Majelis Muslimah Ahbaburrosul Indonesia

Majelis Muslimah Ahbaburrosul Indonesia Majelis Muslimah Ahbaburrosul Indonesia
Region Puri Raya Residence, Majalaya Karawang

27/05/2026

Selamat Idul Adha 2026

PROBLEMATIKA FIQIH KURBAN: ANTARA IBADAH, AMANAH, ILMU DAN ADABOleh: Sayyid Seif Alwi_Ibadah Kurban Bukan Sekadar Tradis...
25/05/2026

PROBLEMATIKA FIQIH KURBAN: ANTARA IBADAH, AMANAH, ILMU DAN ADAB
Oleh: Sayyid Seif Alwi
_

Ibadah Kurban Bukan Sekadar Tradisi

Setiap Idul Adha, kaum muslimin berbondong-bondong melaksanakan ibadah kurban. Namun sayangnya, masih banyak hukum-hukum fiqih kurban yang belum dipahami dengan benar.

Mulai dari:

* hukum kurban,
* kurban atas nama orang yang telah wafat,
* hukum memakan daging kurban,
* amanah panitia,
* hukum menjual kulit,
* hingga persoalan distribusi daging.

Akibatnya, sering muncul polemik, saling menyalahkan, bahkan praktik-praktik yang tidak sesuai syariat karena dilakukan tanpa ilmu.

Padahal Islam adalah agama yang indah dan rinci. Semua telah dijelaskan oleh para ulama dengan dalil-dalil yang kuat.

Karena itu, penting bagi kita memahami fiqih kurban agar ibadah yang agung ini tidak hanya semangat secara lahir, tetapi juga benar secara syariat.

Hukum Kurban (Udhiyah) Menurut Para Ulama

Mayoritas ulama menyatakan bahwa hukum kurban adalah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan bagi orang yang mampu.

Namun para ulama memang berbeda pendapat dalam sebagian rincian hukumnya.

Mazhab Abu Hanifah memandang kurban hukumnya wajib bagi orang yang mampu dan mukim di negeri yang berkecukupan.

Sedangkan Mazhab Malik bin Anas mewajibkan kurban bagi orang yang memiliki kemampuan harta mencapai nisab tertentu.

Adapun dalam Mazhab Syafi'i dan mayoritas ulama lainnya, hukum kurban adalah sunnah muakkadah.

Dalil yang sering dijadikan penguat bahwa kurban tidak diwajibkan bagi seluruh umat adalah sabda Rasulullah ﷺ:

أُمِرْتُ بِالنَّحْرِ وَهُوَ سُنَّةٌ لَكُمْ

"Aku diperintahkan berkurban, dan kurban itu sunnah bagi kalian." (HR. Imam at-Tirmidzi)

Demikian p**a sabda beliau:

كُتِبَ عَلَيَّ النَّحْرُ وَلَيْسَ بِوَاجِبٍ عَلَيْكُمْ

"Aku diperintahkan berkurban, namun itu tidak diwajibkan atas kalian." (HR. Imam Daruquthni)

Apakah Mengatakan "Ini Kurbanku" Menjadikannya Wajib?

Ini termasuk masalah yang sering diperdebatkan di masyarakat.

Sebagian ulama berpendapat bahwa ketika seseorang sudah menunjuk hewan lalu berkata: "Ini hewan kurbanku."
maka kurban tersebut menjadi wajib.

Namun sebagian ulama lainnya menjelaskan bahwa ucapan seperti itu tidak otomatis menjadikan kurban wajib, selama tidak disertai niat nadzar atau ucapan tegas mewajibkan.

Misalnya seseorang berkata:
"Aku bernazar untuk berkurban."

atau: "Ini kurban wajibku."

Maka saat itu hukumnya berubah menjadi wajib.

Tetapi jika hanya sekadar mengatakan:
"Ini hewan kurbanku", tanpa niat nadzar, maka hukumnya tetap sunnah.

Pendapat ini dianggap lebih memudahkan masyarakat dan lebih sesuai dengan hukum asal kurban itu sendiri.

Sebab jika setiap ucapan langsung menjadikan ibadah sunnah berubah wajib, maka seluruh ibadah sunnah akan menjadi berat.

Hukum Memakan Daging Kurban

Bagi kurban sunnah, pemilik kurban dianjurkan memakan sebagian daging kurbannya sendiri.

