PAC IPNU - IPPNU Kec. Badas

PAC IPNU - IPPNU Kec. Badas Ayo Gabung IPNU - IPPNU !! Media komunikasi antar pelajar NU se-kec. Badas, semoga bermanfaat. Aamiin

02/10/2019
18/09/2019

Saya Kira Zainul CBP DKC Kab. kediri πŸ˜†βœŒ

06/08/2019

Aku tulis ini dengan menangis karena ditinggal Beliau, tetapi semoga tulisan ini menjadi pelepur duka karena ditinggal Syaikhona Maimoen Zubair.

Ahad adalah salah satu nama hari. Sebagai pengingat bahwa yang esa dan tunggal adalah ALLOH. Salah satu nama ALLOH adalah Ahad.

Nabi Muhammad adalah Nabi yang dilahirkan dan wafat pada hari Senin. Senin adalah hari kedua urutan hari.

Untuk bisa mengenal ALLOH harus dengan perantara Nabi Muhammad. Oleh karena itu,
Pertama harus mengenal "Laa Ilaaha Illa ALLOH", setelah itu yang kedua harus mengenal "Muhammad Rasulullah".

Nabi Muhammad mewariskan kepada umatnya bukan berupa harta, akan tetapi berupa ilmu agama. Orang yang memiliki ilmu agama adalah pewaris para Nabi. Mereka adalah para Ulama.
Oleh karena itu setelah mengetahui AHAD, MUHAMMAD, maka harus mengetahui haq-haq para ulama. Mereka adalah sebagai saksi akan keesaan Tuhan.

Ψ΄Ω‡Ψ― Ψ§Ω„Ω„Ω‡ Ψ£Ω†Ω‡ Ω„Ψ§ Ψ₯Ω„Ω‡ Ψ₯Ω„Ψ§ Ω‡Ωˆ ΩˆΨ§Ω„Ω…Ω„Ψ§Ψ¦Ω…Ψ© ΩˆΨ£ΩˆΩ„Ωˆ Ψ§Ω„ΨΉΩ„Ω… Ω‚Ψ§Ψ¦Ω…Ψ§ Ψ¨Ψ§Ω„Ω‚Ψ³Ψ·.

ALLOH menjadikan gunung pada hari Selasa. Menurut bahasa jawa kuno, gunung disebut "Giri". Fungsi gunung sebagai penopang atau paku bumi. Para ulama pun berfungsi sebagai gunung atau paku bumi.

ΩˆΨ§Ω„Ψ¬Ψ¨Ψ§Ω„ أوΨͺΨ§Ψ―Ψ§

Nabi Muhammad wafat pada hari Senin. Ulama pewaris Nabi kebanyakan meninggal pada hari Selasa, satu hari setelah hari Senin. Untuk mengenal Nabi tentu melalui para ulama. Di Pondok Pesantren Al-Anwar tiap hari selasa maka kegiatan ngaji bandungan diliburkan, dan diganti dengan membaca Yasin tiap ba'da Maghrib dan ba'da shubuh malam Selasa. Dan diganti dengan kegiatan ngaji kitab yang berbeda hari-hari biasanya. Hal itu untuk mengenang hari wafatnya para ulama.
Saya sangat ingat bahwa Syaikhona Maimoen Zubair jauh hari sudah berkeinginan untuk meninggal pada hari Selasa.

Dan pada hari ini, Selasa Pon, 5 Dzulhijjah 1440 H/ 6 Agustus 2019 M. Syaikhona Maimoen Zubair wafat di Makkah. Sebelumnya Beliau menginap di hotel Darul Ayman lantai 19. 19 adalah jumlah huruf penyusun kalimat:

Ψ¨Ψ³Ω… Ψ§Ω„Ω„Ω‡ Ψ§Ω„Ψ±Ψ­Ω…Ω† Ψ§Ω„Ψ±Ψ­ΩŠΩ…

Seolah isyaroh bahwa kepergian beliau dengan membawa nama ALLOH. Mari kita ikhlaskan kepergian beliau dengan membaca:

Ψ¨Ψ³Ω… Ψ§Ω„Ω„Ω‡ Ψ§Ω„Ψ±Ψ­Ω…Ω† Ψ§Ω„Ψ±Ψ­ΩŠΩ….

Ditulis di Kramatsari.

