GKPI Lawe Pasir

GKPI Lawe Pasir Rencana Pembangunan/Perehapan Gereja GKPI Lawe Pasir Halaman ini merupakan sebagai media informasi pendukung panitia pembangunan Gereja GKPI LawePasir

09/03/2014

10 Mar 2014
“HIDUP UNTUK MENCERITAKAN PERBUATAN TUHAN”
“Aku tidak akan mati, tetapi hidup dan aku akan menceriterakan perbuatan-perbuatan TUHAN” (Mzm.118:17)
Alkisah, seorang anak yang terlahir dari sebuah keluarga miskin dan
bermasalah. Kedua orangtuanya sudah bercerai. Ibunya seorang pecandu
alkohol. Ayahnya sakit-sakitan dan sering bertengkar dengannya. Anak ini
juga kerap mengalami tindak kekerasan dari teman-temannya. Akibat
kurangnya kasih sayang dari orangtua, anak ini menjadi anak yang tidak
percaya diri dan s**a menyendiri. Pahitnya kehidupan membuat anak ini
pernah nekad bunuh diri dengan meminum racun serangga. Namun, jiwanya
selamat karena bantuan seseorang. Suatu kali, ketika anak itu beranjak
remaja, ibunya membawanya ke pinggir jalan raya. “Kamu tunggu di sini,
ibu akan segera datang!”. Itulah perintah ibunya. Anak ini menaati
perintah ibunya. Namun, ia menunggu dengan sabar sampai tiga hari
berturut-turut tapi ibunya tidak kunjung kembali. Ternyata, ibunya
sengaja meninggalkan anak itu disana, karena merasa tidak sanggup
membiayai dan membesarkannya.

Namun, selama tiga hari di sana, ada
seorang pelayan Tuhan yang memerhatikan anak itu. Karena merasa iba,
pelayan Tuhan itupun menghampirinya dan memberinya makan. Lalu, pelayan
Tuhan itu memberi tawaran untuk ikut bersamanya. Suatu ketika ia diajak
retreat oleh pelayan Tuhan tersebut. Dalam suatu kebaktian, ia
mendengarkan firman Tuhan: “bahwa ada Tuhan yang mau mati baginya supaya
ia selamat”. Anak itupun mengalami jamahan Tuhan. Sejak saat itu, ia
meyakini bahwa hidup dan masa depannya tidak akan pernah sama lagi
dengan hidupnya yang silam. Ia pun memilih untuk menjalani hidupnya di
dalam anugerah dan rancangan TUHAN yang telah disediakan baginya. Nama
anak itu adalah Bill Wilson yang terkenal sebagai pendiri sebuah
organisasi pelayanan anak jalanan yang menjangkau lebih dari 20.000 anak
setiap minggunya. Sejak itu Bill Willson selalu bersaksi tentang
kebaikan Tuhan yang menyelamatkan hidupnya. Kepahitan hidup yang membuat
hidupnya diambang maut, kini telah dilupakannya. Firman Tuhan
mengantarkannya pada satu kehidupan yang benar-benar diperbarui. Ia
tidak pernah malu mengisahkan hidupnya yang lampau. Kepahitan itu sudah
mati dan kini ia hidup untuk menceritakan tentang perbuatan Tuhan yang
menolong hidupnya.

Sebagaimana Tuhan telah menjamah hati Bill Wilson
dan mengubah hidupnya, kita juga harus hidup untuk menceritakan
perbuatan tangan Tuhan yang ajaib. Tuhan punya rencana bagi kita semua.
Rencana Tuhan tentu rencana yang baik. Jika di antara kita saat ini ada
yang mengalami kisah pergumuluan dan persoalan berat, yakinlah semuanya
akan indah pada waktunya. Nantikan kuasa Tuhan dalam firman-Nya, bahwa
Tuhan tidak akan membiarkan kita mati dalam persoalan itu, tapi akan
memberikan kita hidup untuk boleh menyaksikan perbuatan dan
keajaiban-Nya di sekeliling kita.
Doa:
Tuhan, di tangan-Mu segala pergumulan hidup yang kami alami. Kami percaya bahwa Engkaulah punya rencana bagi kami, sehingga hidup kami menjadi indah dan berarti.
Ajarlah kami untuk menyaksikan kebaikan-Mu. Amin.

