Yayasan Minhaju Alqashidin Indonesia

Yayasan Minhaju Alqashidin Indonesia Mau ikut bangun pesantren untuk masyarakat di Majalengka? BRI: 004601002652300 | Yayasan MAQI

SUNGGUH BAHAGIA MENJADI ORANG KAYASahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bercerita:أَنَّ فُقَرَاءَ الْمُهَاجِرِينَ أَتَ...
25/07/2024

SUNGGUH BAHAGIA MENJADI ORANG KAYA

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bercerita:

أَنَّ فُقَرَاءَ الْمُهَاجِرِينَ أَتَوْا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالدَّرَجَاتِ الْعُلَى وَالنَّعِيمِ الْمُقِيمِ فَقَالَ وَمَا ذَاكَ قَالُوا يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ وَلَا نَتَصَدَّقُ وَيُعْتِقُونَ وَلَا نُعْتِقُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفَلَا أُعَلِّمُكُمْ شَيْئًا تُدْرِكُونَ بِهِ مَنْ سَبَقَكُمْ وَتَسْبِقُونَ بِهِ مَنْ بَعْدَكُمْ وَلَا يَكُونُ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِنْكُمْ إِلَّا مَنْ صَنَعَ مِثْلَ مَا صَنَعْتُمْ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ تُسَبِّحُونَ وَتُكَبِّرُونَ وَتَحْمَدُونَ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ مَرَّةً. قَالَ أَبُو صَالِحٍ فَرَجَعَ فُقَرَاءُ الْمُهَاجِرِينَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا سَمِعَ إِخْوَانُنَا أَهْلُ الْأَمْوَالِ بِمَا فَعَلْنَا فَفَعَلُوا مِثْلَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِهِ مَنْ يَشَاءُ
"Bahwa orang-orang fakir (miskin) dari kalangan Muhajirin menemui Rasulullah sambil berkata: Orang-orang kaya telah memborong derajat-derajat ketinggian dan kenikmatan yang abadi. Rasulullah bertanya: Apa maksud kalian? Mereka berkata: Orang-orang kaya salat sebagaimana kami salat dan mereka juga berpuasa sebagaimana kami berpuasa namun, mereka bersedekah dan kami tidak bisa melakukannya, mereka bisa membebaskan tawanan dan kami tidak bisa melakukannya. Maka Rasulullah bersabda: Maukah aku ajarkan kepada kalian sesuatu yang dengannya kalian bisa menyusul orang-orang yang mendahului kalian dalam kebaikan (amal salih) dan kalian juga bisa mendahului kebaikan orang-orang sesudah kalian, serta tak seorang pun lebih utama daripada kalian selain yang berbuat seperti yang kalian lakukan ini? Mereka berkata: Baiklah, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Kalian bertasbih, bertakbir, dan bertahmid setiap selesai salat sebanyak 33 kali. Abu shalih berkata: Tidak lama kemudian, orang-orang fakir Muhajirin datang kembali kepada Rasulullah dan berkata: Ternyata teman-teman kami yang banyak harta telah mendengar amalan yang kami kerjakan, lalu mereka juga mengerjakannya! Rasulullah bersabda: Itu adalah keutamaan dari Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya." (HR. Muslim, No.936)

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
"Tidak boleh dengki (hasad) kecuali pada 2 hal, yaitu: Kepada seseorang yang Allah berikan harta lalu dia pergunakan harta tersebut di jalan kebenaran (kebaikan) dan kepada seseorang yang Allah berikan hikmah (ilmu) lalu dia mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain." (HR. Bukhari, No.71)

كُلُّ مَعْرٌوْفٍ صَدَقَةٌ
"Setiap kebaikan adalah bernilai sedekah." (HR. Bukhari, No.6021)

لَا حَسَدَ إِلَّا عَلَى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَقَامَ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَرَجُلٌ أَعْطَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يَتَصَدَّقُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ
"Tidak diperbolehkan hasad kecuali pada 2 hal, yaitu: Seseorang yang diberi karunia Al-quran oleh Allah, sehingga dia bisa membacanya (mengerjakan salat dengannya) di pertengahan malam dan siang hari. Lalu seseorang yang diberi karunia harta oleh Allah, sehingga dia bisa menginfakkannya di malam dan siang hari." (HR. Bukhari, No.4637)

إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَلَا يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ
"Sesungguhnya dunia itu untuk 4 orang, yaitu: Pertama, seorang hamba yang dikarunia oleh Allah harta dan ilmu, dengan ilmu dia bertakwa kepada Allah dan dengan harta dia menyambung silaturrahim, serta dia mengetahui Allah memiliki hak pada hartanya dan ini adalah tingkatan yang paling baik. Kedua, seorang hamba yang diberi oleh Allah ilmu, tapi tidak diberi harta, niatnya tulus, dia berkata: Andai saja aku memiliki harta, niscaya aku akan melakukan seperti amalan si Fulan, maka dia mendapatkan apa yang dia niatkan, pahala mereka berdua sama. Ketiga, seorang hamba yang diberi harta oleh Allah, tapi tidak diberi ilmu, dia melangkah sembarangan tanpa ilmu dalam menggunakan hartanya, dia tidak takut kepada Rabb-nya dengan harta tersebut dan tidak menyambung silaturrahimnya serta tidak mengetahui hak Allah pada hartanya, ini adalah tingkatan terburuk. Keempat, seorang yang tidak diberi oleh Allah harta atau pun ilmu, dia bekata: Andai aku punya harta tentu aku akan melakukan seperti yang dilakukan si Fulan yang sembarangan mengelola hartanya dan niatnya benar, maka dosa keduanya sama." (HR. Tirmidzi, no.2247)

