Bursa Ensiklopedia

Bursa Ensiklopedia Penyalur dan mengakomodir buku - buku referensi / Ensiklopedi

29/11/2021
Silakan di lihat - lihat dulu....
15/11/2021

Silakan di lihat - lihat dulu....

Manawa...Kump**an karya terbaik Imam Nawawi...
02/11/2021

Manawa...Kump**an karya terbaik Imam Nawawi...

 'at  ...
29/10/2021

'at ...

Ensiklopedi Nabi Muhammad 10 jilid
25/10/2021

Ensiklopedi Nabi Muhammad 10 jilid

   ...Moga selalu ada Pencerahan...
23/10/2021

...Moga selalu ada Pencerahan...

MANAWA
30/09/2021

MANAWA

Tafsir Al jilani 12 jilid
11/08/2021

Tafsir Al jilani 12 jilid

Dua PendidikPak Malik Fajar dan Pak Jacob Oetomo, dua pendidik dari latar yabg berbeda, menempuh jalah perjuangan yang b...
09/09/2020

Dua Pendidik

Pak Malik Fajar dan Pak Jacob Oetomo, dua pendidik dari latar yabg berbeda, menempuh jalah perjuangan yang berbeda, satu dalam ruang pendidikan formal, satu melalui media.

Jiwa pendidik tetaplah pendidik, merangkul semua perbedan dengan optimis, dialogis dan mau memahami. Meski mengambil jalan moderat membutuhkan kebijaksanaan, tapi tidak menjadi berat karena cara pandang positif.
Sebagaimana kata Pak JO, kemanusiaan menjadi aktual dalam kerja, dalam karya, demikian p**a Prof Malik mengingatkan hakikat manusia pada amal shalihnya.
Berdua, di lingkung masing-masing telah mewariskan ketauladanan kerja keras, kerja cerdas dan kerja tuntas. Ketauladanan yang sangat dibutuhkan bangsa ini.

Terimakasih amal jariah anda mengalir dalam semangat tunas-tunas bangsa untuk wujudkan kejujuran dan integtitas sebagai laku
Semoga anda berdua telah damai dalam Tuhan yang Maha Welas Asih.

Al-Būtī: Jangan "Menghakimi" Orang LainSikap menghakimi orang lain masih seringkali dijumpai dalam masyarakat kita. Meni...
27/08/2020

Al-Būtī: Jangan "Menghakimi" Orang Lain

Sikap menghakimi orang lain masih seringkali dijumpai dalam masyarakat kita. Menilai negatif orang lain secara subjektif tanpa tahu latar belakang apa yang membuatnya seperti itu terkadang justru berujung pada sikap berburuk sangka.

Buruk sangka atau dalam bahasa agama disebut su’udzan adalah sikap tercela. Kita dilarang untuk berburuk sangka kepada orang jahat, apalagi kepada orang baik-baik. Berprasangka buruk merupakan salah satu penyakit hati yang harus diperangi. Sifat ini biasanya disebabkan oleh nafsu untuk membenci orang lain.

Dalam dunia tasawuf, berburuk sangka kepada orang lain merupakan penyakit hati yang berbahaya. Bahkan, angan-angan buruk yang terlintas di benak kita saja harus segera dilenyapkan dengan cara mendustakannya. Hanya dengan cara demikian, Allah akan mengampuni kita.

Beberapa ulama menjelaskan bahwa angan-angan di dalam batin tidak selalu dikatakan ghibah atau gunjingan atas kekurangan orang lain. Akan tetapi, angan-angan itu dapat berupa kemaksiatan apa saja yang terlintas dan terbersit di benak kita. Semua pikiran negatif kepada orang lain harus segera dilenyapkan dan diganti dengan prasangka baik.

Terkait hal ini, al-Būtī pernah menceritakan pengalamannya tentang bisikan batin untuk berburuk sangka kepada orang lain. Beliau menjelaskan dalam ceramahnya, begini:

“Ada salah satu saudara kita yang selalu hadir di majelis ini. Dia hanya tidak hadir pada majelis ilmu di bulan Ramdhan saja. Saya berharap dia adalah orang yang saleh. Sebenarnya, ia memiliki jenggot yang lebat. Namun, suatu hari ia mencukur jenggotnya hingga terlihat sangat tipis. Saya berguman dalam hati untuk mengkritiknya, kenapa ia melakukan hal itu? Padahal sebelumnya jenggot Anda lebat dan indah mengapa justru dicukur hingga habis?"

