GMAHK Dieng

GMAHK Dieng Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Jemaat Dieng Malang Religious organisation

DUA JENIS KEBENARAN—4RENUNGAN HARIAN PAGI16 SEPTEMBER 2026"Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah...
15/09/2026

DUA JENIS KEBENARAN—4

RENUNGAN HARIAN PAGI
16 SEPTEMBER 2026

"Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa" (Roma 3: 20).

Ajaran Alkitab itu tampaknya sudah cukup jelas. Fungsi hukum adalah untuk menegakkan standar Allah dan untuk menunjukkan dosa kita ketika kita gagal memenuhi standar itu. Roma 3: 20 dengan jelas menyatakan, hukum sama sekali tidak memiliki kuasa untuk menyelamatkan.

Itu semua benar. Tetapi! Jika saya benar-benar percaya bahwa pembenaran adalah karena kasih karunia melalui iman tanpa perbuatan hukum, lalu apa makna dari hukum itu?

Pertanyaan yang bagus!

Ketakutan bahwa meremehkan hukum akan berakhir dengan meniadakan hari Sabat itulah yang memotivasi kelompok Smith dan Butler di era 1888.

Mari kita dengarkan Butler tentang topik tersebut. Dalam sebuah artikel berjudul "Kebenaran Hukum yang Kita Genapi", ia mencatat bahwa "ada sentimen yang berlaku hampir di mana-mana" yang menyenangkan tetapi berbahaya: "Percayalah kepada Kristus saja, dan Anda akan baik-baik saja. .... Yesuslah yang akan melakukan semuanya." Ajaran itu, ia nyatakan, "adalah salah satu ajaran sesat yang paling berbahaya di dunia." Inti dari pekabaran malaikat ketiga, ia tegaskan, adalah "pentingnya ketaatan pada hukum Allah. ‘Yang penting di sini ialah ketekunan orang-orang kudus, yang menuruti perintah Allah dan iman kepada Yesus.’" Butler menambahkan, dunia Kristen dengan cepat kehilangan kebenaran itu, dan orang Advent perlu menegakkannya.

Di situlah letak masalahnya. Sebagian orang takut bahwa terlalu banyak mengandalkan Kristus dan kebenaran-Nya akan menghapuskan hukum, ketaatan, dan kebutuhan akan kebenaran manusia.

Ketakutan itulah yang menjadi inti reaksi terhadap ajaran Jones dan Waggoner di Minneapolis.

Kedua belah pihak memiliki dua pandangan yang sangat berbeda. Bagi para reformator, kata-kata dan frasa yang menjadi kuncinya adalah "Kristus," "iman," "pembenaran oleh iman," dan istilah-istilah yang terkait dengan kebenaran Kristus. Sebaliknya, kelompok Smith/Butler menekankan "usaha manusia," "perbuatan," "kepatuhan," "hukum," "perintah," "kebenaran kita," dan "pembenaran oleh perbuatan."

Kedua penekanan itu masih cukup berbeda di antara para umat Advent meskipun sudah 120 tahun setelah Minneapolis.

Apakah keduanya harus saling berbeda? Mengapa ya, atau mengapa tidak? Bagaimana Anda sepakat tentang isu-isu ini? Pikirkan baik-baik. Diskusikan dengan keluarga dan teman-teman Anda.

GEORGE R. KNIGHT - JANGAN KITA MELUPAKAN SEJARAH hal. 279

Kebutuhan Akan Lebih Banyak KepercayaanRenungan Harian Petang15 September 2026“Maka terjadilah demikian, karena pada kee...
15/09/2026

Kebutuhan Akan Lebih Banyak Kepercayaan

Renungan Harian Petang
15 September 2026

“Maka terjadilah demikian, karena pada keesokan harinya Allah membuat yang kering itu hanya pada gunjal bulu domba, tetapi seluruh tanah di sekitarnya ada embunnya.” Hakim-Hakim 6:40

Gideon sangat merasakan ketidakmampuannya sendiri untuk pekerjaan besar yang ada di hadapannya. Ia tidak berani menempatkan dirinya di depan pas**an tanpa bukti yang pasti bahwa Allah telah memanggilnya untuk pekerjaan ini dan bahwa Dia akan menyertainya. Ia berdoa, “Jika Engkau hendak menyelamatkan orang Israel dengan perantaraanku, seperti yang telah Kaufirmankan, maka aku akan meletakkan gunjal bulu domba di tempat pengirikan; jika hanya pada gunjal itu terdapat embun, sedang seluruh tanah di sekitarnya tetap kering, maka aku akan mengetahui bahwa Engkau akan menyelamatkan orang Israel dengan perantaraanku, seperti yang telah Kaufirmankan.”

