15/08/2026
MEMIMPIN DUNIA DENGAN TAUHID: FONDASI MASA DEPAN
Oleh : Syarifuddin Liwang ( syarli)
Gagasan tentang kepemimpinan dunia yang berbasis pada Tauhid yang murni bukanlah sebuah utopia romantisme masa lalu. Ini adalah refleksi teologis dan sosiologis yang sangat mendasar. Ketika peradaban modern terjebak dalam krisis moral, ketimpangan ekonomi, dan hegemoni kekuasaan, Tauhid hadir sebagai solusi darurat demi masa depan kemanusiaan.
Tauhid membebaskan para pemimpin dari penyembahan terhadap ego, pop**aritas, dan materi, serta mengembalikan orientasi kepemimpinan pada pengabdian mutlak kepada Allah Subhana wataala
Pemimpin
Tauhid bukan sekadar pengakuan verbal bahwa Tuhan itu satu. Tauhid adalah sebuah sistem nilai yang merombak total cara pandang manusia terhadap kekuasaan. Pemimpin yang bertauhid memahami bahwa kekuasaan hanyalah titipan sementara, bukan hak milik mutlak.
Allah Subhana wataala menegaskan pemilik hakiki dari segala kekuasaan di alam semesta:
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْك...َ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.’” (QS. Ali 'Imran: 26)
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam mengingatkan konsekuensi berat dari sebuah kepemimpinan agar manusia tidak mengemis jabatan demi ego mereka:
إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الإِمَارَةِ، وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَنِعْمَ الْمُرْضِعَةُ وَبِئْسَتِ الْفَاطِمَةُ
“Sesungguhnya kalian nanti akan sangat rakus terhadap kepemimpinan, padahal kepemimpinan itu akan menjadi penyesalan pada hari kiamat. Ia adalah senikmat-nikmat susuan dan seburuk-buruk sapuan.” (HR. Bukhari)
Ketika para profesional di berbagai sektor strategis menundukkan dahi hanya kepada Allah Subhana wataala, tatanan global akan mencapai stabilitas yang sejati.
Sains tanpa tauhid melahirkan senjata pemusnah massal dan perusakan alam demi keuntungan korporasi. Sebaliknya, sains berbasis tauhid melahirkan penemuan yang didedikasikan untuk kemaslahatan makhluk.
Ekonomi kapitalistik saat ini memusatkan kekayaan pada segelintir orang melalui instrumen riba dan eksploitasi sumber daya. Tauhid mengajarkan bahwa bumi dan isinya adalah milik Allah, dan manusia hanyalah pengelola yang wajib mendistribusikan kekayaan secara adil.
Pemimpin yang takut kepada Allah akan menegakkan keadilan mutlak karena tahu ada pengadilan akhirat yang menanti.
Perkataan Sahabat
Ketika Rib'ah bin 'Amir RA diutus menemui Panglima Rustam dari Persia, ia merumuskan misi utama Islam dengan sangat visioner:
اللَّهُ ابْتَعَثَنَا لِنُخْرِجَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ إِلَى عِبَادَةِ اللَّهِ، وَمِنْ ضِيقِ الدُّنْيَا إِلَى سَعَتِهَا، وَمِنْ جَوْرِ الأَدْيَانِ إِلَى عَدْلِ الإِسْلامِ
“Allah telah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penyembahan terhadap sesama hamba menuju penyembahan kepada Allah semata, dari kesempitan dunia menuju kelapangan dunia, dan dari kezaliman agama-agama (buatan manusia) menuju keadilan Islam.”
Syaikhul Islam Ibn Taimiyah dalam kitabnya Al-Siyasah Al-Syar'iyyah menegaskan pentingnya integrasi amanah kekuasaan dengan tauhid:
إِنَّ جَمِيعَ الْوِلَايَاتِ فِي الْإِسْلَامِ مَقْصُودُهَا أَنْ يَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ وَأَنْ تَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا
“Sesungguhnya seluruh bentuk kepemimpinan dalam Islam maksud utamanya adalah agar agama ini seluruhnya milik Allah dan agar kalimat Allah (Tauhid) menjadi yang paling tinggi.”
Contoh Real dalam Kehidupan Kontemporer
Bagaimana para profesional muslim yang mengimplementasikan tauhid pada profesi mereka:
1.Di Panggung Diplomasi Internasional: Seorang diplomat muslim tidak akan goyah oleh intimidasi negara-negara adidaya. Ketika memperjuangkan hak-hak kemanusiaan bangsa yang tertindas, mereka tidak bertindak demi kepentingan geopolitik semata, melainkan karena panggilan iman bahwa semua manusia berhak mendapatkan keadilan di bawah hukum Allah.
2. Di Lembaga Hukum Internasional: Seorang hakim atau advokat bertauhid menolak segala bentuk suap, lobi politik, atau intervensi penguasa. Mereka memandang meja hijau sebagai tempat mempertaruhkan keselamatan akhirat mereka, sehingga keputusan yang diambil murni bersandar pada kebenaran objektif.
3.Di Pusat Ekonomi Global: Seorang bankir, menteri keuangan, atau CEO perusahaan multinasional yang bertauhid akan merancang sistem keuangan syariah yang inklusif. Mereka aktif menghapus praktik riba, menghentikan monopoli, dan mengoptimalkan instrumen zakat, infak, sedekah, serta wakaf produktif untuk mengentaskan kemiskinan global secara nyata.
Jadi Kesimp**annya adalah
Memenangkan dan memimpin dunia demi meninggikan kalimat Laa ilaha illallah bukanlah tentang penjajahan atau pemaksaan ideologi. Kepemimpinan ini adalah tentang menghadirkan rahmat bagi semesta alam (Rahmatan lil 'Alamin). Dunia ditundukkan bukan untuk memuaskan syahwat kekuasaan kaum muslimin, melainkan agar seluruh umat manusia dapat merasakan kehidupan yang aman, adil, makmur, dan merdeka dari segala bentuk perbudakan modern.
Pattallassang, ahad 16 Agustus 2026/ 3 Rabiulawal 1448 H