MADIN NURUL FALAH Desa Mirit

MADIN NURUL FALAH Desa Mirit Madrasah Diniyyah di Dk. Bedahan Wetan, Desa Mirit

TPQ 2 Jam itu Gagal...Kalau Orang Tuanya Begini.Sore itu, adzan Maghrib sebentar lagi berkumandang.  Suara anak-anak men...
18/06/2026

TPQ 2 Jam itu Gagal...
Kalau Orang Tuanya Begini.

Sore itu, adzan Maghrib sebentar lagi berkumandang.
Suara anak-anak mengaji perlahan meredup. Satu-satu mereka menutup Al-Qur’an, mencium tangan Pak Ustadz, lalu berhamburan pulang sambil tertawa.

Di teras TPQ yang lantainya masih hangat, seorang bapak menghampiri. Wajahnya masam.

"Ustadz... permisi, saya mau ngobrol sebentar."

Pak Ustadz menoleh, senyumnya tetap teduh. "Silakan, Pak. Duduk sini."

Bapak itu menghela napas. "Ustadz, jujur ya... saya ini mulai ragu. Ngaji di TPQ cuma 2 jam sehari. Itu efektif nggak sih?"

Pak Ustadz nggak langsung jawab. Beliau cuma menuang teh hangat ke gelas. Suara airnya terdengar pelan.

"Kenapa Bapak tanya begitu?"

"Ya... saya masukin anak ke TPQ biar cepet pinter agama. Biar fasih baca Qur'an, hafal doa, pinter salat. Tapi 2 jam doang sehari? Kapan pintarnya?"

Pak Ustadz tersenyum. Senyum yang getir, tapi sayang.

Beliau balik bertanya, suaranya lembut: "Pak, anak Bapak sekolah berapa jam sehari?"

"Ya... dari jam 7 sampai jam 1 siang. Hampir seharian."

"Udah berapa tahun sekolah?"

"Dari TK. Sekarang udah kelas 4 SD."

Pak Ustadz menatap mata bapak itu. "Terus... semua pelajaran matematika, IPA, Bahasa Indonesia... langsung dikuasai semua?"

Bapak itu terdiam. "Ya... enggak juga, Ustadz. Masih s**a lupa perkalian."

Pak Ustadz mengangguk pelan. "Nah. Apalagi urusan hati."

Angin sore berembus, menggoyang daun mangga di halaman TPQ. Pak Ustadz menunjuk pohon itu.

"Pak lihat pohon mangga itu. Bapak tanam kapan?"

"Waktu saya masih kecil. Udah puluhan tahun."

"Berapa lama dia mulai berbuah?"

"Ya bertahun-tahun, Ustadz."

"Setiap hari Bapak lihat dia tumbuh nggak?"

"Enggak juga... taunya pas musim, tiba-tiba lebat buahnya."

Pak Ustadz menoleh ke anak-anak yang masih jalan kaki pulang, tasnya digendong, Qur’annya dipeluk.

"Begitu juga anak-anak kita, Pak."

"TPQ bukan pabrik yang cetak anak saleh 2 jam jadi. TPQ itu tukang kebun."

Bapak itu mulai diam, dengerin.

"Di sini kita nyiram. Di sini kita kasih pupuk. Di sini kita ajarin anak kenal huruf Alif-Ba-Ta. Ajarin dia cara pegang Qur'an dengan adab. Ajarin dia duduk rapi meski ngantuk. Ajarin dia bilang 'Afwan' ke temannya. Ajarin dia kangen sama masjid."

"Semua itu benih, Pak. Nggak kelihatan sekarang."

Pak Ustadz seruput tehnya. "Hari ini mungkin dia baru bisa 'ba-ta-tsa'. 6 bulan lagi hafal doa mau tidur. 2 tahun lagi lancar baca Al-Fatihah. 5 tahun lagi... mungkin dia yang adzanin Bapak pas salat Subuh di rumah."

"10 tahun lagi... mungkin dia yang angkat tangan, doain Bapak di makam."

Suasana hening. Hanya suara jangkrik mulai sahut-sahutan.

Mata bapak itu berkaca-kaca. Dia baru sadar. Selama ini dia ngejar "hasil instan", padahal Allah yang ngatur waktunya tumbuh.

Sebelum pulang, Pak Ustadz bisik pelan sambil menepuk bahu bapak itu:

"Pak... 2 jam di TPQ memang nggak akan cukup. Kalau kita mau hasil cepat."

"Tapi 2 jam itu akan jadi pondasi paling kokoh... kalau di rumah Bapak lanjutin bangunannya."

"TPQ cuma 2 jam. Tapi 22 jam sisanya, anak Bapak bareng siapa? Bareng siapa dia ngobrol? Lihat siapa dia mencontoh?"

Bapak itu langsung paham.

Dia pulang malam itu bukan bawa kecewa. Tapi bawa PR baru: jadi guru pertama buat anaknya.

Karena yang bener-bener ngubah anak...
Bukan 2 jam di TPQ.
Tapi 24 jam kebiasaan baik di rumah, di sekolah, di lingkungan.

TPQ nanem.
Rumah nyiram.
Allah yang numbuhin.

Address

Dukuh Bedahan Wetan Rt. 01 Rw. 01 Desa Mirit
Kebumen
54395

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when MADIN NURUL FALAH Desa Mirit posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share