27/05/2026
Ribuan Jamaah Padati Masjid Jami' Nurul Hidayah, Maknai Idul Adha dengan Teladan Keluarga
Langko, 27 Februari 2026 – Suasana khidmat dan penuh keberkahan menyelimuti Masjid Jami' Nurul Hidayah, Dusun Langko, pada Rabu pagi bertepatan dengan 10 Dzulhijjah 1447 Hijriah. Ribuan jamaah dari masyarakat sekitar telah berdatangan sejak pagi hari, memenuhi halaman dan ruang masjid dengan penuh semangat untuk melaksanakan sholat Idul Adha, salah satu ibadah besar yang menjadi simbol pengorbanan, ketaatan, dan persaudaraan umat Islam.
Jamaah hadir dengan tertib dan teratur, di mana jamaah laki-laki menempati lantai bawah masjid, sementara jamaah perempuan memenuhi lantai atas, semuanya bersatu dalam niat menyembah Allah SWT. Acara berjalan lancar dipandu oleh Saeful Huna selaku Pembawa Acara (MC), dengan Ustadz Muhammad Fikri Budi Utama bertindak sebagai Sintu atau Hadi yang memandu jalannya ibadah.
Tepat pukul 07.00 WITA, rangkaian utama perayaan dimulai. Sebelum pelaksanaan sholat berjamaah, suasana masjid dan sekitarnya digemaikan dengan lantunan takbir, tahlil, dan tahmid yang merdu dan menggetarkan hati. Takbir ini dibacakan secara bergantian dan bersahut-sahutan oleh para mukabbir, di antaranya Bapak Sahabudin, Bapak Muhammad Amin, dan Bapak Misbah. Suara takbir yang berkumandang menjadi penanda kebesaran Allah SWT dan kegembiraan umat dalam menyambut hari raya yang agung ini.
Setelah suasana semakin khusyuk, sholat Idul Adha dilaksanakan berjamaah di bawah pimpinan Imam sekaligus Khotib, TGH. SAFRI, S.Sos.I., M.H. Usai sholat, beliau menyampaikan khutbah yang mendalam dan menyentuh hati, yang dibuka dengan pembacaan firman Allah SWT dari Surat Al-Kautsar. Surat yang menjadi tanda kenikmatan luar biasa dari Allah ini menjadi pengantar utama untuk memaknai esensi Idul Adha: sebagai momen syukur, pengorbanan, dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Sang Pencipta.
Dalam penyampaian materinya, TGH. SAFRI menjelaskan bahwa perayaan Idul Adha tidak hanya sekadar ibadah seremonial, tetapi mencakup rangkaian amalan mulia yang diajarkan agama. Mulai dari puasa Arafah yang pahalanya diharapkan dapat menghapus dosa-dosa dua tahun lalu, pemotongan hewan qurban sebagai wujud ketaatan dan sarana berbagi kebahagiaan, hingga mengumandangkan takbir di mana-mana. Semua amalan ini, tegas beliau, harus diniatkan semata-mata untuk mencari ridho Allah SWT, bukan sekadar pamer atau pelaksanaan tradisi yang kosong makna.
Lebih lanjut, TGH. SAFRI mengangkat kisah keteladanan Nabi Ibrahim A.S. beserta keluarganya, serta teladan agung Nabi Muhammad SAW sebagai acuan utama bagi seluruh umat Islam. Beliau menekankan bahwa keluarga Nabi Ibrahim adalah contoh nyata dari keluarga yang penuh ketaatan, kepercayaan, dan semangat pengorbanan yang tinggi. Dari kisah perjalanan hidup beliau dan keluarganya, dikaitkan p**a dengan sunnah Rasulullah SAW, dirumuskanlah lima aspek ketauladanan keluarga yang harus diterapkan oleh setiap umat Islam dalam membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah, lengkap dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadis yang menguatkannya:
1. Kemandirian Nilai dan Berpegang Teguh pada Ajaran Islam
Aspek pertama adalah menjadikan nilai-nilai Islam sebagai landasan utama dalam setiap langkah kehidupan keluarga, sehingga tidak mudah terombang-ambing oleh arus atau budaya yang bertentangan dengan syariat. Dalam hal ini, TGH. SAFRI mengingatkan firman Allah SWT: "Pantaskah kau menjadikan berhala sebagai sembahanmu?" (QS. Az-Zukhruf: 20 dan makna ayat sejenis). Ayat ini mengajarkan kita untuk tidak meletakkan selain Allah sebagai tujuan hidup, serta menjaga akidah agar tetap murni dan tidak tercampuri hal-hal yang merusak iman. Keluarga yang kuat adalah keluarga yang imannya kokoh dan tidak bergantung pada selain Allah.
