Gerakan Warga GKJW.org

Gerakan Warga GKJW.org Gerakan Warga GKJW - Greja Kristen Jawi Wetan, dari Warga ke Warga untuk Warga

Kakehan Gludhug Kurang Udan, Artikel, Gerakan Warga GKJW, gkjw.org Kakehan Gludhug Kurang UdanSalam damai, salam patungg...
08/06/2021

Kakehan Gludhug Kurang Udan, Artikel, Gerakan Warga GKJW, gkjw.org

Kakehan Gludhug Kurang Udan

Salam damai, salam patunggilan.

Tanah air kita Indonesia sangatlah kaya akan budaya. Bicara soal budaya, kita tidak hanya menyoal tentang tari, busana adat maupun makanan khas daerah. Kaidah yang diturut oleh sebagian besar masyarakat di berbagai daerah, mungkin sering kita kenal dengan istilah norma adat, adalah juga bagian dari budaya yang kita miliki. Norma adat bisa berupa aturan yang selayaknya diikuti, atau bisa juga berupa petuah, pitutur, wejangan yang dapat dijadikan pegangan, piandel dalam menjalani dinamika kehidupan.

Kali ini, marilah mengulik sedikit tentang pitutur dari leluhur simbah kita, “Aja dadi wong sing kakehan gludhug, ning kurang udan.” Saya pernah membaca postingan seorang mentor digital marketing, yang berujar demikian, “Walaupun anda sudah mengikuti webinar saya, membeli dan membaca sampai tamat buku saya, tapi kalau anda tidak melakukan tindakan nyata apa-apa, ya jangan berharap jualan anda laku keras dan anda jadi kaya. Ngimpi itu namanya!”

Semacam itulah contoh dari ungkapan kakehan gludhug kurang udan. Belajar banyak, ikut seminar atau pelatihan sana-sini, aktif bertanya kesana kemari, tapi sampai di rumah tidak melakukan tindakan yang nyata, ya percuma saja jadinya.

Kuncinya adalah tindakan. Aksi. Perbuatan. Bergerak.

Sekecil apapun itu, tapi kalau kita sudah melakukannya, maka kita tidak akan berada di titik yang sama

lagi.

Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan hanya dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran (1 Yohanes 3:18). Mari kita bersama jadikan ayat itu sebagai penguat bagi kita, pengingat bagi kita, bahwa PERBUATAN dalam KEBENARAN akan membawa perubahan yang positif, baik dalam kehidupan rohani kita, maupun dalam bisnis kita.

Aja kakehan gludhug, kurang udan.

Berkah Dalem,

Irena Lesmono.

embeumkm.com

(image)

Baca selanjutnya:

1 – Pancasila - Trisila - Ekasila : Benarkah Pengkhianatan Terhadap Bangsa dan Negara ?

2 – “New Normal” : Sanggupkah GKJW Menelannya ?

3 – Agama Ageming Aji - H+8 PSBB.sby

4 – Saya dicap Kafir - H+10 PSBB.sby

5 – THR hanya ada di Indonesia - H-1 PSBB.sby

June 08, 2021 at 11:03AM

Kakehan Gludhug Kurang Udan Salam damai, salam patunggilan. Tanah air kita Indonesia sangatlah kaya akan budaya. Bicara soal budaya, kita tidak hanya

Pancasila, Trisila, Ekasila : Benarkah Pengkhianatan Terhadap Bangsa dan Negara Y (Catatan Refleksi dalam menyambut 50 T...
08/06/2021

Pancasila, Trisila, Ekasila : Benarkah Pengkhianatan Terhadap Bangsa dan Negara Y

(Catatan Refleksi dalam menyambut 50 Tahun Haul B**g Karno).

1. Catatan Pendahuluan

RUU-HIP menuai polemik publik. Beberapa orang menuduh bahwa Pancasila yang diperas menjadi Trisila dan Ekasila adalah merupakan bentuk pengkhianatan terhadap bangsa dan negara. Benarkah? Tuduhan itu khususnya berkaitan dengan Pasal 7 draf RUU Haluan Ideologi Pancasila yang memuat klausul mengenai Trisila dan Ekasila, sesuai dengan usulan B**g Karno mula-mula dalam pidatonya di depan sidang BPUPKI, tanggal 1 Juni 1945, yang akhirnya lebih dikenal sebagai “Lahirnya Pantja-Sila” tersebut.

Lebih jelasnya, Pasal 7 draf RUUHIP, yang dipersoal-kan itu terdiri dari 3 ayat yang berbunyi:

(1) Ciri pokok Pancasila adalah keadilan dan kesejahteraan sosial dengan semangat kekeluargaan yang merupakan perpaduan prinsip Ketuhanan, Kemanusiaan, kesatuan, kerakyatan/demokrasi politik dan demokrasi ekonomi dalam kesatuan;

(2) Ciri pokok Pancasila berupa Trisila, yaitu Sosio-Nasionalisme, Sosio-Demokrasi dan Ketuhanan yang berkebudayaan.

(3) Trisila sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terkristalisasi dalam Ekasila, yaitu gotong royong.

