GKII Daerah Sulbar

GKII Daerah Sulbar kegiatan gereja daerah sulawesi Barat

Selamat kepada Bpk. Pdt. Husein Shaz Diman, S.Th., SH., M.Ag, sebagai Ketua Umum GKII Periode 2026-2031.Tuhan Yesus Berk...
24/04/2026

Selamat kepada Bpk. Pdt. Husein Shaz Diman, S.Th., SH., M.Ag, sebagai Ketua Umum GKII Periode 2026-2031.

Tuhan Yesus Berkati.

15/04/2026

Perjalan p**ang dr ibadah doa bersama di pos pi menanga ..

Doa puasa..
23/02/2026

Doa puasa..

07/02/2026

Tuhan Tidak Pernah Terlambat

Ada masa-masa dalam hidup ketika kita merasa lelah, bingung, dan bertanya-tanya: “Tuhan, sampai kapan?” Doa terasa seolah tak terjawab, jalan ke depan tampak gelap, dan kekuatan kita hampir habis.
Namun Firman Tuhan berkata:
“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.”
— Pengkhotbah 3:1
Ayat ini mengingatkan kita bahwa Tuhan bekerja dalam waktu-Nya, bukan waktu kita. Saat kita merasa Tuhan diam, sebenarnya Dia sedang menyusun sesuatu yang jauh lebih indah dari yang bisa kita bayangkan. Tuhan tidak pernah terlambat, dan Dia juga tidak pernah salah langkah.

Mungkin hari ini kamu sedang memikul beban berat—masalah keluarga, pekerjaan, kesehatan, atau pergumulan batin yang tak terlihat orang lain. Ingatlah: kamu tidak sendirian. Tuhan melihat setiap air mata yang jatuh dan mendengar setiap doa yang terucap, bahkan doa yang hanya bisa keluar sebagai keluhan dalam hati.
“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu… rancangan damai sejahtera dan bukan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”

— Yeremia 29:11
Hari ini, jangan fokus pada besarnya masalah, tapi peganglah erat besarnya kasih Tuhan. Ambil satu langkah kecil dalam iman. Percaya bahwa Tuhan yang memulai pekerjaan baik dalam hidupmu, Dia juga yang akan menyelesaikannya.
Beristirahatlah sejenak di hadirat-Nya. Tarik napas. Serahkan semuanya. Tuhan sanggup.

Doa singkat:
Tuhan, aku lelah, tapi aku percaya. Kuatkan hatiku hari ini. Ajari aku berharap, bahkan ketika jalannya belum terlihat. Amin.

02/02/2026

Setia dalam Sunyi: Panggilan yang Dibayar dengan Ketaatan

Menjadi hamba Tuhan yang merintis pelayanan, baik di tempat yang baru di kota maupun di pedalaman, sering kali berarti berjalan di jalan yang sepi. Tidak semua jerih lelah terlihat, tidak semua doa langsung terjawab, dan tidak semua kebutuhan terpenuhi seperti yang diharapkan.

Dalam situasi seperti itu, Tuhan tidak menutup mata terhadap penderitaan hamba-Nya. Ia peduli, Ia menyertai, dan Ia menguatkan.
Namun, penderitaan bukanlah alasan untuk membiarkan hati dipenuhi keluhan. Mengeluh yang terus-menerus perlahan menggerus sukacita panggilan dan melemahkan iman. Demikian p**a, kesulitan ekonomi tidak membenarkan sikap meminta-minta sumbangan tanpa kejelasan dan tanpa akuntabilitas. Pelayanan yang lahir dari panggilan Tuhan harus dijalani dengan integritas, sekalipun dalam kekurangan.

Sebagai gembala dan pelayan Tuhan, kita dipanggil untuk membawa umat kepada pengharapan, bukan menarik simpati dengan cerita kesusahan. Penderitaan bukan alat legitimasi mencari uang atas nama pelayanan, melainkan medan pembentukan karakter. Di sanalah Tuhan memurnikan motivasi, meneguhkan ketergantungan kepada-Nya, dan mengajar kita berjalan dengan iman, bukan dengan tuntutan.

