MPI (Mahasiswa Pecinta Islam) adalah organisasi pergerakan mahasiswa yang didirikan dalam rangka iqamatuddien (menegakkan Islam) dengan menyesuaikan kebutuhan realitas dunia mahasiswa. Maksudnya, dalam hal ini MPI tidak kemudian menjadikan mahasiswa sebagai santri-santri yang akan pergi meninggalkan kampusnya. Namun, adalah bagaimana para mahasiswa ini bisa berperan dalam da’wah sesuai dengan keah
lian dan profesinya masing-masing. Semboyan MPI adalah Al-Kitab Al-Hadiy, As-Sayfu An-Nashir yang artinya : Kitab sebagai Petunjuk, Pedang sebagai Penolong. Kalimat ini merupakan kalimat yang dikutip dari perkatan Syaikh Al Islam Ibnu Taymiyyah. Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan di atas, MPI berusaha :
1. Menanamkan ajaran Islam kepada mahasiswa secara murni dan kaffah.
2. Membentuk pola pikir Islam kepada mahasiswa.
3. Menghimpun potensi ilmu dan keahlian mahasiswa untuk menegakkan Islam.
4. Membina dan menggerakkan mahasiswa guna terwujudnya tujuan MPI.
5. Mewujudkan sarana-sarana aktualisasi diri bagi mahasiswa yang sejalan dengan aturan Islam. Kami memandang bahwa organisasi mahasiswa yang telah hadir saat ini belum membawa visi yang utuh dalam menegakkan Islam. Jika pun ada, kekuatannya masih sangat terbatas. Mengapa demikian..? Dalam sisi ini kami mengamati bahwa pergerakan mahasiswa yang telah hadir hari ini:
1. Belum sepenuhnya tegak di atas manhaj salaf ash shalih. Rata-rata gerakan mahasiswa hari ini tegak di atas manhaj-manhaj baru yang tidak dikenal di masa-masa generasi salaf; baik para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in, dan MPI hadir dengan menawarkan manhaj salaf yang utuh dan murni, insya Allah.
2. Keterlibatan berbagai organisasi mahasiswa ke dalam ranah politik praktis yang hari ini bergerak di atas ideologi demokrasi yang jauh, bahkan bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Sayyid Quthb rahiimahuLlah berkata, “Harakah Islam harus dimulai dari pondasinya, yaitu: menghidupkan hakikat aqidah Islam di dalam hati dan akal, serta men-tarbiyah orang yang menerima da’wah ini dengan tarbiyah Islamiyah yang benar. Tidak membuang-buang waktu dalam berbagai aktivitas politik yang tengah berlangsung. Tidak melakukan upaya untuk memaksakan sistem Islam dengan cara menguasai pemerintahan sebelum terbentuk pondasi Islam di tengah-tengah masyarakat—dimana merekalah nanti yang akan menuntut sistem Islam itu sendiri, jika mereka telah mengerti hakikatnya dan ingin diperintah berdasarkan sistem tersebut.” (Kutipan dari kitab Limaadza A’damuni; Mengapa Aku Dihukum Mati).
3. Kelirunya sebagian gerakan dengan memaksakan mahasiswa untuk meninggalkan kampus dan menjadikan mereka santri yang menekuni kitab-kitab ilmu diin namun melupakan sisi yang lain, terutama keahlian dan profesionalitas dalam membangun peradaban Islam. Padahal, Islam mencakup seluruh aspek kehidupan yang tidak mungkin tidak, dalam proses penegakannya pun memerlukan tenaga-tenaga dari berbagai macam bidang kehidupan.
4. Sedangkan sebagian lagi terlalu tergesa-gesa dan pada akhirnya lebih memilih memindahkan mahasiswa dari medan-medan da’wah kampus menuju medan-medan qital yang mereka ciptakan sendiri. Padahal realita yang ada di wilayah Nusantara adalah wilayah da’wah dan amar ma’ruf nahyi munkar.
5. Begitu banyaknya gerakan mahasiswa Islam yang berda’wah dan ber ‘amar ma’ruf, namun sedikit, bahkan bisa dikatakan belum ada sama sekali yang berani melakukan nahyi munkar. Maka dari itu, harus ada sebuah organisasi kemahasiswaan yang membawa tradisi keilmuwan para ulama salaf dan juga semangat mereka dalam da’wah, ‘amar ma’ruf nahyi munkar, dan jihad fii sabiilillah. Alasan-alasan inilah yang menjadi sebab khusus bagi MPI dibandingkan organisasi-organisasi kemahasiswaan Islam yang pernah ada. MPI ibarat bayi yang baru dilahirkan dari rahim ibunya, sehingga membutuhkan banyak uluran tangan dan gizi yang baik untuk membuat sang bayi ini tumbuh dan berkembang. Maka, jadilah tangan dan gizi-gizi itu wahai saudaraku. Mari kita bersama bersatu di atas manhajnya para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Kembali kepada pemahaman generasi pertama Islam (salaf ash shalih) dalam tarbiyah, da’wah, dan jihad. Semoga apa yang kita torehkan ini menjadi saksi di hadapan Allah kelak yang akan membuka pintu ridha dan maghfirah-Nya.