Tuhan mengabulkan doa hamba-Nya. Pada pagi hari, gunjal bulu domba itu basah, sedangkan tanah tetap kering. Tetapi sekarang ketidakpercayaan menyarankan bahwa wol secara alami menyerap kelembapan ketika ada kelembapan di udara, dan bahwa tanda tersebut belumlah menentukan. Oleh sebab itu, ia meminta agar tanda itu diulangi, dengan rendah hati memohon agar ketidakpercayaan tidak membuat Tuhan murka. Permintaannya dikabulkan.

Tuhan tidak selalu memilih orang-orang yang memiliki talenta terbesar untuk pekerjaan-Nya, tetapi Ia memilih mereka yang paling dapat Ia gunakan....

Allah akan menerima pelayanan semua orang yang mau bekerja dalam ketaatan kepada kehendak-Nya, yang tidak akan, dengan alasan apa pun, membawa noda pada hati nurani, yang tidak akan membiarkan pengaruh apa pun menuntun mereka menyimpang dari jalan kewajiban. Jika kita memilih demikian, kita dapat membuat catatan kehidupan kita sedemikian rupa sehingga kita tidak akan merasa malu untuk mengakuinya ketika rahasia semua hati dinyatakan, dan pekerjaan setiap orang ditimbang dalam neraca kebenaran. Tuhan menggunakan pria dan wanita sebagai rekan sekerja-Nya, tetapi janganlah seorang pun membayangkan bahwa mereka sangat diperlukan bagi pekerjaan Allah, sehingga mereka tidak dapat ditiadakan.

Mereka yang mau diajar dan percaya, yang memiliki tujuan yang benar dan hati yang murni, tidak perlu menunggu kesempatan-kesempatan besar atau kemampuan-kemampuan luar biasa sebelum menggunakan kuasa mereka. Mereka tidak boleh berdiri dengan ragu-ragu, bertanya-tanya, dan takut mengenai apa yang akan dikatakan atau dipikirkan dunia tentang mereka. Kita tidak boleh melelahkan diri dengan kekhawatiran yang mencemaskan, tetapi terus maju, dengan tenang melakukan dengan setia pekerjaan yang Allah berikan kepada kita, dan menyerahkan hasilnya sepenuhnya kepada-Nya....

Biarlah kehidupan sehari-hari menjadi pantulan kehidupan Kristus, dan kesaksian yang dengan demikian diberikan kepada dunia akan memberikan pengaruh yang kuat.... Pertentangan besar antara kebenaran melawan kesalahan harus diteruskan oleh pria dan wanita yang menyalakan pelita mereka dari mezbah ilahi.—Signs of the Times, 23 Juni 1881.

EGW - DARI HATI hal. 270

DUA JENIS KEBENARAN—3RENUNGAN HARIAN PAGI15 SEPTEMBER 2026"Segala kesalehan [atau 'perbuatan benar,'] kami seperti kain ...
14/09/2026

DUA JENIS KEBENARAN—3

RENUNGAN HARIAN PAGI
15 SEPTEMBER 2026

"Segala kesalehan [atau 'perbuatan benar,'] kami seperti kain kotor"
(Yesaya 64: 6).

Apakah seperti itu?

Itulah posisi yang diambil Waggoner dalam menghadapi tekanan dari Smith dan teman-temannya tentang pembenaran oleh perbuatan. Waggoner menulis, "Kebenaran manusia tidak lagi bernilai setelah seseorang dibenarkan." "Orang Kristen yang dibenarkan 'akan hidup oleh iman.'" Oleh karena itu, "orang yang memiliki iman paling besar akan menjalani kehidupan yang paling benar." Itu benar karena Kristus adalah "TUHAN KEBENARAN KITA." Bagi Waggoner, iman adalah segalanya dan persamaan yang mengatakan iman + perbuatan = pembenaran, itu berarti berakar dalam "roh antikristus."

Jones berdiri teguh bersama Waggoner. Pada bulan Mei 1889, misalnya, ia menyampaikan kepada para pendengarnya bahwa hukum bukanlah tempat "untuk mencari kebenaran. Semua 'kebenaran kita adalah seperti kain kotor.'"

