29/09/2026
**Shalom.
Salam damai sejahtera bagi kita semua.**
Sungguh indah ketika kita boleh hadir di bagian akhir bulan kepemimpinan, dan kita hendak menyambut bulan yang baru: bulan keluarga.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, apakah Panjenengan pernah mendengar, mengenal, bahkan mungkin akrab dengan gambar ini?
Seorang tokoh dunia. Siapakah dia?
Bunda Teresa, Mother Teresa.
Apa yang dilakukan Bunda Teresa?
Bunda Teresa melayani orang-orang yang sangat miskin di Kalkuta, India. Ia terjun langsung memberi makan mereka yang tidak bisa makan. Bahkan ada kisah, saking banyaknya yang harus diberi makan dan saking sedikitnya bahan yang ada, supaya semuanya bisa makan, beliau tidak hanya memasak nasi, melainkan menjadikannya bubur, sehingga semua orang yang kelaparan bisa kenyang dan merasakan cinta kasih Tuhan melalui Bunda Teresa.
Bunda Teresa juga merawat mereka yang sakit, mengobati orang-orang yang terluka, mendampingi orang-orang yang kehilangan, bahkan memakamkan mereka yang meninggal. Sebuah gambaran kekuatan di tengah penderitaan banyak orang, yang menjadi sarana berkat Tuhan tercurah dalam hidupnya.
Maka bagaimana kita mengenal Bunda Teresa yang kehidupannya telah menjadi berkat? Satu pertanyaan kemudian diajukan kepada kita. Kalau 5 September diingat sebagai hari yang istimewa, satu pertanyaan bagi kita:
Inginkah kita diingat suatu saat nanti?
Bapak, Ibu, Saudara ingin diingat sebagai siapa?
Kalau Bunda Teresa menjadikan hidupnya berkat bagi orang banyak, lalu apa yang bisa kita lakukan? Kita sering mengucapkan, menulis, bahkan mengingatkan bahwa kita diberkati untuk memberkati. Kita diberkati untuk menjadi saluran berkat.
Sebuah gambaran sederhana: dari yang pertama, benarkah kita sudah diberkati?
Ada yang sampai sekarang masih meragukan, “Benar enggak, yo Tuhan itu memberkatiku?”
Loh, kok masih meragukan berkat Tuhan?
Kita bisa ada di tempat ini dalam kesehatan—itu berkat Tuhan.
Kita ada di sini untuk bersekutu dan beribadah—itu juga berkat Tuhan.
Kita bisa merasakan kedamaian, bahkan sejuknya ruangan ini—itu pun berkat Tuhan.
Karena ketika kita keluar di jalan besar, apa yang kita rasakan? Betapa panasnya dunia ini. Itu pun berkat Tuhan. Kita bisa merasakan kesejukan maupun kepanasan, berarti kita sehat. Wong, temannya kepanasan malah kita kedinginan; temannya kedinginan, kita kepanasan. Maka kita bisa mempertanyakan diri kita.
Untuk itu, mari bersama kita yang sudah diberkati hari ini kembali mempergumulkan:
Sudahkah hidup kita menjadi berkat bagi orang lain?
Bapak, Ibu, Saudara, sering yang ada dalam diri kita adalah: “Wong posisiku lagi sakit. Aku sedang tidak baik-baik saja. Hatiku sedang terluka. Kondisi ekonomiku biasa-biasa saja. Aku sedang berjuang untuk mendapatkan ini, itu, dan yang lainnya.”
Maka pertanyaannya: bagaimana kita bisa menjadi berkat di tengah persoalan orang? Apalagi kalau melihat persoalan orang, rasanya persoalanku lebih besar. Ada kendala, ada masalah dalam hidup kita yang menjadi sarana kita mempergumulkan: bisakah kita menjadi berkat?
Di sini kita belajar: sekalipun kita terluka, tetaplah kita bisa menjadi berkat bagi orang lain. Bukankah ketika Tuhan Yesus ada dalam perjalanan salib, Ia yang terluka pun masih menjadi berkat bagi perempuan-perempuan yang menangisinya? Satu gambaran: dari luka bisa menjadi berkat; yang terluka justru menyembuhkan. Karena dari luka-luka itu Tuhan kuatkan kita, Tuhan dewasakan kita, menjadi kesaksian yang luar biasa bagi mereka yang mungkin juga sedang terluka.
