Al-Hikmah TV

Al-Hikmah TV Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Al-Hikmah TV, Religious Center, Lombok.

Kesadaran Kesetaraan GenderLaki-laki dan perempuan memiliki tanggung jawab untuk menjaga kemaslahatan di muka bumi, seba...
28/07/2024

Kesadaran Kesetaraan Gender

Laki-laki dan perempuan memiliki tanggung jawab untuk menjaga kemaslahatan di muka bumi, sebab keduanya setara, yakni sebagai khalifatullah fii al-ardh.

Jadi, prinsip dasar dalam hal itu sebetulnya tidak ada bedanya. Laki-laki dan perempuan sama saja. Derajat dan peranan keduanya tidak perlu dibatas-batasi dan dipinggirkan. Menganggap normal terhadap patriarki adalah simbol kemunduran dan kuno dalam masyarakat.

Bukan hanya itu, konsep kesetaraan dan keadilan berbasis gender adalah salah satu upaya pengamalan nilai-nilai qur'ani, sebab laki-laki dan perempuan dapat berkolaborasi mewujudkan pengabdian kepada tuhan. Firman Allah,

وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَيُطِيْعُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗۗ

Jadi, sekarang tidak boleh lagi ada terdengar kekerasan seksual, suami melakukan KDRT kepada istri, seorang anak membully temannya yang lain dan sebagainya.

Tuhan, Beri Aku Alasan untuk Tidak MenyerahKehidupan  memang tidak akan selamanya berjalan sesuai dengan keinginan. Ada ...
14/07/2024

Tuhan, Beri Aku Alasan untuk Tidak Menyerah

Kehidupan memang tidak akan selamanya berjalan sesuai dengan keinginan. Ada saatnya, seseorang merasa kecewa dan frustasi saat keinginan-keinginannya tidak bisa tercapai. Sehingga, berpikiran untuk menyerah. Kenapa ya hidup kita selalu dipenuhi masalah?

Jujur saja, setiap kali bertemu dengan jalan yang buntu dalam persimpangan masalah, terbesit dalam hati untuk menyerah saja. Ingin rasanya berkata: "Ah, sudahlah. Aku lelah! Lebih baik aku menyerah saja supaya semua masalah ini berakhir!"

Beruntungnya, kita punya Tuhan sebagai tempat mengadu dan curhat tentang semua masalah. Hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala kita berdo'a supaya masalah-masalah cepat berlalu. Kita berdoa dan memohon: "Tuhan, beri aku kekuatan untuk tidak menyerah.."

Ternyata, Allah telah memberi banyak alasan bagi setiap orang untuk selalu bangkit dan semangat dalam menghadapi masalah hidup. Dalam buku ini terangkum secara lengkap dan banyak pelajaran yang bisa diambil oleh para pembaca yang sedang berada di bibir jurang keputusasaan. Jangan dulu menyerah sebelum baca buku ini!

Untuk Pembelian, silahkan klik link di bawah ini. Semoga Bermanfa'at.

Beli Syalmahat Publishing Buku Islami Motivasi Islam Tuhan, Beri Aku Alasan Untuk Tidak Menyerah Self Healing Self Love Terbaru Harga Murah di Shopee. Ada Gratis Ongkir, Promo COD, & Cashback. Cek Review Produk Terlengkap

29/03/2024

TGH. Munajib Khalid: Kriteria Thuma'ninah di Dalam Shalat


26/03/2024

TGH. Munajib Khalid: Mengucapkan Salam Kepada Non Muslim


Wirid Setelah SholatSilahkan dishare, semoga bermanfa'at
23/03/2024

Wirid Setelah Sholat
Silahkan dishare, semoga bermanfa'at

23/03/2024

TGH. Munajib Khalid: Hukum Orang Membaca Al-Qur'an Tanpa Tajwid


22/03/2024

TGH. Munajib Khalid: Sistem Pengabulan Do'a Allah Swt


22/03/2024

TGH. Munajib Khalid: Tata Cara Puasa Orang yang Sedang Hamil


06/02/2024

TGH. Munajib Khalid: Sebenarnya, Allah itu apanya yang disembah?