Sahabat Amr bin Al-'ash radhiyallahu 'anhu bercerita:

بَعَثَ إِلَىَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ خُذْ عَلَيْكَ ثِيَابَكَ وَسِلاَحَكَ ثُمَّ ائْتِنِى فَأَتَيْتُهُ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ فَصَعَّدَ فِىَّ النَّظَرَ ثُمَّ طَأْطَأَهُ فَقَالَ إِنِّى أُرِيدُ أَنْ أَبْعَثَكَ عَلَى جَيْشٍ فَيُسَلِّمَكَ اللَّهُ وَيُغْنِمَكَ وَأَرْغَبُ لَكَ مِنَ الْمَالِ رَغْبَةً صَالِحَةً قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَسْلَمْتُ مِنْ أَجْلِ الْمَالِ وَلَكِنِّى أَسْلَمْتُ رَغْبَةً فِى الإِسْلاَمِ وَأَنْ أَكُونَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا عَمْرُو نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ
"Rasulullah mengutus seseorang kepadaku, beliau memerintahkan: Ambil lah pakaianmu dan senjatamu, lalu menghadap lah kepadaku! Aku pun mendatangi beliau ketika beliau sedang berwudu. Beliau melihat-lihat kepadaku, kemudian bersabda: Aku akan mengutus mu memimpin satu pasukan, semoga Allah akan menyelamatkanmu dan memberimu harta rampasan perang. Aku berharap kamu menyukai harta dengan kesukaan yang baik. 'Amr bin Al-'ash berkata: Wahai Rasulullah, aku tidak masuk Islam karena harta, tetapi aku masuk Islam karena mencintai Islam dan agar aku bisa bersama Rasulullah. Lalu beliau bersabda: Wahai 'Amr, sebaik-baik harta yang baik adalah untuk orang yang salih." (Majmu' Az-zawaid, 9:356. Al-haitsami menyatakan hadis ini para perawinya sahih)

Allah 'azza wa jalla berfirman:

رِجَالٌ لَّا تُلْهِيهِمْ تِجَٰرَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ وَإِقَامِ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءِ ٱلزَّكَوٰةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ ٱلْقُلُوبُ وَٱلْأَبْصَٰرُ. لِيَجْزِيَهُمُ ٱللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا۟ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ يَرْزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
"Tentang seseorang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual-beli dari mengingat Allah, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Mereka takut pada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat). Mereka melakukan hal tersebut agar Allah memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik daripada sesuatu yang telah mereka kerjakan dan agar Dia menambah karunia-Nya kepada mereka. Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa batas." (QS. An-nur, Ayat 37-38)

Imam Al-qurthubi rahimahullah berkata:
"Dianjurkan bagi seorang pedagang (pengusaha) untuk tidak disibukkan atau dilalaikan dengan perniagaan usahanya dari menunaikan setiap kewajibannya. Maka ketika tiba waktu salat fardu, hendaknya dia segera meninggalkan perniagaannya untuk menunaikan salat, agar dia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang dipuji oleh Allah dalam ayat tersebut." (Tafsir Al-qurthubi, 5:156)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
"Mereka adalah orang-orang yang tidak disibukkan atau dilalaikan oleh harta benda dan perhiasan dunia, serta kesenangan ber jual-beli (berbisnis) dan meraih keuntungan besar dari mengingat (beribadah) kepada Rabb mereka yang maha menciptakan dan melimpahkan rezeki kepada mereka, serta mereka adalah orang-orang yang mengetahui (meyakini) bahwa balasan kebaikan di sisi Allah ta'ala adalah lebih baik dan lebih utama daripada harta benda yang ada di tangan mereka, karena sesuatu yang ada di tangan mereka akan habis atau musnah, sedangkan balasan di sisi Allah adalah kekal (abadi)." (Tafsir Ibnu Katsir, 3:390)

Sahabat 'Abdullah bin Asy-syakhir bin 'Auf radhiyallahu 'anhu bercerita:

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقْرَأُ: أَلْهَاكُمْ التَّكَاثُرُ. قَالَ يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِي مَالِي قَالَ وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ
"Aku mendatangi Nabi dan beliau sedang membaca ayat Al-quran: Bermegah-megahan telah melalaikan kalian! (Surat At-takatsur, Ayat 1). Lalu beliau bersabda: Anak cucu Adam (manusia) berkata: Hartaku, hartaku! Lalu beliau bersabda: Wahai anak cucu Adam, hartamu hanya sesuatu yang kamu makan lalu habis, yang kamu kenakan lalu usang, atau yang kamu sedekahkan lalu kekal." (HR. Muslim, No.5258)

