Madrosah TQN PPS Sirnarasa Majalengka

Madrosah TQN PPS Sirnarasa Majalengka Media Informasi dan Silaturahmi Ikhwan Akhwat Pengamal TQN PP Suryalaya Sirnarasa PPKN

15/12/2025

Ini dia alasan terjadinya perang salib bag 1

Masjid Al Azhar Pusat awal penyebaran ajaran Syi'ah
26/11/2025

Masjid Al Azhar
Pusat awal penyebaran ajaran Syi'ah

Kisah Nabi Adam dan Iblis | Sejarah awal mula Iblis menggoda Nabi Adam
17/10/2025

Kisah Nabi Adam dan Iblis | Sejarah awal mula Iblis menggoda Nabi Adam

Kisah penciptaan Nabi Adam 'alaihissalam yang menempatkan Iblis sebagai aktor utama terpenuhinya ketetapan Alloh SWT terhadap Nabi Adam 'alaihissalam, dan ma...

14/10/2025

Tanah Suci Indonesia Merindukan Kaki Kaki Bangsa Indonesia Yang Dikepalanya Ada Merah Putih

Masuk islam mesti punya 3 saksi
14/10/2025

Masuk islam mesti punya 3 saksi

Bukti cinta tanah air cinta merah putih cinta produk dalam negeri 🇮🇩
14/10/2025

Bukti cinta tanah air cinta merah putih cinta produk dalam negeri 🇮🇩

13/10/2025
Musa Al Khadzim Penentang Kedzaliman Abbasiyah (Ahli Silsilah TQN Ma'had Suryalaya Sirnarasa ke 9)
12/10/2025

Musa Al Khadzim Penentang Kedzaliman Abbasiyah (Ahli Silsilah TQN Ma'had Suryalaya Sirnarasa ke 9)

Mengenal Imam Musa Al Kadzim (Mursyid ke-9 TQN Sirnarasa): Simbol Perjuangan Terhadap Kedzaliman

Sayyiduna Imam Musa Al Kadzim dilahirkan pada tahun 128 H di desa Abwa, yang terletak antara Mekah dan Madinah. Ayahnya, Imam Ja'far ash Shiddiq (Ahli Silsilah ke-8 Thoriqoh Qodiriyah Naqshabandiyah), dan ibunya Sayidah Hamidah yang merupakan wanita paling mulia di zamannya. Ketika Imam Musa Al Kadzim lahir, Imam Ja'far menyebut putranya itu sebagai penerus kemursyidan sepeninggal beliau. Pada usia 20 tahun, ayahnya syahid, dan Imam Kadzim memimpin umat Islam selama 35 tahun.

Di kalangan Syi'ah, Imam Musa Al Kadzim merupakan Imam ke-7 Syiah. Sedangkan di kalangan Sunni, Imam Musa merupakan ulama yang dihormati karena akhlak dan keluasan ilmunya.

Di kalangan Sunni, Imam Musa dipandang sebagai 'ulama dan ahli hadist terpercaya. Banyak 'ulama Sunni terkemuka yang mengutip hadist dari Imam Musa untuk memperkuat pandangannya, salah satunya adalah Ahmad Ibnu Hanbal. Beberapa tradisi yang berasal dari Imam Musa al-Kadzim dikumpulkan oleh ulama Sunni Abu Bakr Muhammad ibn Abd-Allah al-Bazzaz dalam kitab Musnad al-Kadzim.

Di kalangan thoriqoh, Imam Musa dipandang sebagai salah satu 'ulama Sufi berpengaruh dalam sanad kemursyidan. Dalam silsilah kemursyidan Thoriqoh Qodiriyah Naqshabandiyah Ma'had Sirnarasa, Imam Musa merupakan Ahli silsilah (Mursyid) ke-9.

