22/10/2025
Hari ini tanggal tanggal 22 Oktober saya akan menceritakan sebuah cerita yang sangat luar biasa.
"KASIH MENGALAHKAN KEJAHATAN"
Mengampuni Pria Muslim yang menembakinya? Kisah Penembakan Paus Yohanes Paulus ll oleh Mehmet Ali Agca.
Seorang pria muslim asal turki yang bernama Mehmet Ali Agca yang menjadi pelaku percobaan pembunuhan Pemimpin umat katolik sedunia yaitu Paus Yohanes Paulus II. pada bulan Agustus 1980, mehmet dengan nama samaran nya Vilperi, mulai melintasi wilayah Mediterania, dengan mengganti paspor dan identitas nya ia memasuki kota Roma pada 10 mei 1981, ketika Paus melewati ketumunan umat, Mehmet Ali Agca melepaskan empat tembakan pada pukul 17:17. dengan pistol semi-otomatis 9mm Browing Hi-Power, dan melukai Paus Yohanes II secara kritis, seorang biarawati dan beberapa umat yang berada di samping mencegahnya untuk melepaskan tembakan lagi ke Paus. Saat suasana menjadi panik, Mehmet melarikan diri dari tempat kejadian dan membuang pistolnya dengan melemparkannya ke bawah truk, namun ditangkap oleh keamanan Vatikan Camillo Cibin, 2 peluru mengenai Paus salah satunya mengenai tubuhnya yang hampir kehilangan organ vitalnya, Paus kehilangan begitu banyak ia segera di larikan ke rumah sakit.
insiden tersebut mengejutkan seluruh dunia, upaya pembunuhan yang dilakukan oleh Mehmet Ali Agca ini di kutuk sana sini, para pemimpin dunia dan gereja mengungkapkan keterkejutan dan kemarahan mereka atas berita penembakan paus Yohanes Paulus II di Vatikan Roma, hingga Ratu Elizabeth II mengatakan dia merasa ngeri dan sangat terkejut: "Pangeran Philip dan saya kirimkan doa kami untuk kesembuhan nya" ucap sang ratu. Kebencian dan kecaman terhadap Mehmet Ali Agca terus bermunculan di mana-mana.
Paus yang dirawat di RS beberapa waktu di nyatakan sembuh namun tak di sangka setelah insiden itu tejadi, sang paus meminta masyarakat untuk berdoa dan mendoakan sang pelaku Mehmet Ali Agca.
Pada tahun 1983, Paus Yohanes Paulus II mengunjungi Mehmet dan berbicara secara pribadi di Penjara Rebibbia Roma, tempat Agca ditahan, ia menyatakan pengampunan kepada Mehmet dan mendoakanya, di akhir pertemuan Mehmet Ali Agca mencium/menempelkan tangan paus ke keningnya sebagai tanda penghormatan umat islam.
Dia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup atas upaya pembunuhan tersebut, tetapi atas permintaan Paus Yohanes Paulus II akhirnya presiden Itali Carlo Azeglio Ciampi pada bulan Juni 2000 atas permintaan Paus ia di bebaskan, ia kemudian diekstradisi ke negara asalnya Turki tapi sesampainya di negaranya ia kembali di tahan dan di penjara karna khasus tersebut.
Pada tanggal 2 April 2005, sang Paus wafat pada usia 85 tahun. ia sedih saat mendengar kabar ini, bahkan ia meminta untuk menghadiri pemakamannya walaupun tidak diijinkan, sejak 13 Mei 2007, Mehmet Ali Agca memutuskan untuk meninggalkan agama sebelumnya dan memutuskan untuk beralih keyakinan ke Katolik. di ceritakan bahwa ia mengambil keputusan ini saat masih di penjara, dan memutuskan memanggil seorang imam katolik dan akhirnya ia di baptis di dalam sel nya.
"saya telah memutuskan untuk kembali damai ke Vatikan dan memberi kesaksian kepada dunia tentang perpindahan saya ke katolik" tulis Mehmet Ali Agca.
Mehmet Ali Agca dibebaskan dari penjara pada 18 Januari 2010, setelah kurang lebih 29 tahun di balik jeruji besi, setelah bebas dari penjara Mehmet Ali Agca memperlihatkan dirinya ke publik, ia kembali ke Vatikan pada 27 Desember 2014, dengan membawa seikat mawar putih ia menangis di tempat di mana titik ia melakukan hal keji itu.