Hal ini berdasarkan sunnah Rasulullah ﷺ yang memakan sebagian daging kurban beliau sebagai bentuk tabarruk dan mengikuti syariat.

Namun berbeda dengan kurban wajib atau kurban nazar.

Jika seseorang bernazar untuk berkurban, maka menurut banyak ulama seluruh dagingnya wajib disedekahkan dan dirinya tidak boleh memakannya.

Kurban atas Nama Orang yang Telah Wafat

Permasalahan ini juga sering menjadi perdebatan.

Mayoritas ulama membolehkan kurban atas nama orang yang telah meninggal dunia, karena kurban termasuk jenis sedekah dan pahala sedekah dapat sampai kepada mayit.

Dalam Mazhab Syafi'i sendiri terdapat dua pendapat:

* sebagian ulama mensyaratkan adanya wasiat sebelum wafat,
* sebagian lainnya membolehkan walaupun tanpa wasiat.

Sedangkan jumhur ulama dari mazhab Hanafi, Maliki, dan Hambali membolehkan kurban atas nama mayit meskipun tanpa wasiat. Sebab kurban (udhiyah) adalah salah satu bentuk sedekah, sedangkan sedekah atas nama mayit itu sah dan bermanfaat baginya.

Hal ini juga dikuatkan dengan wasiat Rasulullah ﷺ kepada Ali bin Abi Thalib agar setelah beliau wafat tetap berkurban atas nama beliau dan umatnya.

Kurban atas Nama Orang yang Masih Hidup

Berbeda dengan orang yang telah wafat, kurban atas nama orang yang masih hidup harus dengan izin dan keridhaannya, dan daging harus diserahkan semua kepada fakir miskin dan kaum muslimin.

Imam An-Nawawi menjelaskan:

لو ضحى عن غيره بغير إذنه لم يقع عنه

"Jika seseorang berkurban atas nama orang lain tanpa izinnya, maka kurban itu tidak sah atas nama orang tersebut."

Jika tetap dilakukan tanpa izin, maka nilainya hanya menjadi sedekah biasa.

Hewan yang Sah untuk Kurban

Mayoritas ulama empat mazhab sepakat bahwa hewan yang sah untuk kurban hanyalah: unta, sapi dan kerbau, kambing dan domba.

Karena itu, ayam, bebek, unggas, dan selain hewan ternak tidak sah dijadikan udhiyah menurut jumhur ulama.

Walaupun ada riwayat sebagian sahabat bersedekah dengan ayam, para ulama menjelaskan bahwa itu bukan udhiyah, melainkan sedekah biasa.

Namun bagi orang yang belum mampu berkurban, tetap dianjurkan memberi makan keluarga, bersedekah, dan menghidupkan hari raya dengan kebahagiaan.

Amanah Panitia Kurban

Panitia kurban pada hakikatnya adalah wakil dari mudhohi, yaitu orang yang berkurban. Karena itu panitia wajib amanah.

Tidak boleh:

* mengambil bagian diam-diam,
* menyimpan jatah tertentu tanpa izin,
* menjual bagian hewan kurban yang masih berstatus titipan,
* atau memanfaatkan amanah untuk kepentingan pribadi.

Kulit, kepala, tanduk, dan seluruh bagian hewan kurban tetap termasuk amanah selama belum dihibahkan secara jelas oleh mudhohi.

Jika mudhohi berkata:
"Kulitnya saya hibahkan kepada panitia."
maka setelah itu panitia boleh memanfaatkannya atau menjualnya karena telah menjadi milik mereka.

Namun jika belum ada izin atau hibah yang jelas, maka panitia tidak boleh menjualnya.

Hukum Upah Jagal dan Biaya Operasional

Rasulullah ﷺ melarang menjadikan bagian hewan kurban sebagai upah penyembelih.

Karena itu:

* jagal tidak boleh dibayar dengan kulit,
* panitia tidak boleh mengambil bagian tertentu sebagai bayaran,
* dan biaya operasional seharusnya disiapkan tersendiri oleh mudhohi.

Adapun jika mudhohi memberikan sebagian bagian kurban sebagai hadiah atau hibah kepada panitia, maka hukumnya boleh karena statusnya sudah berubah menjadi pemberian pribadi, bukan upah.

