27/05/2026
Selamat Hari Raya Iduladha 1447 H.
Iduladha bukan sekadar ritual penyembelihan, melainkan momentum spiritual untuk mempertanyakan: apa yang sesungguhnya telah kita korbankan demi kemaslahatan umat dan keadilan sosial?
Dalam pandangan Imam Al-Ghazali, penyakit terbesar manusia bukanlah kemiskinan harta, melainkan matinya hati akibat nafsu kekuasaan, keserakahan, dan cinta dunia yang berlebihan.
Maka Idul adha mengajarkan bahwa yang pertama kali harus disembelih adalah egoisme, ketidakpedulian, dan keberpihakan pada kepentingan sempit. Di tengah realitas sosial yang masih menyisakan ketimpangan, ketidakadilan, dan lunturnya nilai kemanusiaan, spirit pengorbanan Nabi Ibrahim AS menjadi refleksi: apakah kita telah hadir membela kaum lemah, atau justru diam di hadapan ketidakadilan?
Sebagai insan pergerakan, nilai Iduladha memiliki napas yang sejalan dengan spirit *dzikir, fikir, dan amal shaleh* dalam PMII—bahwa iman tidak cukup berhenti di ruang ibadah, tetapi harus menjelma menjadi keberpihakan terhadap rakyat, keberanian menyuarakan kebenaran, dan kesediaan berkorban untuk kepentingan umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Sebab kurban sejati bukan tentang seberapa besar yang diberikan, tetapi seberapa ikhlas memperjuangkan nilai-nilai keadilan tanpa tunduk pada kepentingan pragmatis. Semoga Iduladha ini menjadikan kita kader yang tidak hanya saleh secara spiritual, tetapi juga hadir sebagai penjaga nurani sosial.
Taqabbalallahu minna wa minkum.
Selamat Hari Raya Iduladha 1447 H, dari perjuangan menuju keberkahan.