06/06/2026
Pernahkah kita pindah rumah? Repotnya bukan main.Itulah yang dialami Abraham. Tuhan memintanya untuk "keluar dari rumah bapamu". Dalam bahasa Ibrani, "rumah bapak" bukan sekadar bangunan, melainkan satu marga, seluruh otoritas keluarga, dan warisan turun-temurun. Abraham diminta meninggalkan zona nyamannya, tetapi ia taat. Mengapa? Karena ia memiliki harta yang lebih berharga: ia mendengar suara Tuhan, dan ada pesan yang harus dikerjakannya.
Ketika Tuhan bicara, pasti ada pesan yang harus kita kerjakan. Abraham keluar dari zona nyaman bukan karena nekat, melainkan karena ia yakin Tuhan memiliki rancangan. Pesan itu bukan hanya "pergi ke Kanaan", tetapi "engkau akan menjadi berkat". Inilah panggilan istimewanyaSeringkali kita berpikir ikut Yesus agar kita menerima banyak berkat. Padahal, prinsip iman Abraham berbeda: ia dipanggil untuk menjadi berkat. Ketika kita bergumul dan yakin Tuhan memanggil kita untuk melayani, itu mungkin tidak nyaman. Tetapi jika itu pesan-Nya, di sanalah letak harta kita yang sesungguhnya, yaitu pengalaman dipimpin langsung oleh suara Tuhan.
Apakah perjalanan menjadi berkat itu mulus? Tidak. Abraham tiba di tanah perjanjian dan langsung menghadapi krisis kelaparan dahsyat hingga ia harus mengungsi ke Mesir. Di sana pun ia menghadapi ujian berat. Namun, benang merahnya: Tuhan tetap memelihara dia. Di tengah krisis, Abraham tetap bertekad menjadi berkat.
Hari ini, Tuhan mengundang kita untuk meneladani Abraham. Jangan hanya hidup untuk menerima berkat hingga saat krisis datang kita meninggalkan Tuhan. Mari kita ubah doa kita: "Tuhan, jadikan aku saluran berkat bagi seseorang hari ini." Entah itu waktu, tenaga, atau materi, kita bisa memberikannya dengan kerelaan hati. Seperti yang saya saksikan sendiri, ketika kita bertekad menjadi berkat, Tuhan sanggup menyediakan segala yang kita perlukan, bahkan seringkali lewat cara-Nya yang ajaib. Apapun krisis yang kita hadapi, tetaplah menjadi berkat, karena itulah rancangan indah Allah bagi kita semua. Amin.