Hukum Memberikan Daging kepada Non-Muslim

Panitia tidak boleh secara langsung menyalurkan daging udhiyah kepada non-muslim dalam status pembagian kurban.

Namun jika daging tersebut sudah menjadi hak milik seorang muslim, baik mudhohi maupun penerima, maka ia boleh menghadiahkannya kepada non-muslim. Karena saat itu statusnya telah menjadi milik pribadi.

Faedah Sirah Nabi ﷺ

Rasulullah ﷺ pernah melaksanakan kurban seratus ekor unta pada Haji Wada di Mina. Beliau menyembelih sendiri sekitar 63 ekor unta, kemudian sisanya dilanjutkan oleh sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. yang kemudian diperintahkan juga agar sayyidina Ali mengambil sedikit bagian dari tiap ekor untuk dimasak dan dikonsumsi oleh Rasul dan keluarganya.

Ini menunjukkan besarnya pengorbanan, kekuatan, dan kemurahan hati Rasulullah ﷺ dalam beribadah kepada Allah.

Penutup

Fiqih kurban mengajarkan bahwa ibadah bukan hanya tentang semangat, tetapi juga tentang ilmu, amanah, dan ketelitian.

Jangan sampai ibadah yang mulia justru rusak karena ketidaktahuan, kelalaian, atau penyalahgunaan amanah.

Karena sesungguhnya Allah tidak hanya melihat banyaknya hewan yang disembelih, tetapi juga melihat ketakwaan, kejujuran, dan keikhlasan hati.

Semoga Allah ﷻ melapangkan rezeki kita, menguatkan iman dan keikhlasan kita dalam beribadah, memampukan kita untuk gemar bersedekah dan berkurban, serta menjadikan kita hamba-hamba yang amanah dalam memegang titipan dan lembut hatinya dalam menebar manfaat kepada sesama.

Dan semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk terus rendah hati belajar agama, istiqamah mengaji kepada para ulama dan guru-guru yang berkompeten, agar ibadah yang kita lakukan tidak hanya semangat dalam pelaksanaannya, tetapi juga benar dalam ilmu, lurus dalam pemahaman, serta terjaga dari kekeliruan dan penyimpangan dalam urusan fiqih dan syariat. Aamiin. Wallohu a'lam.
_

Katib Ahbaburrosul
Malam Kamis, 21 Mei 2026
Teks & Ilustrator: Elghe
Video:
https://www.youtube.com/live/H6bBt2O3Lh0?si=vpyS9twQdw0pGomn

25/05/2026

"HAUL MASSAL"



25/05/2026

Yang p**ang kepada Allah, tidak benar-benar pergi mereka hanya berpindah tempat dari pandangan mata menuju ruang rindu dan doa.

Dan malam itu, kami belajar bahwa cinta paling indah adalah cinta yang tetap mengirimkan doa, bahkan setelah dipisahkan oleh kematian.

Semoga Allah Ta'ala menjaga langkah-langkah kita untuk tetap istiqamah di majelis ilmu sampai Allah kumpulkan kembali hati-hati ini di surga-Nya kelak, Aamiin.

Haul Massal MMA Puri Raya


Haul Massal MMA Region Puri Raya Residence
24/05/2026

Haul Massal MMA Region Puri Raya Residence

☘️ HAUL MASSAL ☘️MMA Puri Raya ResidenceAssalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Mari hadir bersama dalam majelis doa...
23/05/2026

☘️ HAUL MASSAL ☘️
MMA Puri Raya Residence

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Mari hadir bersama dalam majelis doa, dzikir, sholawat, dan cinta untuk para almarhum & almarhumah keluarga tercinta.

Karena cinta tidak selesai meski dipisahkan oleh kematian, dan doa adalah hadiah paling indah untuk mereka yang telah lebih dahulu p**ang kepada Allah Ta'ala.

🗓️ Ahad, 24 Mei 2026
🕰️ 18.15 WIB - selesai
📍 Gedung Asy-Syams Cendikia
👘 Dress Code
Gamis Hitam & Kerudung Putih Polos

Mari bersama-sama menghadiahkan:
💚 doa
💚 dzikir
💚 bacaan Al-Qur'an
💚 sholawat
💚 dan sedekah
untuk keluarga kita yang telah wafat.