Smith tidak setuju dengan komentar-komentar seperti itu. Sebulan kemudian, dia melontarkan komentar pedas kepada Jones di terbitan Review yang berjudul "Kebenaran Kita". Dia mencatat bahwa beberapa pembaca Review bermain sesuai keinginan mereka yang ingin menghapus hukum dengan membuat pernyataan tentang kebenaran kita sebagai "kain kotor". Sang editor Review melanjutkan dengan mengatakan bahwa "kepatuhan sempurna kepada [hukum] akan menghasilkan kebenaran sempurna, dan itulah satu-satunya cara seseorang dapat memperoleh kebenaran." Ia menegaskan, "Kita tidak boleh berbaring di tempat tidur tanpa melakukan apa-apa, seperti mereka yang ingin mengubah hidupnya di tangan Sang Penebus tetapi tanpa melakukan sesuatu pun .... 'Kebenaran kita' ... berasal dari keselarasan dengan hukum Allah .... Dan 'kebenaran kita' dalam hal ini bukanlah kain kotor." Dia menyimpulkan, kebenaran "harus diperoleh dengan menuruti dan mengajarkan perintah-perintah."

Ketika artikel itu terbit, Ellen White sedang berkhotbah di pertemuan perkemahan di Rome, New York yang membahas iman harus ada terlebih dahulu sebelum perbuatan. Ketika orang-orang mendapati ketidakselarasan antara apa yang dikatakannya dengan artikel Smith, tanggapannya adalah bahwa Saudara Smith "tidak tahu apa yang sedang dibicarakannya; dia melihat pohon-pohon seperti orang yang berjalan." Dia menunjukkan bahwa hanya karena Yesus dan kebenaran-Nya adalah pusat keselamatan, itu tidak berarti bahwa kita membuang hukum Tuhan (MS 5, 1889). Kepada Smith dia menulis bahwa dia berada di jalan yang akan membawanya ke jurang dan bahwa dia "berjalan seperti orang buta" (Lt 55, 1889).

Bagaimana penglihatan rohani kita? Apakah kita memahami dengan jelas hubungan antara iman dan perbuatan, hukum dan kasih karunia? Mungkin tidak. Namun, itulah inti dari permasalahan tahun 1888. Jawabannya akan datang saat kita mengikuti tuntunan Tuhan melalui sedikit sejarah Advent ini.

GEORGE R. KNIGHT - JANGAN KITA MELUPAKAN SEJARAH hal. 278

Kebenaran Memperoleh KemenanganRenungan Harian Petang14 September 2026“Berfirmanlah TUHAN kepadanya: ‘... robohkanlah me...
14/09/2026

Kebenaran Memperoleh Kemenangan

Renungan Harian Petang
14 September 2026

“Berfirmanlah TUHAN kepadanya: ‘... robohkanlah mezbah Baal kepunyaan ayahmu dan tebanglah tiang berhala yang di dekatnya.’” Hakim-Hakim 6:25.

Pembebas Israel harus menyatakan perang terhadap penyembahan berhala sebelum ia pergi berperang melawan musuh-musuh bangsanya. Ia harus menghargai kehormatan Allah lebih tinggi daripada kehormatan ayahnya dan menganggap perintah-perintah ilahi lebih wajib ditaati daripada wewenang orang tua.

Persembahan korban kepada Tuhan telah dipercayakan kepada para imam dan orang Lewi dan dibatasi hanya pada mezbah di Silo, tetapi Dia yang telah menetapkan tata cara keagamaan bangsa Yahudi, dan yang kepada-Nya seluruh pelayanan itu menunjuk, memiliki kuasa untuk mengubah ketentuannya. Dalam hal ini Ia berkenan menyimpang dari ketetapan ritual tersebut. Sangatlah penting bahwa pembebasan Israel didahului oleh suatu protes yang sungguh-sungguh terhadap penyembahan Baal dan pengakuan bahwa TUHAN adalah satu-satunya Allah yang benar dan hidup.

Ketika orang-orang kota itu, pada pagi-pagi sekali, datang untuk melakukan ibadah mereka kepada Baal, mereka sangat terkejut dan marah atas apa yang telah terjadi. Segera diketahui bahwa Gideonlah yang melakukan hal tersebut, dan kemudian tidak ada yang dapat memuaskan para penyembah berhala yang tersesat itu selain darahnya....

Gideon telah memberitahukan kepada ayahnya, Yoas, tentang kunjungan Malaikat dan janji bahwa Israel akan dibebaskan. Ia juga menceritakan kepadanya perintah ilahi untuk menghancurkan mezbah Baal. Roh Allah menggerakkan hati Yoas. Ia melihat bahwa dewa-dewa yang selama ini disembahnya tidak memiliki kuasa bahkan untuk menyelamatkan diri mereka sendiri dari kehancuran total, dan karena itu mereka tidak dapat melindungi para penyembahnya. Ketika orang banyak yang menyembah berhala itu berteriak menuntut kematian Gideon, Yoas dengan berani berdiri membelanya dan berusaha menunjukkan kepada orang-orang betapa tidak berkuasa dan tidak layak dipercaya maupun disembahnya dewa-dewa mereka: “Apakah kamu hendak membela Baal? Apakah kamu hendak menyelamatkan dia? Barangsiapa hendak membela Baal, biarlah ia dihukum mati pagi ini juga. Jika Baal itu allah, biarlah ia sendiri membela dirinya, karena mezbahnya telah dirobohkan orang.” ...