Kata-Kata Bijak:
Hidupku adalah untuk menceritakan tentang kebaikan Tuhan

28/02/2014

Renungan - Gereja Kristen Protestan Indonesia
28 Feb 2014
MENGASIHI MUSUH, MEMBUKA PINTU DAMAI
Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. (Lukas 6:27-28)
Ini adalah salah satu ajaran unik dari kekristenan. Tentulah, mengerjakannya tak semudah mengucapkannya. Betapa tidak, siapa yang rela jika harus mengasihi orang yang membenci dirinya? Di dalamnya perlulah menghilangkan egoisme, kemarahan dan dendam. Apalagi, di dunia kita ini selalu didengang-dengungkan tentang keadilan. “Kami butuh keadilan!” katanya. Keadilan itu pun sering diartikan sebagai “kami butuh pembalasan. Kami ingin membalas mereka yang berbuat salah.” Padahal, kita, atau kekristenan kita tidaklah akan berbeda dengan yang lain jika hal ini tidak menjadi bagian kita.

Mengatakan firman ini, Yesus bersama-sama dengan para muridNya dan orang banyak dari seluruh Yudea, dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon. Yesus berkata bagi mereka yang datang dari berbagai tempat itu. Daerah-daerah ini dulu dipenuhi dengan pemandangan-pemandangan tentang penjajahan Romawi, perilaku barbarian dan kekerasan. Akibatnya, pembunuhan dan tindakan kejahatan lain menjadi lumrah. Tentu saja, pembalasan pun menjadi biasa. Bagi orang-orang seperti itu, Yesus justru berharap di luar kebiasaan mereka. Yesus menyuruh mereka untuk mengasihi para musuh mereka. Kata kasih yang digunakan adalah “agapao” yang kata bendanya adalah “agape”. Ini kasih tanpa mengharapkan balasan dan imbalan. Mereka dijajah tapi harus mengasihi tanpa imbalan kepada orang Romawi itu. Malah, mereka harus berbuat baik kepada yang membenci mereka. Juga meminta berkat bagi yang mengutuk mereka. Berdoa bagi yang mencaci mereka. Yesus tidak menghendaki mereka sama dengan orang yang membenci mereka. Jalan perdamaian adalah jalan mengasihi mereka yang membenci. Perdamaian tak dapat ditempuh dengan membalas kutuk dan cacian. Itu hanya akan menciptakan perang yang baru dan mendalam.

Yesus mengatakan ini dan menunjukkan teladan. Walau punya kuasa untuk menghancurkan para serdadu Romawi, di atas salib itu Dia malah berkata “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Nelson Mandela, presiden Afrika Selatan yang meninggal bulan Desember lalu melakukan hal yang sama. Dia dikurung 27 tahun pada saat menuntut kesamaan kelas dengan warga kulit putih. Alkibatnya dia menderita dan mengidap penyakit infeksi paru-paru. Tapi, pada saat dia menjadi presiden, dia tidak membalas dengan menindas warga kulit putih, tetapi justru melindungi mereka. Dia mengasihi dan merangkul mereka. Perdamaian sejati pun terwujudlah. Ada banyak contoh. Mereka bukanlah contoh-contoh yang sulit untuk ditiru karena mereka, sama seperti kita, adalah manusia tulen. Lantas, jika Yesus sudah meminta keampunan dosa bagi kita yang menyalibkanNya, apakah kita pantas untuk tidak mengasihi orang lain?

DOA : Tuhan, bukalah hatiku untuk mengasihi dan memberkati mereka yang membenci aku dengan tulus. Amin.

Kata-kata bijak:
Tidak ada perdamaian sejati tanpa kerelaan mengasihi.