2. Lalu, Manakah Yang Dianggap Mengkhianati Bangsa dan Negara ?

Faktanya, Trisila dan Ekasila justru berasal dari dokumen “Lahirnya Pantja-SIla”, pidato B**g Karno sebagai satu-satunya yang dibahas dalam sidang Panitia kecil yang akhirnya dicantumkan dalam Alinea 4 Pembukaan UUD 1945. Jadi, Trisila dan Ekasila terdapat dalam babon atau bahan dasar ideologi negara yang dibahas dalam sidang Panitia Kecil. Memang, istilah “diperas menjadi trisila”, “diperas lagi menjadi ekasila” itu bukan bahasa hukum, dan apa yang diucapkan B**g Karno itu baru usulan kepada sidang BPUPKI, yang akhirnya dibahas lebih mendalam dalam sidang Panitia kecil yang juga dilakukan atas prakarsa B**g Karno.

B**g Karno tidak sedang berbicara tentang "Stufentheory", atau hirarki perundang-undangan a-la Hans Kelsen. Kata “diperas” bukan bahasa hukum, tetapi harus dimaknai sebagai upaya mencari "meeting point" dalam proses dinamis pembahasan dasar negara untuk Indonesia merdeka yang akan didirikan bersama-sama. Lagi p**a, substansi pidato 1 Juni 1945 itu juga bukan hal yang mendadak dan tiba-tiba muncul, melainkan lahir dari pergulatan pemikiran B**g Karno mengenai proses panjang sejarah perjuangan bangsa, khususnya berangkat dari fakta kemajemukan Indonesia.

Kita harus melihat pidato 1 Juni sebagai “helaan mandat sejarah” yang memang tidak bisa dilepaskan dari situasi zaman saat itu, yang tidak bisa lihat dari “kacamata” kita sekarang. Misalnya, mengapa B**g Karno mengusulkan sila pertama Kebangsaan? Karena menyebut Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama, mungkin untuk konteks zaman saat itu, bisa-bisa disalah mengerti sebagai sistem theokrasi oleh kaum kebangsaan yang menghendaki sistem legitimasi “non-agamis". Sebab saat itu belum lama munculnya sekularisme Turki yang lahir sebagai kritik kebablasan terhadap sistem kekhalifahan Utsmani, yang sebelumnya telah banyak dikritik oleh negara-negara Arab sendiri.

Sebaliknya, kalau B**g Karno berbicara tentang Nasionalisme an sich, rawan disalahpahami sebagai “chauvinisme" yang lagi panas-panasnya mengudara di langit Eropa. Itu gara-gara “sakit gila” Hi**er dengan dalilnya: “Deutschland Uber Alles” (Tiada bangsa setinggi Jerman). Karena itu, B**g Karno menegaskan “Nasionalisme harus tumbuh subur di taman-sarinya Internasionalisme”. Inilah yang disebut B**g Karno sebagai Sosio-Nasionalisme. Begitu p**a, berbicara Demokrasi an sich akan dibaca sebagai kelemahan demokrasi liberal, yang hanya mengandung demokrasi politik tanpa keadilan sosial.

Karena itu, B**g Karno menggagas demokrasi politik dan demokrasi ekonomi yang harus berjalan bersamaan.Itulah yang disebutnya Sosio-Demokrasi. Jadi, Ketuhanan Yang Maha Esa, Sosio-Nasionalisme dan Sosio-Demokrasi adalah embrionya Pancasila yang akhirnya diusulkan oleh B**g Karno dalam pidatonya tanggal 1 Juni 1945. Trisila dan Pancasila itu laksana "pedhèt" (anak sapi) dan sapinya. Runutannya, Trisila lahir dari semangat ekasila atau gotong royong. dan Pancasila adalah wujud pendewasaan Trisila setelah melalui penggodogan dalam kawah “candradhimuka”-nya perjuangan rakyat Indonesia.

3. Apakah "Ekasila" Gotong Royong Menghapuskan Ketuhanan Yang Mahaesa ?

Tuduhan bahwa “ekasila” Gotong Royong akan menghapuskan Ketuhanan Yang Maha Esa ini adalah bias Orde Baru yang berusaha melakukan “De-Soekarnoisasi”, dengan cara melepaskan Pancasila dari penggalinya. Mengapa? Gotong royong itu semangat dinamis dan tekad bulat segenap rakyat untuk bersatu dan bersama-sama mendirikan negara-kebangsaan (Nationale Staat), mengatasi sekat-sekat perbedaan dalam suku, adat istiadat, bahasa-bahasa daerah, agama dan perbedaan primordial lainnya.

Pancasila tidaklah muncul tiba-tiba. “Puluhan tahun dadaku telah menggelora dengan prinsip-prinsip itu”, kata B**g Karno dalam pidato Lahirnja Pantja-Sila. Ya, kita bisa melacaknya dari jejak juang bangsa Indonesia yang diformulasikan dalam ideologi perjuangan B**g Karno. Gagasan Sosio-Nasionalisme dan Sosio-Demokrasi telah menghiasi surat-surat kabar Hindia Belanda jauh sebelum kemerdekaan Indonesia. Karena itu, tuduhan bahwa ekasila akan menghapuskan Ketuhanan, sulit dimengerti akal sehat.

