Forum komunikasi jamaah Masjid - Forkomas

Forum komunikasi jamaah Masjid - Forkomas Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Forum komunikasi jamaah Masjid - Forkomas, Religious organisation, Jl. Abd Rasyid Dg Lurang No. 52, Makassar.

MEMIMPIN DUNIA DENGAN TAUHID: FONDASI MASA DEPANOleh : Syarifuddin Liwang ( syarli) Gagasan tentang kepemimpinan dunia y...
15/08/2026

MEMIMPIN DUNIA DENGAN TAUHID: FONDASI MASA DEPAN

Oleh : Syarifuddin Liwang ( syarli)

Gagasan tentang kepemimpinan dunia yang berbasis pada Tauhid yang murni bukanlah sebuah utopia romantisme masa lalu. Ini adalah refleksi teologis dan sosiologis yang sangat mendasar. Ketika peradaban modern terjebak dalam krisis moral, ketimpangan ekonomi, dan hegemoni kekuasaan, Tauhid hadir sebagai solusi darurat demi masa depan kemanusiaan.

Tauhid membebaskan para pemimpin dari penyembahan terhadap ego, pop**aritas, dan materi, serta mengembalikan orientasi kepemimpinan pada pengabdian mutlak kepada Allah Subhana wataala

Pemimpin
Tauhid bukan sekadar pengakuan verbal bahwa Tuhan itu satu. Tauhid adalah sebuah sistem nilai yang merombak total cara pandang manusia terhadap kekuasaan. Pemimpin yang bertauhid memahami bahwa kekuasaan hanyalah titipan sementara, bukan hak milik mutlak.

Allah Subhana wataala menegaskan pemilik hakiki dari segala kekuasaan di alam semesta:
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْك...َ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.’” (QS. Ali 'Imran: 26)

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam mengingatkan konsekuensi berat dari sebuah kepemimpinan agar manusia tidak mengemis jabatan demi ego mereka:
إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الإِمَارَةِ، وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَنِعْمَ الْمُرْضِعَةُ وَبِئْسَتِ الْفَاطِمَةُ
“Sesungguhnya kalian nanti akan sangat rakus terhadap kepemimpinan, padahal kepemimpinan itu akan menjadi penyesalan pada hari kiamat. Ia adalah senikmat-nikmat susuan dan seburuk-buruk sapuan.” (HR. Bukhari)

Ketika para profesional di berbagai sektor strategis menundukkan dahi hanya kepada Allah Subhana wataala, tatanan global akan mencapai stabilitas yang sejati.

Sains tanpa tauhid melahirkan senjata pemusnah massal dan perusakan alam demi keuntungan korporasi. Sebaliknya, sains berbasis tauhid melahirkan penemuan yang didedikasikan untuk kemaslahatan makhluk.
Ekonomi kapitalistik saat ini memusatkan kekayaan pada segelintir orang melalui instrumen riba dan eksploitasi sumber daya. Tauhid mengajarkan bahwa bumi dan isinya adalah milik Allah, dan manusia hanyalah pengelola yang wajib mendistribusikan kekayaan secara adil.

Pemimpin yang takut kepada Allah akan menegakkan keadilan mutlak karena tahu ada pengadilan akhirat yang menanti.

Perkataan Sahabat
Ketika Rib'ah bin 'Amir RA diutus menemui Panglima Rustam dari Persia, ia merumuskan misi utama Islam dengan sangat visioner:
اللَّهُ ابْتَعَثَنَا لِنُخْرِجَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ إِلَى عِبَادَةِ اللَّهِ، وَمِنْ ضِيقِ الدُّنْيَا إِلَى سَعَتِهَا، وَمِنْ جَوْرِ الأَدْيَانِ إِلَى عَدْلِ الإِسْلامِ
“Allah telah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penyembahan terhadap sesama hamba menuju penyembahan kepada Allah semata, dari kesempitan dunia menuju kelapangan dunia, dan dari kezaliman agama-agama (buatan manusia) menuju keadilan Islam.”