11/02/2014

12 Feb 2014
HIDUP DALAM KEARIFAN
Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. (Efesus 5:15-16).
Seorang Raja mengadakan sayembara dan akan memberi hadiah yang melimpah kepada siapa saja yang bisa melukis tentang kedamaian. Ada banyak seniman dan pelukis berusaha keras untuk memenangkan lomba tersebut. Sang Raja berkeliling melihat-lihat hasil karya mereka. Hanya ada dua buah lukisan yang benar-benar paling dis**ainya. Tapi, sang Raja harus memilih satu di antara keduanya. Lukisan pertama menggambarkan sebuah telaga yang tenang. Permukaan telaga itu bagaikan cermin sempurna yang memantulkan kedamaian gunung-gunung yang menjulang mengitarinya. Di atasnya terpampang langit biru dengan awan putih berarak-arak. Semua yang memandang lukisan ini akan berpendapat, inilah lukisan terbaik mengenai kedamaian.

Lukisan kedua menggambarkan pegunungan juga. Namun tampak kasar dan gundul. Di atasnya terlukis langit yang gelap dan merah menandakan turunnya hujan badai. Sedangkan tampak kilat menyambar-nyambar liar. Di sisi gunung ada air terjun deras yang berbuih-buih. Sama sekali tidak menampakkan ketenangan dan kedamaian. Tapi, sang Raja melihat sesuatu yang menarik. Di balik air terjun itu tumbuh semak-semak kecil di atas sela-sela batu. Di dalam semak-semak itu seekor induk Pipit meletakkan sarangnya. Jadi, di tengah-tengah riuh-rendahnya air terjun, seekor induk Pipit sedang mengerami telurnya dengan damai. Benar-benar damai. Lukisan manakah yang memenangkan lomba? Sang Raja memilih lukisan nomor dua. Tahukah anda mengapa? "Karena", jawab sang Raja, "kedamaian bukan berarti anda harus berada di tempat yang tanpa keributan, kesulitan atau pekerjaan yang keras dan sibuk. Kedamaian adalah hati yang tenang dan damai, meski Anda berada di tengah-tengah keributan luar biasa.

Untuk menemukan kebaikan, kedamaian, ketenangan dan hikmat di tengah-tengah keadaan yang bergemuruh membutuhkan kearifan dalam perenungan. Hari-hari yang kita lalui pada masa kini seolah membuai kita untuk terus masuk dalam ritme kerja yang seakan-akan tidak pernah putus. Banyak manusia yang menjadi bebal karena tidak memiliki waktu berefleksi untuk mengerti kehendak Tuhan. Oleh karenanya, Firman Tuhan hari ini mengingatkan : “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.” (Ef.5:15-16).

DOA: Ya Tuhan Allah Bapa! Kami sering sekali seolah-olah terjebak dalam waktu sehingga membuat kami tidak tentram dan tidak memberikan kesempatan diri merenungkan Firman-Mu. Mampukan kami ya Tuhan menggunakan waktu yang ada penuh dengan hikmat, agar kami hidup dalam kearifan.Amin.

Kata-kata bijak
Kedamaian bukan berarti anda harus berada di tempat yang tenang, tetapi kedamaian adalah suasana hati yang tenang di tengah kondisi yang kelam.

11/02/2014

Renungan - Gereja Kristen Protestan Indonesia
11 Feb 2014
NYALAKAN PELITAMU
“Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang.” (Mazmur 36:10).
Pada suatu malam, seorang buta berpamitan p**ang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita. Orang buta itu tertawa dan berkata, “Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa p**ang kok.” Dengan lembut sahabatnya menjawab, “Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu.” Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut. Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta. Dalam kagetnya, ia mengomel, “Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong!” Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu. Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta. Kali ini si buta bertambah marah, “Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!” Pejalan itu menukas, “Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!” Si buta tertegun. Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, “Oh, maaf, sayalah yang ‘buta’, saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta.” Si buta tersipu menjawab, “Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya.” Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka pun melanjutkan perjalanan masing-masing.

Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan. Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin, keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang lain, tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinya sendiri. Dalam perjalanan “p**ang”, ia belajar menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati karena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf.

Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing? Jika sudah, apakah nyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam? JADILAH PELITA bagi diri kita sendiri dan sekitar kita. Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan, ”Sejuta pelita dapat dinyalakan dari sebuah pelita, dan nyala pelita pertama tidak akan meredup. Pelita kebijaksanaan pun, tak kan pernah habis terbagi.” Agar kita bisa menuntun orang lain, kita perlu dituntun oleh Tuhan lebih dulu. Sudahkah Anda belajar terus dari-Nya setiap hari? Saat teduh yang teratur akan membuat wadah kita dipenuhi terus oleh hikmat Tuhan. Mengapa tidak melakukannya sekarang?

DOA:Ya Tuhan yang Agung, biarlah FirmanMu menerangi kaki kami untuk melangkah dalam hidup ini sehingga kami juga dimampukan untuk menjadi terang baik sesama kami. Amin.

Kata-kata bijak
Pelita kebijaksanaan berasal dari hati yang mencari kebenaran firman Tuhan.

09/02/2014

Renungan - Gereja Kristen Protestan Indonesia
10 Feb 2014
MENGHIDUPI HIDUP YANG TERARAH DALAM TUHAN
“Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.” (Yoh.1:3-4).
Suatu kali di siang yang terik, di saat ketiganya tengah sibuk bekerja, melintaslah seorang pria tua. "Apa yang sedang kau kerjakan ?", tanya orang tua itu kepada salah seorang dari antara mereka. Pekerja bangunan yang pertama tanpa menoleh sedikit pun, menjawab orang tua itu dengan ketus. "Hei orang tua, apakah matamu sudah terlalu rabun untuk melihat. Yang aku kerjakan di bawah terik matahari ini adalah pekerjaan seorang kuli biasa !”Orang tua itu pun tersenyum, lalu beralih kepada pekerja bangunan yang kedua, "Wahai pemuda, apakah gerangan yang sebenarnya kalian kerjakan ?" Pekerja bangunan yang kedua itu pun menoleh. Wajahnya yang ramah tampak sedikit ragu. "Aku tidak tahu pasti, tetapi kata orang, kami sedang membuat sebuah rumah Pak", jawabnya. Kemudian orang tua itu pun menghampiri pekerja yang ketiga, lalu menanyakan hal yang sama kepadanya. Maka pekerja yang ketiga pun tersenyum lebar dan menjawab: "Bapak, kami sedang membuat sebuah istana indah yang luar biasa Pak!. Mungkin kini bentuknya belum jelas, bahkan diriku sendiri pun tidak tahu seperti apa gerangan bentuk istana ini ketika telah berdiri nanti. Tetapi aku yakin, ketika selesai, istana ini akan tampak sangat megah, dan semua orang yang melihatnya akan berdecak kagum”, jelas pemuda itu dengan berapi-api.

Mendengar jawaban pekerja bangunan yang ketiga, orang tua itu sangat terharu, rupanya orang tua ini adalah pemilik istana yang sedang dikerjakan oleh ketiga pekerja bangunan itu. Hal yang sama rupanya berlaku p**a dalam hidup ini. Sebagian besar orang tidak pernah tahu untuk apa mereka dilahirkan ke dunia. Mungkin karena telah begitu disibukkan oleh segala bentuk "perjuangan", merasa tidak terlalu peduli dengannya. Bagi sebagian hidup sajapun sudah syukur. Sebagian lagi, yang biasanya adalah tipe "pengekor" atau "me too" yaitu orang-orang yang punya pandangan yang samar-samar tentang keberadaan mereka dalam kehidupan. Sepertinya begini, kayanya begitu, kata motivator sih begitu, tapi pastinya ? Don't have idea ! Namun sisanya yaitu golongan terakhir, biasanya hanya segelintir orang- menemukan "visi" atau "jati diri" mereka di dunia ini.

