Yayasan Al Amanah Lombok-AlpropeR

Yayasan Al Amanah Lombok-AlpropeR Yayasan Bergerak di Bidang :
a. Sosial
b. Keagamaan dan
c. Kemanusiaan Bergerak di Bidang :
Sosial
Keagamaan
Kemanusiaan

22/04/2024

BERJIHAD ADALAH BAGIAN DARI SYIAR, MERUPAKAN KARAKTER DARI ORANG-ORANG YANG BERIMAN DAN BERTAQWA

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Definisi Jihad pada jalan Allah:
Islam disyiarkan atau disebarluaskan oleh baginda Nabi, salah satunya dengan perintah Jihad dari Allah Aza Wajallah sebagai disebutkan dalam ayat-ayat di bawah ini.

Oleh para ulama, Jihad didefinisikan dalam 4 kategori pengertian dalam upaya untuk mencapai kebaikan:

1. Jihad melawan orang-orang zalim dan para pelaku kemungkaran (Jihad al-Babi al-Zhulmi wa al-Bida'ah al-Munkarat). Dalam pengertian mempertahankan diri dari serangan musuh yang berbuat kemungkaran. Termasuk didalamnya sabar untuk tetap melawan orang-orang yang selalu mengajak menyelewengkan ajaran islam melalui menambah dan mengurangi ajaran (Bid'ah) ini terjadi dari orang-orang islam itu sendiri, lantaran ketidak tahuan mereka (kurang berilmu) atau karena bisikan syhawat syetan yang selalu menggoda untuk menjerumuskan manusia pada kes**aran dan kenistaan hidup di dunia dan neraka di akhirat.

2. Jihad melawan orang-orang kafir dan munafik (Jihad al-Kuffar wa al-Munaffiqin). Jihad dalam arti menegakkan agama Allah dan untuk meninggikan-Nya. Ayat-ayat yang mengandung perintah hanya memerangi pihak yang menyerang umat Islam saja:
وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
الشَّهْرُ الْحَرَامُ بِالشَّهْرِ الْحَرَامِ وَالْحُرُمَاتُ قِصَاصٌ فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ
Bulan haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang patut dihormati, berlaku hukum kisas. Oleh sebab itu barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (Qur'an Surah 2, Al Baqarah Ayat 194).

3. Jihad untuk Memperbaiki Diri (Jihad al-Nafs). Jihat untuk mencari ilmu dan melepaskan diri dari kebodohan yang mengandung resiko cedera, kematian atau terbunuh.

4. Jihad Melawan Setan (Jihad al-Syaithan). Jihad dalam arti berusaha melepaskan diri dari godaan setan. Semua perbuatan karena bisikan syahwat biasanya muncul keinginan yang kuat untuk melakukan tindakan dari singgasana hati manusia.
Jadi Jihad dalam arti yang luas, selai dari bermakna peperangan adalah usaha untuk mewujudkan kebaikan misalnya seperti dakwah, pendidikan, ekonomi dan lain-lain termasuk menyebarkan kebaikan di sosial media.
Ayat-ayat yang mengandung perintah untuk memerangi semua kaum musyrikin yang memusuhi Rasulullah, misalnya QS At Taubah ayat 5 dan 36, Qur'an Surah 2, Al Baqarah Ayat 190-191.

5. Berjihad (Pemberani sebagai pejuang di jalan Allah dalam melawan kedzaliman).
وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ فَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ
Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu p**a) dalam (Al Qur'an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. (Qur'an Surah 22, Al-Hajj Ayat 78).
Ayat-ayat yang mengandung perintah memerangi mereka yang tidak beriman ketika mereka ingkar janji ataupun zhalim, misalnya QS At Taubah ayat 12, 14, 29, dan 73, QS Annisaa ayat 75, 76, dan 84, QS Al Anfaal ayat 39, dan Al Maaidah ayat 54.

Semoga bermanfaat. Aamiin ya Rabb

Wallahu a'alam bish shawabi

Oleh: Ab 22/4/024

09/04/2024

HARI RAYA ‘IDUL FITHRI' 1445 H

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Kita semuanya mendapat Magfirah, Rahmat dan Pengampunan. Aamiin Ya Rabbal Alamin (Kabulkanlah doa kami wahai Tuhan Semesta Alam).

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 2024/1445 HIJRIAH

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكَ
Semoga Allah Menerima Ibadah Kita. Amin.