Syaikhul Islam Ibn Taimiyah dalam kitabnya Al-Siyasah Al-Syar'iyyah menegaskan pentingnya integrasi amanah kekuasaan dengan tauhid:
إِنَّ جَمِيعَ الْوِلَايَاتِ فِي الْإِسْلَامِ مَقْصُودُهَا أَنْ يَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ وَأَنْ تَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا
“Sesungguhnya seluruh bentuk kepemimpinan dalam Islam maksud utamanya adalah agar agama ini seluruhnya milik Allah dan agar kalimat Allah (Tauhid) menjadi yang paling tinggi.”

Contoh Real dalam Kehidupan Kontemporer
Bagaimana para profesional muslim yang mengimplementasikan tauhid pada profesi mereka:

1.Di Panggung Diplomasi Internasional: Seorang diplomat muslim tidak akan goyah oleh intimidasi negara-negara adidaya. Ketika memperjuangkan hak-hak kemanusiaan bangsa yang tertindas, mereka tidak bertindak demi kepentingan geopolitik semata, melainkan karena panggilan iman bahwa semua manusia berhak mendapatkan keadilan di bawah hukum Allah.

2. Di Lembaga Hukum Internasional: Seorang hakim atau advokat bertauhid menolak segala bentuk suap, lobi politik, atau intervensi penguasa. Mereka memandang meja hijau sebagai tempat mempertaruhkan keselamatan akhirat mereka, sehingga keputusan yang diambil murni bersandar pada kebenaran objektif.

3.Di Pusat Ekonomi Global: Seorang bankir, menteri keuangan, atau CEO perusahaan multinasional yang bertauhid akan merancang sistem keuangan syariah yang inklusif. Mereka aktif menghapus praktik riba, menghentikan monopoli, dan mengoptimalkan instrumen zakat, infak, sedekah, serta wakaf produktif untuk mengentaskan kemiskinan global secara nyata.

Jadi Kesimp**annya adalah
Memenangkan dan memimpin dunia demi meninggikan kalimat Laa ilaha illallah bukanlah tentang penjajahan atau pemaksaan ideologi. Kepemimpinan ini adalah tentang menghadirkan rahmat bagi semesta alam (Rahmatan lil 'Alamin). Dunia ditundukkan bukan untuk memuaskan syahwat kekuasaan kaum muslimin, melainkan agar seluruh umat manusia dapat merasakan kehidupan yang aman, adil, makmur, dan merdeka dari segala bentuk perbudakan modern.

Pattallassang, ahad 16 Agustus 2026/ 3 Rabiulawal 1448 H

11/08/2026

PARADIGMA TAUHID DALAM REKONSTRUKSI PEMBANGUNAN DAN PERADABAN BANGSA

Oleh : Tim Forkomas

Pembangunan berbasis tauhid merupakan integrasi utuh antara spiritualitas dan materialitas untuk mewujudkan peradaban yang berkeadilan dan makmur. Paradigma ini memandang seluruh gerak pembangunan sebagai bentuk ibadah kepada Allah Subhana wataala Keberhasilan sebuah bangsa tidak diukur hanya melalui angka pertumbuhan ekonomi, melainkan melalui tegaknya keadilan sosial, terjaganya amanah kekuasaan, dan tingginya nilai peradaban.
Struktur tatanan ideal ini ditopang oleh lima pilar utama:
1. Tauhid mengajarkan Kekayaan dan Kekuasaan Bukan Milik Mutlak Manusia
Tauhid adalah fondasi utama yang membebaskan manusia dari penyembahan terhadap materi dan kekuasaan. Secara teologis, Allah SWT adalah Pemilik mutlak seluruh alam semesta, sedangkan manusia hanyalah khalifah yang menerima titipan sementara.
Dalil Al-Qur'an (QS. Al-Baqarah: 284):
لِّلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَإِن تُبْدُوا مَا فِي أَنفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُeهُ يُحَاسِبْكُم بِهِ اللَّهُ ۖ
"Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Jika kamu nyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu sembunyikan, niscaya Allah memperhitungkannya (menuntut pertanggungjawaban) bagimu."

