Resurrection Faith

Resurrection Faith Jika panggilanmu untuk melayani, lakukanlah itu dengan tulus meski belum menuai saat ini, tapi nanti!

05/09/2026

Keluaran 18:13–14 Keesokan harinya duduklah Musa mengadili di antara bangsa itu; dan bangsa itu berdiri di depan Musa, dari pagi sampai petang. Ketika mertua Musa melihat segala yang dilakukannya kepada bangsa itu, berkatalah ia: ”Apakah ini yang kaulakukan kepada bangsa itu? Mengapakah engkau seorang diri saja yang duduk, sedang seluruh bangsa itu berdiri di depanmu dari pagi sampai petang?”

MELAYANI TANPA MENGENAL WAKTU

Syalom
Saudaraku
Saat menjalani panggilan sebagai pemimpin Israel, Musa duduk dari pagi sampai petang tanpa istirahat. Hal ini menggambarkan pola kerja yang tidak biasa dan ekstrem. Namun demikian, sekalipun Musa seorang pemimpin hebat dan tangguh, tetapi ia masih memiliki keterbatasan sebagai manusia yang tidak mungkin untuk melayani dan mengadili umat-Nya tanpa istirahat. Dia bekerja sepanjang hari. Ini kelihatannya hebat dan mulia tapi konsekuensinya adalah tubuhnya menjadi terlalu lelah demikian juga dengan umat yang dilayaninya. Fisik yang letih perlu istirahat, hal ini tidak bisa digantikan dengan apapun juga termasuk semangat yang berkobar-kobar, apalagi Musa menghadapi bangsa Israel yang tegar tengkuk.

Tuhan Allah menghendaki umat-Nya hidup dalam keseimbangan, bekerja dengan serius, tapi harus tahu kapan saatnya berhenti dan beristirahat. Kelelahan Musa memberi arti bahwa dalam keluarga, bekerja keras itu baik tapi adalah bijak apabila mau saling berbagi dan meminta bantuan apalagi ketika menghadapi masalah yang muncul dalam keluarga. Apabila hanya ayah atau ibu ataupun salah satu anggota keluarga yang memikul semua tugas rumah tangga, itu adalah tidak baik. Kerja sama dan pembagian peran dalam rumah tangga akan membuat perkerjaan menjadi ringan dan keharmonisan dapat tetap terjaga. Nasihat Yitro yang diterima Musa memberi pelajaran bahwa menerima saran dari pasangan atau anggota keluarga adalah hal terpuji dalam rangka mencapai pertumbuhan bersama. Memercayakan dan mendelegasikan tugas kepada orang lain bukan berarti kita lemah, melainkan itu adalah tanda bahwa kita bijak. Dari bacaan ini kita diingatkan bahwa melayani Tuhan harus diimbangi dengan kerja cerdas. Membagi tugas secara bijak adalah bagian dari anugerah yang diberikan Tuhan Allah. Dia memberikan kita hikmat sehingga mengakui keterbatasan dan menyadari bahwa tidak semua pekerjaan pelayanan harus kita tangani sendiri. Mari kita menyeimbangkan antara kerja, istirahat dan ibadah.

Doa: Ya Tuhan Allah, anugerahkan kami hikmat-Mu untuk dapat menata setiap tanggung jawab yang Engkau percayakan. Sehingga banyak orang merasa diberkati dengan pekerjaan kami. Dalam nama Yesus Kristus. Amin

04/09/2026

Efesus 4:30-32 Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.
Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian p**a segala kejahatan.
Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.

"Jangan Mendukakan Roh Kudus"

Syalom,,,,
Saudaraku,,,,
Pernahkah kita menyakiti hati seseorang yang sangat mengasihi kita? Rasa bersalahnya tentu sangat mendalam. Hal yang sama terjadi dalam hubungan kita dengan Tuhan Allah. Rasul Paulus mengingatkan sebuah kebenaran yang luar biasa: Roh Kudus bisa berduka. Roh Kudus bukanlah sekadar energi atau kekuatan gaib yang tak berpribadi. Dia adalah Pribadi Tuhan Allah sendiri yang tinggal di dalam hati kita, yang telah 'memeteraikan' kita sebagai milikNya.Karena Dia adalah Pribadi yang hidup dan penuh kasih. Dia bisa merasakan kesedihan ketika anak-anak-Nya memilih untuk hidup dalam dosa. Hal-hal apa saja yang mendukakan Roh Kudus? Paulus menjelaskannya dengan sangat jelas pada ayat 31. Roh Kudus berduka ketika kita menyimpan: Kepahitan: Sakit hati yang dipelihara terus-menerus. Kegeraman dan Kemarahan: Emosi yang meledak-ledak dan tidak terkendali. Pertikaian dan Fitnah: Kata-kata yang merusak hubungan dan menjatuhkan orang lain. Segaia Kejahatan: Niat atau tindakan yang sengaja merugikan sesama.

