Nurul Hidayah TV

Nurul Hidayah TV Fanspage resmi Dewan Kemakmuran Masjid Jami' "Nurul Hidayah" Langko

Alamat: Jln. Darma Bhakti Desa Langko Kec. Lingsar Kab. Lombok Barat Prov. NTB, Kode pos 83371

Ribuan Jamaah Padati Masjid Jami' Nurul Hidayah, Maknai Idul Adha dengan Teladan Keluarga Langko, 27 Februari 2026 – Sua...
27/05/2026

Ribuan Jamaah Padati Masjid Jami' Nurul Hidayah, Maknai Idul Adha dengan Teladan Keluarga

Langko, 27 Februari 2026 – Suasana khidmat dan penuh keberkahan menyelimuti Masjid Jami' Nurul Hidayah, Dusun Langko, pada Rabu pagi bertepatan dengan 10 Dzulhijjah 1447 Hijriah. Ribuan jamaah dari masyarakat sekitar telah berdatangan sejak pagi hari, memenuhi halaman dan ruang masjid dengan penuh semangat untuk melaksanakan sholat Idul Adha, salah satu ibadah besar yang menjadi simbol pengorbanan, ketaatan, dan persaudaraan umat Islam.

Jamaah hadir dengan tertib dan teratur, di mana jamaah laki-laki menempati lantai bawah masjid, sementara jamaah perempuan memenuhi lantai atas, semuanya bersatu dalam niat menyembah Allah SWT. Acara berjalan lancar dipandu oleh Saeful Huna selaku Pembawa Acara (MC), dengan Ustadz Muhammad Fikri Budi Utama bertindak sebagai Sintu atau Hadi yang memandu jalannya ibadah.

Tepat pukul 07.00 WITA, rangkaian utama perayaan dimulai. Sebelum pelaksanaan sholat berjamaah, suasana masjid dan sekitarnya digemaikan dengan lantunan takbir, tahlil, dan tahmid yang merdu dan menggetarkan hati. Takbir ini dibacakan secara bergantian dan bersahut-sahutan oleh para mukabbir, di antaranya Bapak Sahabudin, Bapak Muhammad Amin, dan Bapak Misbah. Suara takbir yang berkumandang menjadi penanda kebesaran Allah SWT dan kegembiraan umat dalam menyambut hari raya yang agung ini.

Setelah suasana semakin khusyuk, sholat Idul Adha dilaksanakan berjamaah di bawah pimpinan Imam sekaligus Khotib, TGH. SAFRI, S.Sos.I., M.H. Usai sholat, beliau menyampaikan khutbah yang mendalam dan menyentuh hati, yang dibuka dengan pembacaan firman Allah SWT dari Surat Al-Kautsar. Surat yang menjadi tanda kenikmatan luar biasa dari Allah ini menjadi pengantar utama untuk memaknai esensi Idul Adha: sebagai momen syukur, pengorbanan, dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Sang Pencipta.

Dalam penyampaian materinya, TGH. SAFRI menjelaskan bahwa perayaan Idul Adha tidak hanya sekadar ibadah seremonial, tetapi mencakup rangkaian amalan mulia yang diajarkan agama. Mulai dari puasa Arafah yang pahalanya diharapkan dapat menghapus dosa-dosa dua tahun lalu, pemotongan hewan qurban sebagai wujud ketaatan dan sarana berbagi kebahagiaan, hingga mengumandangkan takbir di mana-mana. Semua amalan ini, tegas beliau, harus diniatkan semata-mata untuk mencari ridho Allah SWT, bukan sekadar pamer atau pelaksanaan tradisi yang kosong makna.

Lebih lanjut, TGH. SAFRI mengangkat kisah keteladanan Nabi Ibrahim A.S. beserta keluarganya, serta teladan agung Nabi Muhammad SAW sebagai acuan utama bagi seluruh umat Islam. Beliau menekankan bahwa keluarga Nabi Ibrahim adalah contoh nyata dari keluarga yang penuh ketaatan, kepercayaan, dan semangat pengorbanan yang tinggi. Dari kisah perjalanan hidup beliau dan keluarganya, dikaitkan p**a dengan sunnah Rasulullah SAW, dirumuskanlah lima aspek ketauladanan keluarga yang harus diterapkan oleh setiap umat Islam dalam membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah, lengkap dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadis yang menguatkannya:

1. Kemandirian Nilai dan Berpegang Teguh pada Ajaran Islam
Aspek pertama adalah menjadikan nilai-nilai Islam sebagai landasan utama dalam setiap langkah kehidupan keluarga, sehingga tidak mudah terombang-ambing oleh arus atau budaya yang bertentangan dengan syariat. Dalam hal ini, TGH. SAFRI mengingatkan firman Allah SWT: "Pantaskah kau menjadikan berhala sebagai sembahanmu?" (QS. Az-Zukhruf: 20 dan makna ayat sejenis). Ayat ini mengajarkan kita untuk tidak meletakkan selain Allah sebagai tujuan hidup, serta menjaga akidah agar tetap murni dan tidak tercampuri hal-hal yang merusak iman. Keluarga yang kuat adalah keluarga yang imannya kokoh dan tidak bergantung pada selain Allah.

