09/07/2019
Suatu hari, ada seorang tamu yang datang menemui alumni pondok pesantren di kediamannya.
Tamu tersebut terlihat begitu bersih dan sholih, jidatnya yang hitam cukup membuktikan bahwa dia adalah seorang yang rajin beribadah. Jenggotnya yang panjang adalah bentuk dari kencintaannya pada baginda nabi.
Berbeda dengan si tuan rumah yang kerjaannya cuma mengajar madrasah kecil sebelah musholla kampung. Pakaiannya yang jarang di setrika dan penampilan nyentrik khas santri lawas pondok pesantren.
Setelah berbincang sebentar sang tamu bertanya pada tuan rumah:
"Kang, sampean itu masih s**a baca kitab kuning..?"
"Iya pak, sudah jadi kebiasaan dipondok kalau malem selalu buka kitab." Jawab si santri.
"Lah.. sampean itu gimana to kang, sampean mestinya tahu kan kalau sumber ilmu agama itu dari Qur'an dan hadits..?"
"Iya pak, saya tahu. Lalu ada apa..?"
"Gini lo kang, kalau sampean sudah tahu ilmu itu bersumber dari qur'an dan hadits, mengapa sampean malah mengambil ilmu dari kitab kitab kuning...? Apa sampean itu ragu dengan kebenaran Al quran dan hadits..?"
"Hehehe..." Kang santri hanya nyengir, dan tidak menanggapi pertanyaan sang tamu.
Lalu kang santri, pamit ke dapur untuk membuat kopi. Sekalian mengambil suguhan buat sang tamu. Maklum, sudah kebiasaan di pondok bila ada kawan yang main ke kamar, kang santri akan membeli kopi untuk dinikmati bersama sang tamu.
Tak lama kemudian, kang santri kembali dengan membawa teko kecil berisi kopi dan dua gelas kosong, juga sepiring gorengan yang baru dibeli ibuk di pasar pagi tadi.
"Mari pak, diminum kopinya" kang santri mempersilahkan tamunya, tanpa menuang kopi pada gelas yang kosong.
"Iya kang.." sang tamu pun akhirnya menuang sendiri kopinya pada gelas kosong. Tapi pada pertengahan menuang kopi, kang santri bertanya pada tamunya:
"Loh pak, kok kopinya di tuang ke gelas..?"
"La iya to mas, masak mau langsung di minum dari teko, kan ya nggak baik. Toh ini kopinya masih panas" jawab sang tamu dengan perasaan aneh disebabkan pertanyaan aneh dari tuan rumah.
"La gimana to pak, kan sampean tahu kalau kopinya saya buat di teko, bukan di gelas.!!"
"La ini gelas buat apa kang...?"
"Ya itu buat perantara bapak, kalau minum kopi di tuang dulu di gelas.."
"Lah terus apa yang salah dari saya, bila saya menuang kopi pada gelas ini kang..? Bukankah itu malah sesuai dengan keinginan sampean kang..?"
"NAH ITU JAWABANNYA PAK..!!!"
"Maksudnya apa kang..?" Sang tamu mulai kebingungan.
"Tadi bapak kan tanya ke saya, kenapa saya menggali ilmu agama dari kitab kuning, sedangkan saya sendiri tahu kalau ilmu itu bersumber dari Alquran dan hadits. Jadi jawabannya adalah kitab kitab kuning itu adalah sebagai perantara memahami ilmu yang berada didalam alqur'an dan hadits. Dan bukan berarti saya meragukan kebenaran alquran dan hadits, tapi justru saya percaya betul bahwa ilmu dalam alquran dan hadits itu pasti benarnya. Namun gara gara kapasitas saya yang belum bisa memahami langsung isi alquran dan hadits, saya mempelajari keduanya dengan perantara kitab kitab kuning karya ulama' yang benar benar di akui kealimannya. kitab kitab tersebut tidaklah bertentangan dengan alquran dan hadits, justru kitab kitab tersebut menjelaskan banyaknya hukum yang tersirat dan tersurat dalam keduanya.
Sama seperti bapak yang pastinya bisa langsung meminum kopi langsung dari teko, tapi karena bapak takut kepanasan dan terkesan tidak sopan, maka bapak menuangkan kopi pada gelas dulu, baru diminum." Jawab kang santri panjang lebar.
"Hemmm..." Sang tamu hanya mengangguk anggukkan kepala dan terlihat kagum dengan alasan kang santri.
Tak lama kemudian tamu tersebut mohon pamit, dan tidak pernah menampakkan diri lagi di kampung kang santri.
Sekian, semoga bermanfaat.
Dan jangan lupa ngopi..!! πππ