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْمُكْثِرِينَ هُمْ الْمُقِلُّونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا مَنْ أَعْطَاهُ اللَّهُ خَيْرًا فَنَفَحَ فِيهِ يَمِينَهُ وَشِمَالَهُ وَبَيْنَ يَدَيْهِ وَوَرَاءَهُ وَعَمِلَ فِيهِ خَيْرًا
"Sungguh orang-orang yang memperbanyak (mengumpulkan harta) akan menjadi sedikit (melarat) pada hari Kiamat, kecuali orang yang diberikan kebaikan oleh Allah kepadanya, lalu dia menggunakan harta tersebut dengan baik." (HR. Bukhari, No.5962)

Imam Ibnu Hajar rahimahullah berkata:
"Yang dimaksudkan dengan 'memperbanyak' adalah dengan harta, dan 'menyedikitkan' adalah dengan pahala akhirat. Ini terjadi pada diri orang yang memperbanyak harta, tetapi dia tidak memenuhi dengan sifat yang ditunjukkan oleh pengecualian setelahnya, yaitu berinfak." (Fathu Al-bari, 18:261)

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ رِجَالاً يَتَخَوَّضُوْنَ فِيْ مَالِ اللَّهِ بِغَيْرِ حَقٍّ فَلَهُمُ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Sesungguhnya orang-orang yang menggunakan harta Allah dengan cara tidak benar, bagi mereka adalah Neraka pada hari Kiamat." (HR. Bukhari, No.2886)

إِنَّمَا يَنْصُرُ اللَّهُ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِضَعِيفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَصَلَاتِهِمْ وَإِخْلَاصِهِمْ
"Sesungguhnya Allah menolong umat ini dengan sebab orang-orang lemah yang ada di sekitarnya, dengan sebab doa mereka, salat mereka, dan keikhlasan mereka." (HR. Nasai, No.3127)

هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلَّا بِضُعَفَائِكُمْ
"Tidaklah kalian ditolong dan diberi rezeki, melainkan karena adanya (doa) orang-orang yang lemah di antara kalian." (HR. Bukhari, No.2681)

Imam Ibnu Batthal rahimahullah berkata:
"Ibadah orang-orang lemah dan doa mereka lebih ikhlas dan lebih terasa khusyuk, karena mereka tidak punya ketergantungan hati pada dunia dan perhiasannya. Hati mereka pun jauh dari yang lain, kecuali hanya dekat kepada Allah. Amalan mereka bersih dan doa mereka pun mudah diijabahi (dikabulkan). Al-muhallab berkata: Yang Nabi maksudkan adalah dorongan untuk bersifat tawadhu, tidak sombong, dan tidak perlu menoleh pada harta yang ada pada orang lain." (Syarh Al-bukhari Li Ibni Batthal, 9:114)

Nabi Muhammad shallallahu' alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ
"Sesungguhnya setiap umat itu memiliki fitnah dan fitnah umatku adalah harta." (HR. Tirmidzi, No.2258)

Imam Al-munawi rahimahullah berkata:
"Menyibukkan diri dengan harta secara berlebihan adalah fitnah (yang dapat merusak agama), karena harta dapat melalaikan pikiran manusia dari melaksanakan ketaatan kepada Allah dan membuatnya lupa pada akhirat, sebagaimana firman-Nya: Sesungguhnya harta kalian dan anak-anak kalian merupakan fitnah untuk kalian dan di sisi Allah pahala yang besar. (QS At-taghabun, Ayat 15)." (Faidhu Al-qadir, 2:507)

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ
"Dua serigala lapar yang dilepas menyerang sekelompok kambing, kerusakannya tidak akan melebihi ambisi seseorang untuk memperoleh harta dan kemuliaan yang bisa merusak agamanya." (HR. Tirmidzi, No.2298)

Imam Ibnu Muflih rahimahullah berkata:
"Dunia atau harta tidaklah dilarang (dicela) pada zatnya, tapi karena harta itu bisa menghalangi manusia untuk mencapai rida Allah. Sebagaimana kemiskinan tidaklah dituntut (dipuji) pada zatnya, tapi karena kemiskinan itu tidak menghalangi dan menyibukkan manusia dari beribadah kepada Allah. Karena betapa banyak orang kaya yang kekayaannya tidak menyibukkannya dari beribadah kepada Allah, seperti Nabi Sulaiman 'alaihissalam, demikian juga Sahabat 'Utsman bin 'Affan radhiyallahu 'anhu, dan 'Abdurrahman bin 'Auf radhiyallahu 'anhu. Dan betapa banyak orang miskin yang kemiskinannya justru melalaikannya dari beribadah kepada Allah dan memalingkannya dari kecintaan serta kedekatan kepada-Nya." (Al-adabu Asy-syar'iyyah, 3:469)

