21/06/2022
๐ก๐๐ญ๐๐ฅ : ๐๐๐ก๐๐ ๐๐ง๐๐จ ๐ฆ๐ข๐๐ข๐
Oleh: Eksi Riwu
Ada banyak orang Kristen salah mengerti tentang NAZAR.
Pada beberapa kasus, nazar ditempatkan sebagai bayaran kepada Tuhan untuk melakukan apa yang mereka kehendaki.
Tulisan ini memberikan kita gambaran tentang Nazar.
๐ฃ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป๐๐ฎ๐ฟ
Di media social saya sering membaca postingan orang tentang nazar. Ada yang ingin melakukannya, ada p**a berupa saran. Penyebabnya berfariasi, namun yang paling sering muncul karena sesuatu berharga milik mereka telah hilang dicuri atau karena binatang peliharaan mereka diracuni orang.
Misalnya begini: โSaya akan ke gereja untuk menazarkan orang yang mencuri kalung saya, biar Tuhan membalasnya.โ
Ada p**a yang berkata: โsaya akan bernazar untuk orang yang meracuni anjing saya, biar dia juga mengalami nasip seperti anjing saya.โ
Atau dalam kasus yang sama, jika mencurigai seseorang sebagai pelakunya, ada yang menyarankan sesamanya agar ke gereja dengan membawa sejumlah uang dan menuliskan nama orang yang dicurigai itu, lalu di nazarkan. Biasanya, keinginan-keinginan dan alasan bernazar akan dituliskan pada selembar kertas lalu disertakan dalam sebuah amplop yang berisi sejumlah uang untuk dimas**an ke dalam kotak persembahan atau kotak nazar di gereja.
Seperti itulah serangkaian postingan yang sering saya baca. Keinginan bernazar atau saran bernazar muncul karena sesuatu telah terjadi.
Bukan dilarang, bukan juga salah jika ingin bernazar. Setiap orang yang telah dewasa punya hak dan dijamin oleh Alkitab untuk boleh melakukannya. Namun, tentu saja haruslah dibarengi dengan pemahaman yang benar dan lengkap tentang arti dan tujuan nazar, sebab nazar memiliki konsekuensi bagi orang yang melakukannya.
Kedua kasus di atas menunjukan dengan jelas ada ketidakpemahaman orang tentang nazar.
Pertama: karena nazar dipakai untuk mengekpresikan kemarahan dengan jalan mengancam orang yang melakukan kesalahan mencuri atau meracuni anjing miliknya.
Kedua: Nazar dipakai โseolah-olah sebagai suatu saranaโ menyuruh atau memerintah Tuhan untuk membalaskan rasa kekecewaan atau kemarahannya kepada si pelaku kejahatan yang namanya telah ia tuliskan dan mas**an ke dalam amplop berisi uang yang kemudian dipersembahkan tadi.
Pemahaman yang keliru ini telah membuat sebagian orang Kristen bertindak diluar batasnya. Ia, dalam ketidaktahuannya telah berani membayar Tuhan untuk membunuh seseorang atau membalas sakit hatinya. Ini suatu kesalahan fatal yang melarbelakangi saya membuat tulisan ini.
๐ฃ๐ฒ๐ป๐ด๐ฒ๐ฟ๐๐ถ๐ฎ๐ป
Nazar menurut KBBI
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memberi arti dan contoh yang sangat jelas tentang nazar dan bernazar, dimana disebutkan bahwa nazar adalah janji (pada diri sendiri) hendak berbuat sesuatu jika maksud tercapai.
Contohnya: ia mempunyai nazar, kalau anaknya lulus, ia akan mengadakan selamatan.
Sedangkan bernazar adalah 1) berjanji akan berbuat sesuatu, jika maksud tercapai; 2) mengucapkan nazar.
Contoh: ia bernazar kalau anaknya sembuah, ia akan bersedekah. Itulah arti nazar dalam pengertian umum.
Nazar Menurut Alkitab
Kata โnazarโ dalam alkitab selalu berkaitan dengan janji (Bilangan 30:2-3).
Namun janji nazar mengandung pengertian yang sejajar dengan sumpah (Bilangan 30:2, Mazmur 132:2).
Janjinya juga tidak terbatas pada dirinya sendiri, tetapi lebih dari pada itu, janji dalam nazar berhub**gan dengan Allah.
Janjinya berupa suatu tindakan yang akan di lakukan (Kejadian 28: 20-22) atau berupa tindakan yang akan dijauhi (Mazmur 132: 2-5) jika permohonannya telah Allah penuhi.
Singkatnya, nazar adalah janji seseorang atau kelompok orang kepada Allah, bahwa akan berbuat atau memberi ini dan itu atau tidak akan melakukan hal ini dan itu, jika Allah telah mengabulkan permohonannya.
๐๐ผ๐ป๐๐ผ๐ต ๐๐น๐ธ๐ถ๐๐ฎ๐ฏ
Ada banyak kisah di dalam alkitab yang dapat dijadikan rujukan untuk memahami nazar. Namun hanya kisah Yakub, Hana dan Yefta yang saya jadikan contoh.
Kisah Yakub. (Kejadian 28:10-22) Ketika ia dalam perjalanan dari rmah orang tuanya di Bersyeba menuju ke Haran, ia mengalami peristiwa iman yang sangat luar biasa dalam mimpinya, sehingga keesokan harinya ia bernazar kepada Allah bahwa jika Allah akan menyertai dan melindunginya dalam perjalanan yang dia tempuh, memberinya makanan untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai sehingga selamat kembali kerumah ayahnya, maka Tuhan akan menjadi Allahnya, dan batu yang telah ia dirikan sebagai tugu tempat dimana ia mengalami peristiwa iman itu akan dijadikannya rumah Tuhan dan dari segala sesuatu yang Tuhan berikan kepadanya, ia akan persembahkan sepersepuluh kepada Tuhan. (ay 20-22).
