09/03/2021
RENUNGAN HARIAN ANAK : Matius 27:46
"Eli, Eli, lama sabakhtani?"..
Matius 27:46
"Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan".
Roma 8:24a
"HOPE IN THE CROSS OF CHRIST"
(Harapan dalam Salib Kristus)
Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?". Adik-adik...inilah perkataan salib Yesus yang ke-empat. Ucapan "ELI ELI LAMA SABAKHTANI," selama ini dianggap sebagai ungkapan derita rohani yang horor dan mencekam. Namun, sesungguhnya dalam pemahaman "Jewish insight into the scripture" itu adalah ungkapan PENGHARAPAN!
Penafsiran Gerejawi (Theologi Barat) memandang bahwa ucapan Tuhan Yesus "Eli, Eli, lama sabakhtani?" adalah "ucapan penderitaan rohani." Yaitu bahwa Roh Allah harus pergi, maka ia baru dapat mati. Dan, Yesus Kristus menghadapi hal itu dengan kegentaran dan kesedihan yang dahsyat sehingga Ia berteriak: "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" Ingat yah adik-adik...tafsiran seperti ini tidak sesuai dengan ayat-ayat Alkitab. Penafsiran Gereja Barat bahwa ucapan "Eli Eli Lama Sabakhtani" yang ditafsirkan sebagai "ungkapan derita rohani," adalah "penafsiran yang kurang tepat." Kita harus mengingat bahwa Tuhan Yesus di Taman Getsemani sudah menyatakan kerelaan-Nya untuk meminum cawan penderitaan itu, bahkan 3 kali!
Perhatikan ayat dibawah ini !
Matius 26:39, 42, 44
"Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."
"Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!" Pernyataan dalam Matius 26:39, 42, 44 menunjukkan keteguhan Yesus Kristus untuk meminum Cawan Penderitaan itu. Jadi jika ungkapan "Eli Eli Lama Sabakhtani" diartikan "derita rohani" tidak akan sesuai dengan tekad Tuhan Yesus yang dinyatakan di 3 ayat dalam 26:39, 42, 43-44 itu.
Dengan pemahaman ini, kita akan tahu mengapa Tuhan Yesus mengucapkan Syair yang khusus ini??...Sebab...dengan kematian-Nya ada HARAPAN hidup bagi Israel.
Martin Luther pernah memikirkan ayat ini selama berjam-jam dan akhirnya ia berdiri sambil memukul dadanya dan berkata, "Siapakah yang dapat mengerti bahwa Allah meninggalkan Allah?" Sampai mati pun Martin Luther tidak dapat memahami mengapa Tuhan Yesus mengucapkan "Eli Eli Lama Sabakhtani." Ya, sebab dia seorang Bule Eropa, seorang theolog Barat yang tidak mempelajari nafas Semitik dimana Alkitab kita secara original dituliskan, dengan nafas timur-nya yang sangat kental. Sebab jika kita membatasi diri pada literatur-literatur Barat, menutup diri pada ajaran-ajaran dari para theolog Barat, maka hanya sebatas itulah pemahaman yang akan kita dapat. Ambiguitas itu dibawa mati sampai ke liang kubur oleh Martin Luther.
Sesudah tiga jam kegelapan itu terjadi, barulah orang-orang menyadari bahwa matahari tidak bersinar (Lukas 23:44-45). Orang-orang yang memaku dan menjatuhkan hukuman dengan semena-mena menjadi takut dan gentar. Pilatus tidak bisa menjelaskan mengapa matahari tidak bersinar. Pemimpin-pemimpin agama dan orang-orang Yahudi menjadi terkejut dan terdiam. Tidak ada suara di Golgota. Di tengah-tengah kegelapan mereka menjadi sunyi. Dalam kegelapan ini, Yesus Kristus tidak mengucapkan satu kalimat pun.