2. Ketahanan Melalui Kemandirian Ekonomi dan Semangat Berusaha
Kedua, keluarga harus memiliki ketahanan ekonomi yang baik melalui kerja keras dan usaha yang halal. Beliau mengaitkan hal ini dengan peristiwa Sa’i yang dilakukan Siti Hajar berlari antara bukit Shafa dan Marwah demi mencari air untuk putranya, Nabi Ismail A.S. Sa’i adalah simbol usaha, perjuangan, dan kerja keras tanpa henti. Artinya, kemandirian ekonomi tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus dibangun dengan semangat pantang menyerah, kejujuran, dan senantiasa mengandalkan rezeki yang halal dari Allah SWT.

3. Tahan Menghadapi Goncangan dan Menjaga Keharmonisan Keluarga
Setiap keluarga pasti menghadapi ujian dan goncangan, baik yang datang dari dalam maupun luar rumah. Kunci agar keluarga tetap utuh, damai, dan kokoh berdiri adalah dengan mempererat hubungan antaranggota keluarga, terutama konsolidasi yang kuat antara suami dan istri, serta hubungan harmonis antara orang tua dan anak. Sebagai pegangan utama, beliau mengutip sabda Rasulullah SAW: "Sebaik-baik kamu adalah orang yang paling baik kepada keluarganya." (HR. Tirmidzi).

Beliau juga mencontohkan dialog indah dan penuh kepercayaan antara Nabi Ibrahim A.S. dan putranya, Nabi Ismail A.S., ketika turun perintah Allah untuk menyembelih putra tercinta itu. Sikap Nabi Ismail yang merespons dengan "Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar", menunjukkan betapa pentingnya komunikasi yang baik, kepercayaan penuh, dan ketaatan anggota keluarga kepada perintah Allah serta kebijaksanaan orang tua.

4. Kesalehan Sosial dan Peran Aktif di Tengah Masyarakat
Keluarga yang saleh tidak hanya pandai menjaga hubungan baik dengan Allah, tetapi juga harus mampu membangun hubungan yang baik dan bermanfaat dengan sesama manusia. Kesalehan individu dan keluarga harus mampu dipancarkan menjadi manfaat bagi lingkungan sekitar. TGH. SAFRI mengingatkan firman Allah SWT yang bermakna: "Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat untuk manusia lainnya." Oleh karena itu, keluarga Islam harus menjadi pelopor kebaikan, saling menolong, berbagi rezeki, dan menjadi solusi bagi masalah yang ada di masyarakat, sebagaimana makna hakiki di balik penyembelihan hewan qurban yang dagingnya dibagikan kepada yang membutuhkan.

5. Mampu Menyelesaikan Masalah dengan Bijak dan Optimis
Aspek terakhir adalah kemampuan menyelesaikan masalah yang dihadapi bersama. Beliau mengingatkan bahwa dalam ajaran Islam, tidak ada masalah yang datang tanpa disertai jalan keluarnya, asalkan kita menghadapinya dengan sabar, berpikir jernih, kembali kepada Allah, dan berpegang teguh pada syariat-Nya. Keluarga yang kuat adalah keluarga yang tidak mudah menyerah saat masalah datang menerpa, melainkan berusaha mencari solusi terbaik dengan mengedepankan musyawarah dan nilai-nilai agama.

Setelah rangkaian sholat dan khutbah selesai sepenuhnya, suasana kebersamaan semakin terasa hangat dan akrab. Para jamaah saling bersalaman, mengucapkan selamat hari raya, saling memaafkan, dan mempererat tali persaudaraan antarwarga Dusun Langko. Acara keagamaan yang penuh makna ini kemudian ditutup dengan tradisi ziarah kubur, di mana warga berbondong-bondong menuju makam para leluhur dan kerabat untuk mendoakan keberkahan dan ampunan Allah bagi mereka yang telah mendahului kita.

Perayaan Idul Adha tahun 1447 Hijriah ini di Dusun Langko bukan sekadar pelaksanaan ibadah rutin tahunan, melainkan momen pengingat kembali akan peran vital keluarga sebagai pondasi utama kekuatan umat. Dengan meneladani nilai-nilai luhur yang dicontohkan Nabi Ibrahim A.S. dan Nabi Muhammad SAW, diharapkan masyarakat Langko semakin kokoh imannya, mandiri ekonominya, rukun sesamanya, dan selalu bermanfaat bagi lingkungan sekitar, demi terwujudnya masyarakat yang beradab, sejahtera, dan penuh keberkahan.

