26/02/2021
PROFIL "BUKU TARTILA"
Bismillahirrohmanirrohim.
Munas I Jam'iyyatul Qurro walhuffadh (JQH) di Pondok Pesantren Zainul Hasan Nggenggong Kraksaan Probolinggo, 24-26 Nopember tahun 1993 telah mengilhami dan menyemangati para aktivis Al Qur'an untuk turut menumbuhkembangkan Jam'iyyah ini dengan program-program antara lain; Pembinaan Tilawah, khothoth, Khotmil Qur'an, Lailatul Qiro'ah, dll.
Bersamaan dengan program-program tersebut, di berbagai tempat sedang tumbuh dan berkembang pengelolaan Lembaga-lembaga pendidikan Al Qur'an/TPQ dengan pembaruan manajemen serta menggunakan metode cepat membaca Al Qur'an, yang sebelumnya rata-rata menggunakan metode Al Baghdadi/Turutan dengan manaemen/pengelolaan ala kadarnya.
Kondisi tersebut membuat para pengampu dan pemangku Lembaga-Lembaga itu mendorong para pengurus di tingkat wilayah untuk bisa segera menyusun dan menerbitkan buku cara cepat belajar membaca Al Qur'an, mengingat satu-satunya organisasi profesi sebagai Badan Otonom NU yang menangani di bidang Al Qur'an adalah Jam'iyyatul Qurro walhuffadh.
Kisaran tahun 1996 masa kepemimpinan Wilayah di komandani KH. Mas Thoha Jafar, di kantor PW JQH-NU JATIM, Jln. Raya Darmo 99 Surabaya, para Pengurus yang ngantor, hari-hari tidak terlepas dari pembicaraan dan diskusi untuk mengambil langkah-langkah guna menindaklanjuti masukan-masukan tersebut.
Tahun 1998, pelaksanaan konferensi wilayah VI di Pondok Pesantren Jampes Kediri, melalui konferensi ini direkomendasikan agar kepengurusan terpilih bisa merealisasikan perumusan dan sekaligus penerbitan buku (metode) cara cepat belajar membaca Al Qur'an dimaksud.
Atas amanah konferensi tersebut, oleh pengurus terpilih (dicatat) beberapa nama para Kyai untuk diikutsertakan sebagai perumus, antara lain sebagai berikut :
1. Drs. KH. M. Syahrul Munir
2. KH. Masruchan
3. Ust. Drs H. Suyatno
4. KH. Mu'thy Nurhadi, SH
5. KH. Imam Nabawi
6. KH. M. Yahya Romli
7. Ust. H. Ahid Sufiyaji, SQ., M.Si
8. Ust. H.M. Choiruddin Abd. Qodir, SH.
9. Ust. Muhyiddin Makshum
10.Ust. Moedja'far
11. Ust. Abd. Choliq Chusnan
12.Ust. Abd. Hamid Syarifuddin
13.Ust. H. Imam Rofii Zuber
14.Ust. Moch. A'adi
15.Ust. Abdulloh Rifai
16.Ust. H. Saiful Munir
17.Ust. H. Mahfudz Shomad
18.Ust. Drs. Marsikhon
19.Ust. Sugeng Fatah
20.Ust. Wafir Ghozi.
Sebelum pelaksanaan rapat2 resmi oleh para calon perumus, Ustadz H. Masruhan dari Tulungagung menyerahkan catatan-catatan dan beberapa pedoman metode kepada pengurus untuk bisa diperbaiki dan disempurnakan.
Pertemuan-pertemuan terbatas dan diskusi selalu dilakukan untuk memperbaiki dan sekaligus menyempurnakan (meskipun tidak ada buku yang sempurna) apa yang telah dituangkan oleh Ustadz H. Masruhan. Berbarengan dengan hal itu ada usulan pemberian nama buku "TARTILA" dari Ustadz H. Rofi'i Zuber Waru Sidoarjo, maka nama tersebut disepakati bersama.
Setelah dianggap cukup dan bisa dimanfaatkan untuk pembelajaran Baca Al Qur'an tercetak 5 jilid (sekarang 6 jilid),, Gus Ahid (Drs. Ahid Sufiyaji, SQ., M.Si) beserta Ustadz H.M.Choiruddin Abd. Qodir, SH. berangkat ke Jakarta sowan ke PBNU KH. Abdurrahman Wahid, yang kemudian Beliau berkenan memberikan kata sambutan pada buku tersebut. Termasuk turut mensupport atas terbitnya buku Tartila; Ketua umum PP. Jam'iyyatul Qurro walhuffadh KH. Nu'man Thohir sekalian beliau juga memberikan kata sambutan.