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ
"Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau (indah), dan sesungguhnya Allah menjadikan kamu sebagai penguasa (pengelola) di dalamnya, kemudian Dia melihat bagaimana kamu bertindak." (HR. Muslim).

Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq saat berpidato pasca-baiat menyatakan: "Wahai manusia, aku telah diangkat memimpin kalian dan aku bukanlah yang terbaik di antara kalian... Patuhilah aku selama aku patuh kepada Allah dan Rasul-Nya." Ibnu Katsir menambahkan bahwa kesadaran tauhid ini melahirkan akhlak mulia dan mencegah manusia bertindak sewenang-wenang atas bumi.

Contoh Realita Sehari-hari:
Seorang pengusaha sukses yang rajin menunaikan zakat, infak, dan sedekah tanpa merasa hartanya berkurang. Ia memandang laba perusahaan bukan sekadar capaian pribadi, melainkan titipan Allah untuk membuka lapangan kerja bagi masyarakat banyak.

2. Amanah: Kekuasaan untuk Kepentingan Masyarakat
Kekuasaan dalam Islam bukanlah alat pemuas syahwat politik atau privilese personal, melainkan beban tanggung jawab (amanah) berat. Legitimasi seorang pemimpin bergantung pada sejauh mana ia mendedikasikan kebijakannya demi kemaslahatan publik.

(QS. An-Nisa: 58):
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil."
Dalil Hadist:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya." (HR. Bukhari & Muslim).

Khalifah Umar bin Khattab sering berkata: "Jika seekor keledai terperosok di kota Irak karena jalanan rusak, aku takut Allah akan menuntutku di hari kiamat kelak, 'Mengapa kamu tidak meratakan jalan untuknya, wahai Umar?'". Kaidah fikih yang dirumuskan Imam As-Syafii menegaskan: "Tindakan pemimpin terhadap rakyatnya harus selalu berorientasi pada kemaslahatan (publik)."
Contoh Realita Sehari-hari:
Seorang kepala daerah yang mengalokasikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) secara transparan untuk pembangunan jembatan, fasilitas puskesmas, dan sekolah gratis di desa terpencil, alih-alih menggunakannya untuk proyek kosmetik atau fasilitas mewah pejabat.

3. Keadilan: Memastikan Manfaat Pembangunan Tidak Terkonsentrasi Secara Zalim
Keadilan distributif menjamin roda ekonomi bergerak secara inklusif. Islam melarang keras sirkulasi kekayaan yang hanya berputar di lingkungan oligarki atau segelintir orang kaya saja.
Dalil Al-Qur'an (QS. Al-Hasyr: 7):
كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ ۚ
"...supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu."

يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا
"Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku jadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi." (HR. Muslim).

Ali bin Abi Thalib menyatakan: "Sesungguhnya Allah Subhana wataala mewajibkan pada harta orang-orang kaya sebesar apa yang cukup untuk orang-orang miskin di antara mereka..."
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menegaskan: "Allah akan menegakkan negara yang adil meskipun ia kafir, dan Allah tidak akan menegakkan negara yang zalim meskipun ia muslim."
Contoh Realita Sehari-hari:
Penerapan kebijakan pajak progresif yang tepat sasaran dikombinasikan dengan optimalisasi pengelolaan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) oleh lembaga resmi. Dana tersebut disalurkan untuk modal usaha mikro, sehingga pedagang kecil terlindungi dari jeratan rentenir atau eksploitasi pasar global.

4. Kemakmuran: Tujuan Material Pembangunan yang Berkelanjutan
Islam memandang pencapaian kemakmuran material berupa pangan, papan, sandang, dan kelayakan hidup sebagai hal penting demi menjaga marwah manusia. Namun, kemakmuran ini harus diraih melalui cara-cara yang halal, berkah, dan ramah lingkungan.
(QS. Hud: 61):
هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا
"Dia (Allah) telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya..."

لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ... قَالَ: مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا
"Barangsiapa di antara kalian yang memasuki pagi hari dalam keadaan aman pada dirinya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seolah-olah seluruh dunia telah diberikan kepadanya." (HR. Tirmidzi).

Sahabat Ibnu Abbas menafsirkan kata "pemakmur bumi" dalam surah Hud sebagai perintah untuk bercocok tanam, mendirikan bangunan, dan memaksimalkan potensi alam demi kesejahteraan manusia. Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa ketersediaan sarana ekonomi yang cukup merupakan prasyarat mutlak bagi ketenteraman beribadah dan stabilitas sosial.
Contoh Realita Sehari-hari:
Sebuah komunitas petani mandiri yang menerapkan sistem pertanian organik modern berbasis kelestarian lingkungan. Mereka berhasil meningkatkan ketahanan pangan desa, mendistribusikan hasil panen secara adil, dan membebaskan warga dari kelaparan tanpa merusak ekosistem alam sekitar.

5. Peradaban: Tujuan Sejarah yang Luhur
Puncak dari integrasi tauhid, amanah, keadilan, dan kemakmuran adalah lahirnya sebuah peradaban yang mulia (tamaddun). Peradaban Islam tidak hanya ditandai oleh kemegahan fisik bangunan, melainkan oleh tingginya ilmu pengetahuan, keluhuran moral, dan kedamaian sosial.
(QS. Saba: 15):
بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
"...(Negerimu) adalah negeri yang baik (aman, subur, adil, dan makmur) dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun."

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
"Sesungguhnya aku diutus tidak lain hanyalah untuk menyempurnakan keluhuran akhlak." (HR. Ahmad).

Pakar sosiologi Islam, Ibnu Khaldun dalam kitab Muqaddimah, merumuskan bahwa keberlanjutan sebuah peradaban ('umran) sangat bergantung pada penegakan keadilan sosial dan kekuatan moral manusianya. Ketika kezaliman merajalela dan moralitas runtuh, maka kehancuran peradaban tersebut secara historis tinggal menunggu waktu.
Contoh Realita Sehari-hari:
Kota yang tidak hanya dipenuhi gedung pencakar langit modern, tetapi juga menyediakan perpustakaan publik yang inklusif, universitas berbasis riset, lingkungan yang minim kriminalitas karena saling peduli, serta tingginya toleransi antarwarga dalam kehidupan sosial religius.

TAUHID MEMBANGUN KESETARAAN MANUSIAOleh : Tim Forum komunikasi jamaah Masjid - Forkomas Ajaran tauhid merupakan fondasi ...
26/07/2026

TAUHID MEMBANGUN KESETARAAN MANUSIA

Oleh : Tim Forum komunikasi jamaah Masjid - Forkomas

Ajaran tauhid merupakan fondasi paling mendasar dalam Islam yang tidak hanya mengatur hubungan antara manusia dengan Penciptanya, tetapi juga merevolusi hubungan antar-sesama manusia. Dengan menegaskan bahwa hanya Allah Subhana wataala yang Maha Tinggi dan Maha Kuasa, tauhid secara otomatis meruntuhkan segala bentuk pengkastaan, rasisme, feodalisme, dan diskriminasi sosial. Ketika semua manusia menyadari bahwa mereka adalah hamba dari Tuhan yang sama, maka tidak ada lagi ruang bagi manusia untuk merasa lebih tinggi atau menjajah manusia lainnya. Semua manusia berdiri sejajar di hadapan Allah Subhana wataala

Sebelum Islam datang, dunia dicengkeram oleh sistem sosial yang diskriminatif. Bangsa Arab Quraisy merasa lebih mulia karena garis keturunan, bangsa Romawi dan Persia merasa paling superior, dan sistem perbudakan menempatkan manusia seperti barang dagangan.
Ketika kalimat Laa ilaha illallah (Tiada Tuhan selain Allah) dikumandangkan, kalimat ini membawa misi pembebasan (liberasi). Tauhid mengajarkan bahwa seluruh alam semesta, termasuk manusia, adalah makhluk yang lemah dan butuh kepada Allah. Jika semua manusia adalah ciptaan yang sama-sama berstatus sebagai hamba (abdun), maka secara logika tidak ada satu pun manusia yang berhak disembah, ditakuti secara mutlak, atau dianggap memiliki kasta yang lebih suci dari yang lain. Raja, pejabat, orang kaya, maupun rakyat jelata dan budak, semuanya memiliki derajat yang sama di mata hukum alam dan penciptaan.