Semua pikiran untuk melakukan kekerasan disingkirkan, dan ketika, digerakkan oleh Roh Tuhan, Gideon meniup sangkakala perang, mereka termasuk orang-orang pertama yang berkumpul kepadanya. Kemudian ia mengirim utusan ke seluruh sukunya sendiri, yaitu Manasye, dan juga kepada suku Asyer, Zebulon, dan Naftali, dan semuanya dengan s**acita menaati panggilan itu....

Kejahatan mungkin tampaknya menang untuk sementara waktu, tetapi pada akhirnya kebenaran akan memperoleh kemenangan.—Signs of the Times, 23 Juni 1881.

EGW - DARI HATI hal. 269

DUA JENIS KEBENARAN—2RENUNGAN HARIAN PAGI14 SEPTEMBER 2026"Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perb...
13/09/2026

DUA JENIS KEBENARAN—2

RENUNGAN HARIAN PAGI
14 SEPTEMBER 2026

"Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya ...?" (Yakobus 2: 21).

Hubungan antara iman dan penurutan merupakan inti dari kebenaran dan pembenaran. Kemarin kita telah melihat bagaimana pada awal tahun 1888 Uriah Smith berpandangan bahwa ketaatan adalah kunci keselamatan. Ilustrasi utamanya adalah orang muda yang kaya. Apa yang tidak diperhatikan Smith adalah bahwa meskipun orang muda itu telah menaati seluruh perintah, namun ia tetap menjauh dari Kristus dan tersesat.

Smith dan rekan-rekannya, tentu saja, percaya pada pembenaran oleh iman. Ya, mereka harus percaya, karena itu ada di dalam Alkitab. Tetapi mereka mendasarkan pemahaman mereka pada terjemahan yang menyesatkan dari Alkitab versi King James mengenai Roma 3: 25 yang mengklaim "kebenaran Kristus adalah untuk pengampunan dosa-dosa yang telah lalu." Jadi itulah dasar tulisan J.F. Ballenger: "Untuk memberikan kepuasan atas dosa-dosa masa lalu, iman adalah segalanya. Sungguh berharga darah yang menghapus semua dosa kita dan membuat catatan masa lalu menjadi bersih. Hanya iman sajalah yang dapat menjadikan janji-janji Allah menjadi milik kita. Tetapi tugas saat ini adalah tugas yang harus kita lakukan. .... Taatilah suara Allah maka Anda akan hidup, atau tidak menaatinya maka Anda akan mati."

Salah satu hasil dari kepercayaan mereka mengenai pembenaran oleh iman berkaitan dengan dosa-dosa masa lalu itulah yang membuat Smith, Butler, dan teman-teman mereka mengajarkan bahwa untuk mempertahankan pembenaran setelah pertobatan adalah dengan "pembenaran oleh perbuatan." Lagi p**a, Ballenger kemudian menulis dengan mengutip Yakobus 2: 21, "Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya .... ?" "Jika kita menurut, perbuatan kita itu, yang disertai dengan iman kita, menjadi pembenaran bagi kita."

Jadi bagi orang Advent pembenaran bukan hanya oleh iman saja, seperti yang berulang kali ditegaskan oleh Paulus (bahkan mengenai Abraham; lihat Roma 3: 20–25; 4: 1–5; Efesus 2: 5, 8; Galatia 2: 16), tetapi iman + perbuatan.

Teologi itulah persis yang tidak disetujui Waggoner dan Jones. Dalam artikel yang ditulis pada bulan Januari 1888 di publikasi Signs yang berjudul "Berbagai Macam Kebenaran," Waggoner, dalam perdebatan dengan Smith, mencatat bahwa seseorang tidak dapat memperbaiki kebenaran moral para ahli Taurat dan orang Farisi karena "mereka mengandalkan perbuatan mereka sendiri, dan tidak tunduk pada kebenaran Allah." Bahkan, ia menegaskan, kebenaran mereka sama sekali bukanlah "kebenaran sejati". Mereka hanya mencoba "menutupi satu pakaian yang kotor dan compang-camping dengan mengenakan lebih banyak kain kotor dan compang-camping lainnya."