Definisi: ‘ID dalam kata ’IDUL adalah dari asal kata YA UDU yang berarti KEMBALI BERKUMPUL yang merupakan kebiasaan.
Jadi HARI RAYA ‘ID dalam bahasa Arab mengandung pengertian: adalah sebuah komunitas yang berkumpul mengadakan perayaan, untuk memperingati sesuatu yang membahagiakan.

Alhamdulillah, bagi kita umat Islam, Allah telah tentukan melalui Sunnah Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam, memiliki tiga macam Hari Raya yang membahagiakan yaitu:
1. Hari Raya Idul Fithri.
2. Hari Raya Idul Adha. Dan
3. Hari Jum’at.

Khusus pada kesempatan kali ini kita membahas mengenai Hari Raya Idul Fithri.

Hari Raya Idul Fithri merupakan perayaan penutup dalam serangkaian kegiatan ibadah Puasa yang telah disyariatkan. Dan seluruh rangkaian kegiatan ibadah tersebut telah berhasil dilaksanakan. Sehingga setiap pribadi muslim merasa bahagia.
S**a cita ini diungkapkan dalam bentuk perayaan sebagai tanda bersyukur atas telah berhasilnya menunaikan perintah Allah yaitu berpuasa selama satu bulan dalam bulan ramadhon. Artinya kita telah berhasil untuk mengekang hawa nafsu demi mengikuti perintaNya sehingga kita kembali menjadi Fithrah atau bersih. Pada hari Idul Fithri kita bagaikan bayi yang baru dilahirkan.

Adapun Kegiatan Syariat Pada Idul Fithri Adalah:

1. Zakat Fithrah
Yaitu berupa makanan pokok yang jumlahnya sudah ditentukan oleh syariat, dikeluarkan untuk setiap jiwa termasuk bayi yang baru dilahirkan, dari sisa rezeki yang diperoleh selama setahun, kemudian diperuntukan bagi saudara-saudara kita sesama muslim yang berhak menerimanya dengan syarat-syarat yang ditetapkan berdasarkan ketentuan syariat. Dibayarkan pada waktu sampai menjelang malam Idul Fithri hingga sebelum khatib naik ke mimbar untuk berkhotbah shalat Idul Fithri. Tampaklah pada saat hari raya Idul Fithri tidak ada lagi seorang muslimpun yang merasa lapar karena tidak makan, dan pada hari ini semua merasakan kebahagiaan.

2. Shalat Idul Fithri
Yaitu shalat dua rakaat yang dikerjakan pada waktu pagi hari, setelah matahari naik setinggi tombak secara kasat mata, di ufuk timur. Sunnah untuk sedikit diakhirkan waktunya dengan tujuan untuk memberikan kesempatan kepada yang belum mengeluarkan zakat fithrah untuk segera menyelesaikan kewajibannya.

Hukum Shalat ‘ID

Hukum SAHALAT ‘ID adalah Fardhu ‘Ain kecuali yang memiliki udzur, inilah yang paling kuat kedudukannya berdasarkan pendapat jumhur ulama. Walau beberapa ulama punya pandangan yang berbeda tentang hal ini.

Dalil yang menguatkan bahwa Hukum SAHALAT ‘ID adalah Fardhu ‘Ain ialah:

1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَر

Artinya:
“’Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu’; dan Berkorbanlah.”

 Dalam tafsiran yang masyhur yang dimaksud shalat dalam ayat ini adalah “Shalat ‘ID”. Maksud dari "dan Berkorbanlah" adalah perintah penyembelihan hewan kurban dalam syariat Islam, pada hari Idul Adha.

2. Diriwayatkan, Ummu Athiyyah ra menceritakan:

أَمَرَنَا – تَعْنِي النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنْ نُخْرِجَ فِي الْعِيدَيْنِ: الْعَوَاتِقَ، وَذَوَاتِ الْخُدُورِ، وَأَمَرَ الْحُيَّضَ أَنْ يَعْتَزِلْنَ مُصَلَّى الْمُسْلِمِينَ.

Artinya:
“Beliau (Nabi Shallallahu alaihi wa sallam), menyuruh kami pada saat ‘iedain (dua hari raya) untuk mengeluarkan para gadis dan perawan-perawan pingitan, dan beliau menyuruh para wanita yang sedang haid agar menjauh dari barisan shalat kaum muslimin.” (Shaheh HR Bukhari 974 dan 980 dan Muslim 890).