Dengan mengundang Pengurus Cabang JQH-NU se Jawa Timur disertakan Guru guru TPQ; Launching Buku Tartila dilaksanakan selama 2 hari di Islamic Center Surabaya. Berikutnya dilaksanakan Diklat di beberapa Cabang antara lain, di Pasuruan, Probolinggo, Kraksaan, Lumajang, Banyuwangi, Malang, Nganjuk, Pamekasan, Sumenep dll. Tidak ketinggalan Komisariat-komisariat Pondok Pesantren turut merespon baik di antaranya Pesantren Peterongan, Pesantren Tambak Beras Jombang, Pesantren Nurul Cholil Bangkalan, Pesantren Sabilillah Sampang, Pesantren Salafiyah Pasuruan dll.
Respon baik datang dari berbagai pihak, namun Buku Tartila yang 6 jilid tersebut dirasa belum mampu menjawab tantangan kebutuhan para Santri yaitu kemampuan tulis, banyak pegiat Al Qur'an mengakui bahwa buku Tartila sangat baik untuk mengantarkan anak-anak lebih mudah belajar membaca Al Qur'an, namun sangat diperlukan sebuah buku/media yang bisa mengantarkan mereka mudah belajar menulisnya.
Hari-hari tidak henti-hentinya untuk terus berkreasi, dengan ide-ide jitu dari Ustadz H. Dudung Jamal maka Tim Tartila berusaha memenuhi kebutuhan media Tulis tersebut yang kemudian diterbitkan buku Tartila bilQolam 4 jilid, sebelum dicetak; Ustadz HM. Choiruddin Abd. Qodir telah membawa draf Buku tersebut kepada KH. Bashori Alwi Malang untuk dimohonkan pentashihan, dan Alhamdulillah Baliau sangat merespon baik dan sekaligus berkenan memberi kata sambutan. Kemudian disusul Buku Tartila bilQolam Lanjutan 3 jilid, buku Tartila Pra Sekolah 2 jilid, Buku Tartila Turutan satu jilid, buku Induk Santri dan tentu Tim akan berupaya memenuhi berbagai perangkat yang terkait.
Seiring dengan program Pusat JQH-NU yang di gulirkan oleh Ketua Umum KH. Saifulloh Maksum tentang pembentukan Konsorsium dalam rangka mengakomodir berbagai metode pembelajaran Baca Tulis Al Qur-an, maka Tim TARTILA merasa mendapat dukungan yang sangat besar dari Pimpinan Pusat, maka gayung bersambut Tartila masuk sebagai anggota konsorsium tersebut; dan atas petunjuk dari Ketua Umum penandatanganan dilakukan oleh Ustadz Drs H. Ahid Sufiyaji SQ MSi.
Untuk memperkuat dan mempermudah gerak langkah pengembangan Tartila maka kemudian dibentuklah sebuah wadah LP4Q yang bertugas mengembangkan buku TARTILA dan segala buku perangkat yang terkait dengannya.
Guna merealisasikan gerakan awal dari program yang di canangkan, maka oleh Ketua Umum Kyai H. Saifulloh Maksum atas dukungan dan fasilitas dari Beliau; pada bulan Maret 2020 diadakan Diklat TOT di Kampus UIN Syarif Hidayatullah tepatnya Hotel Syahidah selama 3 hari. Namun sepulang dari TOT musibah Covid 19 menimpa penduduk bumi sehingga berbagai kegiatan terkait pengembangan Tartila belum bisa dilakukan dengan baik bahkan agenda Diklat di berbagai Daerah harus ditunda.
Menjelang bulan Agustus 2020 kondisi Pandemi mulai mereda, Diklat mulai dilakukan oleh Pengurus Cabang JQH-NU Kota Probolinggo bulan Agustus (peserta 90 orang), kemudian disusul bulan Oktober di Aula Kantor Kementerian agama provinsi Jawa timur (peserta 114 orang), diteruskan di Tulungagung pada bulan November ( peserta 50 orang ).
Hari hari berikutnya Pandemi kambuh lagi sehingga agenda Diklat di beberapa daerah harus di tunda; antara lain di Pamekasan (Calon peserta 140 orang ), di Aula Kantor PWNU Surabaya (Calon peserta 80 orang), Sidoarjo (calon peserta khusus guru guru TK/PAUD 300 orang), Trenggalek (70 orang), dll.
SK LP4Q telah diterbitkan oleh PP. JQH-NU semoga semua personel yang terlibat dalam kepengurusan diberi kemampuan untuk berkhidmah pada Al Qur'an.
Mari Gerak Bersama di bawah Panji NU. Semoga kita diakui sebagai santri nya Mbah Hasyim Asy'ari!
Dengan ikhlas kita berkhidmah pada Al Qur'an Semoga Allah Subhanahu Wata'ala memberi keberkahan yang berlipat ganda, manfaat buat Ummat serta jariyah buat kita semua, Amin!
Ccq PP JQNHU