Bagaimana kita diselamatkan? Dan bagaimana perbuatan berhubungan dengan keselamatan itu? Itulah inti dari pergumulan di Minneapolis. Itu juga yang menjadi pertentangan antara Paulus dan musuh-musuhnya di Roma dan Galatia.

Berilah kami pengertian tentang topik penting ini, ya Bapa, saat kami merenungkannya hari demi hari.

GEORGE R. KNIGHT - JANGAN KITA MELUPAKAN SEJARAH hal.
277

DUA JENIS KEBENARAN—1RENUNGAN HARIAN PAGI13 SEPTEMBER 2026"Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memper...
12/09/2026

DUA JENIS KEBENARAN—1

RENUNGAN HARIAN PAGI
13 SEPTEMBER 2026

"Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah" (Matius 19: 16, 17).

Umat Advent selama bertahun-tahun telah mendengar banyak tentang pembenaran oleh iman sejak sesi General Conference tahun 1888. Namun, apa yang sebenarnya diajarkan Jones dan Waggoner? Dan apa pendapat Smith dan Butler yang perlu dikoreksi? Dalam beberapa hari ke depan, kita akan melihat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Mungkin cara terbaik untuk memahami pokok bahasan ini adalah melalui tulisan Uriah Smith dalam publikasi Review pada bulan Januari 1888. Dalam sebuah artikel pada tanggal 3 Januari yang berjudul "Poin Utama", ia menegaskan bahwa tujuan para pendeta Advent adalah untuk menyampaikan amaran terakhir akan kedatangan Kristus yang kedua dan "untuk menuntun jiwa-jiwa kepada Kristus melalui penurutan kepada kebenaran ujian akhir ini. Inilah satu-satunya tujuan dari semua upaya mereka; dan tujuan yang dicari itu tidak dianggap tercapai kecuali bila jiwa-jiwa bertobat kepada Tuhan, dan memperoleh tuntunan untuk mencapai tujuan itu melalui penurutan yang mencerahkan kepada semua perintah-Nya. Itulah persiapan dari Tuhan di surga." Smith menghubungkan "Poin Utama" dengan pekabaran malaikat ketiga dan menggarisbawahi kata "menuruti" ketika ia mengutip Wahyu 14: 12: "Yang penting di sini ialah ketekunan orang-orang kudus, yang menuruti perintah Allah dan iman kepada Yesus."

Kita perlu berhenti sejenak di sini. Pikirkan hal itu. Bagaimana orang-orang datang kepada Kristus? Melalui penurutan seperti yang ditegaskan Smith? Atau melalui metode lain?

Penekanannya muncul kembali dalam artikel terakhirnya pada bulan Januari 1888—berjudul "Syarat-syarat Kehidupan Kekal." Ia mendasarkan komentarnya pada pertanyaan dari seorang muda yang kaya itu kepada Kristus: "Guru yang baik, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawaban Alkitab, yang menjadi pegangan Smith, dapat disimpulkan dalam satu proposisi sebagai "bertobat, percaya, menurut, dan hidup." Itulah yang ia katakan merupakan jawaban Yesus. Lagi p**a, bukankah Ia berkata kepada orang muda itu, "jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah"? Smith melanjutkan dengan mencatat bahwa "masalah dengan kebenaran orang Farisi" adalah bahwa mereka belum mencapai tingkat "karakter moral" yang dapat diterima dalam kaitannya dengan "hukum moral".

Dengan mengikuti petunjuk yang salah dari Joseph Bates tentang makna dari kisah pengusaha muda yang kaya itu, Smith dan rekan-rekannya terperosok dalam legalisme. Mereka belum menemukan hubungan antara hukum dan Injil dalam Perjanjian Baru.

Beberapa dari kita, termasuk saya sendiri, telah mengalami perjuangan keras dengan masalah yang sama. Namun, tunggu dulu. Itulah inti dari apa yang terjadi pada tahun 1888.

GEORGE R. KNIGHT - JANGAN KITA MELUPAKAN SEJARAH hal. 276

Panggilan GideonRenungan Harian Petang12 September 2026“Maka orang Israel menjadi sangat melarat oleh perbuatan orang Mi...
12/09/2026

Panggilan Gideon

Renungan Harian Petang
12 September 2026

“Maka orang Israel menjadi sangat melarat oleh perbuatan orang Midian, dan orang Israel berseru kepada TUHAN.” Hakim-Hakim 6:6.

Sungguh menyedihkan bahwa dalam sejarah umat pilihan Allah, kisah menyedihkan tentang kemurtadan dan hukumannya harus begitu sering diulang kembali! ...

