26/05/2026
Dulu aku sempat berpikir…
bukankah Gereja sebenarnya sudah lahir ketika Yesus berkata kepada Petrus:
“Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku.”
(Matius 16:18)
Dan memang benar.
Yesus sendiri adalah pendiri Gereja.
Bukan manusia.
Bukan organisasi.
Bukan hasil pemikiran para rasul.
Tetapi ternyata…
Gereja menyebut Pentakosta sebagai hari lahir Gereja karena pada hari itulah Roh Kudus dicurahkan kepada para rasul dan Gereja mulai dinyatakan kepada dunia.
Katekismus Gereja Katolik bahkan menjelaskan bahwa pada hari Pentakosta,
melalui pencurahan Roh Kudus,
Gereja “ditampilkan kepada dunia.”
(KGK 767)
Dan saat membaca bagian itu…
aku seperti tersadar sesuatu.
Sebelum Pentakosta,
para murid sebenarnya sudah menjadi pengikut Kristus.
Mereka sudah melihat mukjizat.
Sudah mendengar pengajaran Yesus.
Bahkan sudah menyaksikan kebangkitan-Nya.
Namun Injil Yohanes mencatat bahwa mereka masih berkumpul dengan pintu tertutup karena takut.
(Yohanes 20:19)
Mereka percaya…
tetapi belum berani keluar.
Sampai akhirnya Kisah Para Rasul 2 menceritakan:
Roh Kudus turun seperti tiupan angin keras dan lidah-lidah api atas para rasul.
Dan di situlah semuanya berubah.
Petrus yang dulu menyangkal Yesus,
akhirnya berdiri dan berkhotbah tanpa takut.
Para rasul mulai pergi keluar mewartakan Injil,
dan pada hari itu sekitar tiga ribu orang dibaptis.
Di situlah Gereja mulai bergerak,
mulai bersaksi,
dan mulai menjalankan perutusannya ke seluruh dunia 🌍
Karena itu Pentakosta disebut:
🕊️ Hari lahirnya Gereja.
Dan entah kenapa…
saat merenungkan semua ini,
aku jadi teringat beberapa percakapan yang begitu membekas dalam perjalanan imanku.
Beberapa waktu terakhir,
ada beberapa Romo yang DM,
ada juga frater dan suster yang bertanya kepadaku:
“Bagaimana seorang Helida bisa begitu dalam memaknai iman Katolik dan begitu berani bersaksi…
padahal baru menjadi Katolik saat dewasa, bahkan baru tahun 2015?”
Bahkan ada seorang mantan frater yang berkata:
“Saya yang hampir 11 tahun di biara saja kadang tidak seberani itu berbicara tentang iman dan Gereja di ruang publik seperti media sosial…”
Jujur…
setiap mendengar itu,
aku justru merasa sangat terberkati bisa dipertemukan dengan orang-orang luar biasa seperti mereka ❤️
Tetapi jawabanku selalu sederhana:
“Aku juga gak tau…” 😊
Karena memang benar…
aku memang s**a membaca dan menulis sejak kecil.
Bahkan sejak SD sampai SMA,
aku sudah membaca seluruh isi Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu.
Tetapi waktu itu,
bagiku itu hanya karena aku memang sangat mencintai buku.
Aku s**a membaca apa saja:
sejarah,
biografi,
kisah-kisah manusia,
hal-hal ilmiah,
sampai cerita penuh mujizat.
Dan Alkitab bagiku waktu itu terasa seperti semua itu menjadi satu:
ada sejarah,
ada perjalanan manusia,
ada luka,
ada pengkhianatan,
ada kasih,
dan ada Allah yang terus bekerja di tengah semuanya.
Aku membacanya karena aku s**a ilmu pengetahuan dan s**a mencari makna.
Namun hari ini…
ketika aku mulai berani menulis tentang iman di media sosial,
berani berbicara tentang Gereja,
tentang Ekaristi,
tentang kasih Tuhan…
aku perlahan mulai menyadari satu hal:
mungkin Roh Kuduslah yang diam-diam menuntunku 🕊️
Karena ternyata…
iman bukan hanya soal kepintaran memahami Tuhan.
Ada banyak orang yang sangat pintar,
tetapi hatinya tetap jauh.
Dan ada orang-orang sederhana,
tetapi begitu mengenal kasih Allah.
Mungkin karena iman sejatinya bukan hanya hasil belajar…
tetapi juga karya Roh Kudus di dalam hati manusia.
Ia bekerja diam-diam.
Kadang bahkan sebelum kita menyadarinya.
Dan mungkin…
itulah juga yang terjadi pada para rasul saat Pentakosta.
Mereka bukan orang-orang sempurna.
Mereka penuh takut.
Penuh keraguan.
Bahkan pernah jatuh.
Tetapi Roh Kudus mengubah mereka menjadi saksi Kristus yang hidup.
Maka hari ini aku percaya…
kalau ada keberanian kecil dalam diriku untuk bersaksi tentang iman,
itu bukan karena aku hebat.
Tetapi karena Roh Kudus masih bekerja,
bahkan pada orang yang merasa dirinya biasa-biasa saja ❤️🕊️
Catatan Katekese – Helida Cecilia Pasaribu – Perjalanan kecil memahami iman Katolik