07/03/2026
MARAH
"Biarlah" kamu marah...(Mam 4:5) kata ini nuansanya seperti memberi ijin/perintah untuk marah. Namun ayat ini di kutip oleh Rasul Paulus dalam Ef 4:26, "apabila" kamu menjadi marah... Kata "Apabila" disini nuansanya lebih kepada "kondisional" Artinya marah itu bagian dari manusia yang memiliki emosi.
Tetapi marah tidak seharusnya menjadi karakter. Rasul Yakobus mengingatkan bahwa "amarah" manusia tidak mengerjakan kebenaran dihadapan Allah Yak 1:20.
Karena itu kita perlu melatih disiplin rohani agar bisa menguasai amarah. Sebagaimana dikemukakan oleh Rasul ๐ ๐ข๐ฌ๐ฐ๐ฃ๐ถ๐ด 1:19.
โข ๐๐ฒ๐ฝ๐ฎ๐ ๐บ๐ฒ๐ป๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ฟ - dengar sebelum merespon
โข ๐๐ฎ๐บ๐ฏ๐ฎ๐ ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ธ๐ฎ๐๐ฎ-๐ธ๐ฎ๐๐ฎ - berpikir sebelum berucap bukan berucap baru berpikir.
โข ๐๐ฎ๐บ๐ฏ๐ฎ๐ ๐๐ป๐๐๐ธ ๐บ๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ต - beri jeda sebelum bereaksi.
Ada ungkapan ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ข๐ต๐ข
โ๐๐ช๐ต๐ถ๐ฏ๐จ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ช ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ถ๐ญ๐ถ๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฎ๐ข๐ณ๐ข๐ฉ.โ
Dengan disiplin rohani ini, kita mungkin marah tetapi tidak membawa kepada dosa.
Inilah marah yang konstruktif (bersifat membangun) bukan destruktif (bersifat merusak).