Sumber: Kanthongumur

15/07/2019

Suatu ketika, seorang ibu menelfon pengurus pondok pesantren. Beliau ingin disambungkan dengan putranya yang baru satu bulan mondok disana. Maklum, beliau masih belum tega melepas sang anak untuk mengembara sendirian dalam luasnya ilmu. Maka setelah beberapa saat, sang ibu dapat bercengkrama dengan putra kesayangannya itu.

Ibu: "Nak, bagaimana kabarmu..? Kamu sehat kan..?"
Anak: "Alhamdulillah buk, saya sehat. Saya sudah kerasan di pondok, disini saya bertemu banyak teman dan pengalaman baru."
Ibu: "Alhamdulillah nak, kamu sudah kerasan. Kamu sudah sarapan belum..?"
Anak: "Belum buk, saya sarapannya nanti saja, sehabis ngaji dhuha."
Ibuk: "Loh nak, mbok ya kamu sarapan dulu. Kasihan kamu itu, sudah telat makan, disana pasti juga makanan gak ada yang enak, dan kurang bergizi."
Anak: "Hehehe, iya buk. Nanti saya setelah ngaji, saya lekas sarapan. Soalnya kalau sarapan sebelum ngaji, nanti waktu ngaji malah ngantuk. Hehehe"
Ibu: "Iya, lah kamu kalau di pondok makan lauk apa nak..? Ikan..? atau Ayam..?"
Anak: "Saya cuma makan alakadarnya buk, di warung cuma makan tempe tahu dan sambal terasi, itu sudah cukup buk."
Ibuk: "Ya Allah naaak, mbok ya makan makanan yang bergizi jangan cuma tempe tahu."
Anak: "Iya buk, tapi saya memang ingin berhemat, tidak perlu makanan mewah seperti dirumah, ada daging, ada ikan, dan ada buah buahan. Tak apalah buk, saya disini cuma makan tahu tempe, semoga saja dengan kekurangan dan keterbatasan saya di pondok dapat membuat kita sekeluarga bisa menikmati hidangan paling nikmat di surga nanti buk."

Dan diujung sana, seorang wanita paruh baya menitikkan air mata. Di depan berbagai kelezatan makanan restoran mewah, hatinya berbisik
"Terima kasih Ya Rabb, telah memberiku anak yang sholih. Semoga kelak dia mampu membawaku menuju surgamu. Amiin"

πŸ“·: Foto tasyakuran khataman pengajian kitab Ajrumiyah dalam rangka mengisi liburan sekolah santri PP. Baitul Abidin.

09/07/2019

Suatu hari, ada seorang tamu yang datang menemui alumni pondok pesantren di kediamannya.
Tamu tersebut terlihat begitu bersih dan sholih, jidatnya yang hitam cukup membuktikan bahwa dia adalah seorang yang rajin beribadah. Jenggotnya yang panjang adalah bentuk dari kencintaannya pada baginda nabi.
Berbeda dengan si tuan rumah yang kerjaannya cuma mengajar madrasah kecil sebelah musholla kampung. Pakaiannya yang jarang di setrika dan penampilan nyentrik khas santri lawas pondok pesantren.
Setelah berbincang sebentar sang tamu bertanya pada tuan rumah:

"Kang, sampean itu masih s**a baca kitab kuning..?"

"Iya pak, sudah jadi kebiasaan dipondok kalau malem selalu buka kitab." Jawab si santri.

"Lah.. sampean itu gimana to kang, sampean mestinya tahu kan kalau sumber ilmu agama itu dari Qur'an dan hadits..?"

"Iya pak, saya tahu. Lalu ada apa..?"

"Gini lo kang, kalau sampean sudah tahu ilmu itu bersumber dari qur'an dan hadits, mengapa sampean malah mengambil ilmu dari kitab kitab kuning...? Apa sampean itu ragu dengan kebenaran Al quran dan hadits..?"

"Hehehe..." Kang santri hanya nyengir, dan tidak menanggapi pertanyaan sang tamu.
Lalu kang santri, pamit ke dapur untuk membuat kopi. Sekalian mengambil suguhan buat sang tamu. Maklum, sudah kebiasaan di pondok bila ada kawan yang main ke kamar, kang santri akan membeli kopi untuk dinikmati bersama sang tamu.
Tak lama kemudian, kang santri kembali dengan membawa teko kecil berisi kopi dan dua gelas kosong, juga sepiring gorengan yang baru dibeli ibuk di pasar pagi tadi.