Untuk itu, dalam segala keadaan—baik kita sedang baik-baik saja maupun tidak baik-baik saja—mari bersama kita belajar menjadi penyampai berkat Tuhan.
Bapak, Ibu, Saudara, hidup kita ada dalam rencana Tuhan. Hidup kita tidak akan pernah sia-sia. Ada rencana Tuhan untuk apa kita hidup: bagaimana kita bisa menjadi sarana Tuhan memberkati orang lain.
Ketika kita diberkati melalui materi, kita bisa berbagi melalui materi itu.
Ketika Tuhan memberkati kita dalam kasih yang luar biasa melalui kekuatan kita, kita bisa menjadi teman, sobat sejati bagi mereka yang lain—dalam penghiburan, dalam kata-kata hikmat yang meneduhkan.
Bahkan kita semua dipanggil menjadi saluran berkat dengan membawa sukacita dan damai sejahtera.
Orang bisa melakukan kebaikan tanpa kasih. Tapi kalau kita hidup dalam kasih karunia Allah, tidak mungkin kita hidup tanpa tindakan kebaikan. Untuk itu, mari bersama kita belajar dari bacaan Injil kita saat ini: ketika kita menjadi berkat di tengah dunia ini, belajar dari sabda Tuhan yang sungguh dikenal.
Satu gambaran yang sering kita ringkas:
**“Kamu adalah terang dunia.
Kamu adalah garam dunia.”**
Artinya, firman ini menjadi bagian pengajaran Tuhan Yesus di bukit yang membawa kehidupan kita pada tindakan bagi Kerajaan Allah. Bagaimana identitas kita sebagai anak-anak Allah harus kita nyatakan dalam dampak positif bagi orang lain. Tidak boleh hidup kita membelenggu, merusak, meracuni, bahkan tidak berdampak baik bagi orang lain.
Untuk itulah gambaran “kamu adalah garam dunia, kamu adalah terang dunia.” Keberadaan kita orang percaya ada dalam proses yang terus-menerus mewujudkan kehendak Tuhan. Karena ada kalanya kita berkata, “Saya belum bisa, saya sedang belajar, saya belum sempurna.” Tidak masalah. Kehidupan kita adalah sebuah proses untuk menjadi garam dan terang dunia.
Garam dan terang adalah metafora fungsi orang Kristen yang memengaruhi dunia. Maka orang Kristen harus berdampak. Orang Kristen harus menampilkan sesuatu yang berdampak, sekalipun sederhana. Kita tidak harus sama seperti Bunda Teresa. Puji Tuhan. Kita meneladannya, kita mengambil bagian seberapa yang bisa kita lakukan dalam hidup kita. Atau bahkan kita mengidolakannya dan menjadikan itu sebuah kekuatan.
Gambaran di sini: garam yang kecil, terang bagaikan lilin yang kecil, tetapi sangat berdampak dalam kehidupan manusia di sekelilingnya.
Kita belajar tiga karakteristik garam dan terang yang adalah karakteristik orang Kristen.
Pertama, garam dan terang itu kecil.
Terang digambarkan sebagai nyala api bagaikan nyala api lilin. Kalau para ibu memasak, resep garam biasanya seberapa? Secangkir? Oh, bukan. Sejumput, sedikit, seperlunya.
Bahkan kadang ada cerita seorang chef dengan gerakan memberi garam sedikit. Atau ibu-ibu—nuwun sewu, kalau ini dilakukan oleh para bapak pasti akan dipertanyakan, “Please d**g, jari kelingkingnya enggak usah pakai-pakai yang seperti itu.” Ini supaya saya kelihatan perempuan saja. Tapi bukan berarti gerakan ini hanya gerakan perempuan. Fokusnya adalah mengambil garam yang tidak segini. Kalau segini—segenggam garam—langsung biuk, itu namanya… (tertawa) perdukunan untuk menghalau kegelapan, dilemparkan dengan garam. Atau kalau ditambah gemetar dengan takut, yang dihalau bukan yang tidak kelihatan, tapi ternyata di situ ada ular. Kata simbah, garam bisa menjauhkan ular—oh, itu garamnya mesti banyak.