Siapa bilang niat baik harus menunggu kaya? Tahun ini waktunya Anda mewujudkan niat Qurban tanpa bikin kantong jebol! Be...
02/05/2026

Siapa bilang niat baik harus menunggu kaya? Tahun ini waktunya Anda mewujudkan niat Qurban tanpa bikin kantong jebol! Bersama Masjid Jami' Nurul Hidayah Langko, patungan Qurban Sapi jadi makin ringan, cuma Rp 2.200.000/orang aja! ✨

Buat Anda yang mau Qurban Kambing/Domba sendiri juga bisa, cukup Rp 3.000.000/ekor .

Kenapa harus titip Qurban di sini?
✅ Proses dijamin Sesuai Syariat
✅ Dokumentasi Lengkap & Transparan
✅ Distribusi Tepat Sasaran buat saudara kita yang membutuhkan

Pembayarannya gampang banget, tinggal scan QRIS "KHAIRIL LINK FAZZ FAZZ" di gambar atau transfer via BRI 💳 468801017437539 a.n KHAIRIL ANWAR, niat baik langsung tersalurkan!

Yuk, “Bersama Menebar Berkah di Hari Raya Idul Adha.” Jangan sampai kehabisan kuota patungnya ya!

📲 Info & Pendaftaran langsung hubungi: 📞 Zulkarnain, S.Sos. (0878-5472-8766)
📞 Ust. H. Masyhuri Az. (0819-9928-5440) Konfirmasi Transfer : Khairil Anwar (0819-1717-9717)

Atau kepoin IG kami di 👉 .langko

Ribuan Warga Lepas 10 Calon Jemaah Haji Desa Langko dalam Tradisi Serakalan yang KhidmatLINGSAR, LOMBOK BARAT– Suasana k...
22/04/2026

Ribuan Warga Lepas 10 Calon Jemaah Haji Desa Langko dalam Tradisi Serakalan yang Khidmat

LINGSAR, LOMBOK BARAT– Suasana khidmat dan penuh haru menyelimuti Masjid Jami' Nurul Hidayah, Desa Langko, Kecamatan Lingsar, pada Rabu (22/04/2026). Ribuan masyarakat tumpah ruah menghadiri acara Serakalan dan doa bersama untuk melepas keberangkatan 10 orang Jemaah Calon Haji (JCH) asal desa setempat.

Acara tradisi religius ini dihadiri langsung oleh Kepala Desa Langko, pimpinan pondok pesantren se-Desa Langko, tokoh agama, serta tokoh masyarakat. Kehadiran ribuan jemaah menunjukkan kuatnya ikatan silaturahmi dan dukungan spiritual warga bagi para calon tamu Allah tersebut.

Adapun 10 JCH yang akan berangkat tahun ini adalah: Sahman, S.Pd., Senah, Samiah, Munggah, Nurhasanah, S.Pd., Minare, Heriady M., Masnah, Muhammad Roji bersama istrinya.

Acara diawali dengan pembacaan Kitab Barzanji yang dilantunkan merdu oleh Syahrul Mubaroaq, S.E. Prosesi Serakalan kemudian dipimpin secara khusyuk oleh Ust. Ahmad Nadzri, S.Pd., yang diikuti oleh seluruh jemaah yang memenuhi ruang utama hingga selasar masjid.

Melengkapi kekhusyukan acara, sesi zikir bersama digelar untuk memperkuat batin para calon tamu Allah. Lantunan zikir dan istighfar yang dipimpin oleh Ustadz Ahmad Madani, S.Pd.I., menggema di dalam masjid, membawa suasana spiritual yang mendalam bagi seluruh jemaah yang hadir.

Sebelum memasuki sesi doa, TGH. Sazali, Lc., M.A., memberikan tausiyah singkat berisi pesan-pesan fundamental bagi para JCH. Dalam pesannya, beliau menekankan pentingnya menjaga ketakwaan di atas segalanya.

"Lepaskanlah segala urusan duniawi yang masih membelenggu hati. Bekal paling utama menuju tanah suci bukanlah harta, melainkan ketakwaan kepada Allah SWT," pesan TGH. Sazali mengutip hadis Rasulullah SAW.

Beliau juga mengingatkan para JCH untuk menitipkan keluarga dan harta yang ditinggalkan sepenuhnya kepada Allah SWT. Selain itu, jemaah disarankan untuk melaksanakan salat sunnah Safar dua rakaat dan istikamah membaca Ayat Kursi agar senantiasa dalam perlindungan-Nya selama di perjalanan.

"Sebagai musafir, buanglah rasa ragu dan amarah. Serahkan semua kebutuhan hidup kepada Allah. Jangan sekadar bangga melihat kemegahan Ka'bah atau Masjidil Haram, tetapi banggalah karena kalian adalah hamba yang terpilih memenuhi panggilan Allah," tambahnya.