Haul KH. Noer Muhammad Iskandar yang ke-2, banyak dihadiri oleh tokoh agama maupun tokoh masyarakat. Ada yang berasal da...
24/11/2022

Haul KH. Noer Muhammad Iskandar yang ke-2, banyak dihadiri oleh tokoh agama maupun tokoh masyarakat. Ada yang berasal dari sekitar Jakarta ada p**a yang berasal dari luar daerah, bahkan manca negara turut menyaksikan melalui siaran langsung platfrom media sosial ataupun hadir langsung di Pesantren, Rabu Malam (23/11).

Berbondong-bondong masyarakat hadir guna mengambil berkah, berziarah dan berta'ziah kepada Al-Magfurullah Abah Noer, sapaan akrab KH. Noer Muhammad Iskandar.

Salah satunya adalah KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, yang tidak lain merupakan putra dari KH. Mahrus Aly, guru KH. Noer Muhammad Iskandar ketika menimba ilmu di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Dalam kesempatan kali ini, KH. Kafabihi tidak hanya hadir dalam acara tersebut, namun memberikan mauidzah hasanah kepada seluruh jama'ah yang memadati lingkungan Pondok Pesantren Asshiddiqiyah maupun secara daring.

Sebagai kalimat pembuka, KH. Kafabihi bercerita tentang bagaimana Al-Magfurullah KH. Askandar, ayahanda dari Al-Magfurullah KH. Noer Muhammad Iskandar dalam mendidik anak-anaknya sehingga menjadi orang-orang sholih. Dalam cerita beliau, dulu kala, KH. Askandar merupakan seorang yang alim sekaligus saudagar yang sukses dan sibuk dengan perniagaannya. Suatu masa ia lantas bertemu dengan Mbah Wali Hasan dari Buntet. Oleh Mbah Hasan, KH. Askandar dinasehati untuk mengaji.

Seketika, KH. Askandar tersadar bahwa ia belum mengaji, beliau terlalu disibukkan oleh urusan dunia yang membuatnya terlena. Dengan nasihat tersebut, Beliau mengambil langkah pasti untuk tidak lagi mengurusi dunianya (Perniagaan), semua hartanya disedekahkan.

"Kalau saja harta orang kaya itu tidak menyedekahkan hartanya, maka hartanya tidak akan habis-habis, lantas keturunannya tidak jelas, bahkan karena harta bisa menyebabkan terputusnya silaturahmi", ujar KH. Kafabihi.

Hal inilah salah satu penyebab KH. Askandar dikaruniai anak-anak yang sholih, karena beliau senang bersedekah dan tidak ambil pusing dengan urusan dunia.

Melanjutkan cerita beliau, bahwa setelah menyedekahkan hartanya, KH. Askandar menyibukkan diri dengan mengaji dan memperdalam ilmu. "Sebaik-baik sibuk adalah sibuk dengan ilmu, mengajarkan dan mengamalkan. Dan orang-orang mendapatkan keutamaan-keutamaan, baik berupa, Jihad atau sedekah. Itu semua kuncinya di ilmu, sebab ulama' yang menyampaikan", tegas KH. Kafabihi.

KH. Kafabihi juga menjelaskan bahwa peran orang tua sangat penting dalam menentukan kesuksesan anak-anaknya.
Kesuksesan anak-anak KH. Askandar tidak terlepas dari pengaruh-pengaruh yang diberikan. Sehingga tidak heran Kiai Noer bisa sukses menaklukkan ibu kota Jakarta.

Selain itu juga, KH. Askandar memiliki putra yang banyak, semuanya dipondokkan. "Kalau orang yang senang sedekah, lalu memondokkan anaknya, khususnya di pondok salaf (pesantren), maka insyaaallah hal inilah yang mempermudah menjadikan anak tersebut sholih dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat", kata KH Kafabihi.

Beliau menegaskan p**a, bahwa kesuksesan yang diraih oleh KH. Noer Muhammad Iskandar itu didasari dengan konsistensi dalam beribadah maupun keikhlasannya dalam berjuang. Salah satu contoh, KH. Noer tidak pernah meninggalkan Shalat Tahajud dan Puasa Daud sekalipun Ia sedang sakit dan terus berjuang, sekalipun di awal perjuangannya harus berpindah-pindah tempat tinggal karena nekat ke jakarta tanpa membawa bekal yang cukup.

Terakhir, beliau berpesan kepada seluruh jama'ah yang hadir untuk berusaha meraih predikat Husnul Khatimah (Meninggal dunia dalam keadaan berbuat baik).