Bacalah, artikel “Sukarno” oleh Soekarno, yang dimuat Surat Kabar Pemandangan, 14 Juli 1941:

“…dalam cita-cita politikku, aku ini seorang nasionalis, dalam cita cita sosialku aku ini sosialis, di dalam cita-cita sukmaku aku ini sama sekali theis. Sama sekali percaya kepada Tuhan, sama sekali mengabdi kepada Tuhan". Jadi, B**g Karno dengan penghayatannya yang unik tentang agamanya dalam konteks kemajemukan, benar-benar seorang yang amat religius.

Sebab, di tengah-tengah berkecamuknya perang dingin antara “blok Kapitalis” dan “blok Komunis”, yang saat itu laksana membelah dunia, dengan lantang B**g Karno menawarkan Pancasila sebagai “hoggere optrekking” (sublimasi, pengangkatan ke taraf yang lebih tinggi) dari “Declaration of Independence”-nya Amerika dan Manifesto Komunis. Kritik bahwa demokrasi politik harus berjalan seiring dengan demokrasi ekonomi, disuarakannya dalam pidatonya Build The World A New (Membangun Dunia Kembali), di depan sidang Umum PBB, tanggal 30 September 1960.

“Declaration of Independence”, tegas B**g Karno “menuntut life, liberty and the pursuit of happiness, yaitu hak hidup,hak kebebasan,dan hak mengejar kebahagiaan bagi semua manusia. Padahal pursuit of happiness (pengejaran kebahagiaan) belum berarti reality of happiness (kenyataan kebahagiaan)”. Lalu manakah yang lebih baik? “Kita bangsa Indonesia”, lagi kata B**g Karno dalam Jalannya Revolusi kita, 17 Agustus 1960, “melihat bahwa Declaration of Independence itu tidak mengandung keadilan sosial atau sosialisme dan kita melihat bahwa Manifesto Komunis itu masih harus di sublimir, dipertinggi jiwanya dengan Ketuhanan yang Maha Esa”.

Apa yang disuarakan B**g Karno bukan sekedar “propaganda”, melainkan benar-benar “praxis” kehidupan bangsa-bangsa seperti yang dibuktikannya dengan diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika, di Bandung, 18-24 April 1955. Gaung konferensi yang digagas B**g Karno ini membahana di langit Timur dan Barat, sehingga mata dunia terus menatap takjub kepada Indonesia. Karena spirit revolusi Indonesia, di Mesir pidato B**g Karno “Penemuan Kembali Revolusi kita”, 17 Agustus 1959, telah diterjemahkan dalam bahasa Arab “al-‘Audah ilâ Iktisyâf Tsauratinâ”, diterbitkan oleh Dâr al-‘Arabiyyah li al-‘Ulûm, Cairo, 1959.

Pada bagian akhir terbitan pidato B**g Karno dalam bahasa Arab ini, dicantumkan glossary tentang falsafah bangsa Indonesia.

Dalam glossary buku tersebut, Pancasila dialih-bahasakan "al-Mabâdi al-Khamsah”, “Bhinneka Tunggal Ika” diterjemahkan: “al-Ta’addud fî al-Wihdah”, dan dijabarkan maknanya “ay ‘an ‘Indunisiyâ bi ragmi min ta’addud ‘aqâlîmihâ wa qâbâ’ilihâ takûnu wahdatan mutamâsikatan” (yaitu bahwa Indonesia meskipun terdiri dari berbagai wilayah dan suku bangsa yang berbeda-beda tetapi bersatu-padu dalam kesatuan yang teguh). Sedangkan yang lagi viral, kata “gotong royong”, yang dalam pidato Lahirnya Panta-Sila disebut “ekasila”, dalam “Al-‘Audah ilâ Iktisyâf Tsauratinâ” diterjemahkan dengan “al-Ta’âwun al-Musytarak” (A.G. Sya’ban, 2015).

4. Catatan Penutup

Sekali lagi, jangan curiga dengan kata “diperas”, dan jangan salah membacanya sebagai bahasa hukum. Berbeda dengan kata kekeluargaan yang statis, gotong royong adalah gawe, amal, karya bersama-sama yang dinamis, kristalisasi keringat, pembantingan tulang bersama demi cita-cita seluruh rakyat. Itulah “bahasa roh” yang menyala-nyala, bukan “bahasa hukum” yang baku dan kaku. Seperti adagium suci bahasa Yunani: “Gar gramma apoktennei to de pneuma zôpoiei” (Huruf itu mematikan tetapi roh itu menghidupkan).