Imam Musa mengalami empat fase dinasti Abbasiyah, yaitu: Khalifah Mansur, Mahdi, Hadi dan Harun ar Rasyid. Lembaran sejarah mengungkapkan bahwa Imam Musa mendekam di penjara selama 14 tahun. Penguasa lalim saat itu menghendaki Imam Musa menghentikan perlawanannya atas kezaliman. Bahkan Dinasti Abbasiah menjanjikan akan memberikan harta yang melimpah setiap bulan kepada Imam Musa. Namun beliau menolak usulan tersebut dengan menyebutkan ayat 33 Al Qur'an surat Yusuf: "Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku."

Imam Musa Al Kadzim dikenal karena ketakwaannya yang luar biasa, kesabarannya yang tak tergoyahkan, dan ilmunya yang mendalam. Beliau dijuluki “Al-Kadzim” yang berarti “yang menahan amarah” karena kesabarannya dalam menghadapi tekanan dan penindasan dari penguasa Abbasiyah. Imam Musa Al Kadzim menghabiskan banyak waktu dalam penjara akibat fitnah dan ketidakadilan penguasa saat itu.

Imam Musa Al Kadzim dapat dikatakan sebagai tokoh Bani Hasyim yang paling menonjol di zamannya. Ketika yang lain sibuk dalam pergulatan politik profan, Al Kadhim lebih memilih jalur perjuangan spiritual dan intelektual seperti ayahnya, Ja’far Ash Shiddiq.

Hanya saja, hal inilah yang membuatnya lebih dikhawatirkan oleh Khalifah Harun Al-Rasyid. Di tengah semaraknya gairah ilmu pengetahuan di dunia Islam, kedudukan orang-orang seperti Musa Al Kadzim dianggap sangat berbahaya. Masyarakat saat itu, ternyata sangat mengagumi Musa Al Kadzim.

Harun Al-Rasyid khawatir masyarakat khususnya kekuatan politik yang mendukung keluarga Ali bin Abi Thalib akan membaiat Musa Al Kadzim sebagai pemimpin revolusi.

Atas dasar pertimbangan inilah Musa Al-Kadzim kemudian ditahan di penjara bawah tanah oleh Khalifah Harun Al-Rasyid. Pada tanggal 25 Rajab 183 H, Musa Al Kadzim berp**ang kepada Alloh SWT di dalam penjara tersebut.

11/10/2025

Pembebasan Pertama Baitul Maqdis Oleh Islam.

Baitul Maqdis atau Al Quds pada masa kekhalifahan khulafaurasyidin dikuasai oleh Kerajaan Romawi (Byzantium). Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, terjadi peperangan besar antara kaum muslimin dan Romawi, yaitu Perang Yarmuk. Perang tersebut dimenangkan oleh pasukan muslimin yang saat itu dipimpin oleh Abu Ubaidah yang menggantikan Khalid bin Walid.

Setelah memenangi perang Yarmuk, pada tahun 17 H, Abu Ubaidah bersama Amr bin Ash segera meneruskan ekspedisi militer menuju Al Quds yang masih dikuasai Romawi. Pada saat itu Al Quds dibawah tanggung jawab pendeta Nasrani dari Yunani, Sophronius.

Al Quds saat itu dikenal dengan bentengnya yang kokoh, sehingga pasukan Muslim tidak mampu menembus benteng tersebut Dan melakukan pengepungan di luar benteng sambil bertahan. Pengepungan tersebut berlangsung selama 6 bulan di bawah komando Abu Ubaidah.

Di dalam benteng Al Quds, warga dan petinggi Yerusalem mulai frustasi atas pengepungan pasukan Muslim. Hal tersebut membuat Sophronius berinisiatif melakukan negosiasi. Dia kemudian mengirimkan surat kepada Amr bin Ash yang ditugaskan melakukan negosiasi.

“Sesungguhnya engkau adalah saudaraku dan setara denganku, kedudukanmu di tengah kaummu seperti kedudukanku di tengah kaumku. Tentu engkau paham, demi Alloh engkau tidak akan bisa merebut sedikit pun dari kawasan Palestina setelah kemenanganmu di Ajnadin. Maka untuk itu, kembalilah.” Tulis Sophronius dalam suratnya.