Semoga Allah menerima setiap amal kita dan menjadikannya cahaya bagi ahli kubur kita. Aamiin.

Terbuka untuk umum.
Jazakumullahu khairan 🌷

22/05/2026

Semoga dengan wasilah bertabarruk ini Allah Ta'ala menanamkan istiqamah, adab, mahabbah kepada guru mursyid kita, serta mengumpulkan kita bersama para awliya dan shalihin dalam ridha-Nya.

*Ya Robbana...*
*Dengan wasilah tabarruk ini, sentuhkan pada hati kami pancaran cahaya iman, adab, dan cinta kepada-Mu sebagaimana yang Engkau anugerahkan kepada hamba-hamba-Mu yang saleh.*

*Karuniakan kami ilmu yang bermanfaat, hikmah yang menenangkan hati, serta rezeki yang penuh keberkahan.*

*Jika mereka hidup dengan dzikir, maka hidupkan hati kami dengan mengingat-Mu. Jika mereka mulia karena adab kepada guru-gurunya, maka jangan putuskan kami dari keberkahan para mursyid dan orang-orang shalih.*

*Ya Alloh...*
*Kami tahu kami bukan siapa-siapa, namun jangan cabut rasa cinta kami kepada para wali dan orang-orang shalih. Karena sering kali seseorang dikumpulkan bersama para shalihin, bukan karena banyak amalnya, tetapi karena tulus cintanya.*

*Maka jadikan tabarruk ini bukan sekadar menyentuh jasad, tetapi menyentuh ruh kami, melembutkan hati kami, menerangi langkah kami dengan pancaran cahaya petunjuk-Mu dan menuntun kami istiqamah hingga akhir hayat. Aamiin.*

---
_Tabarruk peci dan ikat pinggang Maulana Syekh Hisyam al-Kabbani qs._
Aamiin 🤲🏻🤲🏻

MENGUNGKAP BAHAYA PENYAKIT 'AIN & CARA SELAMAT DARI PANDANGAN YANG TAK TERLIHATOleh: Sayyid Seif Alwi_Yang Terlihat Itu ...
20/05/2026

MENGUNGKAP BAHAYA PENYAKIT 'AIN & CARA SELAMAT DARI PANDANGAN YANG TAK TERLIHAT
Oleh: Sayyid Seif Alwi
_

Yang Terlihat Itu Belum Tentu Aman

Kadang kita merasa hidup baik-baik saja, keluarga harmonis, anak sehat, rezeki lancar. Lalu tanpa sadar semuanya kita tampilkan. Upload, story, pamer kebahagiaan.

Padahal, tidak semua mata yang melihat itu membawa kebaikan. Ada yang kagum tapi lupa mendoakan. Ada yang senang tapi terselip keinginan. Ada yang diam, tapi jiwanya 'bereaksi'. Dan dari situlah 'ain bisa terjadi.

Apa Itu Penyakit 'Ain

Ulama mendefinisikan 'Ainun lāmmāh atau penyakit 'ain adalah:

إِصَابَةُ الْعَائِنِ غَيْرَهُ بِعَيْنِهِ

"Seorang yang memandang, menimbulkan gangguan pada yang dipandangnya"

Para ulama dalam keterangan lain juga menjelaskan:

"Ain diambil dari kata ُعَانَ يَعِيْن ('āna ya'īnu), yaitu ketika seseorang terkena sesuatu melalui pandangan mata. Asalnya dari kekaguman, lalu diikuti oleh kondisi jiwa (yang tidak baik), kemudian jiwa itu menggunakan pandangan sebagai sarana untuk memberi racun (pengaruh buruk) kepada yang dipandang tersebut."

Jadi 'ain itu:
* Berawal dari kagum
* Diikuti respon jiwa
* Lalu mata menjadi perantara
Seperti benalu, tidak minta izin, tapi menempel dan mengambil.

