Hindu Tengger

Hindu Tengger HINDU TENGGER

10/08/2026

Penutupan Hari Raya Karo Di Desa Ngadiwono Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan

10/08/2026

Late post Tari Sakral Sodoran 30 Juli 2026 Di Desa Ngadisari 🙏

10/08/2026

Sodoran di Ngadiwono Penutupan Hari Raya Karo🙏

09/08/2026

Late post sodoran Tengger 🙏

08/08/2026

Tari Sakral Sodoran Tengger

08/08/2026

Seneng lihatnya

08/08/2026

Nyadran di Desa Argosari 🙏

08/08/2026

Tradisi nyadran di Desa Sumberanom🙏

08/08/2026

Ketipung Tengger di Desa Sumberanom

08/08/2026

UJUNGAN DALAM TRADISI HINDU TENGGER DI DESA ARGOSARI, KECAMATAN SENDURO, KABUPATEN LUMAJANG

Masyarakat Tengger di Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, merupakan salah satu komunitas yang masih mempertahankan berbagai tradisi warisan leluhur. Tradisi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan budaya, tetapi juga menjadi media pewarisan nilai keagamaan, sosial, etika, dan identitas masyarakat. Salah satu tradisi yang dikenal dalam lingkungan masyarakat Tengger adalah Ujungan atau Ujung-Ujungan.

Ujungan merupakan permainan tradisional yang mempertemukan dua orang untuk melakukan gerakan saling memukul menggunakan alat berupa rotan. Secara sekilas, tradisi tersebut dapat dipandang sebagai bentuk adu kekuatan fisik. Akan tetapi, dalam konteks kebudayaan Tengger, Ujungan memiliki dimensi simbolik yang lebih luas. Tradisi ini berkaitan dengan nilai keberanian, pengendalian diri, persaudaraan, sportivitas, dan kerukunan sosial.

Oleh karena itu, Ujungan tidak tepat dipahami hanya sebagai aktivitas fisik, melainkan sebagai salah satu bentuk ekspresi budaya yang mengandung nilai-nilai kehidupan masyarakat Tengger.

Sejarah Ujungan dalam Tradisi Tengger

Ujungan merupakan bagian dari tradisi masyarakat Tengger yang berkembang secara turun-temurun. Keberadaannya berkaitan erat dengan rangkaian perayaan Hari Raya Karo, yaitu salah satu hari raya penting dalam kehidupan keagamaan dan sosial masyarakat Tengger.

Dalam berbagai kajian mengenai tradisi Karo, Ujungan atau Ujung-Ujungan dikenal sebagai salah satu kegiatan yang berkaitan dengan penutupan rangkaian perayaan Karo. Tradisi ini diwariskan dari generasi ke generasi melalui praktik langsung dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian, keberlangsungan Ujungan tidak hanya bergantung pada dokumentasi tertulis, tetapi terutama pada proses pewarisan pengetahuan dari para sesepuh kepada generasi muda.

Dalam konteks Desa Argosari, Ujungan menjadi bagian dari kekayaan tradisi lokal masyarakat Tengger. Pelaksanaannya hendaknya dipahami dalam hubungan yang tidak terpisahkan dengan kehidupan adat, keagamaan, dan sosial masyarakat setempat.

Sejarah lisan mempunyai kedudukan penting dalam memahami tradisi tersebut. Penuturan para sesepuh, tokoh adat, Dukun Pandhita, serta para pelaku Ujungan menjadi sumber penting untuk mengetahui asal-usul, tata pelaksanaan, aturan, serta perubahan bentuk tradisi dari masa ke masa.

Ujungan sebagai Bagian dari Kehidupan Masyarakat Tengger

Masyarakat Tengger mempunyai hubungan yang kuat antara agama, adat, alam, leluhur, dan kehidupan sosial. Dalam kerangka tersebut, sebuah tradisi tidak berdiri sendiri. Tradisi menjadi bagian dari sistem kehidupan yang menghubungkan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, serta manusia dengan lingkungan.

