PCNU Lobar

PCNU Lobar Funpage Resmi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Lombok Barat

Catatan Perjalanan Muktamar NU 35. Bagian 6: Dinamika Sidang dan Perdebatan Aturan MainPelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdla...
20/09/2026

Catatan Perjalanan Muktamar NU 35. Bagian 6: Dinamika Sidang dan Perdebatan Aturan Main

Pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama terus berjalan. Hari demi hari, berbagai agenda dilalui oleh para peserta. Namun, di balik rangkaian persidangan tersebut, muncul dinamika yang cukup kuat, terutama ketika pembahasan mulai menyentuh persoalan siapa yang akan menjadi Rais Aam dan Ketua Umum PBNU.

Menariknya, pertarungan gagasan itu justru dimulai dari aturan main.

Pada sidang pleno pembahasan tata tertib dan mekanisme pemilihan Ketua Umum, muncul dua pandangan yang cukup kuat. Di satu sisi ada kelompok yang menghendaki tetap mempertahankan mekanisme pemilihan sebagaimana aturan sebelumnya. Dalam mekanisme ini, Ketua Umum dipilih secara langsung oleh PWNU, PCNU, dan PCI, dengan prinsip satu suara untuk masing-masing peserta yang memiliki hak pilih.

Kelompok ini kemudian dikenal sebagai faksi tetap atau tetap—yakni mempertahankan mekanisme yang sudah berjalan.

Sementara di sisi lain muncul kelompok yang menghendaki perubahan mekanisme pemilihan. Mereka mendorong agar pemilihan Ketua Umum dilakukan melalui AHWA (Ahlul Halli wal Aqdi), sekaligus mengusulkan perubahan terhadap ketentuan yang mengatur mekanisme tersebut dalam AD/ART dan peraturan perkump**an NU.

Di sinilah perdebatan menjadi semakin hangat. Sebagaimana mekanisme yang berlaku, pemilihan Rais Aam dilakukan melalui AHWA. Sembilan ulama yang tergabung dalam AHWA dipilih oleh PWNU, PCNU, dan PCI. Selanjutnya, sembilan ulama tersebut bermusyawarah untuk memilih dan menetapkan Rais Aam. Rais Aam yang terpilih dapat berasal dari anggota AHWA maupun dari luar anggota AHWA.

Sementara untuk posisi Ketua Umum, mekanismenya berbeda. Ketua Umum dipilih secara langsung oleh PWNU, PCNU, dan PCI yang memiliki hak suara.

Perbedaan mekanisme inilah yang kemudian menjadi salah satu titik perdebatan paling sengit dalam sidang pleno hari kedua.

Sidang berlangsung cukup panjang. Perdebatan demi perdebatan terjadi. Masing-masing pihak menyampaikan argumentasi dan pandangannya. Suasana sidang semakin menguras tenaga karena pembahasan belum juga menemukan titik temu.

Deadlock pun terjadi. Karena tidak kunjung mencapai kata sepakat melalui musyawarah, akhirnya keputusan harus ditempuh melalui voting. Pemungutan suara dilakukan secara tertutup. Hasilnya, usulan perubahan memperoleh 450 suara dari 554 suara yang tercatat, sehingga mekanisme perubahan mendapatkan dukungan mayoritas peserta sidang.

Keputusan tersebut menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan Muktamar ke-35.

Namun, perdebatan belum berhenti sampai di sana.

Selain persoalan mekanisme pemilihan, perdebatan sengit juga terjadi ketika sidang membahas persyaratan calon Ketua Umum. Salah satu ketentuan yang mendapat perhatian besar adalah persyaratan mengenai keterlibatan calon dalam partai politik.

Muncul ketentuan bahwa calon Ketua Umum tidak sedang menjadi kader atau anggota partai politik. Jika sebelumnya pernah menjadi anggota partai politik, maka harus telah mengundurkan diri dalam jangka waktu tertentu sebelum pencalonan.

Ketentuan inilah yang kemudian populer disebut oleh peserta sidang dengan istilah “iddah politik.”

Setelah melalui pembahasan yang cukup panjang, sidang pleno akhirnya menetapkan masa iddah politik selama paling sedikit satu tahun.

Di tengah panasnya dinamika persidangan, sempat p**a terjadi kericuhan di luar ruang sidang. Hal tersebut dipicu oleh aksi protes dari salah satu pendukung calon Ketua Umum. Namun situasi tersebut tidak berlangsung lama. Kesigapan panitia, tim keamanan, dan Banser membuat keadaan dapat segera dikendalikan sehingga tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.