Karena dosa-dosa mereka, tangan perlindungan Allah ditarik dari Israel, dan mereka dibiarkan menghadapi belas kasihan musuh-musuh mereka. Penduduk padang gurun yang liar dan ganas [orang Midian dan orang Amalek], “sebanyak belalang,” datang menyerbu negeri itu bersama kawanan domba dan ternak mereka dan mendirikan kemah-kemah mereka di dataran dan lembah. Mereka datang segera setelah hasil panen mulai masak dan tetap tinggal sampai buah-buah terakhir dari tanah telah dikumpulkan. Mereka menghabiskan hasil ladang dan merampas serta memperlakukan penduduk dengan kejam, kemudian kembali ke padang gurun....

Selama tujuh tahun penindasan ini berlangsung, dan kemudian dalam kesesakan mereka, bangsa itu mengingat Dia yang telah begitu sering melepaskan mereka; dan mereka berseru kepada TUHAN memohon pertolongan....

Doa-doa mereka didengar, dan sekali lagi Tuhan mengutus orang pilihan-Nya untuk bertindak sebagai pembebas bagi Israel. Orang yang dipilih itu adalah Gideon, dari suku Manasye.... Dengan kesulitan yang sangat besar, orang-orang Ibrani hanya dapat menyembunyikan persediaan makanan yang cukup untuk menyelamatkan mereka dari kelaparan yang sesungguhnya. Namun Gideon masih memiliki sejumlah kecil gandum, dan karena takut menumbuknya di tempat pengirikan, ia membawanya ke kebun anggur, dekat tempat pemerasan anggur. Karena waktu panen buah anggur masih jauh, perhatian orang Midian tidak akan tertuju ke tempat itu.... Gideon hampir putus asa untuk menanamkan iman atau keberanian kepada bangsa itu, tetapi ia tahu bahwa Tuhan akan bekerja dengan dahsyat bagi Israel sebagaimana yang telah dilakukan-Nya di masa lalu....

Sementara pikiran Gideon dipenuhi dengan perenungan seperti ini, tiba-tiba seorang malaikat Tuhan menampakkan diri kepadanya dan menyapanya dengan kata-kata, “TUHAN menyertai engkau, hai pahlawan yang gagah berani.”

Sifat murung dari pikiran Gideon dinyatakan melalui jawabannya, “Ah, tuanku, jika TUHAN menyertai kami, mengapa semuanya ini menimpa kami?” ... Dengan menyadari ketidaklayakan dirinya sendiri untuk pekerjaan yang begitu penting, Gideon berseru, “Ah, tuanku, dengan apakah akan kuselamatkan Israel? Ketahuilah, kaumku adalah yang paling lemah di antara suku Manasye dan aku pun yang paling muda di antara kaum keluargaku.” ... Kemudian malaikat itu memberikan kepadanya jaminan yang penuh kasih karunia, “Bukankah Aku akan menyertai engkau? Engkau akan memukul kalah orang Midian itu sampai habis.”—Signs of the Times, 23 Juni 1881.

EGW - DARI HATI hal. 267

RENUNGAN HARIAN PAGI12 SEPTEMBER 2026NABI DAN PARA RASUL"Jemputlah Markus dan bawalah ia ke mari, karena pelayanannya pe...
11/09/2026

RENUNGAN HARIAN PAGI
12 SEPTEMBER 2026

NABI DAN PARA RASUL

"Jemputlah Markus dan bawalah ia ke mari, karena pelayanannya penting bagiku" (2 Timotius 4: 11).

Para nabi dan rasul Alkitab dari waktu ke waktu mengirimkan orang-orang yang dapat menjadi berkat istimewa kepada gereja. Ellen White juga demikian. Dukungan yang paling sering ia berikan selama pelayanannya adalah untuk Waggoner dan Jones. Berkali-kali ia mendukung mereka karena pekabaran mereka yang berpusat pada Kristus.

Tetapi apakah dukungannya yang berulang-ulang itu berarti dia setuju dengan semua yang mereka ajarkan—bahkan yang berkaitan dengan hukum dan Injil?

Mari kita lihat jawaban Ellen White sendiri. Di awal pertemuan Minneapolis dia menulis tentang malaikat "penuntun" yang "mengulurkan tangannya ke arah Dr. Waggoner dan kepada Anda, Penatua Butler, dan mengatakan hal-hal yang inti sebagai berikut: "Tidak seorang pun [memiliki] semua terang tentang hukum; tidak seorang pun memiliki pandangan yang sempurna." Meskipun konteks pernyataan itu adalah untuk sesi General Conference tahun 1886, tetapi dia masih memegang pendapat yang sama pada tahun 1888 (Lt 21, 1888).