Amr bin Ash lalu membalas surat tersebut. “Jangan salah, karena akulah penakluk negeri ini.” Tulis Amr bin Ash dalam surat tersebut. Ketika Sophronius membaca balasan tersebut, dia tertawa terbahak-bahak karena menganggap Amr tidak bijak.

Sophronius berpendapat bahwa berdasarkan nubuat dari kitab-kitab yahudi dan Nasrani, Al Quds hanya bisa ditaklukan oleh orang yang memiliki huruf 'ain, mim, ra, pada namanya, serta memiliki ciri-ciri tertentu. Nama dan ciri tersebut hanya ada pada diri Umar bin Khattab, khalifah saat itu.

Negosiasi akhirnya berkakhir dengan kesimp**an bahwa Sophronius hanya akan menyerahkan Kunci Al Quds langsung kepada Umar bin Khattab.

Mendengar kabar tersebut Umar bin Khattab akhirnya berangkat menuju Yerusalem hanya ditemani oleh satu orang pembantunya, tanpa iring-iringan militer.

Umar lebih dulu menetap di Jabiah sebelum berngkat ke Al-Quds. Pada saat di Jamiah inilah, para pemimpin pasukan muslim dari Syam datang menemui beliau.

Ada sebuah riwayat yang menarik terkait pertemuan Umar dan pemimpin pasukan muslim di Jabiah. Umar hanya mengendarai keledai. Pemandangan ini sulit diterima oleh pasukan muslim yang terbiasa berhadapan dengan pasukan Romawi. Sementara kepentingan Umar adalah berhadapan dengan pembesar Romawi di Al-Quds terkait perjanjian yang akan disepakati terkait penyerahan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.

Abu Ubaidah menasihati Umar. “Wahai Amirul Mukminin, engkau akan berhadapan dengan para pembesar Romawi.”

“Ya Abu Ubaidah, Allah memuliakan kalian dengan Islam. Maka apakah engkau hendak mencari Izzah dari selain islam? Alloh akan menghinakan kalian.” Jawa Umar. Dia berpendapat bahwa dirinya tidak akan terhina jika memakai keledai, karena dia menggunakan izzah Islam.

Setelah itu, Umar pun berangkat ke Al-Quds hanya ditemani satu orang pelayannya. Lantaran kendaraan hanya satu, maka keduanya bergantian. Jika giliran Umar menunggangi keledai, maka pelayan yang menuntun. Begitu p**a sebaliknya. Saat hendak memasuki kota Al-Quds giliran Umar yang menuntun kuda sementara sang pelayan berada di punggungnya.

Pemandangan ini pun membuat heran pasukan Romawi dan para petinggi Al-Quds, bagaimana bisa seorang pemimpin Muslim yang kuat, yang setiap perintahnya ditaati oleh pasukannya, datang hanya dengan seekor keledai dan pelayan.

Maka saat Sophronius menyaksikan langsung kedatangan Umar, tanpa ragu ia serahkan kunci kota Al-Quds. Tanpa ragu ia tanda tangani kesepakatan dengan jaminan keamanan dan kebebasan beribadah serta tak ada orang Yahudi yang hidup di Yerussalem. Namun, Umar bin Khattab tidak ingin mengusir penduduk yahudi saat itu, dia tetap memberikan hak dan jaminan yang sama bagi penduduk Nasrani maupun Yahudi.

Perjanjian itu kemudian ditandatangi langsung oleh khalifah. Perjanjian itu dikenal dengan al-‘uhdah al’umariyah. Tertera sebagai saksi adalah nama-nama populer seperti Khalid bin Walid, Amr bin al-‘Ash dan Muawiyah bin Abi Sufyan.

11/10/2025

Address

Majalengka
45462

Telephone

+6281318714618

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Madrosah TQN PPS Sirnarasa Majalengka posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share