Al-Qur'an secara eksplisit menegaskan bahwa seluruh umat manusia berasal dari sumber yang satu, yaitu dari tanah dan dari pasangan adam dan hawa. Oleh karena itu, perbedaan suku, bangsa, dan warna kulit bukanlah instrumen untuk saling menyombongkan diri, melainkan untuk saling mengenal (ta'aruf).
Satu-satunya parameter yang membedakan nilai seorang manusia di hadapan Allah adalah tingkat ketakwaannya, sebuah kualitas batiniah yang bisa dicapai oleh siapa saja tanpa memandang latar belakang sosial atau fisiknya.
Allah Subhana wataala berfirman
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya:
"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti."(Surah Al-Hujurat ayat 13)

Ayat ini diawali dengan seruan "Ya ayyuhan-nas" (Wahai manusia), bukan hanya untuk orang beriman. Ini menunjukkan bahwa prinsip kesetaraan ini berlaku universal bagi seluruh umat manusia. Melalui ayat ini, tauhid mengajarkan bahwa keragaman adalah sunnatullah untuk harmoni, bukan untuk perpecahan atau penindasan.

Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam menerapkan prinsip tauhid ini secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu momentum paling bersejarah di mana prinsip kesetaraan dideklarasikan secara kolosal adalah saat Khutbah Wada' (Haji Perpisahan). Di hadapan puluhan ribu umat Muslim dari berbagai latar belakang, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam menegaskan kembali nilai-mana manusia dalam Islam.
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَلَا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ، وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ، أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ، وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ، وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ، وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَى
Artinya:
"Wahai manusia, ketahuilah bahwa Tuhanmu adalah satu (Esa) dan bapakmu adalah satu (Adam). Ketahuilah, tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas orang non-Arab (Ajam), tidak juga bagi orang non-Arab atas orang Arab. Tidak ada keutamaan bagi orang berkulit merah (putih) atas orang berkulit hitam, dan tidak p**a orang berkulit hitam atas orang berkulit merah, melainkan karena ketakwaannya." (HR. Ahmad).

Hadis ini secara langsung mengaitkan konsep "Tuhanmu adalah satu" (Tauhid) dengan kesimp**an sosial bahwa "tidak ada keutamaan ras atau warna kulit". Ini adalah bukti teologis dan sosiologis bahwa tauhid dan kesetaraan manusia adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
Dalam hadis lain, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam juga mengingatkan agar manusia tidak melihat fisik dan harta sebagai tolok ukur kemuliaan:
إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Artinya:
"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa dan harta kekayaanmu, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal perbuatanmu." (HR. Muslim).

Ketika tauhid meresap ke dalam jiwa, implikasi sosialnya sangat masif:
Penghapusan Perbudakan: Islam membuka pintu selebar-lebarnya untuk memerdekakan budak. Tokoh seperti Bilal bin Rabah, seorang budak berkulit hitam asal Ethiopia, diangkat derajatnya oleh Islam menjadi muazin utama dan disebut oleh Umar bin Khattab dengan panggilan "Sayyiduna" (Pemimpin kita).
Keadilan Hukum yang Buta Kasta: Dalam Islam, hukum berlaku sama bagi setiap individu. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam pernah menegaskan bahwa sekiranya Fatimah putri Muhammad mencuri, beliau sendiri yang akan memotong tangannya. Tidak ada imunitas hukum bagi para bangsawan.
Persaudaraan Universal (Ukhuwah): Ibadah-ibadah dalam Islam merefleksikan kesetaraan ini secara visual. Ketika shalat berjamaah di masjid atau saat melaksanakan ibadah haji di makkah, raja dan peminta-minta mengenakan pakaian yang sama (ihram), berdiri di saf yang sama, dan bersujud menghadap Tuhan yang sama.

