji. Khuiji kemudian belajar Yogācāra dan Vijñānavāda dari Xuanzang, dan kelak menjadi penerus kedua dari aliran Faxiang di Tiongkok. Karena keadaan yang melingkupi prosesnya menjadi biksu, ia kemudian dikenal sebagai Bhikkhu "Tiga Kereta". Tiga kereta tersebut melambangkan satu kereta untuk buku-buku novel, satu kereta untuk pelayan, dan satu kereta lagi untuk makanan dan minuman beralkohol.

Sebagaimana disebutkan di atas, Bhikkhu Khuiji menjadi terkenal karena prosesnya meninggalkan duniawi. Sebagai perwakilan kaisar, ia menjadi biksu yang sangat dihormati pada masa Dinasti Tang. Karena itulah, ia dijuluki sebagai Bhikkhu Tiga Kereta. Pada masa itu, hanya mereka yang berasal dari kalangan terbaik yang bisa menjadi biksu dan mempelajari Buddha Dharma. Untuk menjadi biksu, diperlukan surat izin dari pemerintah. Karena buku-buku suci Buddha masih sangat terbatas, hanya kaum bangsawan atau cendekiawan yang bisa mengaksesnya. Banyak dari mereka juga adalah pejabat kerajaan yang dipilih melalui sistem ujian kekaisaran. Hal ini sangat berbeda dengan situasi saat ini, di mana sebagian orang yang belajar Buddhisme melakukannya karena mengalami kegagalan dalam bisnis, cinta, atau kehid**an lainnya.

Karena ketenaran yang besar, serta posisinya sebagai wakil kaisar yang meninggalkan duniawi, Bhikkhu Khuiji dihormati oleh banyak orang. Namun, ada satu bhikkhu yang tidak menghormatinya—ia adalah Bhikkhu Taoxuan. Taoxuan adalah nama Dharmanya, dan "律師" (lǜshī) di sini artinya ahli Vinaya. Pada masa Dinasti Tang, Buddhisme sangat berkembang dengan banyak aliran, seperti Chan (Zen), Pure Land, dan Vinaya. Aliran Pure Land menekankan pelafalan nama Buddha dan kelahiran kembali di Sukhavati, Tanah Suci Buddha Amitabha. Sementara Chan berfokus pada pencapaian pencerahan melalui pengenalan diri sejati. Adapun Vinaya, adalah aliran yang menekankan ketaatan pada aturan disiplin Buddha.

Bhikkhu Taoxuan adalah seorang penganut ketat aliran Vinaya, yang memandang ajaran Vinaya sebagai gurunya. Ia menjalani hidup dengan sangat ketat dan membangun gubuk kecil di Gunung Zhongnan untuk berlatih. Karena semangatnya yang luar biasa dalam berlatih, bahkan para dewa tergerak dan datang untuk memberikan makanan kepadanya. Bisa dikatakan, ia telah mencapai tahap di mana ia tidak lagi bergantung pada makanan manusia. Karena kepatuhannya yang sangat ketat pada Vinaya, Bhikkhu Daoxuan sangat dihormati pada masanya.

Namun, karena gaya hidupnya yang keras dan ketat, Bhikkhu Taoxuan memandang rendah Bhikkhu Khuiji, dan ia selalu mencari kesempatan untuk mempermalukannya.

Suatu hari Bhikkhu Daoxuan menulis surat yang isinya mengatakan bahwa ia telah lama mendengar nama besar Khuiji, namun belum berkesempatan bertemu. Taoxuan menyatakan bahwa dirinya sedang dalam masa pelatihan keras di gunung sehingga tidak dapat turun untuk berkunjung. Ketika Khuiji menerima surat tersebut, ia dengan sopan membalas, mengatakan bahwa ia tidak layak menerima kunjungan Bhikkhu Taoxuan, dan kebetulan ia sedang memiliki waktu luang. Maka, Khuiji memutuskan untuk mengunjungi Bhikkhu Taoxuan di Gunung Zhongnan.

Pada hari yang telah ditentukan, Bhikkhu Khuiji berangkat menuju Gunung Zhongnan dengan iringan tiga keretanya yang membawa buku-buku, pelayan, dan makanan. Namun, setibanya di kaki gunung, jalan tidak memungkinkan untuk kereta lewat, sehingga Khuiji memerintahkan pengiringnya menunggu di sana dan ia melanjutkan perjalanan seorang diri mendaki gunung. Ketika ia tiba di gubuk sederhana Bhikkhu Taoxuan, Taoxuan sudah menunggunya di depan pintu, dan mereka saling bertukar sapaan sopan. Keduanya lalu duduk untuk minum teh dan berbincang-bincang.