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صَبْغَةً ثُمَّ يُقَالُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الْجَنَّةِ فَيُقَالُ لَهُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ وَلَا رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ
"Orang termewah sedunia yang termasuk penghuni Neraka didatangkan pada hari Kiamat, lalu orang tersebut dicelupkan sekali ke dalam Neraka, setelah itu dikatakan kepadanya: Wahai anak cucu Adam, apa kamu pernah melihat kebaikan sedikit pun? Apa kamu pernah merasakan kenikmatan sedikit pun? Dia menjawab: Tidak, demi Allah, wahai Rabb! Kemudian orang tersengsara di dunia yang termasuk penghuni Surga didatangkan juga, lalu ditempatkan di Surga sebentar, setelah itu dikatakan kepadanya: Wahai anak cucu Adam, apa kamu pernah melihat kesengsaraan sedikit pun? Apa kamu pernah merasakan sengsara sedikit pun? Dia menjawab: Tidak, demi Allah, wahai Rabb! Aku tidak pernah merasa sengsara sedikit pun dan aku tidak pernah melihat kesengsaraan sedikit pun." (HR. Muslim, No.5021)

Syaikh 'Abdurrazzaq bin 'Abdil Muhshin Al-badr hafizhahumallah berkata:
"Perlu diketahui, bahwa kenikmatan Allah 'azza wa jalla kepada hamba-Nya ada 2 macam, yaitu: Nikmat mutlak dan nikmat muqayyad. Pengertian nikmat mutlak adalah nikmat yang akan mengantarkan pada kebahagiaan abadi, seperti Islam, sunah, dan semisalnya. Adapun nikmat muqayyad adalah nikmat yang kebahagiaannya khusus di dunia ini, seperti anggota badan yang lengkap, kesehatan, rezeki, harta benda, anak-istri, kedudukan, dan semisalnya. Semua itu wajib disyukuri, ini merupakan jalan keutuhan dan untuk berkembangnya nikmat tersebut. Sebaliknya, dengan tidak disyukuri, nikmat tersebut akan lenyap (hilang). Kami memohon kepada Allah 'azza wa jalla agar membimbing kita untuk mensyukuri nikmat-Nya dan melindungi kita dari perbuatan mengingkari nikmat-Nya." (Fiqhu Al-adiyah Wa Al-adzkar, 1:269)

Allah 'azza wa jalla berfirman:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَاَ زِيْدَنَّـكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَا بِيْ لَشَدِيْدٌ
"Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat-Ku) kepada kalian, tetapi jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat dahsyat." (QS. Ibrahim, Ayat 7)

فَا ذْكُرُوْنِيْۤ اَذْكُرْكُمْ وَا شْکُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ
"Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepada kalian! Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian ingkar kepada-Ku!" (QS. Al-baqarah, Ayat 152)

وَمَا بِكُمْ مِّنْ نّـِعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ثُمَّ اِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَاِ لَيْهِ تَجْئَرُوْنَ ۚ
"Dan segala nikmat yang ada pada kalian itu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kalian ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nya kalian meminta pertolongan." (QS An-nahl, Ayat 53)

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي الْمَالِ وَالْخَلْقِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ
"Jika salah seorang di antara kalian melihat keadaan orang yang dilebihkan harta dan fisiknya, maka hendaknya dia melihat keadaan orang yang ada di bawahnya." (HR. Bukhari, No.6009)

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
"Urusan orang yang beriman itu mengagumkan, sesungguhnya semua urusannya adalah baik dan itu tidak dimiliki oleh seorang pun selain dari orang yang beriman. Apabila tertimpa kesenangan, dia bersyukur dan syukur tersebut baik untuknya. Dan apabila tertimpa kesusahan, dia bersabar dan sabar tersebut baik untuknya." (HR. Muslim, No.5318)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
"Hadis yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan bersyukur ketika senang dan bersabar ketika susah. Bahkan kedua sifat inilah yang merupakan penyempurna keimanan seorang hamba. Sahabat 'Abdullah bin Mas'ud berkata: Iman itu terbagi menjadi 2 bagian, sebagiannya adalah sabar dan sebagian lainnya adalah syukur." ('Uddatu Ash-shabirin, Hal.88)

"Rukun syukur ada 3, yaitu: Mengakui dalam hati bahwa semua nikmat itu dari Allah, menyebut-nyebut semua nikmat tersebut secara nampak (dengan memuji Allah dan memperlihatkan bekas-bekas nikmat tersebut dalam rangka mensyukurinya), dan menggunakan nikmat tersebut di jalan yang diridai Allah. Rukun sabar juga ada 3, yaitu: Menahan diri dari sikap murka terhadap segala ketentuan Allah, menahan lisan dari keluh kesah, dan menahan anggota badan dari perbuatan yang dilarang Allah, seperti ketika terjadi musibah menampar wajah, merobek pakaian, memotong rambut, dan keadaan semisalnya." (Al-wabilu Ash-shayyib, Hal.11)