*Dalil Bahwa 'Ain Itu Nyata*

1. Rasulullah ﷺ bersabda:

اَلْعَيْنُ حَقٌّ، وَلَوْ كَانَ شَىْءٌ سَابَقَ الْقَدَرَ سَبَقَتْهُ الْعَيْنُ، وَإِذَا اسْتُغْسِلْتُمْ فَاغْسِلُوْا

"Ain itu nyata (benar adanya). Seandainya ada sesuatu yang dapat mendahului takdir, niscaya ain akan mendahuluinya. Apabila kalian diminta untuk mandi (cuci muka/anggota tubuh untuk pengobatan), maka mandilah (basuhlah)."
(Hadits Shahih Imam Muslim no. 2188)

2. Dari Sayyidah Aisyah ra. berkata:

كَانَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنِي أَنْ أَسْتَرْقِيَ مِنَ العَيْنِ

"Dahulu Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam memintaku agar aku diruqyah untuk menyembuhkan 'ain."
(HR. Muslim no.2195).

3. Nabi ﷺ juga bersabda, diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah ra.:

أَكْثَرُ مَنْ يَمُوتُ مِنْ أُمَّتِي بَعْدَ قَضَاءِ اللّٰهِ وَقَدَرِهِ بِالْعَيْنِ

"Kebanyakan kematian umatku setelah takdir Allah adalah karena 'ain."
(HR. Imam Al-Bazzar)

Kisah Nyata: Sahl bin Hunaif Terkena 'Ain

Dalam sebuah hadits sahih diriwayatkan:
Seorang sahabat bernama Sahl bin Hunaif mandi di tempat pemandian bernama Al-Kharrar, lalu dilihat oleh Amir bin Rabi'ah yang kagum dengan kulitnya yang bersih. Tak lama Sahl langsung jatuh sakit di tempat itu juga. Hal ini dikabarkan pada Rasulullah ﷺ, beliau datang menemui sahabat Sahl dan bersabda:

عَلَامَ يَقْتُلُ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ؟ أَلَا بَرَّكْتَ؟

"Mengapa salah seorang dari kalian hendak membunuh saudaranya? Mengapa tidak engkau doakan keberkahan kepadanya?"
(HR. Imam Malik dalam Al-Muwaththa)

Lalu Nabi ﷺ memerintahkan Amir untuk berwudhu, dan air bekas wudhunya disiramkan kepada Sahal, tak lama Sahal pun sembuh.

Bukan Hanya Hasad Bahkan Kagum Pun Bisa

Allah ﷻ berfirman QS. Al-Falaq: 5:

وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

Namun ulama menjelaskan, semua penyakit ain itu dari hasad, tetapi tidak semua hasad menjadi 'ain. Bahkan kagum bisa jadi 'ain dan takjub bisa jadi 'ain, kalau tidak disertai dzikir.

*Bahaya Zaman Sekarang: Terlalu Banyak Dipertontonkan*

Hari ini:

* Baru beli mobil → upload
* Anak berprestasi → upload
* Rumah rapi → upload
* Bahkan cucian numpuk → upload

Padahal hidup itu untuk dijalani, bukan untuk dijadikan tontonan dan para ulama mengatakan bahwa benda mati juga bisa terkena 'ain. Benda mati yang terkena ain bisa mengakibatkan rusak atau hancur secara tiba-tiba.

Karena tidak semua yang melihat itu mendoakan, dan tidak semua yang diam itu ridha. Kadang cuma berkata:
"Coba ya hidupku kayak dia..." dsb
Dan dari situ bisa jadi sebab 'ain.

*Cara Menghindari 'Ain*

1. Doakan saat merasa kagum pada seseorang:

اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَهُ
"Ya Allah, berkahilah dia"

Kalau pada benda:
اَللّٰهُمَّ بَارِكْ عَلَيْهِ
Atau bisa baca:
مَا شَاءَ اللّٰهُ تَبَارَكَ اللّٰهُ

2. Perbanyak doa perlindungan, antara lain:

اَللّٰهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي

Artinya:
"Ya Allah, aku memohon ampunan dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku."

3. Jangan berlebihan menampilkan nikmat
Jaga privasi, tidak semua harus dipublikasikan.

*Cara Mengobati 'Ain*

1. Ruqyah, membaca doa dan Surat-surat perlindungan dalam Al-Qur'an:
Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, dll.

2. Mandi atau wudhu
Rasulullah ﷺ bersabda:

وَإِذَا اسْتُغْسِلْتُمْ فَاغْسِلُوا

"Jika kalian diminta untuk mandi (untuk pengobatan 'ain), maka mandilah."
(HR. Imam Muslim)

3. Air doa (media)

Rasul ﷺ pernah disengat kalajengking, kemudian beliau menggunakan air dan garam, lalu membaca mu'awwidzat (ayat-ayat perlindungan), maka ini menunjukkan boleh menggunakan media kesembuhan.