Sebagai umat pilihan Tuhan hendaknya kita memiliki jati diri yang jelas, pasti dan teguh. Kita tahu bahwa segala sesuatu adalah Dia, maka hendaknya tujuan hidup kita mengarah kepada Dia siempu-Nya yang adalah pemelihara hidup. Demikian p**a kita tahu perjuangan kita dalam hidup ini tidak sia-sia, sebab di dalam Tuhan semua menjadi berarti bukannya tanpa makna.

DOA: Ya Tuhan, kami bersyukur bahwa segala sesuatu adalah berasal dariMu, demikian p**a diri kami. Untuk itu ya Tuhan, bimbing kami untuk semakin memahami misi hidup kami di dalam Engkau. Amin.

Kata-kata bijak
Berjuang dan teruslah bekerja, sebab tidak ada yang sia-sia di dalam Tuhan

15/01/2014

15 Jan 2014
BERSERAH KEPADA TUHAN
Berpalinglah kepadaku dan kasihanilah aku, berilah kekuatan-Mu kepada hamba-Mu, dan selamatkanlah anak laki-laki hamba-Mu perempuan! (Mazmur 86:16).
Hidup berserah kepada Tuhan adalah sebuah panggilan kepada kita di tengah-tengah pergumulan yang kita hadapi. Penyerahan diri seperti itu adalah langkah iman dan menjadi pintu bagi kita untuk menerima pertolongan Tuhan. Itulah yang dilakukan oleh pemazmur sebagaimana dalam nas ini. Hal tersebut menjadi teladan bagi kita ketika menghadapi penderitaan di dunia ini.

Di tengah-tengah kesesakan, pemazmur datang kepada Tuhan untuk memohon pertolongan. Dalam pergumulannya ia merasakan betapa beratnya penderitaannya karena serangan musuh-musuhnya. Dalam ayat 14 dia menyampaikan kepada Tuhan: “Ya Allah, orang-orang yang angkuh telah bangkit menyerang aku, dan gerombolan orang-orang yang sombong ingin mencabut nyawaku, dan tidak memperdulikan Engkau.” Dalam kondisi yang tersudut ini ia juga mengungkapkan keadaannya: “…sebab sengsara dan miskin aku.” (ay.86). Kesesakan yang hebat yang dialami pemazmur mendorong dia untuk berserah kepada Tuhan. Dalam ayat 1 ia berdoa: “Sendengkanlah telinga-Mu, ya TUHAN, jawablah aku.” Dalam nas kita hari ini ia menyampaikan: “Berpalinglah kepadaku dan kasihanilah aku, berilah kekuatan-Mu kepada hamba-Mu, dan selamatkanlah anak laki-laki hamba-Mu perempuan!” Keberanian pemazmur datang kepada Tuhan memohon pertolongan adalah karena Tuhan adalah “Allah penyanyang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia” (ay.15; Mzm.103:8). Kalau kita lihat dalam ayat 17 ternyata doa pemazmur dijawab oleh Tuhan dengan memberi pertolongan dan penghiburan.

Saudara yang terkasih, apa pergumulanmu hari ini? Dalam kondisi apa engkau sekarang merasa tersesak? Mungkin saudara saat ini kehilangan pekerjaan atau usaha saudara hancur? Atau mungkin saudara dalam keadaan sakit-penyakit atau tertekan batin karena perilaku orang-orang yang ada di sekitar kita? Apapun persoalan hidup saudara, sebagaimana pemazmur, datanglah kepada Tuhan. Katakan, apa pergumulanmu, apa persoalanmu. Di dalam doa mari menyerahkan semua pergumulan hidup kita sebab kita percaya Tuhan akan menolong kita dari segala penderitaan dan kesesakan. Keberanian kita datang kepada-Nya adalah karena Tuhan penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Dari pengalaman pemazmur kita percaya juga bahwa Tuhan akan menolong orang-orang yang menyerahkan hidupnya kepada-Nya. Mazmur 37:5: “Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak.”

DOA: Ya Tuhan, dari kesesakan yang dalam kami datang kepada-Mu, kasihanilah kami ya Tuhan. Tolonglah kami di tengah-tengah penderitaan ini karena Engkau Tuhan penyayang, pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Amin.