Semua hal di atas bertolak belakang dengan sifat Roh Kudus yang adalah kasih, damai sejahtera dan kebaikan. Ketika kita membiarkan kepahitan atau kemarahan menguasai hati, kita sedang 'mengusir' damai sejahtera-Nya dan membuat-Nya berduka. Manusia baru yang dipimpin oleh Roh Kudus diperintahkan untuk melakukan pembalikan total (Ayat 32): ramah, penuh kasih mesra dan saling mengampuni. Mengapa kita harus mengampuni, bahkan ketika itu terasa sangat sulit? Dasarnya jelas: "sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu." Kita mengampuni bukan karena orang lain layak mendapatkannya, tetapi karena kita sadar bahwa kita telah terlebih dahulu diampuni oleh Tuhan Allah secara luar biasa. Pengampunan adalah jalan utama agar hidup kita tidak mendukakan Roh Kudus. Sebagai keluarga Kristen, marilah kita buang segala kepahitan, dendam atau kemarahan yang sengaja disimpan di dalam hati terhadap seseorang? Marilah kita tunjukkan keramahan dan kasih mesra kepada orang-orang di sekitar kita, agar Roh Kudus bersukacita
di dalam hidup kita?

Doa: Ya Tuhan Aliah, kami berterima kasih atas Roh Kudus-Mu yang setia tinggal di dalam hati dan memeteraikan hidup kami. Ampuni kami jika tindakan, pikiran atau perkataan kami selama ini seringkali mendukakan-Mu. Hari ini, kami mau membuang segala kepahitan, kegeraman dan kemarahan. Berikan kami kekuatan untuk mengampuni mereka yang bersalah kepada kami, sama seperti Engkau telah mengampun kami. Kami berdoa dalam nama Anak-Mu, Yesus Kristus. Amin

03/09/2026

Efesus 4:26-29
Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis. Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan. Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.

"Melakukan Pekerjaan Yang Baik"

Syalom,,,,
Saudaraku,,,,
Kekristenan bukanlah sekadar agama yang berisi larangan 'jangan lakukan ini' atau 'jangan lakukan itu'. Kekristenan yang sejati selalu menawarkan sebuah perubahan dari perilaku yang merusak menjadi perilaku yang memberkati. Rasul Paulus memberikan tiga arahan praktis tentang bagaimana manusia baru mengelola emosi, tindakan dan perkataannya dalam kehidupan sehari-hari: Pertama. Mengelola Amarah (Ayat 26-27). Marah adalah emosi yang manusiawi, tetapi Paulus mengingatkan agar amarah tidak berujung pada dosa. Menyimpan dendam dan membiarkan amarah berlarut-larut hingga 'matahari terbenam' sama saja dengan membuka pintu rumah kita dan memberikan kesempatan bagi Iblis untuk mengacaukan hidup kita.

Manusia baru harus cepat membereskan konflik. Kedua, Melakukan Pekerjaan yang Baik (Ayat 28) Paulus mengambil contoh ekstrem: seorang pencuri. Transformasi yang Tuhan Allah inginkan bukan hanya `berhenti mencuri', lalu menganggur. Tuhan Allah mau dia mengalami pembalikan total: bekerja keras melakukan pekerjaan yang baik. Menariknya, tujuan kita bekerja keras dan mencari rezeki yang halal menurut firman Tuhan Allah bukan sekadar untuk menimbun kekayaan bagi diri sendiri atau memuaskan gaya hidup. Tujuan tertingginya adalah: `supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.' Ini adalah revolusi mental yang luar biasa! Dari yang tadinya bermental ‘mengambil milik orang lain' (mencuri), diubah menjadi bermental `memberi dan memberkati orang lain'. Ketiga, Menjaga Perkataan (Ayat 29) Kerja keras kita dengan tangan harus diselaraskan dengan apa yang keluar dari mulut kita. Manusia baru menanggalkan perkataan kotor, gosip, atau makian dan menggantinya dengan perkataan yang membangun, memberi semangat dan menyalurkan kasih karunia bagi yang mendengarnya.