4. Tabarruk (mengambil keberkahan)

Dalam riwayat, Rasulullah ﷺ meminum air bekas wudhu para sahabat untuk mengambil berkah bekas-bekas tangan sahabatnya.

*Penutup*

Jadi mulai hari ini:
* Jaga apa yang kita lihat
* Jaga apa yang kita tampilkan
* Jaga apa yang kita rasakan

Hindarilah sikap s**a pamer, dan hiasi diri dengan sifat tawadhu. Karena penyakit 'ain itu tidak terlihat tapi nyata dan bisa berdampak. Wallohu a'lam.

اَللّٰهُمَّ احْفَظْنَا مِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
آمِيْن يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ 👐

KATIB AHBABURROSUL
Taklim Muslimah, Selasa 28 April 2026
Teks & Ilustrasi: Elghe
Video:
https://www.youtube.com/live/MaTHgZs0LJU?si=xoM5KEO9-9VWpKTV

Mari ramaikan syiar hari-hari terbaik bersama orang-orang tercinta. Tag, share, dan ajak keluarga, sahabat, serta saudar...
18/05/2026

Mari ramaikan syiar hari-hari terbaik bersama orang-orang tercinta.

Tag, share, dan ajak keluarga, sahabat, serta saudara kita untuk menyambut Zulhijjah dengan amal terbaik.

Semoga Allah izinkan kita menjadi hamba yang dipilih untuk menikmati manisnya ibadah di hari-hari terbaik-Nya. 🤍


MMA Region Puri Raya Residence

Kajian RutinBersama: Ustadzah Hj. Ellya Rahmawati, S.H.I.Materi Fiqih: Rukun Shalat ke-3: Takbiratul Ihram)Dalam sholat:...
17/05/2026

Kajian Rutin
Bersama: Ustadzah Hj. Ellya Rahmawati, S.H.I.
Materi Fiqih: Rukun Shalat ke-3: Takbiratul Ihram)

Dalam sholat:

Saat berdiri tegak, ada adab yang diajarkan berdiri penuh hormat di hadapan Rabb semesta alam.

Saat Takbiratul Ihram, tangan terangkat mengucap "Allahu Akbar" , kita sedang meletakkan dunia di belakang, lalu mengagungkan Allah di atas segala-galanya.

Dan ketika tangan bersedekap, di sanalah hati belajar tunduk, pasrah, dan berserah diri sepenuhnya kepada-Nya.

KETIKA JALAN MENUJU ALLAH MULAI TERPUTUS: TENTANG GURU RUHANI, CAHAYA HATI, DAN FITNAH AKHIR ZAMANOleh: Sayyid Seif Alwi...
15/05/2026

KETIKA JALAN MENUJU ALLAH MULAI TERPUTUS: TENTANG GURU RUHANI, CAHAYA HATI, DAN FITNAH AKHIR ZAMAN
Oleh: Sayyid Seif Alwi
_

Di zaman ketika manusia begitu mudah berbicara tentang agama, justru semakin sedikit manusia yang benar-benar mengenal jalan menuju Allah Ta'ala.

Banyak yang memiliki kitab, tetapi kehilangan adab. Banyak yang memahami hukum, tetapi belum mengenal dirinya sendiri. Banyak yang berbicara tentang cahaya, padahal hatinya masih dipenuhi ambisi dunia, cinta pujian, dan kegelisahan terhadap penilaian manusia.

Padahal para ulama arif billah sejak dahulu telah mengingatkan bahwa perjalanan menuju Allah bukan hanya perjalanan ilmu lahiriah, melainkan perjalanan penyucian jiwa dan penyelamatan hati.

Dalam kitab Sirrul Asrar, Sulthonul Awliya Syekh Abdul Qadir al-Jailani menjelaskan pentingnya manusia mengambil cahaya matahati atau ainul bashirah dari ahlinya, yakni para wali mursyid yang benar-benar mendapat amanah ruhani.

Beliau berfatwa:

"Wajib bagi setiap manusia meraih ainul bashirah dari ahli bashirah, dengan cara bertalaqqi dan berguru kepada wali mursyid yang dapat membimbing murid menuju jalan Allah."