Setelah tiga jam lewat, Kristus mengucapkan kalimat ke empat di atas salib. Apakah setelah disalibkan selama enam jam, manusia masih mempunyai kekuatan yang besar? Apakah setelah mengalirkan darah begitu banyak, manusia masih bisa meneriakkan suara yang keras? Tidak mungkin!! Ini satu hal yang tidak logis. Sesudah enam jam mengalirkan darah terus menerus, menurut ilmu kedokteran, orang tersebut pasti menjadi lemah sekali dan tidak memiliki kekuatan apapun untuk mengucapkan sesuatu. Jika kita terluka dan luka itu terus mengalirkan darah tanpa henti, bukankah satu dua menit kemudian hati kita sudah mulai gelisah? Bagaimanakah jika itu terjadi selama enam jam? Darah dalam tubuh orang dewasa ada kira-kira lima liter. Lima liter darah yang keluar dari luka-luka yang besar, akan habis dalam waktu yang tidak terlalu lama. Tetapi dalam keadaan demikian, Yesus Kristus berteriak dengan suara yang keras! Suara yang timbul dari satu kekuatan yang bukan ditimbulkan oleh manusia biasa yang hendak mati, tetapi kekuatan yang membuktikan bahwa Kristus tidak lemah. Kristus berteriak: “Eli, Eli, lama sabakhtani!” . “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
Suara itu bukan saja menggentarkan hati manusia yang ada di bukit Golgota, tapi suara yang begitu keras menggema di awan-awan dan seluruh alam semesta. "My God, My God, why hast Thou forsaken Me?" Kalimat ke empat ini begitu menggentarkan hati untuk kita renungkan. Perkataan Kristus ini adalah yang paling sulit dimengerti. Kata-kata ini merupakan puncak dari segala penderitaan-Nya bagi dunia yang terhilang. Seruan-Nya dalam bahasa Aram menunjukkan bahwa Dia sedang mengalami pemisahan dari Allah sebagai pengganti orang berdosa. Pada tahap ini semua kesedihan, penderitaan, dan rasa sakit mencapai puncaknya. Ia tertikam oleh karena pemberontakan kita (Yesaya 53:5) dan Ia telah memberikan diri-Nya sebagai "tebusan bagi banyak orang" (Matius 20:28; 1Timotius 2:6). Dia yang tidak mengenal dosa "telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita"
(2 Korintus 5:21); Dia mati sebagai yang ditinggalkan, agar kita tidak akan pernah ditinggalkan oleh-Nya. Demikianlah kita ditebus oleh penderitaan Kristus
Bukankah Kristus dapat kita ibaratkan sebagai matahari kebenaran, kekekalan, keadilan dan mempunyai terang yang lebih besar dari matahari yang kita kenal dalam alam semesta? Tetapi janganlah kita lupakan bahwa ketika Kristus menanggung dosa kita, Ia mengalami kegelapan yang paling gelap, dan kegelapan itu terjadi pada jam dua belas, waktu di mana seharusnya matahari bersinar paling terik. Inilah suatu paradoks yang tidak habisnya kita pikirkan seumur hidup. Kristus adalah Tuhan Pemberi hidup, tetapi Dia menerima kematian di paku di atas kayu salib. Kristus adalah Pelepas bagi seluruh umat manusia, tetapi Dia diikat dan terbelenggu di atas kayu salib. Dia adalah Pemberi berkat bagi seluruh zaman dan semua bangsa, tetapi Dia sendiri menerima kutukan dan ejekan di atas kayu salib. Dia adalah terang, tetapi Dia menerima kegelapan paling besar di kayu salib, untuk memberi PENGHARAPAN bagi kita , umat milik-Nya. Masih adakah yang merasa tidak memiliki PENGHARAPAN oleh pengorbanan Yesus di kayu salib?....Mari adik-adik, kita renungkan hal ini yah..
Doa : "Tuhan Yesus yang baik, terima kasih untuk pengorbanan-Mu di kayu salib yang memberi PENGHARAPAN bagi kami umat yang penuh dosa. Sungguh kami bersyukur memiliki Allah seperti Engkau. Biarlah kami boleh terus memikul salib-Mu dan mengingat ada PENGHARAPAN didalam Engkau. Terima kasih Tuhan Yesus, kami sungguh bangga menjadi milik-Mu. Amin".