Pada awal November, ia menyampaikan kepada para delegasi di Minneapolis bahwa beberapa hal yang disampaikan Waggoner tentang hukum dalam kitab Galatia "tidak selaras dengan pemahaman saya tentang pokok bahasan tersebut." Kemudian dalam penyampaian yang sama, ia menyatakan bahwa "beberapa penafsiran Kitab Suci yang diberikan oleh Dr. Waggoner menurut saya tidak sesuai" (MS 15, 1888).

W.C. White mendukung pandangan ibunya. Dari Minneapolis ia menulis surat kepada istrinya bahwa "banyak hal yang diajarkan Dr. Waggoner, sejalan dengan apa yang" ibunya "lihat dalam penglihatan." Hal itu membuat beberapa orang sampai pada kesimp**an "bahwa ia mendukung semua pandangannya, [dan tidak ada] bagian dari ajarannya yang tidak selaras [dengan Ibu] dan Kesaksiannya ... Saya dapat membuktikan bahwa semua pernyataan seperti ini [salah]."

Ellen White terus-menerus menyetujui inti utama dari apa yang Jones dan Waggoner sampaikan tentang kebenaran Kristus. Namun, penyelidikan atas tulisan-tulisan mereka mencerminkan sejumlah isu teologi penting yang membuatnya berbeda dari mereka.

Walaupun demikian, mereka menunjuk pada arah yang benar saat mereka berupaya meninggikan Kristus dan kebenaran melalui iman dan bukan melalui menaati hukum.

Seperti halnya petunjuk nubuat apa pun, tidak ada target yang sempurna. Semua harus diperiksa berdasarkan Alkitab.

GEORGE R. KNIGHT - JANGAN KITA MELUPAKAN SEJARAH hal. 275

RENUNGAN HARIAN PAGI11 SEPTEMBER 2026KEGAGALAN DALAM HAL WEWENANG DI MINNEAPOLIS"Apabila aku bertemu dengan perkataan-pe...
10/09/2026

RENUNGAN HARIAN PAGI
11 SEPTEMBER 2026

KEGAGALAN DALAM HAL WEWENANG DI MINNEAPOLIS

"Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku" (Yeremia 15: 16).

Memang baik menikmati Firman Tuhan. Namun, terkadang kita lebih s**a menikmati firman orang lain.

Pemikiran itu membawa kita kembali pada masalah wewenang di Minneapolis. Meskipun konferensi itu berhasil, tetapi juga gagal. Mungkin yang paling jelas adalah godaan yang terus-menerus untuk bergantung pada pendapat manusia. Akan tetapi, pada tahun 1894, bukan lagi kata-kata berwibawa Butler dan Smith, tetapi kata-kata Jones yang menyebabkan masalah. Dukungan Ellen White yang berulang-ulang kepadanya dan Waggoner di Minneapolis dan seterusnya tidak diragukan lagi telah mempersiapkan pikiran banyak orang untuk menerima apa pun yang mereka katakan atau tulis oleh Jones dan Waggoner. Karena mereka meninggikan Kristus dan kekuatan dalam Adventisme berbaris menentang mereka, maka Ellen White harus "menyerukan dengan nyaring" dukungannya kepada mereka agar pendapat mereka dapat didengar.

Seruannya tidak diabaikan. Pada tahun 1894, S.N. Haskell merasa perlu untuk menyatakan kepadanya bahwa "sangatlah penting" baginya untuk "mendukung penatua Waggoner dan A.T. Jones selama bertahun-tahun ini." "Namun," ia menambahkan, "seluruh negeri telah dibungkam dari mengkritik mereka dalam hal apa pun. Mereka telah berjuang dalam pertempuran itu dan mereka telah meraih kemenangan."

Denominasi itu, katanya, kini menghadapi masalah yang sebaliknya—umat dan pemimpin gereja "menganggap segala sesuatu yang mereka [Jones dan W.W. Prescott] katakan seolah-olah diilhami oleh Tuhan." F.M. Wilcox juga berkesimp**an yang sama. Menulis dari Battle Creek, ia mencatat bahwa "ada saat sebelumnya ketika banyak prinsip-prinsip yang dikemukakan Saudara Jones mendapat tantangan, tetapi akhir-akhir ini sebagian besar umat kita berpegang teguh pada kata-katanya seolah-olah itu adalah firman Tuhan."