Kata-kata bijak
Seberapa berat penderitaan yang kita alami, Tuhan akan menolong kita
jika kita berserah diri kepada-Nya.

25/12/2013

Renungan - Gereja Kristen Protestan Indonesia
25 Des 2013
DIA IMANUEL
“Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.” (Yes.7:14).
Kata “Imanuel” tidak asing lagi bagi kita dalam hidup kegerejaan. Ada banyak gereja, sekolah dan yayasan yang memakai nama “Imanuel”. Apa sesungguhnya arti dan makna dalam kata itu dalam konteksnya dan apa artinya bagi orang percaya sekarang ini?

Sebenarnya nas ini disampaikan oleh Nabi Yesaya kepada Raja Ahas di tengah-tengah ketakutannya akan ancaman Rezin, Raja Aram dan Pekah bin Remalya yang akan maju memerangi kota Yerusalem. Karena mereka sudah berkemah di wilayah Efrata yang sudah dekat ke Yerusalem maka Raja Ahas dan seluruh rakyatnya gemetar ketakutan. Dalam situasi tersebut Firman Tuhan datang kepada Ahas: “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.” (ay.14). Nubuat ini memberikan kekuatan dan pengharapan kepada Ahas dan rakyatnya akan penyertaan Tuhan. Sebab dalam kata Imanuel menunjukkan jaminan penyertaan Tuhan. Nubuat ini menunjuk jauh ke depan ke masa Perjanjian Baru, yaitu dengan kedatangan Yesus. Itulah sebabnya dalam Matius: 1:23, malaikat Tuhan berpesan kepada Yusuf: "Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" -- yang berarti: Allah menyertai kita.” Pesan malaikat itu disampaikan kepada Yusuf justru di tengah-tengah pergumulan dan rencananya untuk menceraikan Maria diam-diam. Tetapi dengan kata “Imanuel” yang artinya Allah menyertai kita, maka Yusuf pun mengambil langkah berani untuk tetap memperistri Maria, yang telah mengandung dari Roh Kudus.

Di tengah-tengah kegalauan dan kecemasan kita saat ini, sering orang-orang mengandalkan kekuatan dan kepintarannya. Di pihak lain mereka mengandalkan manusia untuk memecahkan persoalan hidupnya. Tetapi yang sering dijumpai adalah kesia-siaan. Itulah sebabnya, mustahil mengandalkan manusia dalam menghadapi segala pergumulannya. Jika ketakutan itu tiba dan jika kecemasan itu menghadang, jalan keluar yang terbaik adalah datang kepada Tuhan. Amsal 3:5 berkata: “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” Itu berarti kita harus sungguh-sungguh berserah diri kepada Tuhan yang memiliki kuasa untuk membawa kita keluar dari setiap pergumulan hidup kita. Oleh karena itu dalam perayaan Natal hari ini kata “Imanuel” (nama kepada Yesus yang lahir itu) memberikan penguatan dan jaminan bagi kita akan penyertaan Tuhan.Amin.

Doa: Terpujilah namaMu Bapa di sorga atas kasihMu yang begitu besar mengutus AnakMu Yesus Kristus menjadi Imanuel bagi kami. Tolonglah kami ya Tuhan agar kami sungguh-sungguh berserah diri kepadaNya dalam setiap pergumulan hidup kami. Amin.

POKOK PIKIRAN:
Orang-orang percaya tidak perlu takut dalam menjalani hidup ini,
karena Imanuel telah datang”.

22/08/2012

Pembangunan GKPI Lawe Pasir masih terkendala bagaimana kira2 solusi yg baik..?

19/03/2012

Rencana Pembangunan/Perehapan Gereja GKPI Lawe Pasir

19/03/2012

Inilah gereja GKPI Wilayah Silindung. Maaf, tidak semuanya diposting, hanya perwakilannya saja.

Address

Gereja GKPI Lawe Pasir, Desa Terutung Mbelang
Kutacane

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when GKPI Lawe Pasir posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share