Hamba Tuhan perintis GKII sejak dahulu memahami bahwa panggilan ini menuntut kesiapan untuk membayar harga. Harga itu bisa berupa kenyamanan yang ditinggalkan, stabilitas yang dikorbankan, bahkan pengakuan yang tidak didapatkan. Tetapi harga tersebut dibayar dengan kerelaan hati, bukan dengan keluhan; dengan kesetiaan, bukan dengan manip**asi.

Yesus sendiri telah menegaskan makna panggilan ini: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Lukas 9:23)

Di medan perintisan, kesetiaan jauh lebih bernilai daripada cerita penderitaan. Tuhan tidak mencari pelayan yang mengagungkan alias membesar-besarkan kesusahan dan penderitaan, melainkan hamba yang tetap berjalan lurus, bertanggung jawab, dan memuliakan Dia. Ketika iman diwujudkan dalam ketaatan dan harga dibayar dengan sukacita, pelayanan perintisan menjadi kesaksian yang hidup dan bertumbuh. Di situlah kasih Tuhan dinyatakan, bahkan di tempat yang paling sunyi sekalipun.

*DR

30/01/2026

*Renungan*:
*Ketidaksabaran Menghancurkan Masa Depan* *1 Samuel 13:1–22*

*Pendahuluan*
Menunggu bukanlah hal yang mudah. Saat keadaan tertekan dan jawaban belum datang, hati manusia mudah gelisah. Di titik itulah ketidaksabaran sering menyamar sebagai keputusan yang “perlu segera diambil.” Padahal, di balik ketergesaan, iman sering kali sedang diuji.

Kisah Saul mengingatkan kita bahwa tidak semua keputusan cepat adalah keputusan benar, dan tidak semua penantian berarti Tuhan diam.

*1. Ketidaksabaran Membuat Kita Panik dan Kehilangan Arah*
(1 Samuel 13:6–8)

Saul melihat rakyatnya mulai meninggalkannya dan musuh semakin mengancam. Dalam kepanikan, ia berhenti menaruh harapannya pada Tuhan. Ketika hati dikuasai ketakutan, kita mudah lupa bahwa Tuhan tetap memegang kendali.

*Ketidaksabaran sering muncul ketika kita lebih percaya pada apa yang kita lihat daripada pada apa yang Tuhan janjikan.*

*2. Ketidaksabaran Menyebabkan Kita Mengambil Hak yang Bukan Milik Kita* (1 Samuel 13:9–12)

Saul mempersembahkan korban bakaran, sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh Samuel. Ia melakukan tindakan rohani, tetapi tanpa ketaatan. Saul berdalih bahwa keadaan mendesak, padahal Tuhan tidak pernah memberi izin untuk melanggar perintah-Nya.

*Ketaatan tidak pernah boleh dikalahkan oleh alasan situasi.*

*3. Ketidaksabaran Merusak Masa Depan secara Perlahan* (1 Samuel 13:13–14)

Akibat ketidaksabarannya, Saul kehilangan kesempatan untuk membangun kerajaan yang berkelanjutan. Ia tetap menjadi raja hanya untuk sementara waktu.

*Sering kali ketidaksabaran tidak langsung membawa hukuman, tetapi memberi dampak negatif yang baru terasa kemudian.*

*Penutup*
Renungan ini mengajak kita belajar menunggu dengan iman. Tuhan tidak pernah lalai terhadap janji-Nya, tetapi Ia ingin membentuk hati kita melalui proses menunggu. Ketika kita bersabar dan taat, maka kita akan menikmati indahnya masa depan yang Tuhan sediakan.

*Lebih baik berjalan pelan bersama Tuhan daripada berlari cepat tanpa Dia.*

*Salam Kasih*

29/01/2026

*RENUNGAN malam.
*BERANI MENGATAKAN KEBENARAN* (1 Raja-Raja 22:6–8, 13–28).

*PENDAHULUAN*
Tidak mudah berkata benar ketika kebenaran itu tidak disukai. Lebih sulit lagi jika kebenaran tersebut berisiko menyinggung penguasa, merusak posisi, atau membawa konsekuensi pribadi. Dalam banyak situasi, orang memilih diam, menyesuaikan diri, atau mengikuti suara mayoritas demi rasa aman.