Begitu juga Hana (I Samuel 1:1-11), ia adalah istri pertama dari Elkana. Ia tidak memiliki anak seperti madunya, Penina. Penina selalu menyakiti hatinya setiap tahun, hingga pada suatu kali, di Silo, dengan hatinya yang pedih, Hana berdoa sambil menangis tersedu-sedu, lalu bernazarlah dia pada Tuhan. Ia bernazar katanya: โjika TUHAN sungguh-sungguh memperhatikan sengsaranya dan mengingatnya dan tidak melupaknnya, yakni dengan memberikannya seorang anak laki-laki, maka anak laki-laki itu akan ia berikan kepada TUHAN untuk seumur hidupnya menjadi pelayan TUHAN.โ ( ay 11)
Ada kisah yang ketiga, yakni nazarnya Yefta (Hakim-Hakim 11:29-40) Ia membuat nazar ketika hendak berperang melawan Bani Amon. Nazar yang dibuatnya sangat menarik untuk diperhatikan. Ia benazar bahwa jika Tuhan sungguh-sungguh menyerahkan Bani Amon ke dalam tanganya, maka apa yang keluar dari pintu rumahnya untuk menemuinya pada waktu dia kembali dengan selamat dari Bani Amon, maka akan menjadi milik Tuhan. (ay 30). Ternyata ketika ia p**ang, anak perempuannyalah yang keluar menyongsongnya. (ay 34), sehingga membuat hatinya hancur. Ia telah mengucapkan nazar dan tidak mungkin untuk ditariknya lagi (ay 35)
Ketiga kisah ini memberi pemahaman yang jelas bahwa nazar berkaitan dengan janji seseorang kepada Tuhan. Janji untuk melakukan sesuatu jika permohonannya telah Tuhan penuhi dan janji itu tidak bisa ditarik kembali.
๐ฃ๐ฒ๐ฑ๐ผ๐บ๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ฟ๐ป๐ฎ๐๐ฎ๐ฟ
Nazar bukanlah janji biasa, tetapi mengandung sumpah yang dinyatakan kepada Allah maka tidak boleh dilakukan dengan seenak hati. Setiap orang yang ingin bernazar haruslah mempertimbangkan secara matang, sebab nazar memiliki konsekuensi. Allah akan menuntut dan memandang berdosa setiap orang yang bernazar, namun menunda-nunda untuk menepatinya, apalagi yang tidak menepatinya (Ulangan 23:21).
Sehingga tidak terkena konsekuensi yang fatal, baiknya setiap orang memperhatikan pedoman nazar yang telah Allah berikan.
Pertama-tama harus diketahui bahwa bernazar atau tidak bernazar bukanlah dosa, (Ulangan 23:22), tetapi jika telah bernazar, maka janganlah menunda-nunda menepatinya, karena Allah tidak senang. (Pengkhotbah 5:3)
Dalam alkitab juga dikatakan bahwa lebih baik engkau tidak bernazar dari pada bernazar tetapi tidak menepatinya. (Pengkhotbah 5:4), maka sebelum bernazar harulah berpikir dan membuat pertimbangan matang, karena akan menjadi jerat jika baru memikirkannya setelah membuat nazar. (Amsal 20:25).
Jika Tuhan sudah mengabulkan permohonan yang dinazarkan, maka janji harus dibayar atau tepati. (Ayub 22:27). Jangan menunda-nunda untuk menepatinya. (Ulangan 23:21 dan Pengkhotbah 5:3), jangan juga melanggar nazar, melainkan haruslah berbuat tepat seperti yang diucapkannya (Bilangan 30:2). Nazar juga haruslah dilaksanakan dengan setia (Ulangan 23:23).
๐ฃ๐ฒ๐ป๐๐๐๐ฝ
Nazar bukanlah membayar Tuhan atau lebih kasar lagi menyogok Tuhan untuk melakukan sesuatu sekehendak hati manusia, tetapi nazar adalah janji untuk melakukan sesuatu atau tidak akan berbuat sesuatu jika Tuhan telah mengabulkan permohonan yang dinazarkan.
Sebelum bernazar sebaiknya berpikir matang-matang. Jangan seperti Yefta menazarkan orang lain, karena menyesal nantinya sebab nazar tidak bisa direvisi. Bernazar atau tidak, itu bukan dosa, tetapi jangan coba-coba bermain-main dengan nazar. Jika telah bernazar, maka harus tepati, karena Allah akan memandang bersalah dan akan menuntut orang yang telah bernazar, tapi menunda-nunda untuk menepatinya.
Akhirnya, saran saya, baiknya maafkan saja orang yang mencuri barang berharga mu atau meracuni binatang peliharaan mu daripada bernazar secara tidak jelas. Dan lebih baik lagi, bersama Pdt. Bigman Sirait, saya juga memberi saran yang sama, dengan berpedoman pada Roma 12:1. Sebaiknya yang perlu dilakukan adalah persembahkan tubuhmu (seluruh aktivitas), sebagai persembahan yang hidup dan berkenan kepada Allah, dari pada bernazar, tanpa pengetahuan yang jelas dan utuh.
Tuhan Berkati