Dari penjelasan Hadits di atas Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam menyuruh seluruh kaum muslimin dan muslimat atau dengan kata lain disamping laki-laki juga menyuruh ibu-ibu dan para gadis untuk melaksanakan SHALAT ‘ID, kecuali yang berhalangan seperti wanita yang sedang haid.

3. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, sejak disyariatkannya Shalat 'ID pada tahun kedua Hijriah, selalu mengerjakan tanpa meninggalkannya hingga Beliau wafat.

Pendapat Para Ulama:
1. Pendapat Imam Abu Hanifah.
Fardhu ain: maksudnya diwajibkan atas setiap muslim yang mukallaf (baligh dan berakal).
2. Pendapat Imam Ahmad.
Fardhu kifayah: bila dikerjakan oleh sejumlah orang yang mencukupi, di suatu negeri maka gugur (kewajibannya) atas sebagian yang lain.
3. Pendapat Imam Malik dan mayoritas ulama madzhab Imam Asy-Syafi’i.
Sunnah Muakkadah: tidak wajib.
“Pendapat ini berdalil dengan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam kepada seorang a’rabi (dari sebuah perkampungan) ketika beliau Shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan kewajiban shalat lima waktu, orang tersebut bertanya 'Apakah ada kewajiban (shalat) yang lain bagiku selain itu?' Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, 'Tidak ada, kecuali bila kamu ingin bertathawwu’ (melakukan sunnah).” (Shaheh HR Bukhari 2678 dan Muslim 11).

Adab-Adab Di Hari Raya 'ID

Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam mencontohkan kepada kita tentang adab dalam cara melaksanakan hari raya 'Id:

1. "Mandi Hari Raya"
Mandi ini disamping untuk membersihkan diri dalam menyambut hari kebahagiaan, tetapi yang utama mengandung nilai ibadah, didalamnya ada ganjaran pahala di sisi Allah, karena mengerjakan sesuatu yg dianjurkan oleh syariat. Mandi dilaksanakan dengan niat mandi hari raya, termasuk untuk Shalat 'Id. Adapun caranya sama seperti mandi junub. (Al-Mughni 3/256).

2. "Sunnah Membersihkan diri, memakai bahan yang harum dengan minyak wangi bagi lelaki, dan bersiwak dan mengenakan pakaian yang terbaik yang dimiliki."

Ibnu Abbas ra berkata, Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda:

وَإِنْ كَانَ طِيبٌ فَلْيَمَسَّ مِنْهُ وَعَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ

Artinya:
“Dan jika ada minyak wangi maka sentuhkanlah darinya (pada pakaian dan badan). Serta hendaknya kamu bersiwak.” (Shaheh HR Ibnu Majah 1098. Dinyatakan shaheh sanad hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah 1/326).

3. "Sunnah untuk makan dahulu sebelum berangkat shalat Id, dan dengan beberapa biji kurma."
Agar stamina tetap terjaga pada saat melaksanakan shalat Id.

4. "Berjalan kaki sampai ke tempat shalat jika memungkinkan dan dengan langkah kaki yang tenang atau tidak tergesa-gesa."
Ini semua masuk pada tertib dalam bersyiar.
Jadi perjalan berangkat dan p**ang kembali kerumah dari shalat Id dengan adab yang bagus, merupakan pelaksanaan syiar Islam bagi yg melakukannya dengan mengikuti Sunnah. Hikmahnya untuk menghindari sikap ugal-ugalan disaat keramaian.

5. "Disunnahkan untuk melaksanakan shalat di lapangan atau di tempat terbuka, kecuali ada sesuatu yang menghalanginya."
Ini semua merupakan syiar Islam.

6. "Bagi makmum dianjurkan untuk lebih cepat hadir di tempat shalat dibanding imam yang disunnahkan datang sampai menjelang shalat Id."

7. "Bertakbir dari sejak keluar rumah sampai dengan menjelang shalat Id dikerjakan, dengan suara yang bisa di dengar oleh orang banyak (merdu dan nyaring) bagi laki-laki."
Yang menjadi dalilnya adalah Ayat Al-Quran dan dikaitkan dengan contoh dari perbuatan Beliau Shallallahu Alahi wa Sallam pada saat setiap berangkat melaksanakan shalat Id. (Silsilah Ash-Shahihah 1/120, hadits 170, oleh Syaikh Al-Albani). Sunnah tersebut tetap dilanjutkan oleh Khalifah-Khalifah selanjutnya dalam pemerintahan Islam. Seharusnya negara menegakkan hukum syariat Islam, baru pas dengan perintah Allah dan RasulNya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ الله عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya:
“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu (bertakbir) mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS Al-Baqarah: 185).