Karena perjalanan menuju Allah bukan sekadar perjalanan membaca. Ia adalah perjalanan hati, dan hati tidak cukup hanya diberi informasi. Hati harus dibimbing, dibersihkan dan diarahkan oleh orang yang telah lebih dahulu mengenal jalan p**ang menuju Rabb-nya.

Jalan Ruhani yang Semakin Terputus

Syekh Abdul Qadir al-Jailani qs. menyerukan agar manusia segera memasuki jalan thariqah dan kembali kepada Allah bersama kafilah ruhani, yakni bersama para wali mursyid.

Beliau mengingatkan bahwa menjelang akhir zaman, jalan itu perlahan akan terputus.

Maksudnya bukan hilangnya agama dari muka bumi, melainkan semakin langkanya pembimbing ruhani yang benar-benar sahih sanadnya, bersambung ilmunya, bersih hatinya, dan mendapatkan izin ruhani dari gurunya semasa hidup.

Allah Ta'ala berfirman:

وَسَارِعُوٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ

"Dan bersegeralah kamu menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang bertakwa."
(QS. Ali Imran: 133)

Di akhir zaman, banyak manusia mengaku sebagai pembimbing ruhani, bahkan mengaku wali mursyid, padahal tidak pernah mendapatkan izin dan pengesahan dari guru mursyid sebelumnya.

Akibatnya, manusia mudah tertipu oleh:

• penampilan spiritual,
• kata-kata yang memukau,
• keanehan,
• karamah yang dipamerkan,
• atau banyaknya pengikut.

Padahal ukuran kebenaran bukan banyaknya pengikut, tetapi sejauh mana seseorang mengikuti Rasulullah ﷺ dan menjaga kemurnian syariat-Nya.

Fitnah Akhir Zaman dan Kegalauan Rasulullah ﷺ

Rasulullah ﷺ telah mengabarkan bahwa salah satu tanda akhir zaman adalah diangkatnya ilmu dan tersebarnya kebodohan. Bukan berarti buku hilang atau ceramah tidak ada lagi. Tetapi ilmu yang hidup di hati manusia akan semakin sedikit.

Fitnah akan datang seperti gelapnya malam. Sesuatu yang salah terlihat benar.
Yang batil terlihat indah. Yang menyesatkan justru diikuti banyak orang.

Sebagian manusia menganggap seseorang wali hanya karena terlihat sakti, aneh, atau memiliki pengikut yang besar. Padahal kewalian bukan tentang sensasi.

Kewalian adalah tentang kedekatan kepada Allah, kebersihan hati, dan istiqamah dalam syariat.

Syekh Abdul Qadir qs. mengingatkan bahwa kita tidak datang di dunia ini untuk duduk santai apalagi untuk menyakralkan dunia yang rendah dan fana ini, tidak p**a hidup hanya sebatas untuk makan dan minum saja, kemudian puas dengan berbagai nafsu yang melenakan.

Itulah sebabnya, Nabi Muhammad ﷺ selalu menunggu dengan resah demi kita umatnya, memikirkan bagaimana keadaan kita apakah selamat atau tidaknya. Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman:

لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

"Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu, serta amat belas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin."
(QS. At-Taubah: 128)

Lalu, dalam kitab Sirrul Asrar, disebutkan ungkapan penuh kasih Rasulullah ﷺ terhadap umat akhir zaman:

غَمِّي لِأَجْلِ أُمَّتِيَ الَّذِينَ فِي آخِرِ الزَّمَانِ

"Keresahan hatiku karena alasan menunggu umatku yang hidup di akhir zaman."

Betapa Rasulullah ﷺ memikirkan keselamatan umatnya. Namun hari ini, manusia justru lebih sibuk mengejar dunia daripada mencari keselamatan hatinya sendiri.

Dua Lautan Ilmu: Syariat dan Ma'rifat

Menurut Syekh Abdul Qadir al-Jailani qs, ilmu yang Allah turunkan terbagi menjadi dua:

1 Ilmu lahiriah (ilmu syariat)
2 Ilmu batiniah (ilmu ma'rifat)

Ilmu syariat menjaga lahiriah manusia:

• ibadah,
• halal dan haram,
• adab,
• hukum-hukum agama.