Rangkaian acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh TGH. Safri, S.Sos.I., M.H., memohon keselamatan dan kelancaran bagi para jemaah agar meraih predikat haji mabrur.

Suasana haru mencapai puncaknya saat acara bersalam-salaman. Ribuan warga yang hadir mengantre untuk memberikan ucapan selamat dan doa restu kepada 10 JCH. Prosesi ini menjadi simbol pelepasan secara adat dan agama, menandai dimulainya perjalanan spiritual suci bagi warga Desa Langko menuju Baitullah.(hun)

21/03/2026

Halal bil halal (salam-salaman) setelah sholat idul fitri 1 syawal 1447 Hijriah.

21/03/2026

Khutbah Idul Fitri 1 Syawal 1447 H.

Muhasabah di Malam ke-27 Ramadan 1447 H di Masjid Jami’ Nurul Hidayah LangkoLangko – Jamaah Masjid Jami’ Nurul Hidayah L...
16/03/2026

Muhasabah di Malam ke-27 Ramadan 1447 H di Masjid Jami’ Nurul Hidayah Langko

Langko – Jamaah Masjid Jami’ Nurul Hidayah Langko kembali memakmurkan malam-malam terakhir bulan suci Ramadan dengan melaksanakan rangkaian ibadah pada malam ke-27 Ramadan 1447 H. Kegiatan tersebut berlangsung dengan khusyuk dan diikuti oleh masyarakat sekitar yang memadati masjid untuk melaksanakan salat berjamaah serta mendengarkan tausiah singkat (kultum).

Pada malam tersebut, Ust. Ahmad Nadzri, S.Pd. bertindak sebagai imam salat sekaligus penyampai kultum, sementara Bapak Sahabudin menjalankan tugas sebagai sintu yang membantu mengatur jalannya kegiatan ibadah di masjid.

Mengingatkan Jamaah Tentang Akhir Ramadan

Dalam kultumnya, Ust. Ahmad Nadzri mengingatkan para jamaah bahwa mereka telah berada di penghujung bulan Ramadan, sebuah waktu yang sangat berharga bagi setiap muslim untuk memperbanyak amal ibadah serta melakukan muhasabah atau introspeksi diri.

“Kita saat ini berada di saat-saat berakhirnya bulan Ramadan. Inilah waktu terbaik untuk melihat kembali diri kita, apakah selama bulan suci ini keimanan dan ketakwaan kita benar-benar meningkat,” ujar Ust. Ahmad Nadzri di hadapan jamaah.

Beliau menegaskan bahwa keberkahan Ramadan tidak hanya terletak pada banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi juga pada perubahan sikap dan kedekatan seorang hamba kepada Allah SWT.

Kekhawatiran Para Ulama dan Orang Saleh

Dalam penyampaiannya, beliau juga menyinggung sikap para ulama dan orang-orang saleh terdahulu yang lebih mengkhawatirkan diterimanya amal ibadah daripada memikirkan hal-hal duniawi menjelang hari raya.

Beliau menyampaikan sebuah atsar yang dinisbatkan kepada para ulama salaf:

“Sesungguhnya aku tidak khawatir jika pada hari raya aku tidak memiliki pakaian baru. Akan tetapi yang aku khawatirkan hingga membuatku menangis adalah apakah Allah menerima amal ibadahku dan apakah aku mampu meningkatkan ketakwaan kepada-Nya.”

Pesan tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Ma’idah: 27)

Menurut Ust. Ahmad Nadzri, ayat ini menjadi pengingat bahwa kualitas ketakwaan seseorang sangat menentukan diterima atau tidaknya amal ibadah yang dilakukan.

Pertanyaan Besar Setelah Ramadan

Lebih lanjut, beliau mengajak jamaah untuk merenungkan sebuah pertanyaan penting: apakah semangat ibadah yang dijalani selama Ramadan dapat dipertahankan setelah bulan suci berakhir.

“Ramadan mengajarkan kita untuk rajin salat berjamaah, membaca Al-Qur’an, dan memperbanyak sedekah. Pertanyaannya, mampukah kita mempertahankan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT setelah Ramadan berlalu?” ungkapnya.

Menurut beliau, tanda diterimanya ibadah Ramadan adalah ketika seseorang mampu terus menjaga kebaikan yang telah dilakukan selama bulan suci tersebut.

Ajakan Memaksimalkan Hari-Hari Terakhir Ramadan

Menutup kultumnya, Ust. Ahmad Nadzri mengajak seluruh jamaah untuk memanfaatkan hari-hari terakhir Ramadan dengan meningkatkan kualitas ibadah, karena tidak ada yang mengetahui apakah masih diberikan kesempatan untuk bertemu Ramadan di tahun berikutnya.