"Hakikat syukur dalam peribadahan adalah tampaknya bekas nikmat Allah pada lidah hamba-Nya, yaitu dengan pujian dan pengakuan (terhadap nikmat tersebut). Pada hati hamba, yaitu dengan menyaksikan dan mencintai. Lalu pada anggota badan hamba, yaitu dengan patuh dan taat. Sehingga syukur dibangun di atas 5 tiang (pondasi), di antaranya: Ketundukan orang yang bersyukur terhadap yang disyukuri, kecintaannya, pengakuan terhadap nikmat tersebut, pujiannya dengan sebab nikmat tersebut, dan dia tidak mempergunakannya pada perkara yang tidak disukai oleh si pemberi nikmat tersebut. Inilah 5 pondasi syukur, bangunan syukur berada di atas 5 ini. Maka jika salah satunya tidak ada, rusaklah satu pondasi dari pondasi-pondasi syukur. Semua orang yang membicarakan tentang syukur dan definisinya, maka pembicaraannya akan kembali dan berkisar pada 5 pondasi ini." (Madariju As-salikin, 2:201)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
"Manusia berbeda pendapat, mana yang lebih utama antara orang miskin yang sabar atau orang kaya yang bersyukur? Pendapat yang benar adalah orang yang lebih utama dari keduanya adalah orang yang paling bertakwa. Jika ketakwaan keduanya sama, maka derajat keduanya akan sama. Sesungguhnya orang-orang miskin akan mendahului orang-orang kaya masuk ke dalam Surga, karena tidak ada hisab (penghitungan harta) terhadap mereka. Sedangkan, orang-orang kaya akan ada hisab, maka orang-orang kaya yang kebaikannya lebih banyak dari kebaikan orang-orang miskin, derajatnya di Surga lebih tinggi, meskipun mereka lebih lambat masuk ke dalam Surga. Sedangkan, orang-orang kaya yang kebaikannya di bawah kebaikan orang-orang miskin, maka derajatnya di Surga pun lebih rendah dari orang miskin." (Majmu Fatawa, 11:21)

"Sepantasnya seseorang itu mengambil harta dengan kemurahan jiwa, agar dia diberkahi di dalam hartanya. Jangan sampai dia mengambilnya dengan ambisi dan rakus! Seharusnya dia memandang harta itu seperti fungsi kamar kecil (WC). Manusia membutuhkannya namun, dia tidak memiliki tempat di hati. Jika dia berusaha mencari harta, maka dia berusaha mencari harta seperti memperbaiki kamar kecil." (Al-washiyatu Al-kubra, Hal.55)

Allah 'azza wa jalla berfirman:

اَيَحْسَبُوْنَ اَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهٖ مِنْ مَّا لٍ وَّبَنِيْنَ. نُسَا رِعُ لَهُمْ فِى الْخَيْـرٰتِ ۗ بَلْ لَّا يَشْعُرُوْنَ
"Apakah mereka mengira bahwa Kami memberikan harta dan anak-anak kepada mereka itu berarti Kami segera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, tetapi mereka malah tidak menyadarinya." (QS. Al-mukminun, Ayat 55-56)

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لاِبْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ
"Sesungguhnya di antara amalan dan kebaikan seorang mukmin yang akan menemuinya setelah kematiannya adalah ilmu yang diajarkan dan disebarkannya, anak salih yang ditinggalkannya, mushaf yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah untuk ibnu sabil (musafir yang kehabisan bekal) yang dibangunnya, sungai (air) yang dialirkannya untuk fasilitas umum, atau sedekah yang dikeluarkan dari hartanya pada waktu sehat dan semasa hidupnya, semua itu akan menemuinya setelah dia wafat." (Shahih Ibnu Majah, No.200. Syaikh Albani menyatakan hadis ini hasan)

Allah 'azza wa jalla berfirman:

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
"Dan apapun yang kalian infakkan, maka Allah akan menggantinya. Dan Dia adalah pemberi rezeki yang terbaik." (QS. Saba, Ayat 39)

إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقٰتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضٰعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ
"Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah (laki-laki dan perempuan) dan memberikan pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka akan dilipat gandakan (balasan pinjamannya) untuk mereka, serta mereka juga akan mendapatkan pahala yang banyak (berharga)." (QS. Al-hadid, Ayat 18)

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ
"Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali seperti salah seorang dari kalian yang mencelupkan jari tangannya ini ke dalam lautan. Dan Yahya (perawi hadis) sambil menunjukkan jari telunjuknya. Maka perhatikanlah apa yang didapat (tersisa) pada jari tangannya!" (HR. Muslim, No.5101)

Imam Hasan Al-bashri rahimahullah berkata:
"Wajib bagi kalian untuk mengejar negeri akhirat. Kami banyak melihat orang yang mengejar akhirat dia mendapatkan juga dunianya. Namun, kami tidak melihat ada seseorang yang mengejar dunia, tapi dia mendapatkan juga akhirat bersama dunianya." (Az-zuhd, Hal.12)

Mari, kita banyak berdoa kepada Allah 'azza wa jalla!

اَللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالِي وَوَلَدِي وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَنِي
"Ya Allah, perbanyaklah harta dan anakku, serta berkahi lah karunia yang telah Engkau berikan kepadaku!" (HR. Bukhari, No.5859)

اَللَّهُمَّ اكْفِنِيْ بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
"Ya Allah, cukupilah aku dengan rezeki-Mu yang halal (hingga aku terhindar) dari yang haram. Jadikanlah aku kaya dengan karunia-Mu (hingga aku tidak minta) dari selain-Mu!" (HR. Tirmidzi, No.3486. Syaikh Albani menyatakan hadis ini hasan)

Sebagai penutup, silakan baca juga serial artikel lainnya, dengan judul: Sungguh Bahagia Menjadi Orang Miskin. Selamat membaca! Semoga Allah karuniakan ilmu yang bermanfaat.