Hari kedua Muktamar benar-benar terasa panjang dan melelahkan. Tenaga para peserta terkuras oleh padatnya agenda dan panjangnya perdebatan. Akan tetapi, justru dalam situasi seperti itulah terasa salah satu nikmat mengikuti Muktamar: menyaksikan secara langsung bagaimana perbedaan pendapat dikelola melalui forum musyawarah.

Ada perbedaan pilihan, ada perbedaan pandangan, bahkan ada perdebatan yang cukup keras. Tetapi semuanya berada dalam satu rumah besar bernama Nahdlatul Ulama.

Di tengah perbedaan itu, ada pelajaran penting tentang bagaimana menghormati pendapat orang lain, bagaimana menyampaikan argumentasi, dan bagaimana menerima keputusan forum.

Padahal, agenda Muktamar tidak hanya berkutat pada persoalan pemilihan Ketua Umum dan Rais Aam. Masih ada agenda Bahsul Masail Maudhu'iyah, Bahsul Masail Waqi'iyah, Bahsul Masail Qanuniyah, serta sidang-sidang komisi yang membahas berbagai program organisasi.

Namun, hiruk-pikuk pembahasan mengenai persyaratan calon dan mekanisme pemilihan Ketua Umum di Komisi Organisasi seolah membuat agenda-agenda lainnya tenggelam dari perhatian. Dan perjalanan Muktamar masih berlanjut. (abs)

Lanjut ke bagian 6

Catatan perjalan Muktamar NU, Bagian 5 — Dari Sidang Pleno hingga Riuhnya Bazar TambakberasJumat, 28 Agustus 2026. Hari ...
19/09/2026

Catatan perjalan Muktamar NU, Bagian 5 — Dari Sidang Pleno hingga Riuhnya Bazar Tambakberas

Jumat, 28 Agustus 2026. Hari pertama pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama.

Pagi itu, setelah sarapan, kami berempat bersiap menuju lokasi sidang pleno. Dengan berjalan kaki, kami melangkah penuh semangat menuju Gedung Serba Guna Hasbullah Said, tempat sidang pleno dilaksanakan. Lokasinya tidak terlalu jauh dari Tower 7, tempat kami menginap.

Pagi itu kami mengenakan pakaian yang bagi warga Nahdliyin tentu sudah sangat akrab: baju putih, sarung, dan kopiah hitam. Bukan sekadar pakaian, tetapi seolah menjadi identitas yang semakin terasa ketika kami berada di tengah ribuan peserta Muktamar dari berbagai penjuru Nusantara.

Toolkit yang diberikan panitia saat registrasi tak lupa kami bawa sebagai pelengkap. Namun ada satu benda yang jauh lebih penting dan tidak boleh terlupakan: ID Card peserta Muktamar yang tergantung di leher.

ID Card itu menjadi semacam "kunci" untuk memasuki berbagai lokasi yang diperuntukkan bagi peserta. Tanpanya, jangan berharap bisa melewati pintu masuk karena setiap peserta harus melalui proses pemeriksaan dan pemindaian QR Code.

Begitu tiba di lokasi, sebelum masuk ke ruang sidang, kami menyempatkan diri berfoto berempat di photo booth yang disediakan panitia. Sebuah foto sederhana, tetapi kelak mungkin akan menjadi kenangan berharga. Sebab, kesempatan menghadiri Muktamar NU tidak datang setiap tahun—bahkan hanya sekali dalam lima tahun.

Setelah melewati pemeriksaan dan pemindaian QR Code, kami pun memasuki ruang sidang.

Wow...!

Gedung Serba Guna Hasbullah Said begitu besar. Ruangan tersebut mampu menampung ribuan peserta, dengan pendingin ruangan yang membuat suasana di dalam tetap nyaman. Tempat duduk peserta juga ditata berdasarkan wilayah provinsi, sehingga memudahkan peserta untuk menemukan tempat masing-masing.

Tepat pukul 09.00 WIB, sidang pleno secara resmi dibuka oleh pimpinan sidang, Prof. M. Nuh, DEA.

Kami duduk dengan santai mengikuti jalannya persidangan. Suasana masih terasa ringan dan bersahabat. Sesekali kami menikmati sajian snack dan kopi yang disediakan panitia, sambil bercanda ringan dengan peserta lain, khususnya teman-teman dari kabupaten lain yang masih berada dalam satu wilayah Provinsi NTB.

Materi sidang pleno pada hari pertama juga masih tergolong ringan. Pembahasannya antara lain berkaitan dengan jadwal dan rundown pelaksanaan Muktamar.

Meski pembahasannya belum memasuki persoalan-persoalan yang berat, beberapa peserta tetap menyampaikan interupsi. Menariknya, setiap interupsi dilayani dengan sabar oleh pimpinan sidang. Di sinilah kami bisa melihat bagaimana forum sebesar Muktamar dikelola dengan tata tertib dan dinamika yang khas.