Dengan ayat di atas sebagian ulama berdalil akan dimulainya takbir, dari sejak malam hari Idul Fithri, setelah ditetapkannya bahwa besok adalah hari Id, dengan terlihatnya hilal satu Syawwal atau dengan disempurnakannya bilangan Ramadhan menjadi 30 hari.

8. "Disunnahkan dengan berangkat shalat Id pada jalan yang berbeda dengan p**angnya dari shalat Id."
Syiar untuk menegakkan agama Allah.

9. "Tidak ada azan dan iqamah pada shalat Id."

10. "Tidak ada shalat sebelum dan sesudah sahalat Id."

11. "Bagi yang tertinggal shalat Id berjama’ah, maka hendaknya dia mengqadha atau mengganti nya, dengan cara yang sama sebanyak dua rakaat."
Hal ini berdasarkan hadits Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dalam Shahih Al-Bukhari no. 987.

12. "Hadirnya anak-anak di tempat shalat Id untuk ikut melaksanakan shalat dan sebagiannya karena terlalu kecil hanya untuk melaksanakan dan menykasikan alunan takbir, merupakan pemandangan yang terjadi pada jaman Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam."

13. "Keluarnya seluruh wanita muslim yang tidak ikut melaksanakan shalat karena halangan (haid), dengan memakai hijab (secara syar’i), dengan tidak menggunakan minyak wangi, adalah pemandangan yang terjadi pada saat Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam masih hidup."

14. "Saling memberi ucapan selamat ketika berjumpa dengan saudaranya, sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat."
Jubair bin Nufair, ia berkata, “Adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila bertemu di hari raya (‘Id), sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain:

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكَ

Artinya:
“Semoga Allah menerima ibadah, kami dan anda.” (Fathul Bari Bi Syarhi Shahihil Bukhari 2/446, oleh Ibnu Hajar al-Asqalani).

Inilah prosesi Perayaan Hari Raya Idul Fithri yang penuh dengan s**a cita bagi umat Islam, menurut Sunnah Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam.
Dan jika dilaksanakan menurut tuntunan Beliau, maka secara langsung sebagai pribadi muslim kita sudah ikut menegakkan syiar Islam secara syar'i.

Oleh: Ab diupdate 09/04/024 *dari berbagai sumber*

29/03/2024

Aبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bentengi Diri Dari Penderitaan, Dengan Mengamalkan lima Perkara Berikut:

1. Kagumilah sesuatu karena kita mengagumi dan mencintai Allah sebagai pencipta yang kita kagumi, dan mencintai Rasulullah karena Allah sudah menjadikannya sebagai manusia utusanNya. Dan ingatlah memberi ruang dalam hati ada sesuatu selain dari Allah untuk dicintai itu merusak aqidah, karena mempersekutukan Allah dengan yang lain dalam bentuk cinta. Semasih ada dalam hati kita persekutuan macam ini, hati kita akan tetap menderita.
2. Cintailah hanya kepada Allah dengan cara berbuat baik dan mencintai tanpa mengharap balasan sedikit pun kecuali kepada Allah. Karena jika tidak maka segala amalan yang telah kita kerjakan akan lenyap karena Allah tidak menghitungnya sebagai pahala bagi kita.
3. Jangan sombong dan membangga-banggakan diri atas kelebihan yang dimiliki berupa harta benda, sombong karena merasa manhaj yang kita jalani adalah satu-satunya pintu hidayah menujuh Allah padahal pintu hidayah itu seluas kasih sayang dan pengampunaNya.
4. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua (mertua), keluarga, para kerabat, anak yatim dan piatu, orang-orang yang lagi membutuhkan karena mereka tergolong miskin dan kaum duafa yang kita temukan disetiap pojok kehidupan. Berbuat baik kepada seluruh tetangga kita yang di depan dan belakang, di samping kanan dan kiri rumah kita. Begitu juga berbuat baik kepada seluruh warga komplek tempat kita tinggal. Berbuat baik terhadap sahabat-sahabat, terhadap teman seperjalanan dan orang-orang yang membantu memenuhi kebutuhan hidup kita sehari-hari. Dan berlaku rendah hati, beramal saleh dengan selalu menjaga hati dari rasa riya'.
5. Selalu berdzikir dengan lafal Asmaul Husna (diperkokoh dengan selalu mengingat Allah) mengiringi setiap denyut jantung nafas kehidupan, dengan cara melalui tuntunan Nabi صلی الله عليه وسلم.