Tapi ketika masakan itu enak, cukup sejumput, cukup sedikit, cukup seperlunya saja. Ya, gambaran lilin yang menyala di tengah kegelapan sangat-sangat membantu.
Lalu apa maknanya dalam hidup kita?
Belajar dari garam dan terang yang hanya sedikit: mungkin kita adalah bagian dari komunitas yang kecil saja—di RT kita, di RW kita. Mungkin kita hanya satu dari sekian ribu warga negara Indonesia di sekeliling kita. Anak-anak sekolah ada yang mengatakan, “Saya itu hanya satu-dua dari teman-teman sekelas yang berbeda.” Atau dalam dunia kerja. Bahkan kalau di desa, kalau ada serpah, lihat kepalanya: berapa banyak yang memakai kerudung dan yang tidak—itu pasti antara Kristen, Katolik, Hindu, Buddha. Dan itu sangat sedikit.
Tetapi tentunya tidak menjadikan kita kecil hati. Gambaran garam yang sedikit, terang lilin yang kecil, sangat berdampak positif dalam kehidupan. Maka sekalipun kita sendiri, kita tidak pernah sendirian. Ada Tuhan yang menyertai kita, yang memampukan kita memberi dampak bagi sekeliling kita. Untuk itulah, mari sekalipun kita ada dalam perkara yang dianggap kecil, kita bisa menjadi saluran berkat bagi orang lain.
Kedua, garam dan terang mengubah keadaan.
Ketika gelap kemudian ada terang—sekalipun kecil—keadaan berubah dari kegelapan yang mencekam menjadi ada pengharapan. Demikian juga garam yang secukupnya menjadikan makanan tidak hambar, menjadi enak. Maka bilamana Bapak, Ibu, Saudara makan soto dan masih kekurangan rasa asin, silakan menambah sendiri di meja yang sudah disediakan. Ya, mungkin selera asin satu dengan yang lain berbeda, tapi rasa itu mengubah keadaan.
Lalu bagaimana dengan kita sebagai orang percaya?
Keberadaan orang Kristen harus mampu mengubah keadaan di sekitarnya. Ketika orang abai dengan saudara yang lain, maka panggilannya: jangan pernah kita abai. Ketika orang ada dalam kesibukannya sehingga kurang peduli, jangan juga kita sama dengan mereka. Mari kita ulurkan tangan kita untuk memberikan bantuan. Mari kita beri senyuman terbaik kita untuk membawa damai sejahtera. Mari kita gunakan kata dan tindakan kita untuk memuliakan Tuhan. Karena di sinilah keberadaan kita mengubah keadaan menjadi lebih baik, lebih penuh kasih, lebih damai sejahtera.
Ketiga, garam melarutkan diri untuk memberi asin di sekitarnya.
Gambaran garam yang melarutkan diri, melebur dengan masakan, memberi cita rasa yang lezat. Bagaikan lilin yang melelehkan dirinya untuk memberi terang. Mungkin gambaran terang lilin berbeda dengan lampu. Karena lilin melarutkan dirinya, mengorbankan dirinya untuk memberi rasa dan terang, bagaikan garam yang memberi rasa asin.
Artinya, ketika kita belajar dan melakukan untuk menjadi saluran berkat, pasti butuh pengorbanan. Apakah pengorbanan uang, dana, harta? “Lah, kalau tidak saya berikan kan bisa untuk jajan.” Berarti kita harus menghemat untuk tidak jajan supaya bisa memberikan sesuatu. Kita mengorbankan waktu untuk mendengarkan kisah pilu sahabat kita, tapi kemudian keadaannya jadi baik-baik saja—mungkin kita akan kehilangan waktu. Ada banyak hal.
Kesadaran mengorbankan diri harus didasari pada Tuhan Yesus yang lebih dahulu mengorbankan diri-Nya. Kalau kita mencermati: siapa yang salah, siapa yang berdosa, siapa yang harus berkorban? Tuhan Yesus yang tidak dalam kekurangan dan keberdosaan menanggung dosa kita, mengorbankan diri di jalan salib, di jalan penderitaan, hingga kesetiaan dalam kematian di kayu salib. Maka panggilan bagi pengikut-Nya adalah kesadaran untuk mengorbankan diri.