"Sebenarnya yang kita cari, yang paling penting itu adalah mati dalam keadaan husnul khatimah", pungkasnya. (Muhaimin yasin)

https://www.asshiddiqiyah.com/2022/11/kh-abdullah-kafabihi-mahrus-peran-orang.html

Kisah Perjuangan KH Noer Muhammad Iskandar Merintis Pesantren di Ibu KotaMerintis sesuatu dari nol itu sangat sulit. Dib...
21/11/2022

Kisah Perjuangan KH Noer Muhammad Iskandar Merintis Pesantren di Ibu Kota

Merintis sesuatu dari nol itu sangat sulit. Dibutuhkan perjuangan, pengorbanan, dan dedikasi tinggi untuk bisa konsisten dalam usaha yang telah dimulai. Harus siap diterjang segala cobaan dan rintangan yang menjadi dinding penghalang menuju cita-cita, tanpa mengharap back up-an dari orang lain.

Banyak orang yang memilih mengubah haluan, tidak mau melanjutkan gagasan awalnya karena tersandung berbagai macam problem. Ada p**a yang mau enaknya saja, tidak mau berjuang. Hanya orang berjiwa besar dan berkeyakinan tinggi yang bisa bertahan dan konsisten pada cita-cita luhurnya. Pepatah mengatakan ‘Siapa saja yang bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil’.

Pepatah itu tergambar dalam kisah perjuangan penuh tantangan dalam merintis pesantren di tengah hiruk-pikuk Ibu Kota DKI Jakarta yang dialami KH Noer Muhammad Iskandar, seorang ulama kharismatik kelahiran Banyuwangi pada 5 Juli 1955. Ia merupakan putra kesembilan dari pasangan KH Askandar dan Nyai Hj Siti Robihatun.

Kiai Nekat dan Tawakkal

Setelah menimba ilmu di pondok pesantren asuhan ayahnya dan menyelesaikan pendidikan dasar di Madrasah Ibtida’iyah Manba'ul Ulum, tahun 1967, Kiai Noer melanjutkan pengembaraan keilmuannya ke pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, di bawah asuhan KH Mahrus Aly. Selama enam tahun, Kiai Noer menuntut ilmu di sana.

Pada 1974, Kiai Noer dinyatakan lulus dan direkomendasikan oleh pimpinan pesantren untuk melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta. Sebab, pada waktu itu seluruh mahasiswa di perguruan tinggi itu harus merupakan utusan daerah atau ada rekomendasi dari kiai pemimpin pesantren.

Walhasil, Kiai Noer memutuskan kuliah di sana bukan hanya karena manut kepada gurunya, tetapi juga ingin memperdalam Al-Qur’an secara akademis dan menambah wawasan tentang dunia perkuliahan.

Singkat cerita, pada 1982 setelah beberapa waktu diwisuda dari PTIQ, Kiai Noer muda mengakhiri masa lajangnya dengan meminang putri Kiai Mashudi asal Tumpang, Malang, Jawa Timur. Ning Siti Nur Dzazilah namanya, pernah memimpin Pesantren Putri Cukir, Tebuireng, Jombang.

Dalam khutbah pernikahan mereka, KH Mahrus Aly memberikan nasihat kepada Kiai Noer agar tidak kembali ke Banyuwangi atau Tumpang, tetapi diminta untuk melanjutkan dakwah di Jakarta. Berselang seminggu pasca akad nikah, Kiai Noer didampingi istri kembali ke Jakarta dengan modal nekat alias tanpa persiapan yang matang.

Hari-hari pertama di Jakarta, keduanya menumpang dari rumah ke rumah, selama seminggu berkeliling mencari tempat untuk ditumpangi. Pada akhirnya Kiai Noer mendapatkan tempat tinggal tetap, sekalipun hanya untuk istrinya.

Setelah itu, Kiai Noer tidak berdiam diri, tetapi selalu mencari apa saja yang bisa dikerjakan. Lembaga pendidikan mulai dirintis. Yayasan Al-Mukhlisin di Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara yang pernah didirikan bersama temannya ketika masih kuliah di PTIQ mulai dimantapkan lagi.

Kegiatan keagamaan digiatkan, kegiatan remaja masjid mulai dikembangkan bahkan segala aktivitas yang dijalankan Kiai Noer mulai mendapatkan kepercayaan dari masyarakat, sehingga undangan ceramah meningkat.