Di sela-sela persidangan, ada hal lain yang tidak kalah menarik. Muktamar bukan hanya tempat bersidang. Ia juga menjadi ruang perjumpaan.

Di dalam gedung itu kami bertemu dengan peserta dari berbagai daerah. Ada yang datang dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, hingga Papua—ujung timur Indonesia.

Kami saling bersalaman, saling menyapa, dan sesekali berbincang singkat. Meskipun baru bertemu, rasanya seperti bertemu saudara lama. Mungkin karena kami dipertemukan oleh satu rumah besar: Nahdlatul Ulama.

Salah satu pertemuan yang cukup berkesan adalah ketika kami bertemu dengan seorang peserta dari PCI NU Taiwan, yang kalau tidak salah saya ingat bernama Kiai Moh. Ali Imron.

Beliau merupakan Rais Syuriyah PCI NU Taiwan. Asalnya dari Jawa Tengah dan saat ini sedang menyelesaikan studi di Taiwan.

Kami sempat berbincang dan bertukar cerita tentang s**a duka mengurus NU di luar negeri.

Bagi beliau, kehadiran di Muktamar kali ini tentu memiliki cerita tersendiri. Selain dapat mengikuti perhelatan akbar NU, Muktamar juga menjadi kesempatan untuk p**ang kampung.

Beliau bercerita bahwa seminggu sebelum Muktamar sudah p**ang ke kampung halaman. Setelah Muktamar pun tidak langsung kembali ke Taiwan, tetapi masih menyempatkan diri mampir dan menemui keluarga di kampung sebelum kembali melanjutkan aktivitasnya di Taiwan.

Cerita seperti ini mungkin terlihat sederhana. Namun justru cerita-cerita kecil semacam itulah yang membuat perjalanan Muktamar terasa hidup.

Banyak sekali perjumpaan, percakapan, dan cerita menarik yang terjadi di sela-sela Muktamar. Sebagian mungkin tidak sempat kami dokumentasikan. Sebagian lagi mungkin hanya tersimpan dalam ingatan.

Dan mungkin, itulah salah satu keindahan Muktamar: bukan hanya apa yang terjadi di ruang sidang, tetapi juga siapa saja yang kita temui di perjalanan.

Pulang dari Sidang, Menyusuri Riuhnya Tambakberas.

Sekitar pukul 11.40 WIB, sidang pleno selesai. Kami pun kembali menuju penginapan dengan berjalan kaki.

Namun perjalanan p**ang pagi itu terasa berbeda. Jalan-jalan di sekitar Tambakberas semakin ramai. Di sepanjang jalan menuju penginapan, berjejer UMKM dan pedagang yang menawarkan berbagai macam makanan, suvenir, dan oleh-oleh khas daerah.

Kami berjalan sambil melihat-lihat keramaian. Di sinilah kami semakin merasakan bahwa Muktamar bukan hanya sebuah forum organisasi. Kehadiran puluhan ribu Nahdliyin dari berbagai daerah ternyata ikut menggerakkan roda ekonomi masyarakat.

Muktamar menjadi ruang perjumpaan sekaligus ruang pemberdayaan.

Di ujung Gang VI Tambakberas, bahkan terbentang kawasan bazar yang sangat luas. Ribuan pelaku UMKM memanfaatkan momentum Muktamar untuk menawarkan dagangan mereka kepada para peserta dan pengunjung.

Bayangkan, ribuan orang datang ke Tambakberas. Mereka membutuhkan makanan, minuman, pakaian, oleh-oleh, transportasi, tempat tinggal, dan berbagai kebutuhan lainnya. Kehadiran mereka secara otomatis menciptakan perputaran ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Muktamar ternyata bukan hanya tentang sidang dan keputusan organisasi. Ada masyarakat yang ikut mendapatkan manfaat.

Ada pedagang kecil yang mendapatkan pembeli. Ada UMKM yang mendapatkan kesempatan memperkenalkan produknya.

Dan ada warga yang merasakan denyut ekonomi dari sebuah perhelatan besar Nahdlatul Ulama.

Kami terus berjalan menuju penginapan, sambil sesekali menoleh ke belakang melihat riuhnya suasana Tambakberas.

Hari pertama Muktamar baru saja dimulai. Sidang baru memasuki tahap awal.

Tetapi dari pagi itu kami sudah mendapatkan banyak cerita: tentang persidangan, tentang persaudaraan, tentang perjumpaan dengan Nahdliyin dari berbagai penjuru negeri, dan tentang bagaimana sebuah Muktamar mampu menghadirkan keramaian yang begitu besar di tengah masyarakat.

Muktamar bukan hanya untuk didengar di ruang sidang. Muktamar juga untuk dirasakan denyutnya di jalan-jalan Tambakberas. Dan perjalanan kami masih panjang. (abs)

Bersambung ke Bagian 6...