Betul, mungkin kita sedang tidak baik-baik saja. Bagaimana mungkin nasi kita ini cukup untuk kita saja? Tapi teladan Bunda Teresa menjadikan nasi sebagai bubur, dan banyak orang semakin diberkati. Dan saya percaya keadaan Bapak Ibu tidak separah itu. Dalam arti, mari bersama sebagai pengikut Kristus, dalam teladan-Nya kita melakukan pengorbanan diri—mengorbankan waktu, tenaga, dan juga apa yang menjadi sarana berkat bagi orang lain.
Untuk itulah bagaimana kita berdampak: maka panggilannya, jangan sampai garam itu menjadi tawar. Bapak, Ibu, kalau garam menjadi tawar, namanya apa? Yo, tidak garam lagi. Mungkin ada orang mengatakan, “Paling itu garam palsu, garam imitasi, garam yang kualitasnya sangat rendah,” atau bisa dikatakan bukan garam. Maka menjaga garam tetap asin supaya garam berdampak dan menjadi berkat adalah sebuah panggilan bagi kita.
Demikian juga tentang terang. Ketika terang itu tak bersinar lagi, orang tidak bisa melihat panduan dari mercusuar. Maka tetaplah menyala. Lalu bagaimana supaya tetap menyala, tidak kehilangan keasinannya dan juga terangnya? Mari bersama menjadikan kehidupan yang menjadi berkat bagi sesama.
Hari ini, ketika kita mengakhiri bulan kepemimpinan, ketika kita hendak menyambut bulan keluarga di bulan yang akan datang, di minggu yang akan datang, mari kita berkomitmen: apa satu hal—puji Tuhan kalau itu dua hal, tiga hal, dan sebagainya—pembaharuan dalam hidup kita bagaikan menjadi garam dan terang dunia bagi sekeliling kita.
Puji Tuhan kalau kita bisa melakukan itu dalam hidup keluarga kita. Tapi kalau itu masih keluarga kita, bukankah itu biasa saja?
Puji Tuhan kalau kita bisa melakukan dalam kehidupan keluarga gereja kita. Tapi bukankah kalau itu dalam satu tubuh gereja kita juga sesuatu yang semestinya kita lakukan?
Untuk itu, menjadi garam dan terang dunia tentunya ada dalam lingkup yang lebih luas di dunia ini. Baik bersama dengan masyarakat di sekeliling, dalam segala perbedaan, nyatakan kasih kita sekalipun sederhana. Karena Bunda Teresa pun mengatakan: “Sebelum kita mengubah kedamaian dunia, ubahlah hatimu, ubahlah keluargamu, ubahlah lingkunganmu, baru kita melakukan yang lebih luas: perdamaian dunia.”
Demikian juga, kalau dalam lingkup keluarga kita sudah bisa menjaga kebersihan, di lingkup gereja kita bisa menjaga kebersihan, mari bumi yang menjadi rumah bersama kita jaga juga kebersihannya. Kalau kita bisa berbagi dengan anak cucu, berbagi dengan jemaat Tuhan, mari kita tanpa memandang perbedaan—apakah itu seiman, beda denominasi, atau bahkan yang sangat berbeda dengan kita.
Satu minggu ini mari kita berkomitmen: apa yang bisa kita lakukan. Komitmen panggilan ini akan kita lanjutkan nanti dalam panggilan pengutusan. Ada simbolisasi garam dan terang yang hendak Bapak, Ibu, Saudara terima. Sebuah gambaran: selepas keluar dari gedung gereja ini, ibadah yang sejati terwujud. Bagaimana hidup kita, bagaimana kesanggupan kita, bagaimana kita tidak membiarkan garam itu kehilangan keasinannya. Kita tidak membiarkan diri kita biasa saja atau tawar. Kita pegang keberadaan bermakna bagi orang lain—bagaikan nyala lilin yang kecil, bagaikan garam yang secukupnya.
Mari bersama kita hidup baru.
Sekecil apa pun peranmu, dunia membutuhkan rasa dan cahayamu.
Mari bersama mengakhiri perenungan kita:
Jadilah garam yang memberi rasa dan terang yang memberi harapan, agar bersama kita menjadi berkat di tengah dunia ini.
Selamat hidup baru.
Tuhan Yesus memberkati.
Amin.