Kisah dalam 1 Raja-Raja 22 memperlihatkan kontras yang tajam antara para nabi yang menyenangkan telinga raja dan satu nabi yang berani menyampaikan kebenaran Allah, sekalipun harus menanggung penolakan dan penderitaan.
Beberapa pelajaran penting yang dapat dipelajari dari nats ini:

*1. Suara Mayoritas Tidak Selalu Mewakili Kebenaran* (1 Raja-Raja 22:6, 10–12).

Raja Ahab mengumpulkan sekitar empat ratus nabi, dan semuanya sepakat mengatakan hal yang sama, yaitu "pergilah berperang, Tuhan akan memberi kemenangan." Suara mereka terdengar kompak, rohani, dan meyakinkan. Namun keseragaman suara tidak otomatis berarti kebenaran.

*Kebenaran tidak ditentukan oleh jumlah orang yang menyetujuinya, melainkan oleh apakah suara itu benar-benar berasal dari Tuhan.* Banyak suara bisa bersatu, tetapi tetap salah jika tidak berdiri di atas kehendak Allah.

*2. Kebenaran yang Tidak Disukai Tetaplah Kebenaran*(1 Raja-Raja 22:13–14, 16–18)

Mikha bin Yimla dipanggil dengan tekanan agar menyampaikan pesan yang sama seperti nabi-nabi lain. Ia tahu apa yang diharapkan raja, dan ia tahu risiko yang akan dihadapinya. Namun Mikha memilih setia, ia hanya akan mengatakan apa yang Tuhan firmankan.

Pesan Mikha tidak menyenangkan. Ia menyingkapkan realitas rohani yang tidak ingin didengar Ahab. Akibatnya, ia dituduh dan ditolak. *Kebenaran sering kali tidak diterima dengan tangan terbuka, tetapi itu tidak mengurangi nilainya.*

*3. Kebenaran selalu Menggoncang Ketidakbenaran* (1 Raja-Raja 22:7–8, 18)

Ahab sebenarnya tahu Mikha adalah nabi Tuhan, tetapi ia membencinya karena Mikha tidak pernah bernubuat baik tentang dirinya. Ahab lebih menyukai suara yang menenangkan daripada suara yang menegur. Seringkali rasa takut kehilangan posisi, kedudukan dan kenyamanan membuat kebenaran dianggap sebagai ancaman.

*Penolakan terhadap kebenaran sering kali bukan karena kebenaran itu salah, melainkan karena kebenaran itu mengguncang kepentingan pribadi dan posisi seseorang.*

*4. Kebenaran Bisa Sesaat Dibungkam, namun Berujung pada Kemenangan*(1 Raja-Raja 22:24–28)

Mikha ditampar, dituduh berdusta, dan dipenjarakan. Secara lahiriah, kebenaran tampak kalah. Namun firman Tuhan tidak berhenti karena penjara. Apa yang disampaikan Mikha tidak bisa dikalahkan, dan akhirnya digenapi.

Tuhan menunjukkan bahwa Ia tetap berdaulat. *Kebenaran-Nya tidak bergantung pada penerimaan manusia, tetapi pada kedaulatan dan kesetiaan-Nya sendiri.*

*PENUTUP*
Kisah Mikha menantang kita untuk bertanya kepada diri sendiri: apakah kita lebih memilih aman atau setia? *Apakah kita berani berkata benar ketika kebenaran itu tidak populer, tidak menguntungkan, bahkan berisiko?*

Tuhan tidak memanggil kita untuk selalu diterima, tetapi untuk setia. Dalam keluarga, pelayanan, pekerjaan, dan kepemimpinan, keberanian berkata benar adalah wujud takut akan Tuhan. *Lebih baik berdiri sendirian bersama kebenaran Allah, daripada berdiri bersama banyak orang dalam kesalahan.*

*Salam Kasih*

Sombong rohani
29/01/2026

Sombong rohani

HUT GKII ke-98 untuk tanggal 10 Februari 2026
28/01/2026

HUT GKII ke-98 untuk tanggal 10 Februari 2026

Address

Mamuju

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when GKII Daerah Sulbar posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share