Catatan perjalanan Muktamar NU Ke 35. Bagian 4 — Subuh di Tambakberas, Ziarah dan Pembukaan MuktamarAzan Subuh membangun...
15/09/2026

Catatan perjalanan Muktamar NU Ke 35. Bagian 4 — Subuh di Tambakberas, Ziarah dan Pembukaan Muktamar

Azan Subuh membangunkan kami dari istirahat malam pertama di Tower 7, kompleks MAN 3 Jombang.

Sebagian peserta bergegas menuju masjid yang berada persis di depan tempat kami menginap. Sebagian lainnya memilih melaksanakan salat berjamaah di kamar masing-masing. Kami berempat memilih berjamaah di kamar 02, tempat kami menginap.

Usai salat, kami melanjutkan dengan zikir dan doa, sebagaimana amaliyah yang selama ini lekat dengan tradisi Nahdliyin.

Pagi itu, ada satu tujuan yang ingin kami datangi sebelum memulai aktivitas Muktamar: makam KH Abdul Wahab Hasbullah.

Beliau adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Nahdlatul Ulama, pendiri Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas sekaligus salah satu muassis dan muharrik Nahdlatul Ulama. KH Abdul Wahab Hasbullah juga telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

Berjalan menuju makam di pagi hari memberikan suasana tersendiri. Tambakberas sudah mulai ramai. Para peziarah berdatangan dari berbagai daerah. Mereka datang dengan tujuan yang sama: berziarah, bertahlil, berdoa, dan mengenang jasa para ulama yang telah mewariskan perjuangan kepada generasi setelahnya.

Seperti tradisi warga Nahdliyin ketika berziarah ke makam para wali dan ulama, kami pun melaksanakan zikir, tahlil dan doa.

Namun karena pagi itu peziarah cukup ramai, kami harus menunggu beberapa saat untuk mendapatkan kesempatan berada lebih dekat dengan makam sang muharrik.

Setelah selesai berziarah, kami bertemu dengan beberapa teman dari Lombok Tengah. Salah satunya adalah teman sesama instruktur PDPKPNU, TGH Subakti. Pertemuan itu berlangsung singkat, tetapi terasa hangat. Rupanya beliau dan rombongan baru tiba ketika kami sudah selesai berziarah.

Begitulah suasana di Tambakberas. Pertemuan dengan sesama Nahdliyin bisa terjadi di mana saja. Kadang direncanakan, kadang justru bertemu secara kebetulan. Tetapi ketika sama-sama datang dengan membawa identitas NU, suasana akrab seolah tumbuh dengan sendirinya.

Usai ziarah, kami kembali ke tempat penginapan. Sarapan pagi ternyata sudah disiapkan. Para peserta mulai memenuhi halaman sekolah. Meja dan kursi tertata di ruang terbuka, di bawah rindangnya pepohonan. Sebagian peserta memilih duduk di gazebo, sementara yang lainnya menikmati sarapan bersama di meja-meja yang telah disediakan.

Menu pagi itu adalah nasi rawon khas Jawa. Bagi kami yang datang dari Lombok, sarapan dengan rawon menjadi pengalaman tersendiri. Kuahnya yang hitam pekat dari kluwek memberikan aroma khas yang begitu kuat. Ketika kuah rawon bercampur dengan nasi hangat, ditambah potongan daging yang empuk, tauge pendek, sambal dan pelengkap lainnya, rasanya benar-benar menggugah selera.

Setelah perjalanan panjang dari Lombok menuju Jombang, sarapan sederhana di halaman sekolah itu terasa begitu nikmat.

Bukan semata karena makanannya. Tetapi karena kami menikmatinya bersama ratusan peserta Muktamar dari berbagai daerah, dalam suasana yang penuh persaudaraan.

Pagi itu kami tidak memiliki terlalu banyak agenda. Pembukaan Muktamar dijadwalkan berlangsung sore hari. Karena itu, setelah sarapan kami masih memiliki kesempatan untuk beristirahat.

Sekitar pukul 10.00 WIB, kami menyempatkan diri menuju Universitas Darul Ulum Jombang untuk melihat teman-teman rombongan PCNU Lombok Barat yang menginap di sana.

Namun sesampainya di lokasi, ternyata teman-teman sedang keluar. Kami pun tidak berlama-lama dan kembali melanjutkan aktivitas di sekitar lokasi Muktamar.

Hari semakin siang, Semakin dekat dengan waktu pembukaan, suasana Tambakberas semakin ramai. Para peserta mulai bergerak menuju lokasi pembukaan.

Akhirnya, tibalah waktu yang kami tunggu-tunggu. Kamis, 27 Agustus 2026.

Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama resmi dibuka di Lapangan Untung Surapati, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Pembukaan berlangsung sekitar pukul 15.00 WIB dan dihadiri Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Suasana pembukaan terasa khidmat. Lantunan ayat suci Al-Qur'an, Shalawat Badar, lagu Indonesia Raya, hingga Syubbanul Wathan mengiringi rangkaian acara. Ribuan peserta yang hadir seakan larut dalam satu suasana: Muktamar telah dimulai.

Ketika Presiden Prabowo menyampaikan sambutannya, ada satu momen yang cukup menarik perhatian kami. Dalam sambutannya, Presiden menyampaikan persoalan Kartu Anggota Nahdlatul Ulama (Kartanu) yang sebelumnya pernah dijanjikan oleh Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf.

Bagi kami yang hadir sebagai peserta dan bagian dari rombongan Nahdliyin Lombok Barat, pembukaan sore itu menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.

Ada p**a pemandangan lain yang menarik perhatian kami. Di bagian VIP, tampak sejumlah tokoh yang pada saat itu ramai disebut-sebut sebagai bakal calon Ketua Umum PBNU. Nama-nama seperti Gus Yahya, Gus Kikin, Gus Salam, KH Zulfa Mustofa, Gus Rozin, KH Imam Jazuli, dan Gus Yusuf menjadi bagian dari perbincangan di tengah suasana Muktamar.

Susunan tempat duduk mereka tentu saja menarik perhatian kami. Kami sempat bertanya-tanya: apakah itu sekadar kebetulan, atau memang bagian dari pengaturan tempat duduk panitia? Kami tidak tahu.

Yang jelas, pemandangan tersebut membuat suasana Muktamar semakin menarik untuk diikuti.

Perbincangan mengenai masa depan kepemimpinan NU memang menjadi salah satu dinamika yang menyertai Muktamar. Pada hari-hari berikutnya, dinamika tersebut berkembang dalam persidangan Muktamar.

Tetapi sore itu, bagi kami, yang paling terasa adalah satu hal:

Muktamar ke-35 NU telah resmi dimulai.

Dari sinilah seluruh rangkaian agenda Muktamar akan berjalan—sidang pleno, sidang komisi, pembahasan berbagai persoalan organisasi, hingga proses pemilihan kepemimpinan dan akhirnya penutupan pada 31 Agustus 2026. Secara resmi, Muktamar berlangsung selama lima hari, 27–31 Agustus 2026.

Kami datang dari Lombok Barat dengan perjalanan yang panjang. Ada yang menempuh laut belasan hingga puluhan jam. Ada yang terbang dengan pesawat. Ada yang datang sebagai peserta resmi, ada p**a yang datang sebagai warga Nahdliyin yang ingin menyaksikan langsung denyut Muktamar.

Kini semuanya berkumpul di satu tempat. Tambakberas, Jombang. Tanah yang begitu lekat dengan sejarah perjalanan Nahdlatul Ulama.

Bagi kami, perjalanan yang melelahkan itu seakan terbayar lunas ketika akhirnya bisa berdiri di tengah suasana Muktamar dan menyaksikan sendiri perhelatan besar Nahdlatul Ulama dari dekat.

Selamat bermuktamar. Muktamar riang gembira. (abs)

Dari Lombok Menuju Tambak Beras, Bagian 3 — Akhirnya Sampai di TambakberasTepat pukul 22.00 WIB, kami akhirnya sampai di...
13/09/2026

Dari Lombok Menuju Tambak Beras, Bagian 3 — Akhirnya Sampai di Tambakberas

Tepat pukul 22.00 WIB, kami akhirnya sampai di Tambakberas, Jombang. Perjalanan panjang dari Lombok yang kami tempuh melalui laut maupun udara akhirnya membawa kami ke satu tempat yang sejak beberapa minggu sebelumnya hanya ada dalam pembicaraan dan bayangan: Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang.

Kami berhenti tepat di depan pintu gerbang utama kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum. Rasa lelah perjalanan seketika bercampur dengan rasa bahagia. Di tempat inilah Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama akan berlangsung, 27–31 Agustus 2026. Di tempat inilah para Nahdliyin dari berbagai penjuru Indonesia berkumpul.

Beberapa teman yang telah lebih dahulu tiba di Tambakberas sudah menunggu kedatangan kami. Pertemuan itu tentu saja tidak kami lewatkan begitu saja.

Kami menyempatkan diri berfoto bersama, mengabadikan sebuah momen yang mungkin kelak akan menjadi kenangan berharga. Sebuah foto sederhana, tetapi siapa tahu suatu hari nanti akan menjadi cerita menarik untuk kami ceritakan kepada anak cucu:

“Dulu, kami pernah datang ke Tambakberas. Kami pernah menjadi bagian dari Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama.”

