09/02/2026
Pesantren Persis Harus Naik Kelas
Oleh-oleh Catatan dari Pelantikan di PPI 92
(Mang Iip, Bidgar Pendidikan PD Persis Majalengka)
Menarik apa yang disampaikan Ketua Bidang Tarbiyah PP Persis dalam taujih Pelantikan Mudir Am Pesantren Persis 92 Majalengka (8/2). Dr. H. Tiar Anwar Bahtiar menyampaikan pentingnya Pesantren Persis untuk naik kelas. Menurutnya, Pesantren Persis umumnya bagi kalangan menengah ke bawah. Sering terjadi, banyak yang menunggak SPP misalnya. Sementara anggota Persis dari kalangan menengah ke atas, kini banyak yang lebih memilih pesantren atau sekolah lain yang biayanya mahal. “Maka, Pesantren Persis harus naik kelas. Diharapkan gaji asatidz minimal UMR,” ungkapnya.
*Independensi Pesantren Persis sebagai Modal Kreativitas*
Seraya mengutip tesis Profesor Ilmu Politik dan Direktur Pusat Studi Islam dan Arab di San Diego State University, Ahmet T. Kuru, ihwal kelebihan watak ulama yang independen dari kekuasaan, Dr. Tiar mengatakan bahwa salah satu modal besar yang dimiliki oleh Pesantren Persis, adalah kekuatan independensi atau kemandiriannya dalam mendirikan dan mengelola pesantren. Tidak bergantung pada bantuan pemerintah. Kalaupun ada bantuan, tidaklah dijadikan sebagai yang utama.
Semua Pesantren Persis didirikan secara swadaya jamaah Persis sendiri tanpa menunggu terlebih dahulu bantuan pemerintah. Pesantren Persis terus eksis dan survive meski rezim kekuasaan berganti. Ini adalah modal yang sangat berharga bagi keberlanjutan Pesantren Persis. Dan modal sosial ini p**a yang dapat mendorong munculnya berbagai kreativitas para asatidz pesantren dalam mengembangkan lembaganya secara mandiri, termasuk dalam masalah pendanaan operasional pesantren, utamanya untuk peningkatan kesejahteraan asatidz.
*Pengembangan Pesantren Melalui Wakaf Produktif*
Dr. Tiar mendorong agar Pesantren Persis mengembangkan wakaf produktif. Wakaf terbukti telah mampu mampu mendanai sejumlah lembaga pendidikan Islam sebesar Al-Azhar di Kairo. PP Persis sendiri telah menjalankan wakaf produktif untuk mendanai kegiatan jamiyah, salah satunya dengan cara menggulirkannya dalam usaha toko emas milik anggota Persis. Keuntungan dalam setahun bisa mencapai miliaran rupiah.
Wakaf produktif ini sangat potensial untuk dijalankan di pesantren-pesantren Persis sehingga nantinya akan mampu memenuhi kebutuhan operasional pesantren tanpa harus bergantung pada uang SPP bulanan santri yang kadang memang s**a menunggak itu. Bahkan tidak menutup kemungkinan, dengan wakaf produktif ini, pesantren mampu menggratiskan santrinya.
*Khidmat dan Profesional: Menuju Pesantren Persis yang Unggul*
Apakah Pesantren-pesantren Persis di Kabupaten Majalengka siap untuk naik kelas sebagaimana disarankan oleh Ustadz Tiar? Dengan potensi sumberdaya yang dimiliki, seluruh Pesantren Persis yang ada di Majalengka sejatinya optimis dapat naik kelas.
Jiwa khidmat yang melekat dalam pribadi-pribadi asatidz pesantren, menjadi modal berharga untuk didorong ke level profesionalisme dalam me-manage lembaga pesantren menjadi lembaga pendidikan yang unggul, modern dan mampu berkompetisi. Hal ini sangat didukung oleh team work yang kuat dan sinergis antara semua unsur jamiyah. Tidak ada ego sektoral, apalagi ego individual _(ananiyah)._
Pesantren adalah milik publik umat, maka untuk maju, perlu menerapkan prinsip akuntabilitas, transparansi dan profesionalitas dalam pengelolaannya.
Alhamdulillah, jamiyah Persis di Kabupaten Majalengka telah memiliki 4 lembaga Pesantren Persis, yaitu: PPI 92 di PC Majalengka, PPI 138 di PC Cikjing, PPI 215 di PC Sumbejaya, dan PPI 297 PC Cingambul. Berdirinya seluruh pesantren ini sebagai hasil jerih payah perjuangan para tokoh Persis, dulu dan sekarang, serta seluruh pimpinan, angota-simpatisan Persis di Kabupaten Majalengka, bil khusus di cabang masing-masing. Semoga menjadi amal jariyah atas apa yang telah mereka wakafkan untuk pesantren, baik harta, tenaga dan pikiran.
Pesantren Persis di Majalengka bila dirupiahkan, assetnya mencapai puluhan miliar. Ini asset umat yang tidak sedikit. Dan tentu sebagai amanah besar yang harus dikelola dengan baik. Tentu kita tidak berharap, aset ini terbengkalai apalagi mangkrak. Alih-alih mundur menyusut, asset ini mesti terus bertumbuh. Dan sebagai wakaf, maka nilai manfaat pertumbuhannya harus berdampak positif bagi pertumbuhan umat itu sendiri. Semakin baik mutu pesantren, dengan sendirinya, kualitas pendidikan anak-anak, khususnya dari keluarga Persis semakin meningkat p**a. Dan pada gilirannya, mereka dapat menjadi pribadi yang unggul secara adab, intelektual, dan life skill. Kualitas pendidikan akan mendongkrak kulitas kesejahteraan masyarakat. *)