Ujungan dapat ditempatkan dalam kerangka tersebut sebagai ruang sosial untuk mempertemukan masyarakat. Dua orang yang berhadapan dalam Ujungan secara simbolik menunjukkan adanya keberanian untuk menghadapi tantangan. Namun, keberanian tersebut tidak diarahkan kepada permusuhan.

Hal yang menjadi penting justru adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan diri. Peserta harus mampu menerima dan memberikan perlakuan sesuai aturan. Setelah kegiatan selesai, hubungan sosial tidak boleh berubah menjadi dendam atau permusuhan.

Dengan demikian, Ujungan mengajarkan bahwa kekuatan harus ditempatkan di bawah kendali etika.
Makna Filosofis Ujungan
1. Simbol Keberanian

Ujungan mengandung nilai keberanian. Seseorang yang memasuki arena harus memiliki kesiapan mental untuk menghadapi lawan.

Akan tetapi, keberanian dalam tradisi ini bukan keberanian yang bersifat destruktif. Keberanian justru diarahkan untuk menghadapi rasa takut, mengendalikan emosi, dan menerima konsekuensi dari tindakan.

Dalam perspektif pendidikan karakter, nilai tersebut dapat dikembangkan menjadi keberanian untuk menghadapi tantangan kehidupan dengan tetap berpegang pada norma dan etika.

2. Simbol Pengendalian Diri
Nilai yang sangat penting dalam Ujungan adalah pengendalian diri.

Kemampuan menggunakan kekuatan fisik harus diimbangi dengan kemampuan mengendalikan emosi. Peserta tidak diperkenankan menjadikan permainan sebagai sarana melampiaskan kemarahan atau dendam.

Nilai ini sejalan dengan ajaran Hindu mengenai pengendalian diri. Dalam kehidupan beragama, manusia tidak hanya dituntut memiliki kekuatan, tetapi juga mampu mengendalikan pikiran, perkataan, dan perbuatannya.

Dengan demikian, Ujungan dapat dimaknai sebagai media pendidikan untuk membentuk pribadi yang memiliki kekuatan sekaligus mampu menggunakan kekuatan tersebut secara bertanggung jawab.

3. Simbol Persaudaraan
Paradoks Ujungan terletak pada bentuknya yang tampak seperti pertarungan, tetapi tujuan sosialnya justru dapat menguatkan persaudaraan.

Dua orang yang berhadapan tidak ditempatkan sebagai musuh dalam kehidupan sehari-hari. Mereka hanya berperan sebagai pasangan dalam permainan yang memiliki aturan tertentu.
Setelah permainan selesai, hubungan persaudaraan kembali menjadi dasar kehidupan bersama.

Dalam konteks masyarakat Tengger, nilai ini sangat penting karena kehidupan masyarakat dibangun melalui semangat guyub, rukun, gotong royong, dan saling menghormati.

4. Simbol Sportivitas
Ujungan juga mengandung nilai sportivitas. Setiap peserta harus menerima aturan permainan dan menghormati lawan.
Sportivitas mengajarkan bahwa kemenangan bukanlah satu-satunya tujuan. Yang lebih penting adalah kemampuan menjalankan proses secara jujur, tertib, dan bertanggung jawab.

Dengan demikian, Ujungan mempunyai relevansi dengan pendidikan karakter generasi muda karena mengajarkan sikap menerima hasil, menghormati orang lain, dan tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk bermusuhan.

5. Simbol Pelepasan Konflik
Secara simbolik, Ujungan dapat dimaknai sebagai ruang untuk melepaskan ketegangan dan potensi konflik secara terkontrol.

Pukulan yang terjadi dalam arena memiliki batas dan aturan. Setelah permainan selesai, tidak semestinya terdapat dendam pribadi.

Makna tersebut memperlihatkan adanya mekanisme budaya untuk mengubah energi konflik menjadi hubungan sosial yang lebih konstruktif.

6. Penguatan Identitas Budaya Tengger
Ujungan juga mempunyai fungsi sebagai penanda identitas budaya. Di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi, tradisi lokal menjadi salah satu sarana untuk mengenalkan generasi muda kepada warisan leluhurnya.