Dengan demikian bisa ditarik kesimp**an bahwa
Tauhid bukan sekadar konsep teologi abstrak di atas kertas, melainkan sebuah gerakan pembebasan sosial. Dengan mengesakan Allah, manusia secara otomatis membebaskan dirinya dari belenggu pengkultusan terhadap sesama manusia. Tauhid menempatkan semua manusia di garis start yang sama: sama-sama hamba Allah, berasal dari tanah yang sama, dan hanya akan dibedakan oleh bobot ketakwaan serta kontribusi kebaikan yang mereka lakukan di dunia.

MEMAKNAI HAKIKAT MEMBANGUN RUMAH ALLAHOleh : Syarifuddin liwang ( Syarli) Membangun sebuah masjid sering kali dipandang ...
23/07/2026

MEMAKNAI HAKIKAT MEMBANGUN RUMAH ALLAH

Oleh : Syarifuddin liwang ( Syarli)

Membangun sebuah masjid sering kali dipandang secara kasatmata sebagai proyek fisik—sebuah ikhtiar mengumpulkan semen, menyusun bata demi bata, mendirikan menara yang menjulang, hingga menghias kubah dengan arsitektur yang megah dan indah. Namun, bagi jiwa yang memandang dengan kacamata iman, esensi mendirikan masjid jauh melampaui keindahan lahiriah tersebut.

membangun masjid adalah proses spiritual yang utuh: menyusun harapan menjadi kenyataan, menyatukan hati yang berbeda menjadi satu, dan menitipkan amal yang terus mengalir hingga generasi yang bahkan belum lahir.

Saat sebuah komunitas bahu-membahu mendirikan masjid. Masjid bukan sekadar tempat bersujud, melainkan episentrum persatuan umat di mana segala perbedaan status sosial, warna kulit, dan latar belakang melebur dalam satu shaf yang rapat dan lurus. Di sinilah tempat melahirkan generasi masa depan yang berakhlak mulia. Setiap harta, tenaga, dan pikiran yang disumbangkan untuk bangunan ini akan menjelma menjadi investasi akhirat yang abadi, mengalirkan pahala tak terputus meski raga sang wakif telah bersatu dengan tanah.


Allah Subhana wataala menegaskan bahwa kemakmuran masjid bukan diukur dari kemegahan fisiknya semata, melainkan dari kualitas iman orang-orang yang mengisinya.

Allah berfirman
اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ ۗفَعَسٰٓى اُولٰۤىِٕكَ اَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ
Artinya:
"Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta (tetap) melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk." (Surah At-Taubah Ayat 18 )

siapa saja yang menginfakkan hartanya untuk mendirikan fasilitas ibadah umat Muslim, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam memberikan kabar gembira berupa balasan rumah di surga kelak.
مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ فِي الْجَنَّةِ مِثْلَهُ
Artinya:
"Barangsiapa membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangunkan rumah yang serupa baginya di surga." (HR. Bukhari dan Muslim)

Membangun masjid adalah wujud nyata dari investasi jangka panjang yang tidak akan pernah terputus manfaatnya, bahkan ketika kita sudah berada di alam barzakh, demi kebaikan generasi yang belum lahir.
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Artinya:
"Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah (yang terus mengalir), ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang selalu mendoakannya." (HR. Muslim)

Makassar, kamis 23 Juli 2026/ 9 Shafar 1448 H

MUTIARA HIKMAH Forkomas "Orang pandai ialah mereka yang sibuk dengan dirinya dan beramal untuk hidup setelah matinya dan...
06/07/2026

MUTIARA HIKMAH Forkomas

"Orang pandai ialah mereka yang sibuk dengan dirinya dan beramal untuk hidup setelah matinya dan orang yang bodoh ialah mereka yang hidup memperturutkan hawa nafsunya dan berangan angan kepada Allah dengan angan angan yang kosong "Dr Samsuar, M. Pdi ( Anggota Forkomas ( Forum komunikasi jamaah Masjid)