Tiga bulan kemudian, Kiai Noer mulai memberanikan diri untuk mengontrak rumah di wilayah Kedoya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat karena merasa tidak enak kalau berlama-lama membiarkan istrinya menumpang. Tak lupa, Kiai Noer berterima kasih kepada orang yang memberi istrinya tumpangan, yang tidak lain merupakan keponakannya sendiri.

Setelah mendapatkan tempat tinggal, Kiai Noer tetap menjalankan aktivitasnya sebagai pendakwah. Kepercayaan masyarakat kepada Kiai Noer terus bertambah. Kegiatan semakin padat, permintaan masyarakat semakin meluas sampai ke luar Jakarta, termasuk Lampung. Kiai Noer juga dipercaya untuk mengisi ceramah rutin mingguan di salah satu stasiun radio.

Dalam sebuah kisah diceritakan bahwa Kiai Noer pernah diberikan hadiah berangkat haji oleh sahabatnya sebagai bentuk terima kasih karena pernah didoakan. Namun sayang, pada waktu itu pendaftaran ditutup.
Tidak mau menunda keberangkatan, Kiai Noer menemui kawan lamanya, H Rosyadi Ambari. Ternyata, kawannya ini telah lama mencari keberadaan Kiai Noer untuk diminta mengelola sebidang tanah wakaf di Kedoya Utara, yang akan dibangun lembaga pendidikan di tempat itu.

Cikal Bakal Pesantren Asshiddiqiyah

Mulanya tanah tersebut sudah didirikan pesantren. Fondasinya sudah ada, bahkan plang pesantren pun telah berdiri kokoh. Pesantren Ukhuwah Islamiyah namanya kala itu. Kiai Noer tidak langsung menjawab tawaran itu, tetapi mempertimbangkannya terlebih dulu.

Setelah p**ang dari tanah suci dan berdiskusi dengan istri serta beberapa kiai, hati Kiai Noer semakin condong menerima tawaran itu. Pada 1984, Kiai Noer menerima dan menemui langsung H Rosyadi Ambari, tetapi terlebih dulu diajak untuk menemui H Djaani. Lahan wakaf seluas dua hektar yang semula dipercayakan kepada H Rosyadi Ambari dialihkan ke Kiai Noer.

Langkah pertama yang diambil Kiai Noer adalah membangun mushala kecil dengan modal dari H Abdul Ghani, putra ketiga H Djaani. Bangunan yang terbilang jauh dari kata sempurna itu temboknya terbuat dari triplek, berdiri di tanah rawa-rawa, bahkan di tempat pembuangan sampah bagi penghuni perumahan mewah di sekitar tanah itu.

"Saya punya keyakinan yang kuat, bahwa kelak Asshiddiqiyah akan memiliki jangkauan yang cukup luas. Saya yakini itu dengan sepenuh hati, karena memang apa yang saya pikirkan selama ini adalah membangun kontribusi kepada umat melalui Pendidikan," ungkap Kiai Noer setelah melihat keprihatinan tempat itu, dikutip dari buku Pergulatan Membangun Pesantren karya Amin Idris.

Padahal saat sebelum keberangkatan haji, Kiai Noer sempat berpikir untuk menyerah dan kembali ke Banyuwangi atau ke Cukir karena masalah ekonomi. Namun, niat itu diurungkan setelah melihat bangunan yang akan menjadi Pondok Pesantren Asshiddiqiyah.

Kiai Noer sadar bahwa di lahan itu perlu didirikan sebuah yayasan. Oleh karena itu, bersama H Abdul Ghani dan H Rosyadi Ambari, Kiai Noer langsung menghadap notaris. Pada 5 Oktober 1985, Kiai Noer bersama H Abdul Ghani dan H Rosyadi Ambari ditetapkan sebagai Badan Pendiri Yayasan Pondok Pesantren Asshiddiqiyah.

Trilogi Pondok Pesantren Asshiddiqiyah saat itu adalah; pertama, membangun masyarakat yang bertakwa dan cinta kepada agama, bangsa dan negaranya; kedua, meningkatkan pendidikan dan perkembangan Islam; ketiga, meningkatkan misi sosial, mengurus anak yatim dan fakir miskin. Inti dari tiga poin tersebut adalah perbaikan pendidikan dan ekonomi. Karena dirasa hal itu yang menjadi penyebab keterbelakangan umat Islam saat itu.

