10/04/2026
Menolak Lupa Duka Pandemi: Menjaga Nyawa Ulama di Tengah Hajat Besar Muktamar NU
Muktamar Nahdlatul Ulama bukan sekadar ajang suksesi kepemimpinan atau pergantian Rais Aam dan Ketua Umum PBNU. Ia adalah ruang ijtihad kolektif, tempat fatwa-fatwa keagamaan digodok, dan arah bangsa ditentukan. Namun, Muktamar Ke-34 memikul beban moral yang jauh lebih berat: ia digelar di bawah bayang-bayang memori kelam pandemi Covid-19 yang belum sepenuhnya pergi.
Luka yang Belum Mengering: 805 Ulama Wafat
Data menunjukkan bahwa pandemi ini bukan sekadar angka statistik. Bagi warga Nahdliyin, pandemi adalah kehilangan yang nyata. Tercatat, sedikitnya 805 ulama telah wafat selama dua tahun terakhir akibat virus ini. Kehilangan satu ulama saja adalah lubang besar bagi peradaban, apalagi ratusan.
"Jaga Kiai, Jaga Bu Nyai" bukan sekadar slogan di baliho. Ia adalah amanah kemanusiaan yang harus diwujudkan dalam langkah nyata, terutama saat ribuan orang bersiap berkumpul dalam satu titik pelaksanaan Muktamar.
Keputusan Baik dari Pengalaman Buruk
Mengutip penulis Rita Mae Brown, "Keputusan yang baik datang dari pengalaman, dan pengalaman berasal dari keputusan yang buruk." Kita tentu ingat puncak gelombang kedua pada Juni-Juli 2021 yang melumpuhkan sistem kesehatan. Saat itu, Indonesia menjadi episentrum wabah di Asia dengan rekor 56.757 kasus dalam satu hari.
Tragedi ini mengajarkan bahwa virus ini nyata, bukan "abal-abal" atau sekadar skenario. Bahkan, KH Mustofa Bisri (Gus Mus) secara terbuka mengajak para dokter NU untuk "berdakwah" kepada kalangan internal yang masih skeptis. Kewaspadaan ini menjadi krusial mengingat varian-varian baru seperti Delta, Mu, dan Lambda terus mengintai di balik mobilitas masyarakat yang mulai melonggar.
Dilema "Romli" dan Tradisi Takzim
Salah satu tantangan terbesar setiap Muktamar NU adalah kehadiran "Romli" atau Rombongan Liar—warga Nahdliyin yang datang dengan sukarela demi ngalap berkah. Semangat mereka luar biasa, namun di masa pandemi, kerumunan ini menyimpan risiko besar.
Kekhawatiran muncul saat tradisi salim sungkem atau sowan kiai dilakukan tanpa protokol kesehatan yang ketat. Sebagai murid, rasa takzim harus dibarengi dengan logika kesehatan. Jangan sampai niat mencari keberkahan justru menjadi jalan masuknya virus kepada para guru yang sudah sepuh dan memiliki risiko komorbid.
Rekomendasi Strategis: Muktamar Sebelum "Nataru"
Melihat tren pandemi global dan ancaman gelombang ketiga, muncul argumen kuat agar Muktamar dilaksanakan sebelum bulan Desember atau sebelum periode Natal dan Tahun Baru (Nataru). Mengapa?
1. Menghindari Lonjakan Liburan: Mobilitas lokal biasanya meledak di akhir tahun. Melaksanakan Muktamar sebelum Nataru berarti menghindari puncak kerumunan nasional.
2. Membendung Varian Luar Negeri: Saat ini, banyak negara di Eropa dan Amerika sedang berjuang menghadapi gelombang baru. Muktamar sebelum Desember meminimalisir risiko interaksi dengan pelaku perjalanan internasional yang pulang ke tanah air.
3. Menjaga Marwah Jam'iyyah: NU memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan contoh manajemen krisis yang baik. Jangan sampai muncul istilah "Klaster Muktamar" yang justru mencederai martabat organisasi.
Kemanusiaan di Atas Politik
Situasi landai dengan positivity rate 2,58% saat ini adalah anugerah yang harus dijaga dengan "pengamanan berlapis". Politik memang penting bagi organisasi, namun keselamatan nyawa ulama dan umat jauh lebih utama.
Muktamar NU kali ini harus menjadi bukti bahwa kaum sarungan mampu beradaptasi dengan sains tanpa kehilangan identitas spiritualnya. Intinya satu: jangan sampai hiruk-pikuk politik membuat kita abai bahwa nyawa para kiai adalah taruhannya. Ojo ribut politik wae, kesehatan dan rasa kemanusiaan jangan sampai dikorbankan.
Kini, badai pandemi Covid-19 telah resmi kita lalui, meninggalkan pelajaran berharga tentang ketangguhan dan solidaritas. Keberhasilan melewati masa sulit ini adalah buah dari kesabaran dan ketaatan kolektif, sekaligus menjadi momentum bagi kita untuk bersyukur atas kesehatan yang kembali pulih. Menyongsong Muktamar NU ke-35 yang akan datang, harapan besar tertuju pada lahirnya kepemimpinan yang mampu membawa transformasi digital dan kemandirian ekonomi bagi warga Nahdliyin. Muktamar ini diharapkan menjadi panggung kebangkitan spiritual dan sosial, di mana NU tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam menjawab tantangan zaman demi kejayaan umat dan keutuhan bangsa Indonesia di era baru.
Sumber : NU Online Content Curator NUOKe