Al-Būtī melanjutkan ceritanya dengan penuh penyesalan. Beliau berkata demikian:

“Hingga akhirnya kemarin Allah berikan saya sebuah pelajaran. Saya terkena musibah yang sama seperti yang terjadi pada saudara kita yang saya kritik sebelumnya dalam benak saya. Allah berikan saya musibah dengan sosok tukang cukur yang melakukan kesalahan. Ia mencukur jenggot saya hingga tipis sekali dan saya tidak bisa berbuat apa-apa. Seketika itu, saya menyesal sekali. Tiba-tiba saya teringat buruknya akhlak saya yang telah mengkritik dalam hati kepada saudara sendiri. Orang yang saya maksud saat ini memang tidak hadir, tapi saya akan meminta maaf kepadanya.”

Dengan perasaan sedih yang mendalam, al-Būtī melanjutkan ceramahnya:

"Saudara-saudaraku, kita tidak boleh asal menghakimi orang lain, sama sekali tidak boleh. Meskipun sekadar berburuk sangka dalam hati. Harusnya kita bertanya atau klarifikasi terlebih dahulu. Saya sendiri mengakui kesalahan, saya telah melakukan kritikan kepadanya tanpa tanya terlebih dahulu sebabnya. Ini karena, dengan asumsi pribadi saya bahwa perbuatan tadi layak dikritik. Maka dari itu Allah beri saya musibah yang sama seperti yang dialami saudara kita. Semoga Allah ajari kita cara beradab yang baik kepada sesama manusia.”

Begitulah sikap al-Būtī kepada orang lain. Beliau sangat berhati-hati untuk tidak melakukan apapun yang dapat melukai hati orang lain. Al-Būtī adalah ulama yang sangat lembut hatinya. Hatinya lembut karena beliau sangat menyayangi orang-orang yang ada disekitarnya.

Pesan inti dari kisah Al-Būtī adalah bahwa jangan pernah kita berburuk sangka kepada orang lain. Karena kita seringkali tidak memahami hakikatnya di balik sesuatu. Jangan jadikan asumsi pribadi untuk menghakimi dan menebar kebencian kepada orang lain.

Sudah seharusnya, sebagai muslim sejati kita harus menebarkan kasih sayang, bukan menyulut permusuhan dan apalagi kecurigaan tanpa alasan.

Semoga Allah senantiasa menjauhkan diri kita dari berprasangka buruk dan sikap membenci kepada orang lain. Sebaliknya, tumbuh suburkan cinta kasih dalam hati kami untuk seluruh ciptaan-Nya. Amin.[]

Kamis, 27 Agustus 2020
Salam,

Moh. Mufid

Al-Būtī dan Imām NawāwīSebagaimana diketahui bahwa al-Būtī hidup di negeri Syām, tepatnya di Damaskus. Al-Būtī memiliki ...
23/08/2020

Al-Būtī dan Imām Nawāwī

Sebagaimana diketahui bahwa al-Būtī hidup di negeri Syām, tepatnya di Damaskus. Al-Būtī memiliki darah keturunan Kurdi. Beliau berhijrah dari Turki ke Damaskus sejak kecil bersama ayahnya. Di Suriah al-Būtī belajar ilmu agama di salah satu lembaga pendidikan yang dipimpin Syaikh Hasan Habannakah. Di Damaskus inilah, al-Būtī mengabdikan seluruh waktunya untuk berdakwah.

Berbicara tentang al-Būtī dan Imām Nawāwī memang keduanya tidak hidup semasa. Akan tetapi, al-Būtī sejak kecil sudah mengagumi sosok Imām Nawāwī. Bahkan, sejak bergelut dengan dunia intelektual dalam kajian keilmuan Islam, kekaguman al-Būtī semakin besar.

Tidak heran, al-Būtī pernah berkata begini: “Andai Imām Nawāwī bukan termasuk seorang wali, niscaya tidak ada wali satupun di muka bumi selamanya.” Mengapa al-Būtī begitu menggagumi Imām Nawāwī?