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar". (Qur'an Surah 31, Lukman Ayat 13).

ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. (Qur'an Surah 6, Al An'Aam Ayat 88).

Orang yang aqidahnya rusak, selama hidup hatinya akan penuh dengan penderitaan walapun dalam bergelimang harta benda, hidup populer karena jabatan yang tinggi. Itulah sebab dari beberapa cerita ada orang-orang yang diagung-agungkan oleh golongan tertentu, karena pengaruhnya dalam kehidupan sosial dan karena harta benda yang dimilikinya, mereka selalu tampak ceria dalam elukan masa pengagumnya selagi mereka orasi, mereka dalam golongan politikus, publik figur bahkan dalam mafia-mafia bisnis, mereka adalah tokoh-tokoh penting bagi pemujanya, mereka memiliki musuh dimana-mana, hidup tidak bisa tenang, jiwa selalu terancam dan kadang mereka mengkhiri hidup dengan bunuh diri (bunuh diri adalah dosa besar), yang di hari akhirat mereka selalu bunuh diri dengan cara mereka bunuh diri, seperti pada saat mereka mengakhiri hidupnya.

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالا فَخُورًا
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, (Qur'an Surah 4, An-Nisaa Ayat 36).

Semoga bermanfaat. Aamiin ya Allah ya Rabb.

Wallahu a'lam bish shawabi

29/3-2024

28/03/2024

ALLAH MURKA JIKA DIDUAKAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Allah Subhanahu wata'ala berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat lalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (Qur'an Surah 2, Al-Baqarah Ayat 165).

Mencintai Istri, anak, keturunan, harta benda, dan jabatan, sama bahkan melebihi cinta kepada Allah. Allah tidak rela atau ikhlas ada ruang yang menempati hati manusia yang sedianya ruang hati itu ada hanya untuk Allah. Allah sangat cemburu, yang besar cemburunya sama-dengan 70 kali lipat cemburu seorang suami yang membunuh istrinya karena cemburu lantaran mengetahui istri yang dicintainya, yang tega melakukan perzinahan dengan lelaki lain.
Bila Allah cemburu maka dipisahkanNya suami dari istri yang dicintainya, begitu juga sebaliknya dipisahkanNya Istri dari suami yang dicintainya dengan cara perceraian atau dipisahkan dengan jalan kematian dari salah satu pasangannya. DipisahkanNya dari anak keturunnya yang dicintainya, diambil kembalinya harta benda yang menjadi rezekinya, dicabutnya kembali jabatan yang pernah diserahkannya selaku khalifah dimuka bumi yang menjadi rahmat darinya. Dan bila orang sudah jelas-jelas masuk kepada kesyirikan yaitu percaya bahwa ada selain Allah yang bisa memberikan manfaat dan mudharat untuk dirinya, seperti mengangkat Nabi sebagai Tuhan, mengkultuskan ulama yang menjadi manhajnya, percaya kepad dukun, minta sesuatu melalui kuburan dan semua keyakinan yang serupa itu, maka orang tersebut akan jatuh kepada dosa syirik.

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (Qur'an Surah 4, An-Nisaa Ayat 48).

Untuk itu harus hati-hati terhadap tersamarnya dosa syirik atau rusak aqidah, demi untuk mendapatkan kasih sayangnya Allah.

Semoga bermanfaat. Aamiin ya Rabb

Wallahu a'alam bish shawabi

Oleh: Ab 28/3/024

27/03/2024

DERAJAD AKAN DIANGKAT DENGAN BERTAUBAT NASHUHAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bertaubat (Tidak melakukan lagi setiap kesalahan yang sudah terjadi baik kecil maupun besar).
Bertaubat Nashuhah: Adalah pekerjaan hamba yang paling dis**ai oleh Allah.

