06/09/2021
Lebih Dekat Dengan Sosok Cucu Maulanasyeikh HM Djamaludin (1)
Kuliah IT di Luar Negeri, Pernah Bekerja Tiga Tahun di Korea Selatan
Oleh: Fatih Kudus Jaelani
Djamaluddin tidak tumbuh di lingkungan pondok pesantren. Bidang keilmuan yang ia pilih juga bukan agama. Low profile, dan memiliki gaya hidup sederhana. Dia memiliki cara sendiri yang mungkin berbeda dalam membantu meneruskan perjuangan kakeknya, Maulanasyeikh TGKH Zainuddin Abdul Majid.
Di tengah kesibukan mempersiapkan acara tasyakuran nasional HUT NWDI ke 86, HM Djamaluddin menyempatkan diri bertemu penulis. Ngobrol santai berlangsung di kediamannya, di Lingkungan Lauk Masjid, Kelurahan Pancor, Kecamatan Selong.
Djamaluddin merupakan putra bungsu dari pasangan almarhum HM Djalaluddin dan Hj Siti Rauhun Zainuddin Abdul Majid. Sejak kecil ia bermukim dan menempuh pendidikan di Mataram. Setelah selesai di SMAN 1 Mataram, ia melanjutkan pendidikan ke ITB Bandung. Di tengah menempuh pendidikan di ITB, ia mendapat beasiswa untuk kuliah di Monash University, Melboune, Australia. “Saya mengambil jurusan electrical dan computer system engineering,” tuturnya.
Lelaki kelahiran Pancor, 15 November 1973 ini tumbuh di lingkungan sekolah yang jauh dari ketenaran sebagai cucu ulama besar, pendiri organisasi terbesar di NTB. Seingatnya, hampir tidak ada perlakuan teman-teman dan gurunya yang mencolok. Sampai pada suatu hari saat ia duduk di bangku SMA, ada seorang guru non muslim yang justru menceritakan pada seisi kelas sosok kakeknya. Kejadian itu sangat berkesan bagi Djamaluddin.
Jangan kira Djamaluddin bersedih karena perlakuan yang biasa itu. Karena belakangan ia menyadari betul, justru hal itulah yang ia inginkan. Tumbuh tanpa adanya perlakuan yang berbeda sebagai cucu Maulanasyeikh membuatnya lebih mandiri dan bergerak secara alami. “Memang ada positifnya saya tidak di Pancor. Karena tidak ada tekanan. Dan Maulanayseikh sendiri selalu memberikan izin atas pilihan saya untuk sekolah di luar,” jelasnya.
Kembali ke pendidikan. Setelah mendapat gelar Bachelor of Engineering di Australia pada tahun 1998, ia tak kembali ke Lombok. Melainkan bekerja di salah satu perusahaan komputer di Jakarta. Beberapa tahun di sana, ia kemudian mendapat tawaran untuk bekerja pada salah satu perusahaan komputer di Korea Selatan.
Tiga tahun di negeri ginseng, ia memilih kembali untuk melanjutkan kuliah di Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya. Di sana, ia mendapat gelar Magister in Information Technology (M.kom) pada 2007. Di sana jugalah ia bertemu dengan jodohnya Hj Dukha Yunitasari.
Yang menguatkan langkah Djamaluddin kembali ke Pancor adalah pesan kakeknya Maulanasyeikh TGKH Zainuddin Abdul Majid. Pesan itu berisi tentang kebebasan untuk memilih keahlian apapun yang ditekuni. “Karena kemampuan dan keahlian itu dibutuhkan untuk mengembangkan NWDI,” tuturnya. (*bersambung)