“Mari kita jaga amal ibadah kita di hari-hari terakhir Ramadan ini. Perbanyak doa, zikir, membaca Al-Qur’an, serta memohon ampunan kepada Allah SWT. Semoga Ramadan tahun ini benar-benar menjadikan kita pribadi yang lebih bertakwa,” pesannya.

Kegiatan ibadah malam itu berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Para jamaah berharap malam-malam terakhir Ramadan, khususnya malam ke-27 yang diyakini sebagai salah satu malam yang sangat mulia, dapat membawa keberkahan dan meningkatkan keimanan mereka kepada Allah SWT.(hun)

Tarawih Malam Ke-14 Ramadhan 1447 H: Menggembirakan Ramadhan, Menggapai Syafaat dan KeistimewaannyaMemasuki malam ke-14 ...
03/03/2026

Tarawih Malam Ke-14 Ramadhan 1447 H: Menggembirakan Ramadhan, Menggapai Syafaat dan Keistimewaannya

Memasuki malam ke-14 Ramadhan 1447 H, suasana masjid semakin terasa khusyuk dan penuh semangat ibadah. Jamaah hadir dengan harapan memperoleh limpahan rahmat di pertengahan bulan suci ini. Bertindak sebagai imam pada sholat Isya dan Tarawih adalah Ust. Subayyin, S.Pd., sementara yang bertugas sebagai sintu adalah Bapak Muhammad Amin, S.Pd.

Dalam kultumnya, Ust. Subayyin menyampaikan bahwa Ramadhan sering disebut sebagai bulan yang mulia dan agung. Penyebutan itu bukan tanpa alasan, karena begitu banyak keistimewaan yang Allah SWT anugerahkan di dalamnya.

“Ramadhan bukan bulan biasa,” ujar beliau. “Ia adalah bulan yang penuh kemuliaan, bulan yang Allah istimewakan dibanding bulan-bulan lainnya.”

Beliau mengutip sebuah hadis yang menjelaskan keutamaan menyambut Ramadhan dengan penuh kegembiraan. Rasulullah SAW bersabda bahwa barang siapa yang bergembira dengan datangnya bulan suci Ramadhan, maka Allah SWT mengharamkan api neraka baginya.

“Kegembiraan itu wujudnya bisa berbeda-beda,” jelas beliau. “Ada yang menyambut dengan memperbanyak ibadah, ada yang membersihkan hati, ada p**a yang mempersiapkan diri dengan memperbaiki amal. Semua itu bagian dari rasa syukur.”

Beliau mengingatkan bahwa Ramadhan hendaknya dijadikan momentum untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kepada Allah SWT. Bukan sekadar menjalankan rutinitas tahunan, tetapi benar-benar menjadi sarana perubahan diri.

Keistimewaan berikutnya yang disampaikan adalah bahwa Ramadhan merupakan bulan mustajab untuk berdoa. Allah SWT membuka pintu langit selebar-lebarnya bagi hamba-Nya yang memohon.

“Terlebih pada hari Jumat,” tutur beliau, “di antara waktu azan pertama hingga azan kedua terdapat saat-saat yang sangat makbul untuk berdoa.”

Namun sering kali manusia tidak menyadari bahwa doa-doanya sebenarnya telah dikabulkan, hanya saja bentuk pengabulannya tidak selalu sesuai dengan yang diharapkan.

“Kadang Allah mengabulkan dengan cara yang berbeda,” ujar beliau. “Bukan menolak, tetapi mengganti dengan yang lebih baik.”

Beliau juga menyampaikan bahwa ada tiga doa yang sangat mustajab sebagaimana disebutkan dalam hadis Rasulullah SAW: doa orang yang berpuasa, doa musafir, dan doa orang yang terzalimi.

“Jangan remehkan doa orang yang sedang berpuasa,” tegas beliau. “Apalagi doa orang yang teraniaya, karena antara doa itu dan Allah tidak ada penghalang.”

Keistimewaan ketiga yang dijelaskan adalah bahwa puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat bagi orang yang mengamalkannya dengan ikhlas.

Dalam hadis disebutkan bahwa puasa dan Al-Qur’an akan datang pada hari kiamat memberi pembelaan bagi hamba yang menjalankannya.Karena itu, membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan bukan sekadar rutinitas, tetapi investasi akhirat yang kelak akan menjadi penolong.

Keistimewaan keempat adalah sedekah. Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang paling dermawan, dan kedermawanan beliau semakin meningkat di bulan Ramadhan.

“Sebaik-baik sedekah adalah sedekah di bulan Ramadhan,” ujar beliau. “Karena pada bulan ini pahala dilipatgandakan dan keberkahan diturunkan.”Beliau mengajak seluruh jamaah untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Ramadhan masih menyimpan banyak keistimewaan lain yang tidak mungkin disebutkan satu per satu dalam satu majelis.

