18/07/2024
PRASASTI SANGGURAN DAN CATUR NIWEDYA
Prasasti Sangguran merupakan prasasti pada batu berangka tahun 850 Saka (928 Masehi) yang ditemukan di wilayah Ngandat, Keluarahan Mojorejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Jawa Timur. Oleh karena itu, prasasti ini juga disebut sebagai Prasasti Ngandat. Dalam prasasti ini disebut nama penguasa daerah pada masa itu, yakni Sri Maharaja Rakai Pangkaja Dyah Wawa Sri Wijayalokanamottungga (Dyah Wawa).
Prasasti berbentuk tablet ini disebut juga Prasasti Minto (Minto Stone) karena dihadiahkan oleh Raffles kepada atasannya, Lord Minto, yang menjadi wakil raja Inggris di India. Keduanya pernah memimpin Hindia Belanda ketika Britania Raya menguasai Belanda (sebagai taklukan Prancis di era Napoleon) pada dasawarsa kedua abad ke-19. Raffles sendiri memperolehnya sebagai hadiah dari Kolonel Colin Mackenzie, yang mengambilnya setelah melihat batu bertulis ini.
Prasasti dengan tinggi 2 meter dan berbobot 3,8 ton ini dianggap penting karena menyebut raja Medang, yang berpusat di Jawa Tengah, sebagai penguasa daerah Malang, di Jawa Timur. Meskipun angka tahunnya tidak bersepakat dengan prasasti lainnya, isinya dianggap dapat membantu memecahkan misteri pindahnya pusat kekuasaan dari Jawa Tengah ke wilayah timur Pulau Jawa. Prasasti ini menyebut Mpu Sindok sebagai "mapatih" bukan sebagai "maharaja". Setahun kemudian nampaknya terjadi peralihan kekuasaan, karena prasasti Gemekan (930 Masehi) sudah menyebut Mpu Sindok sebagai penguasa wilayah.
Dalam Prasasti Sangguran baris 8-9 disebutkan sebagai berikut.
i bhaṭāra i sang hyang prāsāda kabhaktyan ing sīma kajurugusalyan i manañjung paknānya sīmangun pa…umangakṣa…ing samadanā i sang hyang dharma ngkānani śiwa catur-niwedya i bhatara pratidina mangkana iṣṭa prayojana śrī mahārāja muang rakryān mapatiḥ rikanang wanua i sangguran inarpaṇnākan i bhaṭāra i sang hyang prāsāda kabhaktyan ing sīma kajurugusalyan ing manañjung ...mā i waharu parṇnahanya swatantra tan katamāna dening patiḥ wahuta muang saprakāra ning mangilala drawya baji ing dangū
Terjemahan:..untuk Bhatara yang selalu bersemayam di bangunan suci peribadatan di daerah perdikan para brahmana di Mananjung, untuk digunakan... memelihara ...dan membiayai berbagai keperluan bangunan suci pedharman tempat Siwa bersemayam melalui empat macam cara pemujaan untuk Bhatara setiap hari. Demikianlah maksud dari Sri Maharaja dan Rakryan Mapatih pada waktu itu terhadap perdikan di Sangguran yang dipersembahkan untuk Bhatara yang bersemayam di bangunan suci kebaktian di daerah perdikan para brahmana di Mananjung. Daerah perdikan di Waharu tersebut kedudukannya menjadi daerah swatantra, yang tidak boleh dimasuki oleh patih, wahuta, dan semua abdi dalem raja sejak dahulu.
Pada prasasti tersebut, jelas sekali bahwa cara pemujaan yang dilakukan pada waktu itu adalah Catur Niwedya. Monnier-William (1899) mengartikan kata ‘niwedya (निवेद्य)’ sendiri dapat diartikan sebagai ‘an offering of food for an idol’. Dalam Siwa Purana 1.11.27 disebutkan “vastraṃ gaṃdhaṃ tathā puṣpaṃ dhūpaṃ dīpaṃ nivedanam” persembahan nivedya yang dapat diberikan adalah: kain/wastra, bunga, d**a, dan wewangian. Dalam Bhagawad Gita, Catur Niwedya itu bisa berupa: daun-daunan (patram), bunga (puspam), biji-bijian (phalam), dan air (toyam). Apakah itu yang dimaksud sebagai Catur Niwedya sebagaimana tertulis pada Prasasti Sangguran tersebut, tentu perlu kajian lebih lanjut.
Penemuan Candi di wilayah Pendem, Kecamatan Junrejo, Kota Batu Batu pada tahun 2019 lalu memunculkan spekulasi bahwa bangunan suci tersebut terkait dengan isi dari prasasti ini. Ada kemungkinan besar bahwa bangunan Candi tersebut merupakan tempat suci untuk memuja Dewa Siwa yang dilakukan dengan Catur Niwedya tersebut.
Apapun jenis Catur Niwedya yang dimaksud dalam Prasasti Sangguran tersebut, tentu itu merupakan kearifan lokal yang diajarkan oleh para leluhur kita. Barangkali kita perlu menggali kembali cara-cara pemujaan yang diwariskan oleh para leluhur kita berdasarkan prasasti-prasasti yang ada dan menghidupkannya kembali, tentu dengan penyesuaian di era kekinian. Dengan begitu energi positif dari para leluhur yang telah lama terpendam tersebut akan bangkit kembali dan menguatkan keyakinan kita akan kejayaan leluhur kita di masa lampau.
Bhumi Singhasari
Romi