Srikandi Ahbaburrosul

Srikandi Ahbaburrosul Sarana untuk sharing ilmu dan jadwal ta'lim

HUKUM HADIAH DALAM LOMBA AGUSTUS: HADIAH ATAU TARUHAN?Oleh: Sayyid Seif AlwiSetiap bulan Agustus, suasana masyarakat men...
15/08/2026

HUKUM HADIAH DALAM LOMBA AGUSTUS: HADIAH ATAU TARUHAN?
Oleh: Sayyid Seif Alwi

Setiap bulan Agustus, suasana masyarakat menjadi lebih semarak. Lapangan dipenuhi berbagai perlombaan, anak-anak bermain, orang tua ikut menikmati kemeriahan, dan hadiah disiapkan untuk para pemenang.

Namun, di balik kegembiraan tersebut terdapat satu persoalan fikih yang penting: bagaimana hukum hadiah dalam perlombaan apabila hadiah itu berasal dari uang yang dikumpulkan dari para peserta?

Apakah uang pendaftaran selalu dibenarkan? Ataukah ada mekanisme tertentu yang justru menjadikan perlombaan masuk dalam kategori qimar, yaitu perjudian atau pertaruhan?

Dalam fikih, yang diperhatikan bukan sekadar nama kegiatannya sebagai "lomba", tetapi juga dari mana hadiah berasal, siapa yang mengeluarkannya, serta bagaimana harta berpindah di antara para peserta.

Pembahasan mengenai hal ini dapat ditemukan dalam Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, khususnya dalam uraian tentang pihak yang menyediakan hadiah dan kondisi yang menyebabkan sebuah perlombaan termasuk qimar.

1. Haram: Uang Peserta Dijadikan Hadiah yang Diperebutkan

Apabila setiap peserta diwajibkan membayar sejumlah uang, kemudian seluruh uang tersebut dikumpulkan dan dijadikan hadiah bagi pemenang, maka mekanisme tersebut mengandung unsur pertaruhan yang tidak dibenarkan.

Persoalannya bukan pada besar atau kecilnya nominal. Seribu rupiah atau seratus ribu rupiah tidak mengubah hakikat akad apabila uang tersebut memang ditempatkan sebagai taruhan.

Yang menjadi perhatian fikih adalah mekanisme perpindahan hartanya: peserta yang menang memperoleh harta peserta yang kalah.

2. Boleh: Uang Pendaftaran untuk Operasional Lomba

Berbeda halnya jika uang pendaftaran memang digunakan untuk kebutuhan penyelenggaraan lomba, bukan untuk hadiah.

Misalnya untuk: menyewa tenda, perlengkapan perlombaan, konsumsi, seragam peserta, honor juri, dokumentasi atau kebutuhan teknis lainnya.

Dalam kondisi seperti ini, uang peserta bukanlah taruhan. Adapun hadiah berasal dari sumber lain, seperti sponsor atau donatur. Maka ini diperbolehkan.

3. Boleh: Hadiah Berasal dari Pihak di Luar Peserta

Bentuk yang paling jelas adalah ketika hadiah disediakan oleh pihak yang bukan peserta perlombaan.

Misalnya pemerintah desa, pemerintah daerah, pengurus RT/RW, lembaga, perusahaan, donatur, atau sponsor menyediakan hadiah bagi para pemenang.

Dalam keadaan ini, peserta tidak sedang mempertaruhkan hartanya untuk memperoleh harta peserta lain. Hadiah memang telah disediakan oleh pihak lain sebagai penghargaan bagi pemenang.

Karena itu, jika ingin membuat lomba Agustusan yang sederhana sekaligus lebih aman dari sisi fikih, solusinya sebenarnya mudah:

Peserta berlomba, sementara hadiah disediakan oleh sponsor atau donatur.

Dengan demikian, peserta datang untuk berlomba, bukan untuk mempertaruhkan uang.

4. Boleh dengan Rincian: Salah Satu Peserta Menjadi Pemberi Hadiah

Bagaimana jika seseorang yang menyediakan hadiah ternyata juga ingin ikut berlomba?

Misalnya ia berkata:
"Hadiah lomba ini saya yang tanggung. Saya juga ingin ikut meramaikan perlombaan. Jika kalian yang menang, hadiah ini untuk kalian. Tetapi jika saya yang menang, kalian tidak perlu memberikan apa pun kepada saya."

Dalam pola seperti ini, mayoritas fuqaha membolehkan hadiah yang berasal dari salah satu peserta, selama peserta lainnya tidak diwajibkan mempertaruhkan hartanya dan pihak yang menyediakan hadiah tidak mengambil harta peserta lain ketika ia menang.

Jadi, seseorang menjadi sponsor sekaligus peserta tidak otomatis menjadikan perlombaan sebagai perjudian.

