06/08/2026
Busana liturgi seorang imam yang dikenakan selama Misa:
Asal-usulnya berasal dari pakaian Yunani-Romawi, bukan merupakan adaptasi langsung dari busana para imam dalam Perjanjian Lama. Pernyataan Santo Hieronimus bahwa ritus-ritus suci memerlukan busana khusus turut memengaruhi praktik Gereja.
Norma-norma liturgi mengenai tata cara mengenakan busana liturgi mulai dibakukan sekitar tahun 800 M dan sebagian besar tetap tidak berubah hingga Konsili Vatikan II.
Busana yang digunakan dalam Misa meliputi amik, alba, singel, stola, dan kasula, serta manipel yang digunakan sebelum tahun 1969.
Amik, berupa kain linen berbentuk persegi panjang, melambangkan perlengkapan rohani untuk melawan kejahatan, dengan mengingat Efesus 6:17. Alba, busana berwarna putih yang melambangkan kemurnian baptis, merujuk pada Wahyu 7:14 dan mengingatkan para imam akan tugas mereka untuk mempersembahkan Misa dengan kemurnian tubuh dan jiwa. Singel, berupa tali yang dikenakan di pinggang, melambangkan penguasaan diri, menggemakan nasihat Santo Petrus dalam 1 Petrus 1:13-15.
Stola, yang dikenakan di sekitar leher, melambangkan wewenang imam serta tugasnya untuk mewartakan Sabda Allah. Kasula, yang dikenakan di atas alba dan stola, melambangkan kasih, sebagaimana tercermin dalam Kolose 3:14. Pada Abad Pertengahan, muncul berbagai penafsiran mengenai makna busana-busana liturgi, yang menekankan baik sengsara Yesus maupun imam sebagai prajurit Kristus.
Pada akhirnya, busana liturgi melambangkan berbagai fungsi pelayanan sekaligus memperindah liturgi. Busana-busana tersebut mengundang para imam dan umat beriman untuk merenungkan makna simbolisnya.
🎥: Michael Mefri Kewo