Setiap pekerjaan yang kita lakukan hari ini, baik di kantor, di rumah, di pasar atau di mana pun adalah ibadah kita kepada Tuhan Allah. Ketika kita bekerja dengan jujur, keras dan tulus, kita sedang memuliakan Tuhan Allah dan menjadi perpanjangan tangan-Nya bagi sesama yang membutuhkan. Sebagai keluarga Kristen, adakah kerinduan untuk bisa menjadi berkat bagi orang yang berkekurangan? Apakah tangan kita hari ini siap melakukan pekerjaan yang baik dan apakah mulut kita sudah siap mengucapkan kata-kata yang membangun sesama?

Doa: Ya Tuhan Allah, terima kasih atas pekerjaan, kesehatan dan kekuatan yang Engkau berikan. Ampuni kami jika selama ini bekerja hanya karena materi semata. Hari ini, kami mau mendedikasikan diri untuk melakukan pekerjaan yang baik dan jujur. Baruilah hati kami agar selalu rindu berbagi dengan mereka yang berkekurangan. Jagalah juga hati kami dari amarah yang merusak dan mulutku dari perkataan yang sia-sia. Kami berdoa dalam nama Anak-Mu, Yesus Kristus. Amin

02/09/2026

Efesus 4:24-25 dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.

"Mengenakan Manusia Baru Dalam Kebenaran Dan Kekudusan"

Syalom,,,,
Saudaraku,,,,
Setelah dua hari lalu kita merenungkan pentingnya mengenal Yesus Kristus dan menanggalkan manusia lama, hari ini Rasul Paulus membawa kita pada langkah puncaknya: mengenakan manusia baru. Jika manusia lama diibaratkan seperti pakaian kotor yang bau, maka manusia baru adalah pakaian indah, bersih dan mulia yang dirancang langsung oleh Tuhan Allah. Ditegaskan bahwa manusia baru diciptakan menurut kehendak Tuhan Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. Kebenaran adalah tentang relasi yang lurus dengan kehendak Tuhan Allah, sementara kekudusan tentang hidup yang dipisahkan dari dosa untuk menyenangkan hati-Nya. Mengenakan manusia baru bukanlah konsep rohani yang abstrak. Paulus langsung memberikan contoh konkret, praktis dan sangat mendasar yang bisa kita lakukan hari ini: 'Buanglah dusta dan berkatalah benar.' Mengapa perkataan dan kejujuran menjadi tolok ukur pertama dari manusia baru? Pertama, Identitas sebagai Ciptaan Baru. Dusta atau kebohongan adalah ciri utama dari Iblis (bapa segala dusta). Sebaliknya, Yesus Kristus adalah kebenaran. Ketika kita memilih untuk hidup dalam kejujuran dan membuang segala bentuk tipu daya, kita sedang menunjukkan kepada dunia identitas kita yang baru sebagai anak-anak terang. Kedua, Kita adalah Sesama Anggota. Paulus memberikan alasan yang sangat indah: 'karena kita adalah sesama anggota.' Bayangkan jika mata membohongi kaki tentang ada lubang di depan, maka seluruh tubuh akan jatuh dan terluka. Di dalam Yesus Kristus, kita adalah satu tubuh. Ketidakjujuran, gosip atau manip**asi tidak hanya merusak diri kita sendiri, tetapi juga melukai orang lain dan merusak kesatuan tubuh Kristus (komunitas, keluarga, dan persahabatan kita).

Mengenakan manusia baru berarti setiap pagi kita memilih untuk mengenakan kasih, kejujuran, ketulusan dan integritas. Saat kita berbicara dengan keluarga, rekan kerja, atau tetangga, biarlah perkataan kita mendatangkan berkat dan mencerminkan kekudusan Tuhan Allah yang ada di dalam kita. Sebagai keluarga Kristen, marilah kita mencerminkan 'manusia baru' yang kudus dan benar melalui perkataan dan tindakan kita sehari-hari. Jauhkan diri berkompromi dengan dusta-dusta kecil demi keuntungan pribadi? Marilah kita menjaga kesatuan dengan sesama hari ini melalui perkataan yang membangun dan jujur?