Yang menjadi persoalan adalah ketika seluruh peserta diwajibkan mengeluarkan harta, kemudian harta tersebut menjadi objek pertaruhan di antara mereka.

5. Haram: Dua Peserta Sama-Sama Mempertaruhkan Harta

Misalnya dua orang berkata:
"Kalau kamu menang, uang saya menjadi milikmu. Kalau saya menang, uangmu menjadi milik saya."

Keduanya sama-sama mengeluarkan harta dan berada dalam posisi menang atau kalah. Jika menang, seseorang memperoleh harta pihak lain. Jika kalah, ia kehilangan hartanya.

Inilah bentuk yang jelas mengandung unsur qimar, yaitu pertaruhan atau perjudian.

Karena itu, lomba burung, pertandingan olahraga, lomba Agustusan, maupun bentuk perlombaan lainnya tidak menjadi halal hanya karena disebut “lomba”.

Yang dilihat adalah mekanismenya: apakah terdapat pertaruhan harta di antara para peserta atau tidak.

6. Boleh dengan Rincian: Konsep Muhallil

Dalam pembahasan fikih juga terdapat konsep المُحَلِّلُ (al-muhallil).

Gambaran sederhananya: ada dua peserta yang sama-sama menyediakan harta sebagai hadiah, kemudian terdapat peserta ketiga yang ikut berlomba tanpa mengeluarkan harta.

Peserta ketiga tersebut harus benar-benar memiliki kemungkinan untuk menang. Jika ia menang, ia memperoleh hadiah yang disediakan. Namun jika salah satu dari dua peserta pertama yang menang, tidak terjadi perpindahan harta peserta lainnya kepadanya sebagai taruhan.

Dalam sebuah riwayat disebutkan:

مَنْ أَدْخَلَ فَرَسًا بَيْنَ فَرَسَيْنِ وَهُوَ لَا يُأْمَنُ أَنْ يَسْبِقَ فَلَيْسَ بِقِمَارٍ، وَمَنْ أَدْخَلَ فَرَسًا بَيْنَ فَرَسَيْنِ وَقَدْ أُمِنَ أَنْ يَسْبِقَ فَهُوَ قِمَارٌ

"Siapa yang mengikutsertakan seekor kuda di antara dua kuda yang berlomba, sementara ia (pemilik kuda) tidak berniat ikut lomba, maka itu bukan perjudian. Namun siapa mengikutsertakan seekor kuda di antara dua kuda yang berlomba sementara ia berniat ikut lomba, maka itu adalah perjudian."
(HR. Imam Abu Dawud)

Rasulullah ﷺ Mengenal dan Membolehkan Perlombaan

Islam pada dasarnya tidak mengharamkan aktivitas perlombaan.

Dalam sejarah Nabi ﷺ terdapat kisah tentang Rukanah bin Abdu Yazid, seorang Quraisy yang dikenal memiliki kekuatan fisik dan kemampuan bergulat.

Rukanah pernah bergulat dengan Rasulullah ﷺ dan Rasulullah ﷺ berhasil menjatuhkannya.

Dalam riwayat Imam Abu Dawud disebutkan:

أَنَّ رُكَانَةَ صَارَعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَرَعَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

"Sesungguhnya Rukanah bergulat dengan Nabi ﷺ, lalu Nabi ﷺ menjatuhkannya."

Riwayat tersebut menjadi salah satu dasar pembahasan para fuqaha mengenai kebolehan perlombaan dan pertandingan selama berada dalam batas-batas yang dibenarkan syariat.

Dengan demikian, yang dilarang bukan perlombaannya, bukan kegembiraannya, dan bukan hadiah sebagai bentuk penghargaan. Yang harus dihindari adalah unsur pertaruhannya.

Kesimp**an: Yang Dilarang Bukan Kegembiraannya, tetapi Pertaruhannya

Jika ingin membuat lomba Agustusan yang aman dari sisi fikih, formatnya sebenarnya sederhana:

Peserta berlomba. Hadiah disediakan oleh sponsor atau donatur. Peserta tidak mempertaruhkan hartanya.

Jika panitia membutuhkan biaya pendaftaran, hendaknya dijelaskan secara transparan bahwa biaya tersebut digunakan untuk operasional, seperti tenda, sound system, perlengkapan lomba, konsumsi, seragam, juri, dokumentasi, atau fasilitas lainnya.

Sedangkan hadiah berasal dari sumber yang terpisah.

Dengan model seperti ini, kita tidak perlu menjadikan uang peserta sebagai hadiah. Tidak perlu membuat peserta yang kalah kehilangan hartanya. Dan tidak perlu mengubah kegembiraan sebuah perlombaan menjadi persoalan pertaruhan.

Fikih tidak datang untuk mematikan kegembiraan manusia.