Definisi: "Tidak mengulangi kembali pekerjaan mendurhakai Allah seperti berbuat semua bentuk dosa, berupa melakukan perbuatan yang dilarang, atau berhenti untuk melanggar yang sudah ditentukan oleh hukum-hukum Allah dalam bentuk syariat. Tidak melakukan lagi kesalahan yang bisa merugikan diri sendiri, orang lain dan tidak melakukan lagi segala bentuk kerusakan di muka bumi, semuanya dilakukan dengan sepenuh hati. Dan benar-benar menyesali segala dosa-dosa yang telah dilakukan sebelumnya dengan mengharap pengampunan dari sisiNya.
Menurut Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya: Taubat Nashuhah adalah Kembali kepada jalan Allah yang sebenarnya dengan sepenuh hati, akan menghapus keburukan-keburukan yang dilakukan sebelumnya, mengembalikan keaslian jiwa orang yang bertaubat, serta menghapus keburukan-keburukan yang dilakukannya.

Firman Allah Aza Wajallah:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (Qur'an Surah 24, An-Nuur Ayat 31).
Dengan Ayat ini orang bertaubat dijanjikan keberuntungan dalam segala hal dalam kehidupan di dunia dan terlebih kehidupan di akhirat, dikarenakan telah terhapusnya keburukan-keburukan yang dilakukan sehingga jiwa telah suci kembali sesuai dengan keasliannya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ يَوْمَ لا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu". (Qur'an Surah 66, At-Tahriim Ayat 8).

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
Sesungguhnya tobat di sisi Allah hanyalah tobat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertobat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah tobatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Qur'an Surah 4, An-Nisaa Ayat 17).

فَمَنْ تَابَ مِنْ بَعْدِ ظُلْمِهِ وَأَصْلَحَ فَإِنَّ اللَّهَ يَتُوبُ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Maka barang siapa bertobat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qur'an Surah 5, Al-Maa-Idah Ayat 39).

وَإِذَا جَاءَكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِنَا فَقُلْ سَلامٌ عَلَيْكُمْ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ أَنَّهُ مَنْ عَمِلَ مِنْكُمْ سُوءًا بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَصْلَحَ فَأَنَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: "Salaamun-alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertobat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qur'an Surah 6, Al-An-Aam Ayat 54).

Empat ayat diatas menguraikan tentang: Orang-orang yang bertaubat bukan saja jiwanya akan suci kembali sehingga dia layak untuk bertempat tinggal di surga, tetapi juga akan diangkat derajadnya karena menyadari telah khilaf melanggar perintah Allah. Sehingga diakhiratpun seluruh Nabi-Nabi dan orang-orang beriman yang bertaubat tidak dihinakan lagi lantaran mereka semasih di dunia kembali ke jalan Allah (Bertaubat) dan di akhirat sebagai tempat kembalinya adalah surga yang dinaungi dengan cahaya Ilahi.

Demikian semoaga bermanfaat

Walahua'lam bisawab

Oleh: Ab 26/03/2024.

27/03/2024

HIDUP BERKAH DAN SURGA BAGI YANG SELALU BERAKHLAK BAIK

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Topik pembahasan kita kali ini adalah:

HIDUP BERKAH DAN SURGA BAGI YANG SELALU BERAKHLAK BAIK

Selalu saling mengingatkan UNTUK BERBUAT KEBAJIKAN DAN MENGHINDARI KEMUNGKARAN. Orang-orang shaleh di antara mereka telah diselamatkan karena perbuatan SALING MENGINGATKAN ini, walaupun jumlah mereka hanya sedikit, seperti yang diuraikan pada ayat berikut, di bawah ini.
Sebenarnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharapkan kepada hamba-hambaNya untuk mencari keutamaan di sisiNya, dan Allah selalu mengingatkan hal ini melalui firmanya:
فَلَوْلاَ كَانَ مِنَ الْقُرُونِ مِن قَبْلِكُمْ أُوْلُواْ بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ الْفَسَادِ فِي الأَرْضِ إِلاَّ قَلِيلاً مِّمَّنْ أَنجَيْنَا مِنْهُمْ وَاتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مَا أُتْرِفُواْ فِيهِ وَكَانُواْ مُجْرِمِينَ
Artinya:
Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. (Qur'an Surah 11, Hud Ayat 116).

