25/01/2010
Geli rasanya ketika kita melihat banyak sekali pejuang-pejuang Islam yang
membenarkan tindakannya bukan mencari sesuatu yang benar, dan sepertinya ini
sudah menjadi sebuah sindrom yang mewabah akibat daripada salahnya persepsi
seseorang terhadap suatu masalah. Saya tidak menulis hal ini untuk dijadikan
sebagai suatu pembahasan yang tak kunjung habis dengan perdebatan yang panjang,
tetapi hanya sebagai nasehat yang kalau dirasa benar silahkan diterapkan dan
bila salah mohon diabaikan saja.Betul kata tokoh imajinatif Sherlock Holmes,
“There are fifty who can reason synthetically for one who can reason
analytically” Kira-kira terjemahan bebas versi Felix Siauw “Ada 50 orang yang
dapat membuat alasan, dan hanya satu yang berbuat beralasan”. Kebanyakan dari
kaum muslim tanpa sadar ternyata bukan berbuat karena mereka memiliki alasan
(dalil) tetapi sebaliknya mereka mencari alasan atas perbuatannya. Coba kita
analisis pola-nya:
1. Suatu hari Nada berkonsultasi dengan kedua
orangtuanya tentang pernikahan, dan Nada memberitahukan bahwa Ahmad calon
suaminya adalah orang yang sedikit kekurangan dalam masalah materi, dasar kedua
orangtuanya tidak menyukai Ahmad karena keadaan materinya lalu
berbicara
“Sekarang aja dia nggak bisa menghidupi dirinya sendiri,
apalagi nanti setelah nikah?! nggak usah deh!”
Nada yang kecewa lalu
menasihati agar Ahmad mau memperbaiki keadaan ekonominya, lalu setahun lagi
Ahmad datang dengan mobil pribadi kerumah sang calon, tetapi dasar kedua
orangtuanya sudah punya persepsi negatif tentang Ahmad lalu mereka
mengatakan:
“Sekarang dia memang mungkin bisa menghidupi dirinya sendiri,
tapi nanti ketika menikah belum tentu!!” (capeee deh -red-)
2. Suatu hari
Dewi mengajak calonnya Dewa untuk berkenalan dengan orangtuanya, dan Dewa sangat
menunjukkan kesopanan dan kebaikan sebagai seprang pria, tetapi karena
orangtuanya tidak s**a pada Dewa orangtuanya berkata:
“Sekarang aja dia
sopan, karena belum nikah, nanti kalau sudah nikah pasti keliatan sifat
aslinya!”
seandainya kalo Dewa seorang pria yang urakan dan sembarangan,
kira-kitra beginilah komentar orangtuanya:
“Sekarang aja udah begitu
urakannya, apalagi nanti?!!!” (capeee deh -red-)
3. Berbeda dengan
Keluarga Fatih yang begitu memahami Islam dan menjadikan Islam sebagai jalan
hidup, maka ketika Aisyah mengenalkan calonnya yaitu Mahmud kepada orangtuanya,
dan memperkenalkan tentang Mahmud dan aktivitas dakwahnya, serta menyampaikan
p**a kekurangan Mahmud dalam hal materi, maka kedua orangtuanya segera
berkomentar:
“Nggak apa-apa Aisyah, lebih baik segera menikah supaya
bertambah ibadahnya dan dijauhkan dari maksiat, masalah materi insya Allah akan
dicukupkan oleh Allah, wong bapak-ibu nikah juga kere kok!”
ketika
seminggu sebelum nikah, Mahmud berhasil dalam usahanya sehingga mendadak punya
mobil pribadi, maka orangtua Aisyah berkata:
“Alhamdulillah, kamu
beruntung Aisyah, Allah memudahkan calon suamimu sekarang bisa berkecukupan,
apalagi nanti setelah menikah”
Inilah kekuatan persepsi, Persepsilah yang
menentukan perbuatan seorang manusia dan caranya menanggapi suatu peristiwa.
Persepsi bisa jadi baik, bisa jadi buruk, tergantung apa yang menjadi
penyusunnya. Bila penyusunnya baik, insya Allah persepsinya juga baik.
Sebaliknya, bila penyusunnya salah, maka persepsinya juga terimbas kurang
baik.
Terkadang saya sering bingung dan geli melihat hamba Allah yang
insya Allah pejuang Islam, tetapi persepsi yang dibangun bukanlah persepsi yang
benar, yaitu persepsi yang dibangun berdasarkan dalil al-Qur’an dan as-Sunnah.
Kebanyakan persepsinya berasal dari retorika akal belaka minus dalil. Beberapa
waktu yang lalu saya pernah membahas tentang kebobrokan demokrasi, eh malah ada
yang menimpali dengan kata-kata untuk melegitimasi bobroknya
demokrasi:
“wajarlah mas, kita ini masih dalam proses pembelajaran
demokrasi, nggak ada yang sempurna, kita masih proses belajar” (belajar sih
belajar, tapi ini mah belajar terus! demokrasi gagal ancur dipertahanin padahal
kalo Islam salah dikit aja pasti protesnya dari pagi ampe malem
-red-)
Pernah juga saya mengkritik pernyataan seorang tokoh muslim yang
mengatakan “jilbab nggak penting, pake jilbab juga nggak bisa menyelesaikan
masalah ekonomi, politik dll”, dan saya sampaikan tidak pantas seorang muslim,
tokoh lagi, berkata semacam ini, tetapi ternyata ada yang protes dan
melegitimasi tindakan tokoh tadi dengan mengatakan:
“sesama muslim
sebaiknya jangan saling menyalahkan, saya heran kenapa kita ini s**a menyalahkan
yang lain, orang yahudi seneng liat kita, kita hargai d**g, itu kan cuma
strategi, orangnya juga sering tahajud dan dzikir kok!” (loh-loh-loh, capee
deh!, blame the victim nih, wong tokohnya yang omong secara sadar, kok malah gue
yang disalahin hehehe.. padahal kita aja yang nggak salah jadi disalah-salahin
-red-)