Pelestarian Ujungan bukan berarti mempertahankan seluruh bentuk lama tanpa perubahan. Pelestarian harus dilakukan dengan memahami nilai yang terkandung di dalamnya dan menyesuaikannya dengan kebutuhan masyarakat masa kini tanpa menghilangkan makna dasarnya.

Perspektif Hindu

Dalam perspektif Hindu, tradisi masyarakat tidak selalu dapat dipahami hanya melalui bentuk lahiriahnya. Nilai yang terdapat di balik suatu tindakan menjadi bagian penting dalam memahami makna kebudayaan.

Ujungan dapat direfleksikan melalui prinsip Tri Kaya Parisudha, yaitu penyucian pikiran, perkataan, dan perbuatan. Kekuatan fisik dalam Ujungan harus dikendalikan oleh pikiran yang baik, dilaksanakan dengan perkataan yang sesuai dengan norma, dan diwujudkan melalui tindakan yang tidak menimbulkan permusuhan.

Tradisi tersebut juga dapat dikaitkan dengan nilai Tat Twam Asi, yaitu kesadaran bahwa diri sendiri dan orang lain memiliki hakikat kemanusiaan yang harus dihormati.

Walaupun seseorang berada dalam posisi sebagai lawan dalam arena, ia tetap merupakan bagian dari masyarakat dan saudara dalam kehidupan sosial. Oleh sebab itu, tidak boleh ada kebencian yang dibawa keluar dari arena.

Dengan demikian, nilai utama Ujungan bukanlah kekerasan, melainkan pengendalian kekuatan melalui dharma.

Nilai Pendidikan Karakter

Ujungan mempunyai sejumlah nilai pendidikan yang relevan bagi generasi muda, antara lain:

1. Keberanian, yaitu kemampuan menghadapi tantangan.
2. Disiplin, yaitu menaati aturan yang telah ditentukan.
3. Sportivitas, yaitu menghormati lawan dan menerima hasil.
4. Pengendalian diri, yaitu tidak dikuasai emosi.
5. Persaudaraan, yaitu tetap menjaga hubungan setelah kegiatan selesai.
6. Tanggung jawab, yaitu memahami konsekuensi dari setiap tindakan.
7. Gotong royong, yaitu menjaga keberlangsungan tradisi secara bersama-sama.
8. Cinta budaya, yaitu mengenal dan menghargai warisan leluhur.
9. Kerukunan, yaitu menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

Nilai-nilai tersebut menjadikan Ujungan bukan hanya warisan budaya, tetapi juga sumber pembelajaran kontekstual bagi pendidikan karakter masyarakat Tengger.

Ujungan di lingkungan masyarakat Hindu Tengger Desa Argosari merupakan bagian dari kekayaan budaya yang mempunyai dimensi sosial, filosofis, dan pendidikan. Tradisi yang secara lahiriah tampak sebagai aktivitas adu fisik sesungguhnya menyimpan pesan tentang keberanian, pengendalian diri, sportivitas, persaudaraan, dan kerukunan.

Dalam perspektif Hindu Tengger, kekuatan tidak seharusnya menjadi sumber permusuhan. Kekuatan harus dikendalikan oleh kesadaran dan dharma. Karena itu, makna terdalam Ujungan dapat dirumuskan sebagai “kekuatan yang dikendalikan oleh kesadaran untuk menjaga persaudaraan.”

Ujungan dengan demikian tidak hanya menjadi warisan leluhur yang perlu dipertahankan, tetapi juga menjadi media pembelajaran bahwa perbedaan, persaingan, dan kekuatan dapat dikelola tanpa kehilangan rasa persaudaraan.

Pelestarian Ujungan di Desa Argosari perlu dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan Dukun Pandhita, sesepuh adat, tokoh masyarakat, pemuda, pelaku Ujungan, lembaga pendidikan, serta pemerintah desa, sehingga tradisi tersebut tetap hidup sebagai bagian dari identitas masyarakat Tengger sekaligus mampu memberikan nilai pendidikan bagi generasi mendatang.

Address

Desa Argosari
Lumajang
67361

Telephone

+6282236495669

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Hindu Tengger posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to Hindu Tengger:

Shortcuts

Share