Sekali lagi, dalam pidato Lahirnya Pantja-Sila, B**g Karno yang gandrung persatuan, di depan sidang Dokuritu Zyunbi Tyosa Kai saat itu menawarkan “philosofische gronslag” dalam sistematik Pancasila, Trisila atau Ekasila. “Tetapi terserah kepada Tuan-tuan, mana yang tuan-tuan pilih. Trisila, Pancasila atau Ekasila”, kata B**g Karno. Sidang panitia kecil akhirnya memilih lima sila itu, dengan beberapa perbaikan redaksional, lalu mencantumkannya dalam Pembukaan UUD 1945, meskipun menyebut Pancasila. Jadi, hanya dengan membaca pidato "Lahirnja Pantja-Sila" 1 Juni 1945 dan notulen sidang di Panitia Kecil kita bisa membaca “suasana batin” para bapa bangsa waktu itu, sebelum semua menyepakati Pancasila sebagai Dasar Negara.

"De Museum Cafe" Malang, 21 Juni 2020

Oleh Dr. Bambang Noorsena

(image)

Baca selanjutnya:

1 – Kakehan Gludhug Kurang Udan

2 – “New Normal” : Sanggupkah GKJW Menelannya ?

3 – Agama Ageming Aji - H+8 PSBB.sby

4 – Saya dicap Kafir - H+10 PSBB.sby

5 – THR hanya ada di Indonesia - H-1 PSBB.sby

June 08, 2021 at 11:03AM

(Catatan Refleksi dalam menyambut 50 Tahun Haul B**g Karno). 1. Catatan Pendahuluan RUU-HIP menuai polemik publik. Beberapa orang menuduh bahwa

AuNew NormalAy : Sanggupkah GKJW Menelannya Y, Artikel, Gerakan Warga GKJW, gkjw.org (Tulisan Pertama)"New Normal", isti...
07/06/2021

AuNew NormalAy : Sanggupkah GKJW Menelannya Y, Artikel, Gerakan Warga GKJW, gkjw.org

(Tulisan Pertama)

"New Normal", istilah itu tiba-tiba populer di paruh pertama tahun 2020 ini. Nyaris semua kalangan mendadak membicarakannya, paham atau tidak paham, kita dipaksa paham. Ngerti atau tidak ngerti, kita dipaksa ngerti. Mulai Presiden sampai pesinden dituntut melakoninya. Tidak boleh ada status "awam" dalam hal ini.

Frasa “New Normal” sudah melampaui dan mendahului status terminologisnya sendiri. Ia bukan lagi sekedar ucapan atau kata-kata, karena ia sudah membobol sangkar konseptualnya. Ia sudah bukan sekedar gagasan lagi. Ia adalah sikap. Ia adalah tindakan, perbuatan atau perilaku. Ia adalah habit, YANG BARU, yang diperintahkan dan dieksekusikan atas kita. Tanpa kita bisa menolaknya. Selebar apapun jarak kesenjangan antara tindakan dengan teori atau konsep yang masih tinggal di dalam mindset seseorang, orang itu tetap dipaksa menjalankan praktik New Normal. Ini semacam takdir yang dijatuhkan atas kita. Ini jaman dimana kita terpaksa menjalankan perilaku yang (sangat mungkin) berseberangan dengan kehendak kita. Sangat mungkin p**a di lubuk hati terdalam, sejujurnya kita belum bisa ikhlas melakoninya.

A. Kalibrasi Pikiran

New Normal merupakan pembalikan proses logika yg luar biasa. Kalau biasanya, ‘mindset’ menjadi tanah atas bangunan pikiran kita; dan ‘pikiran’ membimbing serta mengarahkan setiap 'tindakan' kita, maka sekarang proses tersebut dibalik. Dalam skala individu, ‘tindakan’ telah naik pangkat menjadi panglima, sedangkan ‘mindset’ dan ‘pikiran’ sekedar menjadi prajuritnya. Tidak penting lagi seberapa lama mindset dan pikiran harus menyesuaikan diri terhadap perilaku baru itu, tetapi ia tetap diwajibkan terus-menerus mengkalibrasi dirinya terhadap perilaku-perilaku baru yang kini menjadi rujukannya. Proses kalibrasi mindset ini bisa saja berkelanjutan sampai orangnya mati.

Contoh : Ibadah Online dan Ibadah Daring

Dalam kondisi "normal lama" sebelum pandemi Covid-19 menyergap kita semua, mana mungkin GKJW mengijinkan dan membenarkan ibadah online diberlakukan di kalangan warga jemaat. Meskipun tak kurang-kurang ikhtiar untuk mengingatkan para pendetanya bahwa tren hidup online pasti datang. Mungkin begitu juga kondisi ibadah-ibadah di gereja-gereja dan di agama lain yang mengalaskannya pada peribadatan kolektif.

Tetapi kini sejak Covid-19 mewabah di Indonesia, sinode GKJW secara rutin mengunggah dan menyebar video untuk ibadah online warga jemaat melalui Youtube dan media sosial lainnya. Sampai dengan artikel ini ditulis, sudah 108 buah jemaat yang memproduksi video ibadah online, baik rutin maupun insidentil. Pemuda di jemaat terbangkitkan kreativitasnya, mereka mengadakan ibadah atau diskusi daring melalui aplikasi Zoom, Google Meet, Youtube dan Instagram. ‘New Normal’ bukan lagi sekedar menyapa kita sebagai “tren”, melainkan sudah menggilas kita sebagai tatanan relasi yang wajib kita lakukan di pertemuan-pertemuan publik. Kita juga tak kuasa menolaknya.