Saat waktu mendekati siang, Bhikkhu Taoxuan berpikir dalam hati, "Sebentar lagi, makanan surgawi akan tiba, dan Khuiji akan tahu seperti apa hidup seorang pertapa yang sebenarnya." Namun, ia menunggu dan menunggu, tetapi makanan tidak datang. Ketika waktu menunjukkan lewat tengah hari, Bhikkhu Taoxuan terpaksa meminta maaf kepada Bhikkhu Khuiji, dan mereka berdua harus berpuasa, karena Bhikkhu Taoxuan mengikuti disiplin ketat untuk hanya makan sekali sehari sebelum tengah hari. Bhikkhu Khuiji tidak mempermasalahkan hal ini dan terus berbincang sambil minum teh hingga hari mulai gelap.

Bhikkhu Taoxuan dengan hangat mengundang Khuiji untuk bermalam di gubuknya, berpikir bahwa ini akan menjadi kesempatan bagi Khuiji untuk belajar merasakan kehid**an keras seorang pertapa. Karena undangan itu sangat tulus, Bhikkhu Khuiji pun setuju. Malam itu, seperti biasa, Bhikkhu Taoxuan duduk bermeditasi sepanjang malam tanpa berbaring. Sementara itu, Bhikkhu Khuiji tidur dengan nyenyak, bahkan mendengkur keras. Dengkurannya sangat mengganggu Bhikkhu Taoxuan, yang berpikir dalam hati, "Apakah ini perilaku seorang biksu sejati? Besok pagi, aku harus mengajarinya sedikit tentang aturan Sangha."

Menurut aturan monastik, ada etiket yang harus diikuti dalam segala aktivitas—berjalan, berdiri, duduk, dan berbaring. Ada pepatah yang berbunyi: "Berjalan seperti angin, berdiri seperti pohon pinus, duduk seperti lonceng, dan berbaring seperti busur." Cara tidur Bhikkhu Khuiji malam itu sangat jauh dari yang diharapkan dari seorang biksu. Keesokan paginya, Bhikkhu Taoxuan mulai menegur Bhikkhu Khuiji, mengatakan bahwa tidurnya tidak rapi, tidak mengikuti aturan, dan dengkurannya sangat mengganggu hingga ia tidak bisa beristirahat sepanjang malam.

Namun, Bhikkhu Khuiji dengan tenang menjawab, "Yang menyebabkan orang tidak bisa tidur tadi malam, bukan saya. Semalam, ada seseorang yang sedang bermeditasi dan digigit oleh seekor kutu. Dia sangat marah dan hampir membunuh kutu itu, tetapi dia teringat bahwa membunuh makhluk hidup tidak diperbolehkan. Akhirnya, dengan sangat tidak rela, dia melemparkan kutu itu ke tanah. Malangnya, kutu itu patah kakinya dan menangis sepanjang malam, membuat saya tidak bisa tidur."

Mendengar ini, wajah Bhikkhu Taoxuan berubah pucat, karena ia teringat bahwa tadi malam memang benar ada seekor kutu yang menggigitnya, dan ia benar-benar melemparkannya ke tanah. Tapi bagaimana mungkin Bhikkhu Khuiji yang sedang tidur dan mendengkur bisa mengetahuinya?

Akhirnya, setelah beristirahat sejenak, Bhikkhu Khuiji berpamitan dan turun dari gunung. Saat waktu makan siang tiba, dewi yang biasa membawa makanan surgawi muncul kembali. Bhikkhu Taoxuan, dengan marah, bertanya kepada dewi itu, "Mengapa kemarin kau tidak datang ketika aku memiliki tamu?"

Dewi itu menjawab dengan wajah polos, "Kemarin aku juga datang, tapi seluruh Gunung Zhongnan diliputi oleh awan keberkahan yang berwarna-warni, dan keempat Raja Dewa Agung dari empat penjuru dunia menjaga tempat ini. Aku hanya seorang dewi kecil, jadi aku tidak bisa masuk. Sebenarnya, tamu seperti apa yang datang kemarin?"

Mendengar hal ini, Bhikkhu Daoxuan tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Bagaimana kisah Bhikkhu Khuiji, menarik bukan? walaupun ia melanggar aturan Bhikkhu, tapi itu hanyalah awalnya saja pada tahun pertamanya ia menjadi Samanera. Setelah tahun berikutnya ia telah mengingat kelahirannya sebagai Arahat yang ingin mepelajari Buddha Dharma sejati.

Melalui bimbingan Master Xuanzang yang sabar, Khuiji dengan cepat menguasai Yogācārabhūmi-śāstra 瑜伽師地論 dan mendirikan aliran Yogācāra (法相宗-Faxiang Zong, aliran ini menyatakan bahwa semua sifat dan bentuk dari berbagai fenomena hanyalah perubahan dari kesadaran (唯識). Oleh karena itu, semua fenomena yang ada di alam semesta dianalisis berdasarkan sifat dan esensinya, lalu diorganisasikan dan disistematisas oleh kesadaran.) Pada masa Khuiji, aliran Yogacara sangat terkenal dan memiliki banyak peminat dari para terpelajar yang ingin mendalaminya.

Address

Medan
20223

Telephone

+628132642070

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Cerita Para Sesepuh Mahayana posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to Cerita Para Sesepuh Mahayana:

Share