14/12/2016
Renungan ibadah Minggu 11 Desember 2016
“Janji Tentang Datangnya Keselamatan”
(Mikha 5 : 1-6)
Mikha yang berasal dari Moresyet, sebuah kota kecil yang jaraknya sekitar 35 km sebelah barat daya dari Yerusalem, dipanggil Tuhan untuk menyampaikan nubuatan-Nya tentang kerajaan Israel utara dengan ibukotanya Samaria, bahwa tidak lama lagi akan jatuh (Mikha 1:6). Tetapi juga terhadap kerajaan Israel selatan, dengan ibukotanya Yerusalem, akan ditimpa malapetaka yang sama seperti Samaria (Mikha 3:12). Mengapa Tuhan mau menghukum mereka? Karena mereka telah melakukan perbuatan dosa. Dosa-dosa mereka seperti pemujaan berhala (Mikha 1:7a); persundalan (Mikha 1:7b), keserakahan (Mikha 2:1-2), penyimpangan dari ajaran dan agama yang benar (Mikha 2:6-9; 6:2-7), nabi-nabi palsu (Mikha 3:5-6), ilmu gaib (Mikha 3:7) dan kesombongan (Mikha 3:9-11). Mikha ingin mereka kembali ke jalan yang benar dalam hubungan mereka dengan Tuhan. Dibalik pengutusan Mikha untuk menyatakan akan datang penghukuman atau malapetaka Allah atas bangsa Israel, sebenarnya ada janji Allah yang akan memulihkan Israel.
Di pasal 5 inilah pesan harapan yang disampaikan Mikha. Bahwa walaupun “Yerusalem akan menjadi timbunan puing” (Mikha 3:12) namun “akan berdiri tegak mengatasi gunung-gunung“ (Mikha 4:1-5).
Bahkan pengharapan selanjutnya, penderitaan selama bertahun-tahun berada di pembuangan saatnya akan tiba dengan datangnya seorang penguasa.
Dari Betlehem, atau menurut nama kunonya Efrata, akan muncul “penguasa” dari keturunan Daud yang membawa “damai sejahtera” (Mikha 5:4). Nubuatan Mikha tersebut nantinya digenapi di Perjanjian Baru dengan lahirnya Yesus di Betlehem. Dia tidak hanya mendatangkan kelepasan bagi bangsa Israel tetapi juga bagi bangsa-bangsa lainnya. Jadi kedatangan “Sang Penyelamat” akan mendatangkan damai sejahtera yang dikatakan di ayat 3 “sampai ke ujung bumi”.
Apa yang Tuhan janjikan pasti akan digenapi. Janji-Nya bahwa Ia akan datang membawa keselamatan bagi bangsa-bangsa ada harga yang harus dibayar yakni bertobat dari dosa-dosanya dan hidup dalam ketaatan kepada-Nya. Disini kita bisa melihat pesan Tuhan bahwa ketaatan jauh lebih penting daripada korban bakaran (band. I Sam 15:22). Bukan karena ketaatan maka kita diselamatkan melainkan karena anugerah-Nya kita diselamatkan dan dengan keselamatan itulah kita dipelihara dalam ketaatan kepada Tuhan.
“Maka sekarang, hai orang Israel, apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, berpegang pada perintah dan ketetapan TUHAN yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya baik keadaanmu.” (Ul 10 : 12-13). PdtVn