Majelis tidak bisa lagi memantau laku ibadah warga jemaat. Apakah mereka rajin ibadah atau tidak? Apakah mereka mengikuti video ibadah GKJW atau gereja lain? Apakah video ibadah GKJW yg diikuti adalah video yang disediakan sinode, video jemaat sendiri atau video jemaat lain? Monitoring konvensional tidak bisa lagi dilakukan dalam konteks New Normal ini.

Ibadah pemuda GKJW yg umumnya dilaksanakan setiap Sabtu sore di jemaat masing-masing, kini berlangsung sangat cair. Para pemuda itu bisa saja mengikuti ibadah yang diselenggarakan oleh jemaat, gereja dan denominasi mana saja. Siapa yg bisa mengawasi, apalagi membatasi-nya?

Tidak Ada!

Batas-batas dan kewenangan konvensional telah luntur dengan sendirinya.

Semua ibadah online yang diikuti warga jemaat dilaksanakan di rumah masing-masing secara bebas. Otoritas pemberlakuan disiplin ibadah online tidak lagi berada di tangan Majelis, tapi sudah bergeser sepenuhnya ke tangan warga jemaat. Suasana pandemi Covid-19 secara tidak langsung telah mendorong meroketnya angka penggunaan gadget, media sosial dan aplikasi konferensi jarak jauh. Kalo dulu di jemaat-jemaat tertentu sempat ada pelarangan penggunaan gadget selama ibadah, sebaliknya sekarang ibadah-ibadah dilaksanakan dengan menggunakan gadget.

Mau tidak mau semua orang, terlebih majelis dan warga jemaat yang konservatif, dipaksa untuk mengkalibrasi mindsetnya agar sesuai dengan kenyataan praktis yang semakin umum terjadi. Semakin sulit mereka menerima kenyataan baru ini, maka akan semakin tersiksa batinnya. Jiwanya akan terus tegang terbelah antara realitas praktis New Normal dengan mindset konservatifnya yang tak kunjung move on dan kehilangan basis logisnya.

B. Tak Ada Langkah Balik

Covid-19 terlanjur muncul dan mempengaruhi secara kuat pola kehidupan kita. Kita tidak bisa lagi berasumsi seolah-olah Covid-19 tak pernah ada. Kita tidak bisa mengembalikan aliran waktu ke titik sebelum adanya Covid-19.

Kalau pun nanti kondisinya sudah dianggap "normal", maka kenormalan itu tak bisa lagi menghentikan ibadah daring yang terlanjur dilaksanakan para pemuda jemaat secara mandiri, terlebih kalau simpatisan ibadah itu meliputi pemuda lintas jemaat atau lintas gereja, karena komunitas daring yang melampaui batasan-batasan konvensional itu, sudah kadung terbentuk dan menawarkan keasyikan tersendiri bagi siapa saja yang terlibat di dalamnya.

Kenormalan baru itu sendiri malah menggelindingkan demokratisasi informasi secara snow-balling ke semua kalangan. Kemajuan teknologi IT yang berpadu dengan suasana pandemi Covid-19 telah menyulut dan meletupkan 'semangat efisiensi' atas segala hal. Tak ayal lagi ‘demokratisasi informasi’ yang bersandingan dengan ‘semangat efisiensi’ itu telah menjadi "pasangan serasi" yang sangat memikat siapa saja. Pada domain agama, maka wujudnya adalah ibadah online yang sudah saya sebut-sebut tadi, yang lagi populer di antaranya adalah ibadah daring karena faktor interaktif dan real time-nya.

Warga jemaat yang terlanjur gemar dengan ibadah online, tentu tak mudah berbalik ke ibadah konvensional yang dirasa makin kehilangan kehangatannya, karena jumlah peserta harus sangat terbatas, jaga jarak, pakai masker dan tak bisa lagi bebas bersalaman dengan siapapun seperti dulu. Dengan dialaminya ibadah online selama pandemi Covid-19, warga jemaat merasa mempunyai alternatif ibadah yang lebih efisien dan tak kuatir dihantui oleh penularan Covid-19. Ibadah online itu kadung berstatus sah untuk dilaksanakan oleh warga jemaat dimanapun dan kapanpun. Memang masih mungkin orang akan merindukan ibadah konvensional, tetapi cukup sampai disitu saja. Ibadah konvensional ke depan nanti hanya berpotensi menyandang status pengobat rasa rindu yang berguna untuk sekedar mengisi kenangan akan romantisme ritualitas masa lalu.

Pilihan atas model-model ibadah menjadi sangat banyak dan variatif. Mau ibadah model apa saja sudah serba tersedia di Youtube. Mau yang sensasional, yang ekspresif, yang moderat, yang konservatif atau yang meditatif, semua ada. Mau yang ibadah "full version" atau yang "paket hemat singkat padat" semua tinggal di-KLIK. Kalaupun mau bikin model ibadah sendiri juga gampang. Orang bisa lakukan ibadah daring pakai aplikasi konferensi jarak jauh lalu melakukan improvisasi maupun modifikasi ses**anya. Siapa yang sanggup mengontrolnya? Gelombang tsunami 'demokratisasi informasi' yg datang bergulung-gulung bersama 'semangat efisiensi' tak mungkin lagi dibendung. Kebebasan berkreasi dan berekspresi kini benar-benar terwadahi. Pandemi Covid-19 terlanjur membantu menyemaikannya secara masif. Adakah yang lebih menggiurkan warga jemaat selain 'kebebasan' ?