Doa: Ya Tuhan Allah, terima kasih atas anugerah manusia baru yang telah Engkau sediakan bagi kami. Hari ini, kami mau memilih untuk mengenakan pakaian kebenaran dan kekudusan-Mu. Penuhilah hati kami dengan ketulusan dan jagalah lidah bibir kami agar menjauhi segala dusta. Biarlah setiap perkataan dan tindakanku hari ini mendatangkan damai sejahtera dan memberkati sesama. Amin

01/09/2026

Efesus 4:22-23 yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan,
supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu,

"MENANGGALKAN MANUSIA LAMA"

Syalom,,,
Saudaraku,,,
Coba bayangkan. kita baru saja selesai bekerja bakti di tempat yang sangat , penuh lumpur dan berbau. Setelah selesai, apa yang akan kita lakukan? Tentu saja akan mandi dan mengganti pakaian. Sangat tidak masuk akal jika setelah mandi bersih kita kembali mengenakan pakaian yang kotor dan bau tadi, bukan? Ilustrasi ini menggambarkan apa yang dimaksud Rasul Paulus tentang ‘menanggalkan manusia lama’. Kehidupan kita yang dahulu, sebelum benar-benar hidup dalam Yesus Kristus, diibaratkan seperti pakaian kotor yang penuh dengan nafsu menyesatkan dan menuntun pada kebinasaan.

Firman Tuhan Allah hari ini mengingatkan kita akan dua tindakan menentukan dalam pertumbuhan rohani kita: Pertama, Menanggalkan Manusia Lama (Ayat 22). Kata ‘menanggalkan’ di sini menggunakan istilah yang sama seperti melepas pakaian. Ini adalah tindakan yang sengaja, tegas dan sukarela. Kita diminta untuk membuang kebiasaan lama, egoisme, dendam, perkataan sia-sia, dan rupa-rupa keinginan daging yang dahulu mengikat kita. Mengapa harus ditanggalkan? Karena firman Tuhan Allah dengan jelas memperingatkan bahwa ‘manusia lama’ itu menuju kebinasaan. Mempertahankannya berarti membiarkan diri kita binasa oleh tipu daya dunia. Kedua, Dibaharui di Dalam Roh dan Pikiran (Ayat 23) Menanggalkan yang lama saja tidak cukup; harus ada kekosongan yang diisi. Proses pengisian ini dimulai dari dalam: yaitu roh dan pikiran kita. Pikiran adalah pusat kendali hidup kita. Jika pikiran kita tidak dibarui oleh firman Tuhan Allah dan Roh Kudus, kita akan dengan mudah jatuh kembali ke pola hidup yang lama. Dibarui berarti mengizinkan cara pandang kita, nilai-nilai hidup kita dan motivasi hati kita diselaraskan dengan kehendak Tuhan Allah setiap hari.

Proses menanggalkan dan membarui ini bukanlah peristiwa satu kali selesai, melainkan sebuah keputusan dan perjuangan yang kita lakukan setiap hari. Setiap pagi saat kita bangun, kita memilih pakaian rohani apa yang mau kita kenakan: tabiat lama yang egois atau tabiat baru yang serupa dengan Yesus Kristus? Sebagai keluarga Kristen, kita harus selalu berkaca diri dan bertanya, kebiasaan atau karakter ‘manusia lama’ yang masih sering dipakai dan sulit ditanggalkan? Bagaimana kita menjaga agar pikiran tetap dibarui? Berdoalah dan renungkan firman-Nya agar pikiran kita dijaga dari pengaruh buruk dunia?