"Mari pak, diminum kopinya" kang santri mempersilahkan tamunya, tanpa menuang kopi pada gelas yang kosong.

"Iya kang.." sang tamu pun akhirnya menuang sendiri kopinya pada gelas kosong. Tapi pada pertengahan menuang kopi, kang santri bertanya pada tamunya:

"Loh pak, kok kopinya di tuang ke gelas..?"

"La iya to mas, masak mau langsung di minum dari teko, kan ya nggak baik. Toh ini kopinya masih panas" jawab sang tamu dengan perasaan aneh disebabkan pertanyaan aneh dari tuan rumah.

"La gimana to pak, kan sampean tahu kalau kopinya saya buat di teko, bukan di gelas.!!"

"La ini gelas buat apa kang...?"

"Ya itu buat perantara bapak, kalau minum kopi di tuang dulu di gelas.."

"Lah terus apa yang salah dari saya, bila saya menuang kopi pada gelas ini kang..? Bukankah itu malah sesuai dengan keinginan sampean kang..?"

"NAH ITU JAWABANNYA PAK..!!!"

"Maksudnya apa kang..?" Sang tamu mulai kebingungan.

"Tadi bapak kan tanya ke saya, kenapa saya menggali ilmu agama dari kitab kuning, sedangkan saya sendiri tahu kalau ilmu itu bersumber dari Alquran dan hadits. Jadi jawabannya adalah kitab kitab kuning itu adalah sebagai perantara memahami ilmu yang berada didalam alqur'an dan hadits. Dan bukan berarti saya meragukan kebenaran alquran dan hadits, tapi justru saya percaya betul bahwa ilmu dalam alquran dan hadits itu pasti benarnya. Namun gara gara kapasitas saya yang belum bisa memahami langsung isi alquran dan hadits, saya mempelajari keduanya dengan perantara kitab kitab kuning karya ulama' yang benar benar di akui kealimannya. kitab kitab tersebut tidaklah bertentangan dengan alquran dan hadits, justru kitab kitab tersebut menjelaskan banyaknya hukum yang tersirat dan tersurat dalam keduanya.
Sama seperti bapak yang pastinya bisa langsung meminum kopi langsung dari teko, tapi karena bapak takut kepanasan dan terkesan tidak sopan, maka bapak menuangkan kopi pada gelas dulu, baru diminum." Jawab kang santri panjang lebar.

"Hemmm..." Sang tamu hanya mengangguk anggukkan kepala dan terlihat kagum dengan alasan kang santri.

Tak lama kemudian tamu tersebut mohon pamit, dan tidak pernah menampakkan diri lagi di kampung kang santri.

Sekian, semoga bermanfaat.
Dan jangan lupa ngopi..!! 😁😁😁

27/04/2019

β€’β€’β€’
𝙸𝙽𝙸𝙻𝙰𝙷 𝟼 π™½π™°πš‚π™΄π™·π™°πšƒ 𝙺𝙷. 𝙼𝙰𝙸𝙼𝙾𝙴𝙽 πš‰πš„π™±π™°π™Έπš
𝟷. πš˜πš“πš˜ πš”πšŠπš”πšŽπšŠπš— πšœπšžπšžπšπš£πš˜πš— πš–πšžπš—πšπšŠπš” πš™πšŽπšπšŽπš—πš πšŠπšπš’πš•πšŠπš— πš›πšŽπš”πš˜πšœπš˜ πšžπš›πš’πš™ (πš“πšŠπš—πšπšŠπš— πšœπšŽπš›πš’πš—πš πš‹πšžπš›πšžπš” πšœπšŠπš—πšπš”πšŠ πš‹πš’πšŠπš› πš‘πšŠπšπš’πš–πšž πšπš’πšπšŠπš” πšπšŽπš•πšŠπš™ πšπšŠπš— πšπš’πšπšŠπš” πš‘πš’πšπšžπš™ πšœπšŽπš—πšπšœπšŠπš›πšŠ)

𝟸. πš‹πšŽπš—πšŒπš’ πš˜πš“πš˜ πš—πšŽπš–πšŽπš—πŸΈ πš–πšžπš—πšπšŠπš” πš—πš’πšŠπš—πšπš’πš—πš (πš“πšŠπš—πšπšŠπš— πšπšŽπš›πš•πšŠπš•πšž πš‹πšŽπš—πšŒπš’ πš—πšŠπš—πšπš’ πš–πšŠπš•πšŠπš‘ πš—πšŽπš–πš™πšŽπš•)