Mutiara Hikmah Forkomas
06/07/2026

Mutiara Hikmah Forkomas

06/07/2026

Di Empang Religi Pao- Pao Gowa

TAUHID : MESIN PENGGERAK TRANSFORMASI SOSIALOleh: Dr H Usman Lonta, M. Pd(Ketua Forum Komunikasi Jamaah Masjid/ Forkomas...
06/07/2026

TAUHID : MESIN PENGGERAK TRANSFORMASI SOSIAL

Oleh: Dr H Usman Lonta, M. Pd
(Ketua Forum Komunikasi Jamaah Masjid/ Forkomas)


Ketika kita belajar tauhid di masa sekolah dasar dulu, kita diajarkan bahwa Allah Maha Esa. Dialah Tuhan yang berhak disembah. Menyembah selain Allah adalah musyrik. Ajaran seperti ini adalah ajaran dasar keimanan yang mendorong manusia untuk melaksanakan shalat, agar terhindar dari api neraka di akhirat nanti.

Sampai disini muncul pertanyaan yang sangat sederhana. Mengapa elit kafir Quraisy begitu terguncang dan bahkan mendeklarasikan permusuhan kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam atas ajaran tauhid tersebut?

Bahkan dalam satu riwayat, elit kafir Quraisy menawarkan perdamaian dengan saling toleransi dalam sistem penyembahan. Hari ini kafir Quraisy bersedia menyembah Allah, besok harinya Nabi Muhammad SAW dan pengikutnya menyembah tuhan kafir Quraisy, Lata, Uzza dan Manaf.

Atas tawaran ini Nabi Muhammad dengan sangat tegas menolaknya. Pada titik inilah permusuhan kaum Quraisy terhadap Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dimulai.

Kafir Quraisy menolak ajaran tauhid yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam bukan semata-mata disebabkan oleh ajaran tauhid yang menolak penyembahan terhadap berhala seperti Lata, Uzza, dan Manat, tetapi kafir Quraisy memahami betul bahwa implikasi sosial, ekonomi dan politik akan mengalami guncangan yang sangat dahsyat ketika ajaran tauhid ini tumbuh menjadi sistem sosial bagi masyarakat Arab.

Oleh karena itu, penolakan dan permusuhan terhadap ajaran tauhid sangat keras hingga berujung pada penyiksaan, pemboikotan, pengusiran, dan bahkan rencana pembunuhan terhadap Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam

Tauhid yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam bukan hanya mengubah cara manusia beribadah, tetapi juga mengubah cara manusia memandang kekuasaan, harta, martabat, dan hubungan sosial. Tauhid tidak berhenti sebagai konsep teologis, melainkan melahirkan transformasi sosial yang mengguncang fondasi struktur masyarakat kafir Quraisy.

Masyarakat Mekah sebelum Islam datang yang dikenal dengan masyarakat jahiliyah, dibangun di atas struktur sosial yang sangat hierarkis. Kaum bangsawan menguasai perdagangan, kekayaan, dan kepemimpinan politik.

Budak diperlakukan sebagai barang dagangan. Perempuan memiliki kedudukan yang rendah. Orang miskin hidup di bawah belas kasihan para pemilik modal. Kekuasaan diwariskan berdasarkan garis keturunan dan kesukuan.

Dalam struktur seperti itu, agama berhala yang mereka anut bukan hanya persoalan keyakinan, tetapi juga menjadi instrumen legitimasi kekuasaan. Berhala-berhala di Ka'bah menopang prestise politik sekaligus kepentingan ekonomi elite Quraisy.

Lalu datanglah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam dengan satu kalimat yang sederhana tetapi memiliki daya revolusioner yang luar biasa: “La ilaha illallah.”