___
Kota Udang Cirebon, 11 September 2019.
Penulis: Muhamad Fadly.

SUNGGUH BAHAGIA MENJADI ORANG MISKINNabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:لَيْسَ الْمِسْكِينُ الَّذِي تَر...
25/07/2024

SUNGGUH BAHAGIA MENJADI ORANG MISKIN

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الْمِسْكِينُ الَّذِي تَرُدُّهُ الْأُكْلَةَ وَالْأُكْلَتَانِ وَلَكِنْ الْمِسْكِينُ الَّذِي لَيْسَ لَهُ غِنًى وَيَسْتَحْيِي أَوْ لَا يَسْأَلُ النَّاسَ إِلْحَافًا
"Bukanlah disebut miskin, yaitu orang yang bisa di atasi dengan satu atau dua suap makanan. Tetapi yang disebut miskin adalah orang yang tidak memiliki kecukupan namun, dia menahan diri (malu) atau orang yang tidak meminta-minta secara mendesak." (HR. Bukhari, No.1382)

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الْجَنَّةِ كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَعِّفٍ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ
"Maukah kalian aku beritahukan mengenai penghuni Surga? Yaitu setiap orang lemah dan ditindas, yang sekiranya dia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya. Dan maukah kalian aku beritahukan mengenai penghuni Neraka? Yaitu setiap orang yang keras membela kesalahan, kikir (gemar mengumpulkan harta), dan sombong." (HR. Bukhari, No.4537)

Imam Nawawi rahimahullah berkata:
"Orang lemah yang dimaksud adalah orang yang diremehkan orang lain karena keadaan yang lemah di dunia, maksudnya miskin." (Syarh Shahih Muslim, 17:168)

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

قُمْتُ عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَكَانَ عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا الْمَسَاكِينَ وَأَصْحَابُ الْجَدِّ مَحْبُوسُونَ غَيْرَ أَنَّ أَصْحَابَ النَّارِ قَدْ أُمِرَ بِهِمْ إِلَى النَّارِ وَقُمْتُ عَلَى بَابِ النَّارِ فَإِذَا عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا النِّسَاءُ
"Aku berdiri di pintu Surga, ternyata kebanyakan yang memasukinya adalah orang-orang miskin, sedangkan orang-orang yang mempunyai kekayaan tertahan. Kecuali para penghuni Neraka, mereka telah diperintahkan masuk ke dalam Neraka dan aku berdiri di pintu Neraka, ternyata kebanyakan yang memasukinya adalah wanita." (HR. Bukhari, No.6065)

إِنِّي رَأَيْتُ الْجَنَّةَ فَتَنَاوَلْتُ عُنْقُودًا وَلَوْ أَصَبْتُهُ لَأَكَلْتُمْ مِنْهُ مَا بَقِيَتْ الدُّنْيَا وَأُرِيتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ مَنْظَرًا كَالْيَوْمِ قَطُّ أَفْظَعَ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ قَالُوا بِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ بِكُفْرِهِنَّ قِيلَ يَكْفُرْنَ بِاللَّهِ قَالَ يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ كُلَّهُ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ
"Sungguh aku melihat Surga dan di dalamnya aku memperoleh setangkai anggur. Seandainya aku mengambilnya tentu kalian akan memakannya, sehingga urusan dunia akan terabaikan. Kemudian aku melihat Neraka dan aku belum pernah melihat suatu pemandangan yang lebih mengerikan dibandingkan hari ini dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita. Para Sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, mengapa begitu? Beliau bersabda: Karena mereka sering kufur (mengingkari). Ditanyakan kepada beliau: Apakah karena mereka kufur kepada Allah? Beliau bersabda: Mereka kufur terhadap pemberian suami, mengingkari kebaikannya. Seandainya kamu berbuat baik terhadap salah seorang dari mereka sepanjang masa, lalu dia melihat satu saja kejelekan darimu, maka dia akan berkata: Aku belum pernah melihat kebaikan darimu sedikitpun." (HR. Bukhari, No.993)

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ فُقَرَاءَ الْمُهَاجِرِينَ يَسْبِقُونَ الْأَغْنِيَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى الْجَنَّةِ بِأَرْبَعِينَ خَرِيفًا
"Sesungguhnya orang-orang fakir dari kaum muhajirin akan mendahului orang-orang kaya pada hari Kiamat masuk ke dalam Surga dengan jarak waktu 40 tahun." (HR. Muslim, No.5291)

يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُؤْمِنِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ الْأَغْنِيَاءِ بِنِصْفِ يَوْمٍ خَمْسِ مِائَةِ عَامٍ
"Orang-orang fakir dari kaum mukminin akan masuk Surga sebelum orang-orang kaya dengan jarak setengah hari yang setara dengan 500 tahun." (HR. Ibnu Majah, No.4112. Syaikh Albani menyatakan hadis ini hasan shahih)

Allah 'azza wa jalla berfirman:

وَإِنَّ يَوْمًا عِندَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّونَ
"Sesungguhnya sehari di sisi Rabb-mu adalah seperti 1000 tahun menurut perhitunganmu." (QS. Al-hajj, Ayat 47)

Di antara penjelasan 2 hadis tersebut, maksud dari adanya perbedaan waktu masuk ke dalam Surga dari orang-orang miskin kalangan muhajirin dan orang-orang miskin kalangan mukminin, dibandingkan orang-orang kaya di antara mereka adalah:

1. Bahwa ada di antara orang-orang miskin yang mendahului orang-orang kaya masuk Surga dalam waktu 500 tahun. Ada juga di antara orang-orang miskin yang mendahului orang-orang kaya masuk Surga dalam waktu 40 tahun. Hal ini tergantung pada keadaan orang miskin dan orang kaya. Sebagaimana pelaku kemaksiatan dari kalangan Ahli Tauhid, lama tidaknya mereka disiksa itu tergantung pada keadaan mereka.