Doa : Ya Tuhan Allah, terima kasih atas teguran dan pengingat-Mu hari ini. Kami sadar bahwa seringkali masih mengenakan ‘pakaian kotor’. Roh Kudus, berikan kami kekuatan dan keberanian untuk menanggalkan setiap manusia lama, ego dan nafsu yang menyesatkan. Baruilah roh dan pikiran kami agar sepanjang hari ini, hidup kami memancarkan karakter-Mu. Kami berdoa dalam nama Anak-Mu, Yesus Kristus. Amin

31/08/2026

Efesus 4:20–21 Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus. Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus,

"MENGENAL YESUS KRISTUS MENGUBAH HIDUP"

Syalom,,,,
Saudaraku,,,,
Pernahkah kita ‘tahu’ tentang seorang tokoh terkenal, tetapi tidak benar-benar ‘mengenal’ dia secara pribadi? Tahu biodatanya saja tentu berbeda jauh dengan mengenal sifat, hati dan karakternya karena sering menghabiskan waktu bersama. Rasul Paulus hari ini mengingatkan kita tentang perbedaan mendasar ini dalam hubungan kita dengan Yesus Kristus. Sebelum mengenal-Nya, manusia hidup dalam kesia-siaan pikiran dan kegelapan hati. Namun, “Tetapi kamu bukan demikian.” Ada garis pemisah yang jelas antara hidup yang lama dan hidup yang baru setelah kita mengenal Yesus Kristus.

Mengenal Yesus kristus bukan sekadar tahu cerita-cerita Alkitab. Mengenal-Nya adalah sebuah proses belajar yang mengubah hidup. Ada tiga poin penting yang bisa kita renungkan dari firman Tuhan Allah hari ini: Pertama, Mendengar tentang Dia: Iman timbul dari pendengaran akan firman-Nya. Kita membuka hati untuk terus diisi oleh cerita kebaikan dan kasih-Nya. Kedua, Menerima Pengajaran di dalam Dia: Kita tidak hanya menjadi pendengar yang pasif, tetapi mengizinkan ajaran-ajaran Yesus Kristus berakar dan mengoreksi cara berpikir kita yang keliru. Ketiga, Kebenaran yang Nyata dalam Yesus Kristus: Yesus Kristus bukan sekadar guru moral; Dia adalah Kebenaran itu sendiri. Mengenal Yesus Kristus berarti menyelaraskan hidup kita dengan standar kebenaran-Nya, bukan standar dunia.

Ketika kita benar-benar belajar mengenal Yesus Kristus, dampaknya akan terlihat nyata dalam hidup keseharian kita. Cara kita berbicara, merespons masalah, mengampuni orang lain dan mengasihi sesama akan mencerminkan karakter Yesus Kristus. Kita tidak lagi hidup sama seperti dunia yang tanpa arah, melainkan hidup sebagai ciptaan baru yang dipimpin oleh kebenaran-Nya.

Sebagai keluaga Kristen, apakah pengenalan kita tentang Yesus Kristus selama ini sudah mengubah karakter dan gaya hidup sehari-hari, atau baru sebatas pengetahuan di otak saja? Bagian hidup mana yang hari ini masih berjalan dengan ‘cara lama’ dan perlu diserahkan agar dididik oleh kebenaran Yesus Kristus?

Doa: Ya Tuhan Allah, terima kasih karena Engkau telah memperkenalkan Anak-Mu kepada kami. Kami rindu tidak hanya sekadar tahu tentang Yesus Kristus, tetapi benar-benar mengenal hati-Mu. Roh Kudus, pimpinlah langkah kami hari ini agar hidup mencerminkan kebenaran-Mu dan memuliakan nama-Mu. Amin

29/08/2026

Efesus 4:17 Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia

"Mengenal Tuhan Allah"

Syalom,,,,
Saudaraku,,,,
Membuat pilihan dan mengambil keputusan merupakan suatu yang sulit untuk dilakukan, termasuk dalam hubungan dengan iman dan kepercayaan. Pilihan yang pertama memilih untuk menjadi orang yang percaya dan mengenal Tuhan Allah serta hidup dalam kebenaran merupakan suatu tantangan dan penuh penuangan. Pilihan kedua menjalani hidup tidak mengenal Tuhan Allah dengan pikiran yang sia-sia tanpa ada hukum dan kebenaran. Orang Kristen mutlak perlu memahami kontras antara kehidupan sewaktu belum mengenal Tuhan Allah dengan kehidupan yang sudah mengenal-Nya dalam diri Yesus Kristus.