Kalimat ini bukan sekadar menolak keberadaan berhala. Kalimat ini juga membatalkan segala bentuk penghambaan manusia kepada manusia. Jika hanya Allah yang Maha Tinggi, maka tidak ada manusia yang berhak menganggap dirinya lebih mulia hanya karena kekayaan, keturunan, warna kulit, ataupun kekuasaan. Inilah yang membuat ajaran tauhid menjadi ancaman bagi elite Quraisy.

Tauhid melahirkan kesetaraan. Seorang budak seperti Bilal bin Rabah berdiri sejajar dengan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan para bangsawan Quraisy dalam satu shaf shalat. Ukuran kemuliaan bukan lagi status sosial, melainkan ketakwaan. (QS. 49. 13)

Tauhid juga melahirkan keadilan sosial. Islam memerintahkan zakat, infak, sedekah, dan pembelaan terhadap fakir miskin. Kekayaan tidak boleh hanya beredar di tangan kelompok tertentu. (QS 59.7). Harta dipandang sebagai amanah yang mengandung hak orang lain.

Tauhid melahirkan pembebasan. Memerdekakan budak menjadi amal yang sangat mulia. Bahkan menjadi penebus / kaffarat atas kelalaian terhadap ibadah tertentu. Penyiksaan terhadap manusia tidak lagi dapat dibenarkan atas nama status sosial. Bilal bin Rabah, Khabbab bin al-Aratt, Ammar bin Yasir, dan banyak sahabat dari kalangan budak, memperoleh kehormatan yang sama sebagai orang-orang beriman.

Karena itu, kemarahan Abu Jahal, Abu Lahab, Umayyah bin Khalaf, dan elite Quraisy lainnya bukan semata-mata karena Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam mengajak manusia menyembah Allah. Yang mereka khawatirkan adalah lahirnya masyarakat baru yang tidak lagi tunduk kepada dominasi mereka.

Dalam perspektif ini, tauhid adalah deklarasi kemerdekaan manusia. Ia membebaskan manusia dari penyembahan terhadap berhala, sekaligus dari penghambaan kepada kekuasaan, kekayaan, kesukuan, dan segala bentuk tirani.

Pandangan seperti ini menemukan resonansinya dalam pemikiran Kuntowijoyo. Menurutnya, ajaran Islam tidak berhenti pada tataran interpretasi, tetapi harus diwujudkan dalam aksi yang mentransformasikan masyarakat. Tauhid menjadi energi moral yang mendorong pembebasan, pemberdayaan, dan humanisasi.

Pesan inilah yang tetap relevan hingga hari ini. Berhala modern mungkin tidak lagi berupa patung batu, seperti Lata, Uzza dan Manaf, tetapi dapat hadir dalam bentuk penyalahgunaan kekuasaan, oligarki ekonomi, feodalisme politik, diskriminasi sosial, dan segala sistem yang merendahkan martabat manusia.

Karena itu, menghidupkan tauhid pada abad ini tidak cukup hanya memperbanyak ritual. Tauhid harus menjadi kekuatan penggerak yang melahirkan keberanian melawan kezaliman, membela kaum lemah, menegakkan keadilan, dan membangun masyarakat yang menjunjung persamaan derajat seluruh manusia di hadapan Allah.

Inilah tauhid yang dahulu ditakuti oleh elite Quraisy. Bukan sekadar karena tauhid menghapus berhala, tetapi karena ia menghapus segala bentuk penghambaan manusia kepada manusia. Tauhid yang sejati selalu melahirkan manusia yang merdeka, masyarakat yang adil, dan peradaban yang bermartabat. Wallahu a’lam bishshawab

Kegiatan Forum komunikasi jamaah Masjid - Forkomas atau Forkomas ahad 5 Juli 2026 Silaturahim dan pengajian di empang Re...
06/07/2026

Kegiatan Forum komunikasi jamaah Masjid - Forkomas atau Forkomas ahad 5 Juli 2026 Silaturahim dan pengajian di empang Religi pao2 Gowa

11/01/2026

Hari ini, Ahad Forkomas

Address

Jl. Abd Rasyid Dg Lurang No. 52
Makassar

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Forum komunikasi jamaah Masjid - Forkomas posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share