𝟹. πš”πšžπšπšž πš πšŠπš—πš’ πš—πšπšŽπšπš˜πš”πšŽ πšπšŠπšπšŠπš‘ πšœπšŽπš—πšŠπš“πšŠπš— πš›πšŠπšœπšŠπš—πšŽ πš”πšžπšπšž πš—πšŠπš—πšπš’πšœ (πš‘πšŠπš›πšžπšœ πš‹πšŽπš›πšŠπš—πš’ πšπšŠπš–πš™πš’πš• πš”πšžπšŠπš πš–πšŽπšœπš”πš’ πšœπšŽπš‹πšŽπš—πšŠπš›πš—πš’πšŠ πš™πšŽπš—πšπšŽπš— πš—πšŠπš—πšπš’πšœ)

𝟺. πšŠπš”πšž πšœπšŽπš—πšŽπš—πš πš”πšŠπš›πš˜ πš πš˜πš—πš πšœπš’πš—πš πš˜πš›πšŠ πš™πšŠπšπš’πš˜ πš πšŽπš›πšžπš‘ πšπš˜πš—πš’πš˜ (πšŠπš”πšž πšœπšžπš”πšŠ πšπšŽπš—πšπšŠπš— πš˜πš›πšŠπš—πš πš’πšŠπš—πš πšπš’πšπšŠπš” πš‹πšŽπšπš’πšπšž πš–πšŽπš—πšπšžπš›πšžπšœπš’ πš‘πšŠπš›πšπšŠ πšπšžπš—πš’πšŠ)

𝟻. πš’πšŽπš— 𝚍𝚞𝚠𝚎 πš”πšŠπš›πšŽπš™ πš”πš˜πš” πšπšžπš›πšžπš—πš πš’πšœπšπš’πšπš‘πš˜'πšŠπš‘ πš˜πš“πš˜ πšπš’πš™πš’πš”πš’πš› πš—πšŽπš–πšŽπš—πŸΈ πš–πšžπš—πšπšŠπš” πšŒπšŽπš™πšŽπš πš–πšŠπšπš’ (πš”πšŠπš•πšŠπšž πš™πšžπš—πš’πšŠ πš”πšŽπš’πš—πšπš’πš—πšŠπš— πšπšŠπš™πš’ πš”πš˜πš” πš‹πšŽπš•πšžπš– πš–πšŠπš–πš™πšž πš–πšŠπš”πšŠ πš“πšŠπš—πšπšŠπš— πšπšŽπš›πš•πšŠπš•πšž πšπš’πš™πš’πš”πš’πš› πšœπšžπš™πšŠπš’πšŠ πšπš’πšπšŠπš” πšŒπšŽπš™πšŠπš πš–πšŠπšπš’)

𝟼. πšœπšŠπš—πšπš›πš’ πš’πšŽπš— 𝚠𝚎𝚜 πš–πšžπš•πšŽπš‘ πš”πšžπšπšž πš πšŠπš—πš’ πš’πšœπšπš’πššπš˜πš–πšŠπš‘ (πšœπšŠπš—πšπš›πš’ πš”πšŠπš•πšŠπšž πšœπšžπšπšŠπš‘ πš™πšžπš•πšŠπš—πš πš”πšŠπš–πš™πšžπš—πš πšπšŠπš›πš’ πšπšŽπš–πš™πšŠπš πš‹πšŽπš•πšŠπš“πšŠπš›/πš™πš˜πš—πšπš˜πš” πš™πšŽπšœπšŠπš—πšπš›πšŽπš— πš‘πšŠπš›πšžπšœ πš‹πšŽπš›πšŠπš—πš’ πš’πšœπšπš’πššπš˜πš–πšŠπš‘)

_______________πŸ’š_______________
πšπšŽπš™πš˜πšœπš @πš—πš’πš‹πš›πš˜πšœπšžπš£πš£πšŠπš–πšŠπš—πš™πšŠπš™πšžπšŠ

27/04/2019
26/04/2019

Namun berbeda dengan anak yang satu ini. Lantaran dirinya bersekolah menggunakan tas yang terbuat dari kardus.

Address

Jln. Untung Suropati No. 99 Sumbersuko-Tunglur-Badas-Kediri
Kediri
64221

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when PAC IPNU - IPPNU Kec. Badas posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share