Allah menganjurkan untuk SELALU BERAKHLAK BAIK melarang untuk berbuat kerusakan di muka bumi, seperti Menyebar Teror dan Menumpahkan Darah (kecuali dalam peperangan). Allah melarang berbuat syirik, khurafat, takhayul dan segala perbuatan dosa besar karena merusak akidah dan akan mengakibatkan terjadi kemunduran bagi kehidupan generasi ke generasi umat islam di muka bumi. Allah melarang perbuatan-perbuatan yang bisak merusak moral secara masal.
Kepada mereka yang tidak mencegah diri untuk menghindar dari perbuatan yang merusak, dan di pihak yang lain mereka tidak menasihati dan mencegahnya, padahal mereka mampu melakukannya dengan kekuasaan yang ada ditangannya, maka Allah menganggap (kedua-duanya baik pelaku dan yang tidak mencegah), mereka sebagai pendosa yang dimurkai.
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita dan semoga kita selalu abadi dalam Rahmat dan Kasih sayangNya. Aamiin.

Demikian, semoga bermanfaat. Walahu a'lam bisawab

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Oleh Ab 25/03/024.

27/03/2024

"Tindakan Allah Dalam Bahasa Yang Difahami Manusia"
PEMURNIAN AQIDAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
Artinya:
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (Qur'an Surah 7, Al A'raaf Ayat 54).

Bahwa Allah adalah pisah dari manusia, namun dekat dengan manusia. Sampai-sampai Allah mengetahui setiap bisikan hati manusia, tetapi ingat lho,,, tidak bersatu dengan manusia maupun makhluknya, ini jatuh kepada aqidah syirik (dosa) besar. Oleh karena itu Allah memberi perumpamaan bagi orang yang mau berpikir, saking dekatnya Allah dengan manusia: bahwa Allah itu lebih dekat dengan manusia dari pada manusia dengan urat leher manusia itu sendiri. Jadi disini berkomunikasi dengan bahasa yang bisa difahami oleh manusia. Allah menguraikan tentang kedekatan antara manusia yang diciptkan dengan Allah sebagai pencipta, tidak menyatakan bahwa Allah bersatu dengan manusia atau makhluknya sebagaimana yang dipahami dan diyakini oleh orang-orang zindik. Keyakinan ini yang mengantarkan orang-orang zindik jadi musrik bahkan mengantarkan mereka kepada kekafiran karena mereka pada akhirnya mengaku diri sebagai Tuhan atau Allah. Seperti Al-Khalaz dari Irak dan beberapa orang yang tercatat sebagai kaum zindik sudah diperangi (dihukum mati) pada zaman Dinasti Bani Abbasiyyah dan beberapa belahan bumi lainnya termasuk di Nusantara. Dengan hukuman yang mereka dapat, sebenarnya merupakan peringatan orang-orang yang mau berpikir, bahwa betapa besar dosa mereka karena menyimpangan dalam pemahaman mereka, jadi mohon hati-hati. Pengertian kedekatan yang bertauhid ini terjadi karena lantaran Ilmunya Allah yang meliputi seluruh makhluknya.

تَنْزِيلا مِمَّنْ خَلَقَ الأرْضَ وَالسَّمَاوَاتِ الْعُلا
yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Qur'an Surah 20, Thaahaa Ayat 4).

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas 'Arsy. (Qur'an Surah 20, Thaahaa Ayat 5).

Demikian Allah menerangkan kepada manusia bahwa Allah Maha Tinggi, baik bermakna secara batin maupun bermakna secara dzahir.

Dengan memahami hal yang paling basic (pengertian pokok agama) tentang ketauhidan untuk memurnikan aqidah, lalu orang-orang bertaqwa akan terus berdzikir mengagungkan kebesaranNya, meninggikan dan memuliakan kedudukanNya, memujiNya dalam bersyukur dan bersabar untuk selalu dekat denganNya serta berdoa untuk keridhaanNya tentang hidup dan mati. Dampak bagi kehidupan orang-orang bertauhid karena pemahaman yang benar tentang aqidah maka hatinya selalu tenang, karena merasa hidup selalu dicukupkan, selalu dapat perlindungan untuk merasa aman, diberkahi dan abadi dalam kasihNya.

Walahua'lam bisawab

23/3-2024

Address

Mataram
83351

Opening Hours

Monday 08:00 - 17:00
Tuesday 08:00 - 17:00
Wednesday 08:00 - 17:00
Thursday 08:00 - 17:00
Friday 08:00 - 17:00
Saturday 08:00 - 17:00

Telephone

6203706162993

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Yayasan Al Amanah Lombok-AlpropeR posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share