2. Bahwa keadaan orang-orang miskin yang mendahului orang-orang kaya masuk Surga itu bukan suatu hal yang pasti, karena mereka mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi dari orang-orang kaya (yang masuk belakangan setelah mereka). Dan terkadang juga orang yang belakangan masuk Surga lebih tinggi kedudukannya, meskipun didahului oleh orang lain dalam kesempatan masuk Surga.

3. Bahwa orang kaya ketika dihisab hartanya, kemudian ternyata dia termasuk orang yang mensyukuri nikmat harta tersebut, mempergunakannya untuk mendekatkan dirinya kepada Allah, yaitu dibelanjakan untuk jalan-jalan kebaikan, ketaatan, sedekah, dan amalan harta yang lainnya, maka orang kaya semacam ini akan mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi daripada orang miskin yang lebih dahulu masuk Surga yang dia tidak memiliki amalan-amalan kebaikan yang dilakukan oleh orang kaya. Apalagi, orang kaya tersebut bisa menyaingi amalan-amalan kebaikan orang miskin atau bahkan orang kaya tersebut bisa mengerjakan lebih banyak amal kebaikan dari orang miskin. Dan Allah sekali-kali tidak akan pernah menyia-nyiakan orang yang berbuat kebaikan."
(Al-fauz Al-mubin Wa Al-khusran Al-mubin Fi Dhaui Al-kitab Wa As-sunnah, 1:33)

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلَّا بِضُعَفَائِكُمْ
"Tidaklah kalian ditolong dan diberi rezeki, melainkan karena adanya (doa) orang-orang yang lemah di antara kalian." (HR. Bukhari, No.2681)

Imam Ibnu Batthal rahimahullah berkata:
"Ibadah orang-orang lemah dan doa mereka lebih ikhlas dan lebih terasa khusyuk, karena mereka tidak punya ketergantungan hati pada dunia dan perhiasannya. Hati mereka pun jauh dari yang lain, kecuali dekat kepada Allah. Amalan mereka bersih dan doa mereka pun mudah diijabahi (dikabulkan). Al-muhallab berkata: Yang Nabi maksudkan adalah dorongan bagi Sahabat Sa'ad agar bersifat tawadhu, tidak sombong, dan tidak perlu menoleh pada harta yang ada pada orang lain." (Syarh Al-bukhari Li Ibni Batthal, 9:114)

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا يَنْصُرُ اللَّهُ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِضَعِيفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَصَلَاتِهِمْ وَإِخْلَاصِهِمْ
"Sesungguhnya Allah menolong umat ini dengan sebab orang-orang lemah yang ada di sekitarnya, dengan sebab doa mereka, salat mereka, dan keikhlasan mereka." (HR. Nasai, No.3127)

Sahabat Abu Sa'id Al-khudri radhiyallahu 'anhu berkata:

أَحِبُّوا الْمَسَاكِينَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي دُعَائِهِ اَللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ
"Cintailah oleh kalian orang-orang miskin! Karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah berucap dalam doanya: Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin dan matikan aku dalam keadaan miskin, serta kumpulkan aku ke dalam golongan orang-orang miskin!" (HR. Ibnu Majah, No.4116)

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

اَللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالَتْ عَائِشَةُ لِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِنَّهُمْ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ قَبْلَ أَغْنِيَائِهِمْ بِأَرْبَعِينَ خَرِيفًا يَا عَائِشَةُ لَا تَرُدِّي الْمِسْكِينَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ يَا عَائِشَةُ أَحِبِّي الْمَسَاكِينَ وَقَرِّبِيهِمْ فَإِنَّ اللَّهَ يُقَرِّبُكِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin dan wafatkan lah aku dalam keadaan miskin dan kumpulkan lah aku pada hari Kiamat bersama golongan orang-orang miskin! Aisyah bertanya: Kenapa, wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Sesungguhnya mereka akan masuk Surga 40 tahun lebih dahulu daripada orang-orang kaya. Wahai Aisyah, jangan kamu tolak orang-orang miskin walaupun hanya dengan memberikan secuil kurma. Wahai Aisyah, cintailah orang-orang miskin dan dekati lah mereka, karena Allah akan mendekat kepadamu pada hari Kiamat." (HR. Tirmidzi, No.2275)

Imam Hasan Al-bashri rahimahullah berkata:
"Seandainya Allah mau, Dia bisa menjadikan kalian kaya, tidak ada yang miskin di antara kalian. Tapi Dia ingin menguji kalian satu dengan yang lainnya." (Ihya 'Ulum Ad-din, Hal.307)