Islam tidak melarang seseorang bermain, berolahraga, berlomba, tertawa, dan membuat perayaan menjadi meriah.

Yang dijaga oleh syariat adalah agar kegembiraan tersebut tidak dibangun di atas mekanisme qimar atau pengambilan harta dengan cara yang tidak dibenarkan.

Maka dapat diringkas:

Jika uang peserta dikumpulkan lalu dijadikan hadiah yang diperebutkan, hukumnya haram karena mengandung unsur qimar.

Jika uang pendaftaran hanya digunakan untuk fasilitas dan operasional lomba, sementara hadiah berasal dari sponsor atau donatur, hukumnya boleh.

Jika salah satu peserta secara sukarela menjadi pemberi hadiah dan peserta lain tidak diwajibkan mempertaruhkan hartanya, mayoritas fuqaha membolehkannya dengan rincian yang telah dijelaskan.

Adapun konsep muhallil, memiliki syarat dan perincian fikih tersendiri sehingga tidak boleh digunakan sekadar sebagai rekayasa untuk menghalalkan taruhan.

Maka, kemeriahan Agustusan tidak perlu kehilangan kegembiraannya hanya karena kita ingin menjaga syariat.

Justru di situlah keindahannya: Kita tetap dapat berlomba, tetap dapat tertawa, tetap dapat memberikan hadiah, tetapi tanpa menjadikan harta sebagai taruhan.

Sebab kemenangan yang baik bukan hanya kemenangan yang membawa p**ang hadiah, melainkan kemenangan yang tidak meninggalkan persoalan di hadapan Allah سبحانه وتعالى.

Meriahkan perlombaannya. Bersihkan mekanismenya. Halalkan sumber hadiahnya. Dan hadirkan kegembiraan yang tetap berada dalam koridor syariah.

وَاللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Tim Katib Ahbaburrosul
Penulis: El-rahma

Sumber Penulisan:
https://www.youtube.com/live/scwrNTsBksY?si=d32rcL3ZMgC_h4TU

MENYINGKAP FADHILAH ZIKIR: MENAPAKI JALAN HATI MENUJU ALLAHOleh: Sayyid Seif AlwiDi tengah hiruk-pikuk kehidupan, manusi...
27/07/2026

MENYINGKAP FADHILAH ZIKIR: MENAPAKI JALAN HATI MENUJU ALLAH
Oleh: Sayyid Seif Alwi

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, manusia berlomba mencari ketenangan, keberkahan, dan kebahagiaan. Namun, tidak semua menyadari bahwa Allah telah mengajarkan satu amalan yang mampu menghidupkan hati, menenangkan jiwa, melapangkan rezeki, dan menerangi kehidupan seorang hamba, yaitu zikir kepada-Nya.

Zikir bukan sekadar untaian kalimat yang diucapkan oleh lisan, tetapi jalan p**ang bagi hati menuju Allah. Semakin seorang hamba mengenal dan mengingat-Nya, semakin Allah limpahkan cahaya, rahmat, dan ketenangan dalam kehidupannya.

Berikut sebagian fadhilah zikir yang Allah anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya yang istiqamah mengingat-Nya:

1. Mengusir dan Melemahkan Godaan Setan

Zikir merupakan benteng seorang mukmin dari godaan setan. Orang yang lalai dari mengingat Allah akan lebih mudah dikuasai oleh hawa nafsu dan bisikan setan. Allah Ta'ala berfirman:

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ

"Barang siapa berpaling dari peringatan Allah Yang Maha Pengasih, Kami jadikan baginya setan yang menjadi teman karibnya." (QS. Az-Zukhruf: 36)

2. Mendatangkan Keridhaan Allah

Zikir merupakan amalan yang sangat dicintai Allah Ta'ala dan menjadi sebab turunnya keridhaan-Nya kepada seorang hamba.

3. Menghilangkan Kekhawatiran Masa Depan dan Kesedihan Yang Dihadapi

Orang yang senantiasa berzikir akan lebih optimis dalam menghadapi kehidupan, karena ia meyakini bahwa seluruh urusannya berada dalam pengaturan Allah Yang Maha Bijaksana.

4. Membawa Kebahagiaan dan Kelapangan Hati

Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya. Yang sering kali bermasalah adalah manusia yang kurang yakin terhadap janji Allah. Hati yang hidup bersama zikrullah akan lebih mudah menerima takdir Allah dengan penuh keridhaan dan kelapangan.

Allah Taala berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

"Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."
(QS. Ar-Ra'd: 28)

Ketenteraman hati adalah nikmat yang tidak dapat dibeli dengan kekayaan dunia.

5. Menguatkan Jiwa dan Raga

Zikir menguatkan hati dalam menghadapi ujian dan menghidupkan semangat dalam beribadah. Ruh yang kuat akan melahirkan keteguhan jiwa dan keberkahan dalam kehidupan.