Setelah sampai di lokasi, rombongan kemudian terbagi. Empat peserta resmi langsung menuju tempat registrasi Muktamar. Sementara rombongan lainnya melanjutkan perjalanan menuju Posko PCNU Lombok Barat di Universitas Darul Ulum Jombang, untuk bergabung dengan rombongan yang sudah lebih dahulu tiba dan segera beristirahat.

Empat peserta resmi PCNU Lombok Barat yang melakukan registrasi adalah:

1. Rais Syuriyah, TGH. Muzhar Bubikhari Muslim, yang dalam pelaksanaan registrasi diwakilkan oleh Ust. Abdul Satar, S.I.Kom.

2. Katib Syuriyah, Dr. TGH. Moh. Akhyar Fadli.

3. Ketua Tanfidziyah, Prof. Dr. H. Nazar Naamy.

4. Sekretaris Tanfidziyah, Ahmad Ali Maksum, M.Si.

Sebenarnya proses registrasi ini sudah kami persiapkan jauh-jauh hari. Sekitar satu minggu sebelum keberangkatan, admin PCNU Lombok Barat telah mendaftarkan empat peserta resmi melalui tautan yang dikirimkan panitia Muktamar.

Setelah proses pendaftaran selesai, masing-masing peserta mendapatkan QR Code yang nantinya digunakan untuk proses registrasi dan pencetakan ID Card peserta resmi Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama.

Kami pun masuk ke lokasi registrasi. Pengamanan cukup ketat. Tidak semua orang bisa masuk begitu saja. Hanya mereka yang lolos proses pemindaian barcode yang diperbolehkan masuk ke area registrasi.

Namun, setelah melewati pemeriksaan awal itu, kami justru menemukan sebuah pengalaman yang cukup menyenangkan. Kami memasuki ruang tunggu yang luas dengan kursi-kursi yang tertata rapi.

Panitia menyediakan welcome drink, makanan ringan, bahkan hidangan makan malam bagi peserta. Kebetulan kami sudah makan malam dalam perjalanan dari Surabaya. Karena itu, malam tersebut kami cukup ditemani sebotol air mineral sembari menunggu proses berikutnya.

Setelah itu, kami dipersilakan menuju Ruang V, tempat registrasi peserta untuk wilayah Sulawesi, Bali, NTB, dan NTT. Prosesnya ternyata sangat sederhana. Kami cukup menunjukkan QR Code dan KTP asli.

Setelah data diverifikasi melalui sistem, proses pemberian ID Card peserta resmi dapat dilakukan. Tidak berbelit-belit. Tidak harus membawa setumpuk dokumen.

Dan yang paling mengesankan, seluruh proses tersebut berlangsung tidak lebih dari sekitar 30 menit. Bagi kami yang pernah mengalami proses registrasi Muktamar sebelumnya, pengalaman ini terasa sangat berbeda.

Ingatan kami kemudian melayang kepada pelaksanaan Muktamar sebelumnya, baik Muktamar di Lampung tahun 2021 maupun terutama Muktamar ke-33 di Jombang tahun 2015.

Saat itu sistem registrasi masih banyak dilakukan secara manual. Para kiai dan pengurus harus mengantre berjam-jam. Bahkan kami masih ingat bagaimana proses antrean berlangsung di bawah terik matahari di kawasan Stadion Jombang.

Bagi peserta yang datang dari jauh, proses seperti itu tentu menjadi pengalaman tersendiri.

Karena itulah, ketika pada Muktamar ke-35 ini kami melihat proses registrasi berlangsung cepat, tertib, dan berbasis digital, kami merasakan sebuah perubahan yang cukup besar.

Bukan berubah dalam nilai dan tradisinya, tetapi berubah dalam cara mengelola jam'iyah agar semakin sesuai dengan perkembangan zaman.

Kecepatan proses registrasi Muktamar ke-35 ini tidak terlepas dari penggunaan perangkat digital dan sistem aplikasi yang telah dikembangkan oleh Nahdlatul Ulama.

Data kepengurusan dan administrasi yang sebelumnya membutuhkan verifikasi manual kini semakin banyak tersedia dalam sistem digital.

Dalam beberapa waktu terakhir, NU memang terus mendorong transformasi digital melalui berbagai layanan berbasis aplikasi, termasuk Digdaya NU.

Ada berbagai layanan yang dikembangkan untuk membantu kebutuhan jam'iyah, mulai dari Digdaya Persuratan, Digdaya Kepengurusan, Digdaya Pesantren, dan berbagai layanan digital lainnya.