Mulai Menerima Santri

Awal dibuka pendaftaran peserta didik baru Pondok Pesantren Asshiddiqiyah, sambutan masyarakat belum ada sama sekali. Bahkan pada tahun pertama, Kiai Noer hanya menerima satu santri. Itu pun calon santri Pondok Pesantren Manba'ul Ulum asuhan sang ayah di Banyuwangi, Jawa Timur. Kebetulan nama santri itu adalah Iskandar. Setelah singgah di kediaman beliau, santri tersebut memutuskan untuk belajar di Asshiddiqiyah.

Berselang tujuh bulan Iskandar menuntut ilmu di sana, datanglah seorang santri perempuan berasal dari Kuningan bernama Rohanah. Merekalah santri generasi pertama Pondok Pesantren Asshiddiqiyah.
Asshiddiqiyah membuka sistem pendidikannya dengan metode Ribathiyah, yaitu sistem belajar menggunakan halaqah tradisional. Para santri belajar dan mengaji kepada guru atau kiai sambil memegang bidang pekerjaan di pondok.

Selain itu, Kiai Noer mengadakan pengajian mingguan bagi anak-anak remaja dan pemuda pada waktu itu. Dari bekal mengadakan kegiatan-kegiatan tersebut, Kiai Noer mencoba mendirikan madrasah formal pada 1986.

Asshiddiqiyah Mulai Berkembang

Awal berdirinya Pesantren Asshiddiqiyah, perhatian masyarakat terbilang sangat minim. Jangankan bergabung, untuk kenal saja tampaknya masih jauh dari harapan. Pada 1986, Madrasah Tsanawiyah dibuka. Murid pertamanya tentu santri Ribathiyah dan 30 santri putra-putri yang siap dikader.

Karena di kota besar, Kiai Noer tidak sulit untuk mendapatkan guru-guru muda, punya semangat juang dan cita-cita tinggi. Beliau melibatkan sarjanawan-sarjanawan, tidak sedikit p**a alumnus-alumnus pesantren salaf.

Setahun berjalan, Madrasah Tsanawiyah mendapatkan kepercayaan yang meningkat dari masyarakat. Terbukti, pada tahun kedua Kiai Noer membuka madrasah aliyah. Kiai Noer percaya bahwa peningkatan tersebut merupakan sebuah amanat yang harus dilaksanakan dengan sepenuh hati dan sekuat tenaga.

Selain membangun akses pendidikan bagi para santri, Kiai Noer berusaha membangun akses pusat-pusat kegiatan masyarakat. Sebab, dukungan masyarakat pada waktu itu sangat dibutuhkan demi keberlangsungan lembaga yang beliau rintis.

Tahun-tahun berikutnya, kepercayaan masyarakat terhadap Kiai Noer semakin meningkat. Ketika santri-santri di Kedoya tidak bisa ditampung lagi, Kiai Noer menerima tanah wakaf dari H Jauhari dan H Musa di Batu Ceper, Tangerang, Banten.

Lahan seluas satu hektar diserahkan untuk dikembangkan Asshiddiqiyah. Selain itu, Kiai Noer diberikan kepercayaan untuk mengelola tanah H Sayuthi di Cilamaya, Karawang, Jawa Barat menyusul di Serpong, Tangerang Selatan, Banten dan di Cijeruk Barat, Bogor, Jawa Barat.

Dari tahun ke tahun, perkembangan Pondok Pesantren Asshiddiqiyah semakin pesat. Kini, pesantren telah berkembang menjadi dua belas, antara lain Asshiddiqiyah Pusat Jakarta Barat; Asshiddiqiyah 2 Batuceper Tangerang; Asshiddiqiyah 3, 4, 5, Karawang; Asshiddiqiyah 6 Serpong Tangerang Selatan; Asshiddiqiyah 7 Cijeruk Bogor; Asshiddiqiyah 8 Musi Banyuasin; Asshiddiqiyah 9 Gunungsugih Lampung Tengah; Asshiddiqiyah 10 Cianjur; Asshiddiqiyah 11 Way Kanan; dan Asshiddiqiyah Jonggol.

Penulis: Muhaimin Yasin, Mahasantri Mahad Aly Sa’iidusshiddiqiyah Jakarta.

*) Tulisan ini disarikan dari buku Pergulatan Membangun Pesantren karya Amin Idris (2009).

Editor: Aru Elgete



https://jakarta.nu.or.id/literatur/kisah-perjuangan-kh-noer-muhammad-iskandar-merintis-pesantren-di-ibu-kota-0oXgs

Address

Lombok

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Al-Hikmah TV posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share