(bersambung ke Tulisan Kedua)

oleh: Mayank Yunica

Illustrasi gambar diolah dari

tsb.co.uk

(image)

Baca selanjutnya:

1 – Agama Ageming Aji - H+8 PSBB.sby

2 – Saya dicap Kafir - H+10 PSBB.sby

3 – THR hanya ada di Indonesia - H-1 PSBB.sby

4 – Pohon Ketangi - Menuju Bujono Suci Pembangunan - Bagian 6

5 – MA dan RPK - Menuju Bujono Suci Pembangunan - Bagian 5

June 08, 2021 at 12:03AM

(Tulisan Pertama) New Normal, istilah itu tiba-tiba populer di paruh pertama tahun 2020 ini. Nyaris semua kalangan mendadak membicarakannya, paham

Stefanus, Renungan, Gerakan Warga GKJW, gkjw.org Bacaan : KISAH PARA RASUL 7: 55-60Tema : STEFANUSIbu/Bapak/Saudara sert...
07/06/2021

Stefanus, Renungan, Gerakan Warga GKJW, gkjw.org

Bacaan : KISAH PARA RASUL 7: 55-60

Tema : STEFANUS

Ibu/Bapak/Saudara serta anak-anak yang dikasihi Tuhan,

Hari ini kita akan mengulas seorang tokoh Alkitab dari Dunia Perjanjian Baru yang bernama Stefanus. Hal-hal yang patut untuk dicermati akan disampaikan dalam bentuk poin-poin sbb (diambil dari laman rubrikkristen.com/7-fakta-tentang-stefanus-di-alkitab/) :

1. Stefanus adalah satu dari tujuh diaken pertama gereja. Nama Stefanus berarti ‘’mahkota’’. Dikenal sebagai seorang yang memiliki kualitas rohani yang baik. Ditunjuk untuk menjadi diaken/pelayan jemaat di bidang sosial terkhusus kepada para janda. (Kisah Rasul 6:1-6)

2. Stefanus adalah seorang apologet yang handal. Stefanus dipakai oleh Tuhan sebagai pengkhotbah dan apologet (pembela agama) Kristen pada saat terjadi perdebatan dengan orang Yahudi Libertini (mantan budak yang sudah merdeka). Karena kalah dalam perdebatan kemudian Stefanus dibawa ke mahkamah Sanherdin dengan dakwaan palsu menghujat Allah dan Nabi Musa. (Kisah Rasul 6:8-15)

3. Stefanus mengecam keras orang Yahudi yang menolak Yesus. Stefanus sendiri adalah seorang Yahudi Diaspora yang kritis terhadap Taurat dan Bait Allah. Kekritisan ini terwujud sbb : Pertama, adanya Bait Allah tidak menjamin orang Israel beribadah kepada Tuhan. Kedua, sejak jaman Musa, Bangsa Israel selalu memberontak kepada Tuhan dan menentang utusanNya yang berpuncak pada penyaliban Yesus. (Kisah Rasul 7:1-53)

4. Stefanus disambut oleh Tuhan Yesus yang berdiri di sebelah kanan Allah Bapa di Sorga. Sebuah gambaran yang unik karena biasanya Tuhan Yesus digambarkan duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Namun kali ini Tuhan Yesus berdiri sebagai wujud standing ovation/penghormatan atas pelayanan Stefanus yang menjadi saksi setia tanpa takut dan gentar. (Kisah Rasul 7:55)

5. Stefanus berdoa bagi orang-orang Yahudi yang merajam/melempari batu kepadanya. Hukum rajam sampai mati adalah hukuman bagi orang yang dianggap menghujat Allah. Namun Stefanus meneladani apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus di kayu salib yaitu meminta pengampunan bagi orang-orang yang menyakitinya. Sebuah keteladanan iman yang sangat indah. (Kisah Rasul 7:60)

6. Stefanus meninggal sebagai martir pertama (protomartyr) Kristen. Martir adalah sebutan bagi orang percaya yang mati karena mempertahankan imannya. Uniknya gelar martir pertama ini tidak dikenakan kepada Para Rasul/Murid Yesus tetapi justru kepada seorang diaken gereja mula-mula. Ingat bahwa kematian Yudas Iskariot tidak dihitung martir karena dia berkhianat pada Tuhan.