Bagi kami yang malam itu merasakan langsung manfaatnya, transformasi digital tersebut bukan lagi sekadar istilah. Kami mengalaminya sendiri. Dulu harus antre panjang dan membawa berbagai dokumen. Kini cukup dengan data yang sudah tersimpan dalam sistem, QR Code, dan KTP, proses dapat berjalan jauh lebih cepat.

Teknologi akhirnya bukan sekadar tentang perangkat dan aplikasi. Ketika digunakan dengan tepat, teknologi dapat membantu memudahkan khidmah dalam mengelola jam'iyah yang begitu besar. Dan malam itu, kami menjadi salah satu saksi kecil dari perubahan tersebut.

Setelah seluruh proses registrasi selesai, Kami kemudian diantarkan menuju tempat penginapan, mendapatkan tempat di Tower 7, tepatnya di MAN 3 Jombang, yang masih berada di dalam kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.

Lokasinya berada di Gang VI, satu arah menuju makam salah satu muassis dan muharrik Nahdlatul Ulama, KH. Abdul Wahab Hasbullah.

Setelah perjalanan panjang dari Lombok, akhirnya kami mendapatkan kesempatan untuk benar-benar beristirahat. Begitu sampai di tempat menginap, rasanya ingin segera selonjoran. Pegal dan letih yang sejak tadi tertahan akhirnya terasa juga.

Tempat kami menginap sebenarnya sederhana. Sebuah ruang kelas yang disulap menjadi tempat peristirahatan para peserta. Karpet hijau digelar menutupi lantai keramik. Di kedua sisi ruangan, kasur dan bantal yang sudah dilengkapi sprei ditata berjejer rapi. Ada sekitar 12 kasur di dalam ruangan.

Beberapa gantungan pakaian disiapkan. Beberapa meja kecil menjadi tempat meletakkan air minum. Pendingin ruangan membuat suasana kamar terasa cukup adem dan nyaman.

Yang lebih menyenangkan lagi, kami tidak sendiri. Kami sekamar dengan empat orang pengurus dari PCNU Kabupaten Dompu.

Karena sebelumnya sudah saling mengenal, suasana pun cepat mencair. Tidak ada rasa canggung. Pertemuan yang awalnya karena kebutuhan tempat menginap justru kembali mempererat persaudaraan sesama Nahdliyin.

Malam semakin larut. Setelah perjalanan yang panjang, setelah menempuh laut dan udara, setelah sampai di Tambakberas, setelah registrasi dan segala urusan administrasi selesai, akhirnya kami bisa berbaring dengan tenang.

Hari pertama kami di Jombang pun berakhir. Sederhana memang. Hanya sebuah ruang kelas, karpet hijau, kasur yang berjajar, dan teman-teman sesama Nahdliyin.

Tetapi malam itu terasa istimewa. Sebab kami tidur bukan di sembarang tempat. Kami tidur di kompleks Tambakberas, hanya beberapa langkah dari tempat sejarah besar Nahdlatul Ulama sedang berlangsung.

Dengan rasa syukur, kami memejamkan mata. Semoga esok hari semua proses Muktamar berjalan lancar.

Dan malam pertama di Tambakberas pun kami lewati dengan istirahat yang nyaman.

Alhamdulillah. Kami tidur dengan satu perasaan. besok adalah hari baru. (abs)

Dari Lombok Menuju Tambak Beras, Bagian 2 — Jombang Tanah Haramnya NUSetelah niat disatukan dan berbagai persiapan dilak...
12/09/2026

Dari Lombok Menuju Tambak Beras, Bagian 2 — Jombang Tanah Haramnya NU

Setelah niat disatukan dan berbagai persiapan dilakukan, tibalah saatnya kami berangkat. Tujuan kami satu: Tambakberas, Jombang.

Namun jalan menuju ke sana tidak ditempuh dengan cara yang sama.

Dari Lombok Barat, rombongan terbagi dalam dua jalur perjalanan. Sebagian memilih jalur udara, terbang dari Bandara Internasional Lombok menuju Bandara Juanda Surabaya. Sebagian lainnya memilih jalur laut, menyeberangi lautan dengan kapal Darma Lautan Utama (DLU).

Bagi yang memilih jalur laut, keberangkatan dibagi menjadi dua rombongan. Rombongan pertama berangkat pada 25 Agustus, menggunakan kapal Darma Kencana. Sehari kemudian, 26 Agustus, rombongan kedua menyusul menggunakan kapal Kirana IV.

Kedua rombongan tersebut berangkat dari Pelabuhan Gili Mas, Lembar, menuju Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Rombongan laut berada di bawah koordinasi Hamroni, Wakil Ketua PCNU Lombok Barat, yang biasa kami panggil Suhu Roni.

Perjalanan menggunakan kapal laut bukanlah perjalanan singkat. Waktu tempuh sekitar 17 hingga 21 jam, tergantung perjalanan dan kondisi yang dilalui.

