Ketika system pendidikan dunia yang lebih menitik beratkan teori kebendaan, dan kurikulum pendidikan yang dirancang semata-mata hanya untuk mencapai target lulus ujian, demi gelar dan nama, pangkat dan jabatan/jawatan, maka krisis aqidah dan kemrosotan akhlaq adalah sesuatu yang pasti berlaku didalam masyarakat tanpa seorangpun mampu memperbaiki, mengobati apalagi membendungnya. Lihatlah betapa ru
saknya aqidah masyarakat yang telah jauh menyimpang dari landasan iman, mereka tidak lagi percaya dengan janji-janji ALLAH didalam Al-Qur’an tetapi lebih mempercayai janji-janji kosong syaitan-syaitan bertopeng manusia yang bernama; dukun, paranormal, orang pintar, pawang, bomoh dll. Mereka tidak pergi kemasjid-masjid untuk berdoa dan memohon rahmat kepada ALLAH tetapi mereka pergi ketempat-tempat yang mereka anggap keramat, angker, bertuah, berpenghuni seperti; bertapa di gua, bertawassul di kubur-kubur para wali, ruwatan di tepi laut, memohon restu Nyi Roro Kidul, menggunakan jin dan dedemit sebagai rewang atau khadam. Lihatlah p**a akhlaq para remaja dan muda mudinya, dengan pergaulan bebasnya, kecanduan rokoknya, narkobanya, minuman keras dan judinya, zina dan pembunuhannya, jambret/ragut dan perampokannya terjadi begitu leluasa setiap hari sepanjang waktu hampir tidak ada permukaan bumi ini yang bebas dari kejahatan tangan-tangan manusia dan hampir semua tempat dimana saja kita berada senantiasa terancam dengan kejahatan. Pendidikan sukuler yang tidak berlatar belakangkan Al-Qur’an bahkan meninggalkan sama sekali norma-norma iman tenyata benar-benar berhasil meramaikan lagi pentas para munafiqin, mujrimin, ghafilin, kafirin dan musyrikin. Pendidikan sukuler yang tidak berlandaskan agama telah melahirkan ramai pemimpin koruptor, diktator yang merampas hak-hak rakyat untuk memperkaya diri dan keluarganya, anak-anak yang durhaka kepada ibu bapanya, suami isteri yang selingkuh dalam rumah tangganya, masyarakat yang kejam dan tak berprikemanusiaan, remaja-remaja yang hanya menjadi beban dan sampah dalam masyarakatnya. Kemajuan dibidang sains, tehnologi dan telekomunikasi benar-benar telah menjadikan hampir seluruh tatanan ummat ini rusak serusak-rusaknya. Anak-anak menjadi lalai dengan handphone, game, internet, karaoke, disko dllsb. Artis-artis dipuji ketengah disanjung ketepi, lagu-lagu dan musik menjadi hiburan, Al-Qur’an ditinggalkan, para Ulama diacuhkan, aturan agama dianggap kolot dan orthodox…. Maka berlakulah apa yang berlaku, terjadilah apa yang diramalkan akan terjadi sebagai akibat krisis aqidah dan akhlaq yang berkepanjangan itu. Bangsa Indonesia yang seolah tak henti-hentinya dirundung petaka, berupa ; banjir, tsunami, gempa bumi, puting beliung, tanah longsor, lahar gunung berapi, galodo dll mendera hampir disetiap tempat dan waktu. Semua yang berlaku adalah teguran dan peringatan keras kepada manusia agar kembali kepada ajaran Al-Qur’an dan berpegang teguh pada tali ALLAH yaitu; Ad-Dinul Islam, karena hanya pendidikan Al-Qur’an saja yang bisa menjamin keselamatan ummat manusia dunia dan akhirat. Ditengah ketidak tentuan arah pendidikan dan kecamuk fitnah itulah kami hadir memberi jawaban ; inilah jalan kita, inilah cara kita, inilah pendidikan kita, marilah kita kembali kepada kitab ALLah, mari kita ajar anak-anak kita membaca dan menghafal Al-Qur’an, memahi Al-Qur’an. Ditengah suasana kelam manusia yang kehilangan arah itu kami memanggil mereka yang bergelar pemimpin, mereka yang bernama guru pendidik, mereka yang bernama orang tua dan mereka-mereka yang mencari kebenaran; disinilah, ditempat ini kami telah memulai, disini, ditempat inilah kami harapkan generasi qur’ani akan tumbuh dan berkembang, di Ma’had Tahfiz Daarul Huffaz Lampung.