2. Ketahanan Melalui Kemandirian Ekonomi dan Semangat Berusaha
Kedua, keluarga harus memiliki ketahanan ekonomi yang baik melalui kerja keras dan usaha yang halal. Beliau mengaitkan hal ini dengan peristiwa Sa’i yang dilakukan Siti Hajar berlari antara bukit Shafa dan Marwah demi mencari air untuk putranya, Nabi Ismail A.S. Sa’i adalah simbol usaha, perjuangan, dan kerja keras tanpa henti. Artinya, kemandirian ekonomi tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus dibangun dengan semangat pantang menyerah, kejujuran, dan senantiasa mengandalkan rezeki yang halal dari Allah SWT.
3. Tahan Menghadapi Goncangan dan Menjaga Keharmonisan Keluarga
Setiap keluarga pasti menghadapi ujian dan goncangan, baik yang datang dari dalam maupun luar rumah. Kunci agar keluarga tetap utuh, damai, dan kokoh berdiri adalah dengan mempererat hubungan antaranggota keluarga, terutama konsolidasi yang kuat antara suami dan istri, serta hubungan harmonis antara orang tua dan anak. Sebagai pegangan utama, beliau mengutip sabda Rasulullah SAW: "Sebaik-baik kamu adalah orang yang paling baik kepada keluarganya." (HR. Tirmidzi).
Beliau juga mencontohkan dialog indah dan penuh kepercayaan antara Nabi Ibrahim A.S. dan putranya, Nabi Ismail A.S., ketika turun perintah Allah untuk menyembelih putra tercinta itu. Sikap Nabi Ismail yang merespons dengan "Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar", menunjukkan betapa pentingnya komunikasi yang baik, kepercayaan penuh, dan ketaatan anggota keluarga kepada perintah Allah serta kebijaksanaan orang tua.
4. Kesalehan Sosial dan Peran Aktif di Tengah Masyarakat
Keluarga yang saleh tidak hanya pandai menjaga hubungan baik dengan Allah, tetapi juga harus mampu membangun hubungan yang baik dan bermanfaat dengan sesama manusia. Kesalehan individu dan keluarga harus mampu dipancarkan menjadi manfaat bagi lingkungan sekitar. TGH. SAFRI mengingatkan firman Allah SWT yang bermakna: "Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat untuk manusia lainnya." Oleh karena itu, keluarga Islam harus menjadi pelopor kebaikan, saling menolong, berbagi rezeki, dan menjadi solusi bagi masalah yang ada di masyarakat, sebagaimana makna hakiki di balik penyembelihan hewan qurban yang dagingnya dibagikan kepada yang membutuhkan.
5. Mampu Menyelesaikan Masalah dengan Bijak dan Optimis
Aspek terakhir adalah kemampuan menyelesaikan masalah yang dihadapi bersama. Beliau mengingatkan bahwa dalam ajaran Islam, tidak ada masalah yang datang tanpa disertai jalan keluarnya, asalkan kita menghadapinya dengan sabar, berpikir jernih, kembali kepada Allah, dan berpegang teguh pada syariat-Nya. Keluarga yang kuat adalah keluarga yang tidak mudah menyerah saat masalah datang menerpa, melainkan berusaha mencari solusi terbaik dengan mengedepankan musyawarah dan nilai-nilai agama.
Setelah rangkaian sholat dan khutbah selesai sepenuhnya, suasana kebersamaan semakin terasa hangat dan akrab. Para jamaah saling bersalaman, mengucapkan selamat hari raya, saling memaafkan, dan mempererat tali persaudaraan antarwarga Dusun Langko. Acara keagamaan yang penuh makna ini kemudian ditutup dengan tradisi ziarah kubur, di mana warga berbondong-bondong menuju makam para leluhur dan kerabat untuk mendoakan keberkahan dan ampunan Allah bagi mereka yang telah mendahului kita.
Perayaan Idul Adha tahun 1447 Hijriah ini di Dusun Langko bukan sekadar pelaksanaan ibadah rutin tahunan, melainkan momen pengingat kembali akan peran vital keluarga sebagai pondasi utama kekuatan umat. Dengan meneladani nilai-nilai luhur yang dicontohkan Nabi Ibrahim A.S. dan Nabi Muhammad SAW, diharapkan masyarakat Langko semakin kokoh imannya, mandiri ekonominya, rukun sesamanya, dan selalu bermanfaat bagi lingkungan sekitar, demi terwujudnya masyarakat yang beradab, sejahtera, dan penuh keberkahan.