Maka pada tahun 1894 orang Advent telah menciptakan krisis kewenangan yang baru. "Beberapa saudara kita," komentar Ellen White, "telah memandang kepada para pendeta ini, dan telah menempatkan mereka di tempat yang seharusnya adalah tempat Tuhan. Mereka menerima setiap perkataan dari bibir mereka, tanpa dengan saksama mencari nasihat Tuhan bagi diri mereka sendiri" (LT 27, 1894).

Apakah kita mendapat pelajaran?

Salah satu pelajaran besar dari sesi General Conference tahun 1888 adalah soal kewenangan—bahwa Firman Tuhan adalah kewenangan tertinggi, dan bahwa kita perlu menjauh dari mempercayai perkataan manusia dan menggunakan mata mereka membaca Alkitab untuk kita.

Tuhan, tolonglah kami!

GEORGE R. KNIGHT - JANGAN KITA MELUPAKAN SEJARAH hal. 274

KEMENANGAN DALAM HAL WEWENANG DI MINNEAPOLISRENUNGAN HARIAN PAGI10 SEPTEMBER 2026"Dengan demikian tiap-tiap manusia kepu...
09/09/2026

KEMENANGAN DALAM HAL WEWENANG DI MINNEAPOLIS

RENUNGAN HARIAN PAGI
10 SEPTEMBER 2026

"Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik" (2 Timotius 3: 17).

Cukup banyak pendeta yang menanggapi permohonan Ellen White di Minneapolis untuk belajar Alkitab secara pribadi. W.C. White menulis pada tanggal 2 November 1888, "Banyak yang kembali dari pertemuan ini dengan tekad untuk mempelajari Alkitab lebih dari sebelumnya, dan ini akan menghasilkan pengajaran yang lebih jelas."

R. DeWitt Hottel mencatat dalam buku hariannya bahwa salah satu kegiatan pertamanya setelah p**ang dari Minneapolis "adalah membaca buku Galatia karya Sdr. Butler dan juga jawaban Sdr. Waggoner. Juga membaca Alkitab." Hottel tampaknya menguji kesimp**an kedua orang itu dengan menggunakan Kitab Suci.

Kisah sukses lainnya adalah kisah J.O. Corliss, yang telah menyelidiki Firman Tuhan dengan hasil yang memuaskan. "Saya tidak pernah mendapatkan banjir terang seperti itu dalam jangka waktu yang sama," katanya, "dan kebenaran tidak pernah tampak begitu baik bagi saya seperti sekarang. Saya telah mempelajari sendiri pokok-pokok perjanjian, dan hukum dalam Galatia. Saya sampai pada kesimp**an saya tanpa berkonsultasi dengan siapa pun kecuali Tuhan dan Firman-Nya yang Kudus. Saya pikir sekarang saya telah memahami masalah ini dengan benar, dan saya dapat melihat keindahan dan keselarasan posisi Dr. [Waggoner] tentang hukum dalam kitab Galatia."

Rupanya tidak semua orang mengabaikan Ellen White di Minneapolis. Saat sesi General Conference tahun 1889, dia dapat menulis bahwa dia "bersyukur melihat saudara-saudara pendeta kita memiliki kecenderungan untuk menyelidiki sendiri Kitab Suci mereka" (MS 10, 1889).

Selama awal tahun 1890-an, General Conference mensponsori sekolah tahunan bagi para pendeta sebagai tanggapan atas panggilan di Minneapolis bagi para pendeta Advent untuk menjadi pelajar Alkitab yang lebih baik. Pertemuan tahun 1888 telah menyoroti ketidakmampuan mereka untuk berinteraksi dengan Alkitab. G.I. Butler yang bersifat menguasai tidak lagi menjadi Ketua General Conference, dan kepengurusan di bawah pimpinan O.A. Olson melakukan apa yang dapat mereka lakukan untuk memungkinkan para pendeta denominasi tersebut menjadi pelajar Alkitab yang lebih baik.

Mengingat pentingnya Alkitab, salah satu keajaiban gereja abad ke-21 adalah kita tidak meluangkan lebih banyak waktu untuk belajar Alkitab. Sebagian besar dari kita menghabiskan lebih banyak waktu di depan TV daripada di depan Alkitab yang terbuka.

Hari ini adalah hari untuk mengubah pola itu.
GEORGE R. KNIGHT - JANGAN KITA MELUPAKAN SEJARAH hal. 273

Address

Jalan Lembah Dieng 4
Malang
65115

Opening Hours

Wednesday 18:30 - 20:00
Saturday 09:00 - 18:00

Telephone

+6285175441844

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when GMAHK Dieng posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to GMAHK Dieng:

Shortcuts

Share