“Semoga kita termasuk orang-orang yang benar-benar memanfaatkan Ramadhan,” tutup beliau, “bukan hanya melewatinya, tetapi meraih kemuliaan dan ampunan di dalamnya.”

Malam Tarawih ke-14 pun ditutup dengan doa bersama, penuh harap agar setiap amal yang dilakukan di bulan yang agung ini menjadi sebab turunnya rahmat, ampunan, dan keselamatan dari api neraka. Semoga kita termasuk hamba-hamba yang mendapatkan seluruh keistimewaan Ramadhan.(hun)

Tarawih Malam Ke-10 Ramadhan 1447 H: Dua Kebahagiaan dan Empat Golongan yang Dirindukan SurgaMalam ke-10 Ramadhan 1447 H...
27/02/2026

Tarawih Malam Ke-10 Ramadhan 1447 H: Dua Kebahagiaan dan Empat Golongan yang Dirindukan Surga

Malam ke-10 Ramadhan 1447 H menjadi penanda bahwa sepuluh hari pertama bulan suci hampir berlalu. Jamaah kembali memenuhi masjid untuk menunaikan sholat Isya dan Tarawih berjamaah. Bertindak sebagai imam sekaligus penceramah (kultum) pada malam tersebut adalah Ust Sanusi Sani, sementara yang bertugas sebagai sintu adalah Bapak Abdul Karim.

Kultum malam ini merupakan sambungan dari tausiyah sebelumnya, yang mengajak jamaah untuk memaksimalkan kesempatan beribadah di bulan penuh keberkahan ini.

Ust. Sanusi Sani membuka tausiyah dengan mengutip sebuah hadis Rasulullah SAW tentang keutamaan puasa:

“Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan yang akan ia rasakan: kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-nya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Beliau menjelaskan bahwa kebahagiaan pertama adalah saat berbuka puasa. Setelah seharian menahan lapar, haus, dan hawa nafsu, datanglah waktu berbuka sebagai bentuk rahmat dan karunia Allah SWT.

“Kebahagiaan berbuka bukan hanya karena makanan dan minuman,” ujar beliau, “tetapi karena kita telah berhasil menjaga amanah puasa hingga waktu yang ditentukan.”

Namun kebahagiaan yang kedua jauh lebih besar, yaitu kebahagiaan ketika seorang hamba bertemu dengan Allah SWT, Sang Pencipta alam semesta, dengan membawa bekal amal saleh.

“Bayangkan,” tutur beliau dengan penuh harap, “kita menghadap Allah dengan membawa pahala puasa, sholat, sedekah, dan bacaan Al-Qur’an. Itulah kebahagiaan yang sesungguhnya.”

Beliau menegaskan bahwa Allah SWT tidak pernah mengingkari janji-Nya. Kebahagiaan hakiki disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Sebagaimana firman Allah SWT bahwa surga disediakan bagi mereka yang beriman dan beramal saleh.

Dalam lanjutan kultumnya, Ust. Sanusi Sani menyampaikan sebuah sabda Rasulullah SAW bahwa sesungguhnya surga merindukan orang-orang yang termasuk dalam empat kategori.

“Pertama,” jelas beliau, “orang yang gemar membaca Al-Qur’an.”

Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Maka sudah sepatutnya interaksi kita dengan kitab suci semakin intens. Membaca, memahami, dan mengamalkan isi kandungannya.

“Jangan sampai Ramadhan berlalu tanpa kita khatam Al-Qur’an,” pesan beliau. “Kalau belum mampu khatam, jangan tinggalkan hari tanpa membaca walau beberapa ayat.”

Kedua, orang-orang yang mampu menjaga lisannya.

Beliau mengingatkan sabda Rasulullah SAW: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

"Lisan ini ringan,” ujar beliau, “tetapi akibatnya bisa berat. Jangan mengucapkan sesuatu yang tidak bermanfaat, apalagi sampai menyakiti hati orang lain.”

Ketiga, orang yang gemar bersedekah, terlebih di bulan suci Ramadhan. Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang paling dermawan, dan kedermawanannya semakin bertambah di bulan Ramadhan.

“Sedekah tidak akan mengurangi harta,” tegas beliau. “Justru Allah akan melipatgandakannya dengan keberkahan.”Keempat, orang yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah SWT. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Beliau kemudian mengajak seluruh jamaah untuk memanfaatkan sisa hari-hari Ramadhan dengan sungguh-sungguh.

“Jangan sampai kita hanya mendapatkan lapar dan hausnya saja,” pesan beliau. “Mari jadikan Ramadhan ini sebagai momentum memperbanyak ibadah: sholat malam, membaca Al-Qur’an, bersedekah, berzikir, dan memperbaiki akhlak.”

Kultum malam ke-10 ditutup dengan doa agar seluruh jamaah diberi kekuatan untuk menyempurnakan ibadah hingga akhir Ramadhan dan termasuk dalam golongan yang dirindukan surga.