Jawabnya, karena Imām Nawāwī adalah salah satu ulama yang diberi keistimewaan ilmu yang tinggi, sikap wara dan zuhud terhadap urusan dunia. Selain itu, karya-karya yang begitu berharga sebagai rujukan kajian keislaman, khususnya dalam tradisi fikih Mazhab Syafi’iyah.

Lebih dari itu, derajat ketakwaan Imām Nawāwī sangat tinggi. Seluruh waktunya dihabiskan untuk urusan ilmu, amal dan dakwah.

Karena sangat mengidolakan Imām Nawāwī, al-Būtī seringkali menganjurkan murid-muridnya untuk membaca wirid/zikir dari Imām Nawāwī untuk dibaca setiap hari.

Beliau bercerita begini: “Saya melihat ada keberkahan dalam Hizb Nawāwī dalam diri saya. Cayahanya terpancar terang di hati saya. Bahkan, saya juga merasakan banyak pengaruhnya dalam hidup saya. Saya sangat menganjurkan setiap muslim mencari keridhaan Allah dan mendapatkan petunjuk Ilahi melalui membaca Hizb-nya. Bacalah wirid itu setiap pagi dengan pikiran dan hati yang khusyu;”

Hubungan al-Būtī dan Imām Nawāwī tidak berhenti di situ. Karena sangat mengagumi beliau, al-Būtī pun memberikan perhatian terhadap karya-karya Imām Nawāwī. Kitab “Riyādus Sālihīn” merupakan bukti nyata bagaimana al-Būtī sangat mengagumi terhadap sosok Imām Nawāwī. Al-Būtī, mengkaji dan mensyarahi kitab tersebut dalam pengajian rutin mingguan di salah satu masjid di Damaskus dalam waktu yang cukup lama, hingga mencapai ribuan edisi kajian.

Terkait pengakuan al-Būtī tentang kekagumannya kepada Imām Nawāwī sejak kecil, dapat disimak dari testimoni beliau berikut ini:

“Bismillahirrahmanirrahim. Sungguh, Imām Nawāwī memiliki pengaruh yang besar dalam diri saya sejak kecil. Hal itu bermula dari ziarah saya ke makam beliau bersama ayah di daerah Nawā. Saat itu, usia saya masih sangat kecil. Mungkin, saat itu saya sangat terpengaruh dengan cintanya ayah saya kepada Imām Nawāwī. Selain itu, seringkali saya mendengarkan tentang kehebatan dan keistimewaan ilmu beliau...Saya sungguh benar-benar terpukau dengan pribadi Imām Nawāwī saat membandingkan beliau dengan ulama-ulama di era sebelum dan sesudahnya. Dari sisi keilmuan fikih mazhab Syāfi’iyah dan disiplin ilmu lainnya seperti hadis dari berbagai aspeknya: riwāyah, dirāyah dan ilmu al-rijāl. Lebih dari itu semua, di samping Imām Nawāwī sangat zuhud juga berpegang teguh pada sunah Nabi dan senantiasa menjauhi perbuatan bid’ah. Inilah yang menjadikan karya-karyanya dikaji dan dijadikan rujukan di berbagai belahan dunia dan lintas generasi…”

Sekilas dapat dipahami, betapa besar perhatian dan pengaruh Imām Nawāwī dalam hidup al-Buti. Bahkan, beliau sendiri menjadikan Imām Nawāwī sebagai teladan dalam membela agama Islam.

Karya-karya al-Būtī juga banyak terinspirasi dari karya Imām Nawāwī. Misalnya, ketertarikan al-Būtī di bidang sastra juga terisnpirasi dari sosok Imām Nawāwī yang pakar di bidang tersebut. Tak heran, jika al-Būtī sangat terispirasi dari kitab Imām Nawāwī yang berjudul, “Tahzīb al-Asmā wa al-Lughah.”[]

Wallahu a'lam.

Sabtu dini hari, 22 Agustus 2020
Salam,

Moh. Mufid
Penulis Buku " Islam Teduh"

Address

Jalan Salak No. 7 Cakranegara Mataram
Lombok
83654

Telephone

0818536867

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Bursa Ensiklopedia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share