7. Kematian Stefanus berdampak pada pemberitaan Injil yang semakin besar dan meluas. Kematian Stefanus menjadi awal masa penganiayaan gereja. Dampaknya banyak orang percaya yang harus lari keluar dari Yerusalem dan tersebar di Yudea dan Samaria bahkan sampai keluar dari kawasan Israel. Seperti kata Bapa Gereja Tertulianus (150-220 M), ‘’darah para martir adalah benih bagi gereja’’. Bahkan kematian Stefanus mampu mengubah Saulus (Paulus) dari seorang penganiaya jemaat yang bertobat dan kemudian menjadi seorang Rasul Tuhan. (Kisah Rasul 8:1-3)

Setelah mencermati tujuh fakta tersebut, diskusikanlah bersama anggota keluarga anda, poin-poin mana dari kisah Stefanus yang menurut anda paling berkesan dan bermakna? Selanjutnya dapatkah kita berefleksi atas kekurangan diri kita jika dibandingkan dengan kisah hidup Stefanus? Terakhir, langkah-langkah dan tekad apakah yang dapat kita ambil supaya hidup kita juga menjadi hidup yang berkenan di hadapan Allah seperti hidupnya Stefanus?

Selamat merenung. Tuhan memberkati. Amin.

Pdt. Argo Daniel Satwiko, GKJW Bulusari

(image)

Baca selanjutnya:

1 – Sang Maha

2 – Refleksi Rumahan #24: Cara Pandang

3 – Gesang Enggal

4 – Menjadi Murid dan Saksi Tuhan dengan rendah hati, cerdas dan bersahabat

5 – Refleksi rumahan #28: Para Penggeledah

June 08, 2021 at 12:03AM

KISAH PARA RASUL 7: 55-60 Tema : STEFANUS Ibu/Bapak/Saudara serta anak-anak yang dikasihi Tuhan, Hari ini kita akan mengulas seorang tokoh Alkitab

Agama Ageming Aji, H+8 PSBB.sby, Artikel, Gerakan Warga GKJW, gkjw.org Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV dalam ...
07/06/2021

Agama Ageming Aji, H+8 PSBB.sby, Artikel, Gerakan Warga GKJW, gkjw.org

Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV dalam pupuh Pangkur bait pertama :

"Mingkar mingkuring angkara, akarana karenan Mardisiwi. Sinawung resmining kidung, sinuba sinukarta. Mri kretarta pakartining ngelmu luhung. Kang tumrap neng tanah Jawa, Agama ageming aji. "

Tafsir bait di atas sebenarnya dalam konteks, cara orangtua dalam mendidik anaknya (Mardisiwi) dalam hal kemuliaan dan kebaikan. Bukan hanya memberikan teori saja, tapi orangtua harus memberikan contoh praktek sebelumnya.

A : tidak. Gama : rusak.

Agem : pakai. Ageman : pakaian. Aji : bernilai atau mulia

Orang Jawa menyebut pakaian tidak saja ageman, kadang ras**an. Sehingga orang menyebut, memeluk agama sinonim dengan ngrasuk agama.

Agama ber aji, mulia. Kadang yang mulia menjadi tidak ber aji, karena kemunafikan. Karena kita yang memakainya.

H+8 PSBB.sby

Hadiyanto, bit.ly

embeumkm.com

(image)

Baca selanjutnya:

1 – Saya dicap Kafir - H+10 PSBB.sby

2 – THR hanya ada di Indonesia - H-1 PSBB.sby

3 – Pohon Ketangi - Menuju Bujono Suci Pembangunan - Bagian 6

4 – MA dan RPK - Menuju Bujono Suci Pembangunan - Bagian 5

5 – Sudah Siapkah Gereja dengan The New Normal?

June 07, 2021 at 10:03PM

Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV dalam pupuh Pangkur bait pertama : Mingkar mingkuring angkara, akarana karenan Mardisiwi. Sinawung

Kuat Dilakoni, Lek Ra Kuat Ditinggal Ngopi, Bineka, Gerakan Warga GKJW, gkjw.org “Kuat dilakoni, lek ra kuat ditinggal n...
07/06/2021

Kuat Dilakoni, Lek Ra Kuat Ditinggal Ngopi, Bineka, Gerakan Warga GKJW, gkjw.org

“Kuat dilakoni, lek ra kuat ditinggal ngopi,” kata Nella Kharisma dalam lagu Bojo Galak (Kalau mampu dijalani, kalau tidak maka ditinggal minum kopi). Penyanyi ini mahir menceritakan imajinasi kita soal minuman kopi.

Entah seduhan kopi sachet dalam gelas plastik atau sajian dengan metode drip V60 di café, inilah minuman penyegar peradaban. Revolusi mental di mulai dari cangkir. The Boston Tea Party pada 1773 —ketika kaum revolusioner Amerika Serikat membuang teh dari kapal dagang Inggris ke laut— adalah awal negeri Paman Trump menjadi peminum kopi. Diskusi politik di berbagai café di Perancis adalah sumber pergerakan Revolusi Perancis, 1789 bagi Maximilien Robespierre dan kawan-kawan. Inilah juga minuman yang disesap Sándor Petöfi, penyair yang menjadi inspirasi revolusi Hungaria, pada 1846 ketika dia menulis syair lagu kebangsaan negeri itu.