Semoga setiap amal yang dilakukan di bulan yang mulia ini menjadi bekal berharga saat kelak kita bertemu dengan Allah SWT. Karena kebahagiaan sejati bukan hanya saat berbuka, tetapi saat kita menghadap-Nya dengan hati yang bersih dan amal yang penuh.(hun)

Tarawih Malam Ke-9 Ramadhan 1447 H: Mensyukuri Pertemuan, Memaksimalkan KesempatanMalam ke-9 Ramadhan 1447 H kembali dip...
26/02/2026

Tarawih Malam Ke-9 Ramadhan 1447 H: Mensyukuri Pertemuan, Memaksimalkan Kesempatan

Malam ke-9 Ramadhan 1447 H kembali dipenuhi semangat ibadah dan rasa syukur. Jamaah memadati masjid untuk melaksanakan sholat Isya dan Tarawih berjamaah. Bertindak sebagai imam sekaligus penceramah (kultum) pada malam tersebut adalah Ust Sanusi Sani, sementara yang bertugas sebagai sintu adalah Bapak Abdul Karim.

Dalam kultumnya, Ust. Sanusi Sani mengajak seluruh jamaah untuk merenungi nikmat besar yang sering kali terlupakan: nikmat dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan.

“Patutlah kita bersyukur kepada Allah SWT,” beliau membuka tausiyahnya, “karena sejak bulan Rajab dan Sya’ban kita telah berdoa agar dipertemukan dengan Ramadhan.”

Beliau mengingatkan doa yang kerap dipanjatkan kaum muslimin menjelang Ramadhan:

"Allahumma barik lana fi Rajab wa Sya’ban wa ballighna Ramadhan — Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan pertemukanlah kami dengan bulan suci Ramadhan".

Doa itu bukan sekadar rangkaian kata, tetapi harapan besar agar diberi umur panjang, kesehatan, dan kesempatan beribadah. Namun, tidak semua orang mendapatkan karunia tersebut.

“Banyak yang berdoa seperti kita,” ujar beliau dengan suara yang penuh haru, “tetapi tidak semua dikabulkan. Ada yang telah lebih dahulu dipanggil oleh Allah SWT sebelum Ramadhan tiba.”

Karena itulah, dipertemukannya kita dengan Ramadhan adalah anugerah yang luar biasa. Lalu muncul pertanyaan penting: setelah Allah mempertemukan kita dengan bulan suci ini, apakah kita akan berleha-leha?

“Tentu tidak,” tegas beliau. “Ramadhan bukan bulan untuk bermalas-malasan, tetapi bulan untuk meningkatkan amal dan memperbaiki diri.”

Beliau mengajak jamaah untuk memperbanyak istighfar, memohon ampun atas segala salah dan dosa, serta memperbanyak sholawat kepada Rasulullah SAW. Ramadhan adalah momentum penyucian hati dan perbaikan akhlak.

Mengutip sabda Rasulullah SAW, beliau menjelaskan bahwa setiap amal ibadah anak cucu Adam di bulan Ramadhan akan dilipatgandakan pahalanya. Dalam hadits disebutkan bahwa kebaikan dilipatgandakan berkali-kali lipat, bahkan bisa mencapai tujuh ratus kali lipat atau lebih, sesuai dengan kehendak Allah SWT.

Beliau juga mengingatkan firman Allah SWT dalam hadits qudsi tentang keistimewaan puasa:

“Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”Perhatikan,” ujar beliau menekankan, “Allah SWT menyebut puasa secara khusus. Artinya, ganjarannya bukan sekadar hitungan biasa. Allah sendiri yang langsung memberikan balasan kepada hamba-Nya.”

Puasa mengajarkan kita untuk menahan hawa nafsu, menjaga pandangan, lisan, dan perbuatan dari hal-hal yang membatalkan atau mengurangi nilai ibadah. Tidak ada yang tahu secara pasti apakah seseorang benar-benar berpuasa selain dirinya dan Allah SWT. Di situlah letak keikhlasan dan keistimewaannya.

“Karena itu,” lanjut beliau, “kerjakan ibadah puasa ini dengan maksimal. Jangan sia-siakan kesempatan yang hanya datang satu kali dalam setahun.”Beliau menutup kultum dengan doa dan harapan agar seluruh jamaah diberikan kesehatan, kekuatan, dan kesempatan untuk menyempurnakan ibadah hingga akhir Ramadhan.

“Mudah-mudahan kita semua,” ucap beliau, “diberikan kesehatan lahir dan batin, serta dipanjangkan umur untuk menyelesaikan puasa tahun ini dengan sebaik-baiknya.”