Firman Tuhan Allah hari ini memberi penekanan pada faktor intelektual dalam pola hidup manusia, bahwa orang yang percaya Yesus Kristus jangan hidup seperti orang tidak mengenal Tuhan Allah dengan 'pikirannya yang sia-sia. Pikiran yang sia-sia adalah pikiran yang tidak bermanfaat, yang kosong dan hampa, tidak berguna dan bertentangan dengan nilai kebenaran, penuh dengan prasangka dan kebencian. Pikiran adalah pusat pemikiran seseorang digambarkan sebagai sesuatu yang berhubungan dengan keras kepala, ketidakpekaan terhadap hal-hal yang menjadi ciri kehidupan tanpa memperhatikan nilai-nilai moral. Merasa nyaman dengan pikiran yang sia-sia dan hukum Tuhan Allah sama saja menempatkan diri dalam kondisi terburuk dihadapan-Nya.

Mengenal Tuhan Allah membutuhkan pikiran yang sesuai dengan kebenaran-Nya. Hidup tidak mengenal Tuhan Allah dengan pikiran yang sia-sia menjadi penghalang dalam pertumbuhan rohani dan hidup bersama sebagai satu persekutuan. Sebagai keluarga Kristen, sangat penting untuk menjaga pikiran supaya tetap positif. Pikiran kita akan sangat menentukan seperti apa kita jadinya dan pikiran yang tidak menghasikan sesuatu yang berharga adalah sia-sia. Karena itu, orang yang percaya harus berusaha merubahan dari pikiran yang sia-sia, yang jahat dan tidak benar pada pikiran baru yang sehat dan membangun seperti pikiran Yesus Kristus.

Doa: Bapa di Sorgawi, kami memohon tolonglah supaya kami tidak hidup seperti orang yang tidak mengenal-Mu dengan pikiran yang sia-sia. Beri kami kemampuan untuk terus berupaya berpikir seperti Yesus Kristus. Amin

28/08/2026

Yosua 24:28 Sesudah itu Yosua melepas bangsa itu pergi, masing-masing ke milik pusakanya.

Ayat Kunci: "Lalu Yosua melepas bangsa itu pergi, masing-masing ke milik pusakanya."

"Ibadah Yang Sejati Dimulai Saat Ritual Usai"

Syalom,,,,
Saudaraku,,,
Ada kritik yang tajam sekaligus membangun bagi spiritualitas warga Gereja masa kini. Fenomena "suci di dalam gereja ,saat ibadah ritual, tetapi kehilangan kesucian di luar gereja (dikotomi sekulersakral atau kemunafikan iman).

Banyak orang Kristen terjebak pada pemikiran bahwa kehadiran Tuhan Allah hanya ada di dalam gedung gereja, di altar atau selama ibadah. Mereka mengira kekristenan hanyalah soal menyelesaikan kewajiban hari Minggu, bernyanyi dengan khusyuk dan mendengarkan khotbah. Padahal, ritual di dalam gereja hanyalah pembekalan. Akibatnya, saat melangkah keluar dari pintu gereja, mereka merasa terlepas dari pengawasan Tuhan Allah.

Ibadah yang sejati adalah ujian di kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang gagal menjadi saksi Yesus Kristus di tempat kerja (misalnya ikut korupsi, tidak jujur) atau di rumah tangga (kasar, egois), maka ibadah ritual yang dilakukannya di gereja sebenarnya menjadi sia-sia dan kehilangan maknanya. Mengapa ada kecenderungan suci di dalam Gereja tetapi tidak di luar? Karena menjadi suci di dalam gereja itu mudah. Lingkungannya mendukung, semua orang tersenyum, berpakaian rapi dan menyanyikan lagu yang sama. Namun, di tempat kerja sulit karena ada godaan uang, persaingan tidak sehat dan tekanan sesama. Di rumah tangga ada keegoisan dan kelelahan.
Ketika iman tidak berakar kuat menjadi karakter Yesus Kristus, orang kristen akan memilih jalan termudah, berkompromi dengan dunia di luar gereja, lalu memakai topeng kesucian lagi saat hari ibadah tiba.