Sedangkan ilmu ma'rifat menjaga batiniah manusia:

• keikhlasan,
• kesabaran,
• kebersihan hati,
• pengendalian hawa nafsu,
• dan hubungan ruhani dengan Allah Ta'ala.

Dengan ilmu syariat, Allah memberi titah untuk kemaslahatan lahiriah manusia. Dan dengan ilmu ma'rifat, Allah memberi titah kepada keselamatan batiniah manusia. Tujuannya agar dari pertemuan keduanya lahir apa yang disebut para ulama sebagai: Ilmu Hakikat.

Karena hakikat tidak akan lahir tanpa syariat, dan syariat tanpa penyucian hati dapat berubah menjadi kesombongan spiritual. Allah Ta'ala berfirman:

مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيٰنِ ۝ بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَّا يَبْغِيٰنِ

"Dia membiarkan dua laut mengalir yang kemudian keduanya bertemu. Di antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing."
(QS. Ar-Rahman: 19–20)

Secara lahiriah, ayat ini menunjukkan kekuasaan Allah pada dua lautan yang bertemu namun tidak saling melampaui batasnya.

Namun dalam tafsir ahli ma'rifat, dua lautan ini dipahami sebagai isyarat tentang:

• syariat dan hakikat,
• ilmu lahir dan ilmu batin,
• zahir dan ma'rifat.

Keduanya harus berjalan beriringan. Seseorang yang hanya memiliki syariat tanpa ma'rifat dapat menjadi keras dan kering. Sebaliknya, orang yang mengaku ma'rifat, tetapi meninggalkan syariat akan mudah tersesat oleh hawa nafsunya sendiri.

Dua Wadah Ilmu Sayyidina Abu Hurairah RA

Sahabat Abu Hurairah ra. pernah berkata:

حَفِظْتُ مِنْ رَسُولِ اللّٰهِ ﷺ وِعَاءَيْنِ، فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَبَثَثْتُهُ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَلَوْ بَثَثْتُهُ قُطِعَ هٰذَا الْبُلْعُومُ

"Aku menghafal dua wadah ilmu dari Rasulullah ﷺ. Salah satunya telah aku sampaikan kepada kalian. Sedangkan yang satu lagi, jika aku sampaikan, niscaya tenggorokanku ini akan dipotong."
(HR. Imam Bukhari)

Para ulama menjelaskan bahwa tidak semua manusia siap memahami kedalaman rahasia ruhani. Karena itulah seorang awam membutuhkan pembimbing. Membutuhkan guru, mentor, mursyid, dan pembinaan hati.

Sebab perjalanan menuju Allah bukan sekadar memahami teks, tetapi memahami bagaimana membersihkan diri dari ego dan hawa nafsu.

Tazkiyatun Nafs: Inti Perjalanan Thariqah

Pelajaran paling utama dalam thariqah adalah: Tazkiyatun Nafs yakni penyucian jiwa.

Seorang mursyid terkadang memiliki metode tertentu untuk membersihkan hati murid-muridnya.

Kadang ego dihancurkan. Kadang rasa ingin dipuji dipatahkan. Kadang rasa cinta jabatan dibersihkan. Sebab penyakit hati tidak cukup disembuhkan hanya dengan teori.

Orang yang masih terlalu sibuk memikirkan penilaian manusia akan sulit benar-benar ikhlas menuju Allah Ta'ala.

Penutup: Cahaya Itu Bernama Hati yang Bersih

Di akhir zaman, manusia mungkin mudah menemukan informasi, tetapi sulit menemukan cahaya. Karena cahaya tidak lahir dari banyaknya pengetahuan semata. Cahaya lahir dari:

• hati yang bersih,
• jiwa yang tunduk,
• ilmu yang diamalkan,
• dan bimbingan ruhani yang benar.

Sebab pada akhirnya, perjalanan menuju Allah bukan tentang siapa yang paling terkenal. Tetapi siapa yang paling bersih hatinya di hadapan Allah Ta'ala. Wallohu a'lam.
_

KATIB AHBABURROSUL
Taklim Malam Jumat, 23 April 2026
Pencatat: Suci
Editor & Ilustrator: Elghe
Video:
https://www.youtube.com/live/geySf_xZrjI?si=t6s9Y3HUIYxHNfJS

Address

Karawang

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Majelis Muslimah Ahbaburrosul Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share