22/10/2022
Ada salah satu bait dalam Kitab Alfiyah Ibnu Malik yang memiliki hikmah mendalam tentang identitas, jati diri, dan keteguhan santri dalam memegang prinsip di berbagai keadaan.
Sikap kesantrian tidak boleh berubah. Ketika menjadi rafa’ (posisi di atas), dihormati masyarakat, dan menduduki posisi penting, santri tidak boleh sombong dan takabbur.
Begitu juga ketika santri berada pada posisi nashab (tengah-tengah), seorang santri harus bisa bergaul dan berinteraksi dengan membawa akhlak baik yang didapatkan di pesantren. Santri harus bisa menjadi suri tauladan dan mengaplikasikan ilmu dan kahlak yang diajarkan oleh sang kiai.
"Ketika diuji oleh Allah diletakkan di posisi bawah (jar), tidak dijadikan apa-apa, tidak masalah. Santri tidak boleh minder tidak boleh berkecil hati. Rendah hati harus tapi rendah diri jangan. Saat ini posisi santri bisa di mana saja," KH. Yusuf Chudlori.
Follow Instagram dan Facebook Fanpage API Tegalrejo Magelang.