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
"Urusan orang yang beriman itu mengagumkan, sesungguhnya semua urusannya adalah baik dan itu tidak dimiliki oleh siapa pun, kecuali orang yang beriman. Apabila tertimpa kesenangan, dia bersyukur dan syukur tersebut baik untuknya. Lalu apabila tertimpa kesusahan, dia bersabar dan sabar tersebut baik untuknya." (HR. Muslim, No.5318)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
"Hadis yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan bersyukur ketika senang dan bersabar ketika susah. Bahkan kedua sifat tersebut yang merupakan penyempurna keimanan seorang hamba. Sahabat 'Abdullah bin Mas'ud berkata: Iman itu terbagi menjadi 2 bagian, sebagiannya adalah sabar dan sebagian lainnya adalah syukur." ('Uddatu Ash-shabirin, Hal.88)

"Hadis tersebut menunjukkan, bahwa tingkatan-tingkatan iman seluruhnya berkisar antara sabar dan syukur." (Thariqu Al-hijratain, Hal.399)

"Rukun syukur ada 3, yaitu: Mengakui dalam hati bahwa semua nikmat itu dari Allah, menyebut-nyebut semua nikmat tersebut secara nampak (dengan memuji Allah dan memperlihatkan bekas-bekas dari nikmat tersebut dalam rangka mensyukurinya), dan menggunakan nikmat tersebut di jalan yang diridai Allah. Kemudian rukun sabar juga ada 3, yaitu: Menahan diri dari sikap murka terhadap segala ketentuan Allah, menahan lisan dari keluh kesah, dan menahan anggota badan dari perbuatan yang dilarang Allah, seperti ketika terjadi musibah menampar wajah, merobek pakaian, memotong rambut, dan tindakan semisalnya." (Al-wabilu Ash-shayyib, Hal.11)

Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha bercerita:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى مَا يُحِبُّ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ
"Apabila Rasulullah melihat sesuatu yang dia senangi, maka beliau mengucapkan: Alhamdulillah Alladzi Bini'matihi Tatimmush Shalihat (Segala puji untuk Allah yang dengan sebab nikmat-Nya semua kebaikan menjadi sempurna). Dan apabila melihat sesuatu yang dia benci, maka beliau mengucapkan: Alhamdulillah 'Ala Kulli Hal (Segala puji untuk Allah atas setiap keadaan)." (HR. Ibnu Majah, No.3793. Syaikh Albani menyatakan hadis ini hasan)

Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata:
"Setiap nikmat yang tidak digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka itu hanyalah musibah." (Jami' Al-'ulum Wa Al-hikam, 2:82)

Imam Hasan Al-bashri rahimahullah berkata:
"Wajib bagi kalian untuk mengejar negeri akhirat. Kami banyak melihat orang yang mengejar akhirat dan dia juga mendapatkan dunianya. Namun, kami tidak melihat ada seseorang yang mengejar dunia dan dia juga mendapatkan akhirat beserta dunianya." (Az-zuhd, Hal.12)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'utsaimin rahimahullah berkata:
"Betapa sering kita menyaksikan langsung, bahwa kekayaan bisa menjadi sebab seseorang rusak, wal'iyyadzubillah! Ada orang yang kamu lihat saat dia masih susah, dia taat kepada Allah, selalu kembali kepada-Nya, hatinya halus, dan dia tidak angkuh. Namun, ketika Allah beri kepadanya harta yang lebih, lalu dia berubah menjadi sombong dan angkuh karena hartanya." (Syarh Riyadh Ash-shalihin, 2:41)

Jangan lupa, apapun keadaan hidup kita sekarang, miskin atau pun kaya, kita harus tetap banyak berdoa kepada Allah!

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ
"Wahai Rabb-ku, tuntun lah aku untuk bisa mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada orang tuaku, agar aku bisa mengerjakan amal salih yang Engkau ridai. Masukkan lah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-Mu yang salih!" (QS. An-naml, Ayat 19)

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ وَأَنْ تَغْفِرَ لِي وَتَرْحَمَنِي وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةَ قَوْمٍ فَتَوَفَّنِي غَيْرَ مَفْتُونٍ أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ
"Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu berbagai perbuatan kebaikan, meninggalkan kemungkaran, mencintai orang-orang miskin, dan ampunilah aku dan rahmati lah aku! Apabila Engkau menghendaki suatu fitnah kepada para hamba-Mu, wafat kan aku kepada-Mu dalam keadaan tidak terkena fitnah (husnul khatimah)! Aku mengharap cinta-Mu, cintanya orang yang mencintai-Mu, cinta pada amalan yang bisa mendekatkan ku pada cinta-Mu." (HR. Tirmidzi, No.3159)

Sebagai penutup, silakan baca juga serial artikel lainnya, dengan judul: Sungguh Bahagia Menjadi Orang Kaya. Selamat membaca! Semoga Allah karuniakan ilmu yang bermanfaat.

___
Kota Udang Cirebon, 10 September 2019.
Penulis: Muhamad Fadly.

Address

Majalengka

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Yayasan Minhaju Alqashidin Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share