Pengalaman di Nusantara, kopi tak lepas dari pergumulan kolonialisme; ketika Gubernur Jenderal Belanda di Malabar mengirim bibit kopi ke Batavia (Jakarta) pada 1699, dimulailah sejarah kultivasi kopi yang panjang, penuh s**a bagi peminumnya, namun juga tangis bagi penanamnya. Indonesia adalah negara pertama di luar Ethiopia dan jazirah Arab di mana kopi berhasil dibudidayakan. Ekspor pertama dari Nusantara ke Eropa terjadi pada 1717 seberat 2.000 pounds, dicatat oleh kronik Pemerintah Hindia Belanda.

Kini, ada sekian ribu pengusaha kopi di negeri ini. Kita adalah penghasil kopi ke empat di dunia; namun dengan produktifitas yang perlu ditingkatkan.

Aneka koleksi kopi di rumah ini semoga menjadi amunisi bagi revolusi berpikir, tak semata pelarian dari ketidakmampuan. Memang, selain pandai berdendang tampaknya Nella Kharisma memang “nakal” dalam idiom.

Raymond Valiant, buka Facebook

(image)

Baca selanjutnya:

1 – Peluncuran Website Etalage UMKM Warga GKJW embeumkm.com

2 – Rangkuman BBS P1 Pokja PEW GKJW

3 – Warga GKJW Tetulung

4 – Kesempatan

5 – Promosi, Promosi dan Sukacita Promosi

June 07, 2021 at 10:03PM

AuKuat dilakoni, lek ra kuat ditinggal ngopi,” kata Nella Kharisma dalam lagu Bojo Galak (Kalau mampu dijalani, kalau tidak maka ditinggal minum

Sang Maha, Renungan, Gerakan Warga GKJW, gkjw.org Bacaan: Mazmur 103: 1-22"TUHAN sudah menegakkan takhta-Nya di sorga da...
07/06/2021

Sang Maha, Renungan, Gerakan Warga GKJW, gkjw.org

Bacaan: Mazmur 103: 1-22

"TUHAN sudah menegakkan takhta-Nya di sorga dan kerajaan-Nya berkuasa atas segala sesuatu". (Mazmur 103:19)

Tak dapat disangkal bahwa dalam kondisi kehidupan seperti sekarang ini banyak di antara kita mengalami kegelisahan. Namun kita harus berusaha untuk mengelola kegelisahan kita agar kita tetap berdaya, sehat dan produktif dalam kehidupan anugerah Tuhan ini.

Untuk menghindari kegelisahan yang berlebih menyerang kita, kita harus ingat beberapa kebenaran tentang kedaulatan Tuhan atas kita:

1. Tuhan ada di mana saja.

Daud berkata:

"Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? (Mazmur 139:7) Tidak ada satu tempat di mana pun kita bisa sembunyi meskipun kita sudah merasa sendiri, dan tidak ada tempat yang tidak bisa di jangkau Tuhan.

2. Tuhan tahu segalanya

Dikatakan:

"TUHAN memandang dari sorga, Ia melihat semua anak manusia; dari tempat kediaman-Nya Ia menilik semua penduduk bumi. (Mazmur 33:13-14) Tuhan tahu seberapa buruknya keadaan kita, seberapa tidak enaknya perasaan kita. Karena itu jangan pernah berpikir bahwa Tuhan itu tidak peduli akan situasi yang kita tadapi.

3. Tuhan itu Mahakuasa

"Adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk TUHAN?……." (Kejadian 18:14) Memang, …."Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin." (Matius 19:26)

Masihkah kita meragukan Dia? Perhatikan! Tuhan itu peduli akan masa depan kita dibanding diri kita sendiri. Janganlah kegelisahan melemahkan kita. Kita tidak mengetahui tentang hari esok dan masa depan kita, namun kita yakin Tuhan yang menegang masa depan itu. Tuhan tahu apa pun yang akan terjadi, Dia tahu persis apa yang menjadi kebutuhan kita dan karena kasihNya maka ……"Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah". (Mazmur 55:23) Mari kita percayakan hidup kita kepada Sang Maha. Dan tetap Pujilah Dia sebagaimana Daud dalam perlajalan hidupnya yang penuh dinamika selalu memuji Tuhan seperti dalam Mazmur bacaan kita hari ini.

Abed-Ratri & Grace menghaturkan:

Selamat pagi

Selamat memasuki pekan yg baru

Tetap sehat, semangat, bersaksi & melayani

Tuhan pasti memberkati

(image)

Baca selanjutnya:

1 – Refleksi Rumahan #24: Cara Pandang

2 – Gesang Enggal

3 – Menjadi Murid dan Saksi Tuhan dengan rendah hati, cerdas dan bersahabat

4 – Refleksi rumahan #28: Para Penggeledah

5 – Berpikir dan Bertindak Positif

June 07, 2021 at 11:03AM

Mazmur 103: 1-22 TUHAN sudah menegakkan takhta-Nya di sorga dan kerajaan-Nya berkuasa atas segala sesuatu. (Mazmur 103:19) Tak dapat disangkal

Address

Jalan S. Supriadi No. 18, Sukun, Kec. Sukun
Malang
65147

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Gerakan Warga GKJW.org posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to Gerakan Warga GKJW.org:

Share