Malam ke-9 pun ditutup dengan doa bersama yang penuh harap. Semoga setiap rakaat yang ditegakkan, setiap istighfar yang terucap, dan setiap sholawat yang dilantunkan menjadi saksi kebaikan di hadapan Allah SWT. Ramadhan adalah anugerah — dan tugas kita adalah mensyukurinya dengan amal terbaik.(hun)

Tarawih Malam Ke-8 Ramadhan 1447 H: Menahan Diri, Menggapai Fadhilah Tanpa BatasMalam ke-8 Ramadhan 1447 H kembali dipen...
25/02/2026

Tarawih Malam Ke-8 Ramadhan 1447 H: Menahan Diri, Menggapai Fadhilah Tanpa Batas

Malam ke-8 Ramadhan 1447 H kembali dipenuhi lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan saf-saf yang rapat dalam pelaksanaan sholat Isya dan Tarawih berjamaah. Pada kesempatan yang penuh keberkahan ini, bertindak sebagai imam sekaligus penceramah (kultum) adalah TGH. Safri, S.Sos.I., M.H., sementara yang bertugas sebagai sintu adalah Bapak Zulkarnain.

Suasana masjid terasa khusyuk dan hangat. Jamaah yang hadir tampak antusias mengikuti setiap rangkaian ibadah, menyadari bahwa Ramadhan adalah momentum istimewa yang tidak datang dua kali dalam setahun.

Dalam kultumnya, TGH. Safri mengawali dengan mengingatkan makna mendasar dari Ramadhan. Beliau menyampaikan bahwa secara bahasa, Ramadhan dimaknai sebagai menahan.

“Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan haus,” tutur beliau, “tetapi menahan segala sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT. Menahan amarah, menahan lisan dari perkataan yang sia-sia, dan menahan hati dari prasangka buruk.”

Beliau menjelaskan bahwa puasa memang terasa melelahkan. Banyak hal yang harus ditahan, mulai dari kebutuhan fisik hingga dorongan emosional. Namun, kelelahan itu sejatinya adalah bagian dari proses penyucian diri.

“Puasa itu berat,” ujar beliau lagi, “tetapi balasan dari Allah SWT tidak pernah kecil. Setiap usaha hamba-Nya akan dibalas dengan pahala yang sebanding, bahkan berlipat ganda.”

Ramadhan dikenal sebagai bulan penuh fadhilah, bulan di mana seluruh amal kebaikan dilipatgandakan nilainya. Amal sunnah bernilai wajib, dan amal wajib diganjar dengan pahala berlipat. Inilah bulan yang penuh kesempatan, bulan yang membuka pintu ampunan dan rahmat seluas-luasnya.

Selain itu, beliau mengingatkan bahwa Ramadhan juga merupakan bulan mustajab, bulan di mana doa-doa sangat dianjurkan untuk diperbanyak.

“Perbanyaklah berdoa di bulan ini,” pesan beliau. “Karena bisa jadi, di antara doa-doa yang kita panjatkan malam ini, ada yang langsung diijabah oleh Allah SWT.”

Mengutip sabda Rasulullah SAW, beliau menekankan bahwa dalam suasana Ramadhan seperti ini, ada ibadah-ibadah ringan yang nilainya sangat besar di sisi Allah SWT. Senyum, dzikir singkat, membantu sesama, hingga memberi makan orang yang berbuka, semuanya memiliki keutamaan yang luar biasa.

Ramadhan juga dikenal sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an. Karena itu, interaksi dengan Al-Qur’an hendaknya semakin ditingkatkan. Dalam penjelasannya, TGH. Safri mengingatkan tentang besarnya pahala membaca Al-Qur’an.

“Rasulullah SAW bersabda, barang siapa membaca satu huruf dari Al-Qur’an, maka baginya sepuluh kebaikan,” jelas beliau. “Dan Allah tidak mengatakan bahwa Alif Laam Miim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf, dan Miim satu huruf. Artinya, hanya dengan membaca Alif Laam Miim saja, kita sudah mendapatkan tiga puluh kebaikan.”

Beliau kemudian mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan malam-malam Ramadhan sebagai momentum memperbaiki diri.

“Jangan biarkan Ramadhan berlalu begitu saja,” tutup beliau dengan penuh harap. “Gunakan setiap detiknya untuk mendekat kepada Allah SWT. Karena kita tidak pernah tahu, apakah kita masih diberi kesempatan bertemu Ramadhan berikutnya.”

Tarawih malam ke-8 pun ditutup dengan doa bersama yang penuh kekhusyukan. Semoga setiap langkah menuju masjid, setiap rakaat yang didirikan, dan setiap huruf Al-Qur’an yang dibaca menjadi saksi kebaikan di hadapan Allah SWT. Ramadhan adalah kesempatan emas — menahan diri hari ini, demi kebahagiaan abadi di akhirat kelak.(hun)

Address

Jalan Dharma Bakti Desa Langko Kec. Lingsar Kab. Lombok Barat Prov
Lombok
83371

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Nurul Hidayah TV posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to Nurul Hidayah TV:

Share