01/11/2021
Walimah maulid Nabi merupakan bentuk ungkapan syukur kita atas ni'mat terbesar yg di karuniakan Allah kepada kita, yaitu dhohirnya Nabi Agung pembawa Rohmat untuk semesta Alam, dan ni'mat serta rohmat agung ini tidak hanya ada di bualn Robiul Awal, tapi kita Rasakan setiap saat, maka ungkapan syukur atas karunia besar ini tentu tidak di tentukan hanya di bulan Robiul Awal saja, tapi di anjurkan setiap hari bahkan setiap saat dengan bentuk ibadah apapun itu yg menyimpan arti syukur.
Dengan shoalt, puasa, baca Qur'an, sedekah, bershoalwat itu juga sama jika di niyati syukur atas kealhiran Nabi maka hal ini masuk kategori "Muludan" walau di lakukan bukan di bualn Robiul Awal....
Bahkan realita di masyarakat pembacaan maulid tidak hanya bualn Robiul Awal saja, di masjid² ada yang sudah Istiqomah baca maulid tiap malam jum'at, kita juga ada rutinitas maulid tiap malam senin, di acara khitanan, nikahan dll tanpa harus nunggu bualn Robiul Awal, itu juga sama "Muludan" bahkan InsyaAllh PP Ar Roudloh akan menyelenggarakan Walimah Maulid nanti tgl 20 Desember 2021 mendatang itu sudah di luar Robiul Awal bahkan sudah lewat Robiul Akhir juga tepatnya sudah masuk 15 Jumadil awal, gak masalah....
Referensi kitab Kanzunnajah halaman 38 :
فصاروا يقرءونها في الدور والبيوت في أي يوم كان من شهر ربيع الأول؛ بل في أي يوم من العام، ويتبرّكون بذلك الاحتفال الموقر حُبًّا بمن ينسب إليه، ويعتمدون في الشفاعة عليه صلى الله تعالى عليه وعلى آله وصحبه وسلم، وشرّف وكرّم ومَجّد وعظم.
dan Al Hawi lil Fataawi 1/188 :
وعلى هذا فينبغي أن يتحرى اليوم بعينه حتى يطابق قصة موسى في يوم عاشوراء ، ومن لم يلاحظ ذلك لا يبالي بعمل المولد في أي يوم من الشهر ، بل توسع قوم فنقلوه إلى يوم من السنة وفيه ما فيه
(Mungkin ini bisa menjawab pertanyaan No 2)
Adapun acara gebyar maulid semaraknya di bualan Robiul Awal, itu merupakan puncaknya acara karena bertepatan dengan bulan dimana Rosulullah lahir, dan itu tidak masalah
Al Imam Al Hafidh Ibnu Hajar Al Asqolaany (773 H - 852H), penyusun kitab Fath Al Barri syarah sohih Al Bukhori memfatwakan dasar yang sangat jelas tentang peringatan Maulid Nabi, jika di sesuaikan dengan hari/bualan kelahiran Nabi
وقد ظهر لي تخريجها على أصل ثابت، وهو ما ثبت في الصحيحين من أن النبي صلى الله عليه وسلم قدم المدينة فوجد اليهود يصومون يوم عاشوراء فسألهم؟ فقالوا: هو يوم أغرق الله فيه فرعون ونجى موسى فنحن نصومه شكرا لله تعالى، فيستفاد منه فعل الشكر لله على ما مَنَّ به في يوم معين من إسداء نعمة أو دفع نقمة، ويعاد ذلك في نظير ذلك اليوم من كل سنة، والشكر لله يحصل بأنواع العبادة كالسجود والصيام والصدقة والتلاوة، وأي نعمة أعظم من النعمة ببروز هذا النبي نبي الرحمة في ذلك اليوم
“dan sungguh telah jelas bagiku bahwa apa yang dikeluarkan (diriwayatkan) atas asal penetapan (hokum Maulid), sebagaimana yang ditetapkan didalam Ash-Shahihayn bahwa sesungguhnya Nabi datang ke Madinah, maka (beliau) menemukan orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura’, Rasulullah bertanya kepada mereka (tentang puasa tersebut)? Maka mereka menjawab : “Padanya adalah hari dimana Allah telah menenggelamkan Fir’aun dan menyelamatkan (Nabi) Musa, maka kami berpuasa untuk bersyukur kepada Allah Yang Maha Tinggi (atas semua itu)”. Maka faidah yang bisa diambil dari hal tersebut adalah bahwa (kebolehan) bersyukur kepada Allah atas sesuatu (yang terjadi) baik karena menerima sebuah kenikmatan yang besar atau penyelamatan (terhindar) dari bahaya, dan bisa diulang-ulang perkara (syukuran) tersebut pada hari (yang sama) setiap tahun. Adapun syukur kepada Allah dapat dilakukan dengan bermacam-macam Ibadah seperti sujud (sujud syukur), puasa, shadaqah dan tilawah (membaca al-Qur’an). dan sungguh adakah nikmat yang paling agung (besar) dari berbagai nikmat (yang ada) selain kelahiran Nabi (Muhammad) Nabi yang penyayang pada hari (peringatan Maulid) itu ?”
(Mungkin ini bisa menjawab pertanyaan No 1)