Setelah pembaruan perjanjian selesai, Yosua mempersilakan bangsa Israel p**ang ke "milik pusakanya masing-masing." Bagi kita saat ini, milik pusaka itu adalah rumah tangga, tempat kerja, sekolah dan lingkungan sosial. Banyak orang Kristen tidak melihat pekerjaan di dunia sekuler, kehidupan rumah tangga sebagai tugas ilahi. Mereka menganggap hal-hal itu murni urusan duniawi yang terpisah dari iman. Padahal, di situlah Tuhan Allah menempatkan kita untuk menjadi "garam dan terang". Ketika kita memisahkan iman dari profesi atau kehidupan sosial, di situlah kemunafikan hidup dimulai. Ingatlah bahwa iman kita harus direalisasikan dalam ketaatan hidup sehari-hari, di tengah rumah tangga, tempat kerja dan lingkungan kita. Jadikan perilaku kita hari ini (cara kita berbicara, berbisnis) sebagai khotbah yang hidup bagi orang-orang di sekitar kita.

Doa: Ya Bapa sorgawi, ajarlah kami membawa semangat dan pesan ibadah ke dalam rumah, pekerjaan dan seluruh kehidupan. Biarlah hidup kami menjadi kesaksian tentang kasih dan kemuliaan-Mu. Kami berdoa dalam nama Anak-Mu, Yesus Kristus. Amin.

27/08/2026

Yosua 24:25-27 Pada hari itu juga Yosua mengikat perjanjian dengan bangsa itu dan membuat ketetapan dan peraturan bagi mereka di Sikhem. Yosua menuliskan semuanya itu dalam kitab hukum Allah, lalu ia mengambil batu yang besar dan mendirikannya di sana, di bawah pohon besar, di tempat kudus TUHAN.
Kata Yosua kepada seluruh bangsa itu: "Sesungguhnya batu inilah akan menjadi saksi terhadap kita, sebab telah didengarnya segala firman TUHAN yang diucapkan-Nya kepada kita. Sebab itu batu ini akan menjadi saksi terhadap kamu, supaya kamu jangan menyangkal Allahmu."

Ayat Kunci: "Batu ini akan menjadi saksi."

"Bangunlah Tugu Peringatan Rohani"

Syalom,,,,,
Saudaraku,,,,
Perubahan dunia yang begitu cepat dan tidak menentu membuat banyak manusia sering bingung, kehilangan penggangan dan harapan. Untuk mempertahankan hidup, ada orang Kristen bersikap ikut arus dan hanyut oleh derasnya pengaruh sekularisasi.

Sehingga tidak dapat membedakan mana yang baik dan yang jahat. Oleh karena itu ada kecenderungan banyak orang Kristen meninggalkan iman, baik berpindah agama maupun meninggalkan iman (sekuler/atheis).

Bangsa Israel mengalami hal yang sama dalam perjalanan di padang gurun dan hendak memasuki tanah Kanaan. Yosua mengingatkan dengan keras bahwa Tuhan Allah adalah kudus dan cemburu. Perjanjian dengan-Nya bukanlah permainan. Sebagai pengingat atas rapuhnya memori manusia, sebuah batu besar didirikan di bawah pohon Tarbantin. Mengapa?
Karena manusia mudah lupa. Hari ini kita bisa berjanji setia kepada Tuhan Allah, tetapi besok bisa mulai mengendur. Sebagai keluarga Kristen, kita memerlukan "batu peringatan" rohani. Bukan batu secara harfiah, melainkan kebiasaan-kebiasaan yang mengingatkan kita kepada Tuhan Allah melalui membaca Alkitab setiap hari, doa keluarga, ucapan syukur, ibadah atau kesaksian tentang pertolongan Tuhan Allah. Semua itu membantu kita tetap mengingat kasih setia, penyertaan dan berkat-Nya. Selain itu, kita dapat mengkreasikan "membangun batu peringatan rohani" dalam keluarga sesuai dengan kondisi kita masing-masing agar tidak melupakan Tuhan Allah? Seperti inisiatif saling mendoakan pasangan atau anak-anak kita agar rumah kita menjadi tempat penyembahan yang benar.

Doa: Ya Tuhan Allah, tolonglah kami untuk membangun kehidupan rohani yang kokoh sehingga kami tetap setia mengingat kasih-Mu dan iman kami tidak mudah goyah diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran. Kami berdoa dalam nama Anak-Mu, Yesus Kristus. Amin

Address

Langowan

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Resurrection Faith posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share