Bisa dibayangkan, hampir sehari semalam berada di atas kapal. Melelahkan, Menguras tenaga. Tetapi anehnya, kelelahan itu seperti tidak terlalu terasa ketika tujuan yang hendak dicapai adalah sebuah tempat yang begitu kami rindukan.

Ada canda. Ada obrolan. Ada cerita.

Ada p**a saat-saat ketika kami hanya duduk menikmati perjalanan dan membiarkan laut membawa kami semakin dekat ke Pulau Jawa.

Perjalanan panjang itu akhirnya menjadi pengalaman tersendiri. Lelah, tetapi asyik.
Menguras tenaga, tetapi mengesankan. Sebab di balik perjalanan yang panjang itu ada satu alasan yang membuat kami bertahan adalah kecintaan kepada Nahdlatul Ulama.

Berbeda dengan rombongan yang memilih jalur laut, rombongan udara menempuh perjalanan yang jauh lebih singkat.

Dari Bandara Internasional Lombok (BIL) menuju Bandara Juanda Surabaya, perjalanan dengan pesawat hanya sekitar satu jam.

Rombongan udara berada di bawah koordinasi Prof. Dr. H. Nazar Naamy, Ketua PCNU Lombok Barat, yang biasa kami sapa dengan panggilan Prof Ketua.

Semula penerbangan dijadwalkan berangkat pukul 14.00. Namun penerbangan mengalami delay sekitar satu setengah jam. Pesawat yang semestinya berangkat pukul 14.00 akhirnya baru berangkat sekitar 15.30.

Bagi sebagian orang, penundaan penerbangan mungkin cukup membuat kesal. Tetapi bagi kami, delay itu tidak sampai menyurutkan semangat.

Keinginan untuk segera tiba di Jombang jauh lebih besar daripada rasa kecewa karena harus menunggu. Karena yang ada dalam pikiran kami hanya satu: segera sampai di Jombang.

Kota yang pada hari-hari itu menjadi pusat berkumpulnya Nahdliyin dari seluruh penjuru negeri. Kota kelahiran Jam'iyah terbesar sedunia.

Rombongan laut akhirnya tiba di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Perjalanan belum selesai. Dari pelabuhan, rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Jombang menggunakan mobil dan bus jemputan. Tujuan mereka adalah Posko PCNU Lombok Barat yang berada di Universitas Darul Ulum Jombang.

Posko tersebut menjadi tempat persinggahan dan berkumpulnya rombongan dari Lombok Barat. Letaknya sekitar 3 kilometer dari lokasi utama Muktamar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas.

Sementara itu, rombongan udara yang tiba di Bandara Juanda langsung melanjutkan perjalanan menuju Tambakberas, lokasi utama pelaksanaan Muktamar.

Akhirnya, setelah menempuh perjalanan dari Lombok—baik melalui laut maupun udara—kami sampai juga di Jombang.

Bagi peserta resmi Muktamar, perjalanan kemudian berlanjut pada proses registrasi.

Ada empat peserta resmi dari PCNU Lombok Barat yang melakukan proses registrasi, terdiri dari: Rais Syuriyah, Katib Syuriyah, Ketua Tanfidziyah, Sekretaris Tanfidziyah

Namun, ternyata proses registrasi itu menyimpan sebuah cerita tersendiri. Ada hal menarik yang terjadi pada saat registrasi. Tetapi cerita itu belum akan kami buka di bagian ini.

Biarlah ia menjadi cerita untuk Bagian 3. Sebab perjalanan ini bukan hanya tentang bagaimana kami sampai di Jombang. Ada peristiwa-peristiwa kecil yang justru menjadi cerita besar ketika dikenang kembali.

Dan akhirnya...

Selamat datang di Jombang.

Tanah yang pada hari-hari itu menjadi tempat berkumpulnya ribuan Nahdliyin.

Tanah haramnya NU.

Perjalanan dari Lombok memang cukup melelahkan dan menguras tenaga. Ada yang menghabiskan hampir sehari semalam di atas kapal. Ada yang harus menunggu penerbangan yang delay.

Tetapi semua kelelahan itu seperti terbayarkan ketika akhirnya kami melihat sesuatu yang sejak awal hanya ada dalam bayangan:

pintu gerbang utama Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. Di balik gerbang itulah Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama digelar.

Dan saat mata memandangnya, seolah ada satu kalimat yang terucap dalam hati:

“Akhirnya... kami sampai juga.”

Tambakberas.
Kami datang dari Lombok. (abs)

Address

Jalan Baypass BIL 1 Kuripan Kabupaten Lombok Barat
Lombok
58112

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when PCNU Lobar posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to PCNU Lobar:

Shortcuts

Share