22/11/2018
REFLEKSI 19 TAHUN FKRML
(Dara Juang yang Tak Akan Pernah Padam)
Oleh : Ahmad Kholiyi
22 November 1999 adalah awal dimulainya perjuangan merawat dan menjaga agama serta negara yang dibasiskan di Masjid. Sehabudin , sang inisiator penggagas Forum Komunikasi Remaja Masjid Lebak (FKRML) sekaligus ketua umum pertama FKRML bersama rekan-rekan yang menemaninya dari awal dalam penggagasan FKRML akhirnya mendeklarasikan berdirinya organisasi yang membasiskan diri di masjid sebagai fasilitator perjuangannya.
Berawal dari kegelisahan Sehabudin muda terhadap kondisi sosial politik bangsa yang tengah berada dalam posisi transisional. Dimana setahun sebelumnya baru terjadi peristiwa reformasi (pelengseran rezim diktator Soeharto) pada 1998. Tentu saja kondusifitas negeri masih jauh daripada kata normal. 1998 menjadi awal dari segala macam perubahan radikal, dan udara segar bagi segala keterkungkungan berpuluh tahun dalam rezim refresif.
Kebebasan demokrasi secara total akhirnya bisa dilakukan di negeri ini, terutama ketika KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dipilih dengan cara 'paling demokratis' (oleh MPR) kala itu. Implikasi dari kebebasan demokrasi tersebut, selain membawa angin segar pada perubahan sosial politik yang lebih maju, ternyata juga dihantui oleh kepentingan-kepentingan ideologi bersifat trans-nasional yang memanfaatkan situasi tersebut untuk masuk (dan akhirnya menyebarkan propaganda untuk merusak & memecah persatuan) di negeri ini. Kebebasan menyatakan pendapat sebagai salah satu asas demokrasi akhirnya memunculkan p**a pemahaman-pemahaman radikal, konservatif yang -lebih berani- tampil dimuka, setelah sebelumnya (mungkin) hanya melakukan 'kampanye sunyi' di dalam kungkungan rezim refresif Soeharto yang terkenal dengan sikap 'kurang simpatik'nya terhadap pergerakan dan perkembangan gerakan Islam di Indonesia (meskipun Soeharto seorang Muslim, dan bahkan diawal membangun kekuasaan terlihat begitu akrab dengan komunitas Islam saat itu; dalam hal ini kedekatan dengan Nahdlatul Ulama - NU).
Reformasi bangsa Indonesia ini juga akhirnya berbanding lurus dengan tumbuh suburnya faham-faham radikalis-agama, komunisme, kapitalisme, anti-kebangsaan yang memanfaatkan kedewasaan demokrasi yang sedang dicapai dan diperjuangkan di Indonesia. Kesemuanya menggunakan dalih 'kebebasan berependapat' untuk menyebarkan 'isme' mereka masing-masing. Seperti diketahui bawa dalam rentang 1998-2000 lahir beberapa ormas yang dewasa ini terlihat sebagai ormas anti-kebangsaan & anti-kebinekaan.
Atas dasar itulah, sebagai ikhtiyar untuk menjaga kondusifitas bangsa (utamanya secara teritori; di Lebak, yang pastinya juga terkena dampak yang telah dijelaskan sebelumnya) Sehabudin muda beri'tikad mendirikan FKRML pada 22 Nobember 1999 sebagai bentuk nyata perjuangan menjaga dan merawat agama juga bangsa dengan sasaran utama 'objek' pergerakannya di kalangan remaja dan pemuda dan masjid sebagai basis fasilitator perjuangan yang bersifat keumatan ini. Karena kunci daripada bagaimana bangsa ini wujudnya di masa depan tolak ukurnya adalah para remaja dan pemudanya sekarang (yang kelak akan menjadi para pemimpin di masa depan) 'subbanul yaum rijalul ghad'. Menjadikan masjid sebagai fasilitaror (wadah) pergerakan FKRML adalah p**a sebuah keniscayaan, bahwa bila dilijat dari sudut pandang historis 'masjid' adalah basis utama dalam kemajuan umat Islam (ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, yang pertama kali dibangun olehnya adalah masjid).
Para remaja dan pemuda tersebut dipupuk dan diberikan pemahaman bahwa selain 'pentingnya' menjadi insan 'yang beragama' secara shalih atau baik, ke-shalihan mereka dalam berbangsa dan bernegara juga mesti selaras dengan 'kesalihan agama' tersebut. Para remaja dan pemuda tersebut harus sadar p**a bahwa faham radikalisme komunis, kapitalis, serta faham anti-kebangsaan dan keindonesiaan adalah hal buruk dan cemderung hanya akan merusak persatuan dan kerukunan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dan benar-benar harus dihindari. Oleh karenanya, konten-konten yang disuguhkan oleh FKRML dalam dakwahnya pun selalu tidak terlepas dari nilai keislman, kebangsaan, serta keindonesiaan. Diantara konten kegiatan rutin FKRML sebagai bentuk 'khidmat' kepada umat dan bangsa adalah selain secara 'continu' melaksanakan kegiatan PHBI yang sudah lumrah dilaksanakan, juga mengadakan seminar wawasan kebangsaan, kegiatan Pesantren Kebangsaan (yang digagas oleh seorang pengurus FKRML, yang kelak menjadi cendikiawan muslim muda Lebak; Iyan Fitriyana) sebagai implementasi nyata dari perjuangan memupuk rasa kebangsaan dan keindonesia kepada khalayak.
Sekarang, sudah hampir bulat mengingjak usia 2 dasawarsa. 19 tahun berlalu setelah pertama kali Sehabudin mendeklarasikan berdirinya FKRML. Pada tanggal 22 November 2018 ini genaplah sudah usia FKRML yang ke 19 tahun. Dara juang para penggeraknya dari masa ke masa, terus mengalir dan terawat secara baik, dibuktikan dengan masih eksisnya FKRML hingga sekarang. Perjuangan FKRML masih tetap dan akan selalu berlangsung. Dalam ukuran usia manusia, 19 tahun sudah masuk kedalam fase 'usia pemuda'. Usia yang mestinya jadi waktu kematangan untuk mewujudkan ide-ide dan gagasan-gagasan perjuangan FKRML di awal secara kongkret. Ikhtiyar suci yang selalu harus dijaga tersebut adalah keharusan mutlak bagi para penggeraknya dari dulu hingga sekarang sebagai bentuk pengejawantahan nilai-nilai dasar Islam juga sekaligus nilai-nilai dasar ideologi bangsa Indonesia (Pancasila). []
Mabruuk alfa mabruuk...
Selamat ulang tahun FKRMLku!
Semoga Allah selalu meridhoi segala bentuk perjuangan kita!
Dengan Iman Kita Bersatu!
Dengan Taqwa Kita Berjuang!
Rangkasbitung, 22 Oktober 2018
Ahmad Kholiyi
Penulis merupakan Sekertaris Umum FKRML, Pegiat LSiS (Lembaga Studi Islam dan Sosial) Lebak, juga Penggerak GUSDURian Lebak