6. Menjadikan Wajah dan Hati Bercahaya

Allah Ta'ala berfirman:

سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ

"...Tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud." (QS. Al-Fath: 29).

Yang dimaksud bukanlah semata-mata tanda hitam pada dahi, melainkan cahaya ketakwaan, keteduhan, dan kekhusyukan yang Allah tampakkan pada wajah orang-orang yang taat kepada-Nya.

Dalam sebuah hadis sahih dari sahabat Abdullah bin Abbas ra. dimana Rasulullah ﷺ mengajarkan doa yang agung agar seluruh kehidupan kita dipenuhi dengan cahaya petunjuk Allah:

اَللَٰهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا، وَفِي لِسَانِي نُورًا، وَفِي بَصَرِي نُورًا، وَفِي سَمْعِي نُورًا، وَعَنْ يَمِينِي نُورًا، وَعَنْ يَسَارِي نُورًا، وَمِنْ فَوْقِي نُورًا، وَمِنْ تَحْتِي نُورًا، وَمِنْ أَمَامِي نُورًا، وَمِنْ خَلْفِي نُورًا، وَاجْعَلْ فِي نَفْسِي نُورًا، وَأَعْظِمْ لِي نُورًا

"Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku, cahaya di lisanku, cahaya penglihatanku, cahaya di pendengaranku, cahaya di sebelah kananku, cahaya di sebelah kiriku, cahaya di atasku, cahaya di bawahku, cahaya di depanku, dan cahaya di belakangku. Jadikanlah cahaya di dalam jiwaku dan agungkanlah (perbesarlah) cahaya tersebut untukku."
(HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Apabila hati telah bercahaya karena zikrullah, maka lisannya akan membawa kebaikan, pandangannya dijaga dari yang diharamkan, pendengarannya dipenuhi hikmah, dan seluruh langkahnya akan dituntun menuju keridhaan-Nya.

7. Menjadi Sebab Datangnya Rezeki

Dosa dapat menjadi penghalang datangnya rezeki, sedangkan zikir dan ketaatan merupakan sebab dibukakannya pintu-pintu keberkahan.

Karena itu, jangan pernah mengira waktu yang digunakan untuk berzikir akan mengurangi rezeki kita. Justru boleh jadi Allah membukakan pintu-pintu rezeki yang selama ini tertutup melalui zikir dan taubat yang kita jaga.

8. Menjadikan Pemiliknya Berwibawa

Ada kewibawaan yang tidak dapat dibeli dengan jabatan dan pujian manusia. Ia adalah cahaya rahmat Allah yang Allah anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya yang istiqamah dalam zikir dan ketaatan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَوْلِيَاءُ اللّٰهِ إِذَا رُؤُوا ذُكِرَ اللّٰهُ

"Para Wali Allah adalah orang yang apabila dipandang akan mengingatkan kepada Allah." (HR. Ibnu Majah).

Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ menjawab pertanyaan sahabat tentang siapakah teman duduk terbaik, yakni:

مَنْ ذَكَّرَكُمُ اللّٰهَ رُؤْيَتُهُ، وَزَادَ فِي عِلْمِكُمْ مَنْطِقُهُ، وَذَكَّرَكُمُ الْآخِرَةَ عَمَلُهُ

"Orang yang ketika kalian memandangnya mengingatkan kalian kepada Allah, ucapannya menambah ilmu kalian, dan amal perbuatannya mengingatkan kalian kepada akhirat."
(HR. Ath-Thabrani).

9. Zikir Menumbuhkan Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya

Tidak mungkin seseorang mengaku mencintai Allah, sementara lisannya jarang menyebut nama-Nya. Zikir menumbuhkan mahabbah, sedangkan shalawat menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ.

أَوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً

"Manusia yang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku."
(HR. Imam Tirmidzi)

Dengan cinta, ibadah yang berat pun akan terasa ringan.

10. Zikir Melahirkan Muraqabah dan Mengantarkan kepada Maqam Ihsan

Zikir yang dilakukan secara istiqamah akan melahirkan muraqabah, yaitu perasaan senantiasa diawasi oleh Allah. Hati menjadi lebih peka, malu berbuat maksiat, dan lebih berhati-hati dalam ucapan serta perbuatan. Sebab, orang yang selalu mengingat Allah akan merasa bahwa Allah selalu bersamanya dalam setiap keadaan.

Dari muraqabah inilah seseorang dapat melangkah menuju maqam ihsan, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

أَنْ تَعْبُدَ اللّٰهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

"Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu." (HR. Imam Muslim)

Orang yang lalai dari zikir akan sulit sampai kepada maqam ihsan. Sebab, bagaimana mungkin seseorang merasa dekat dengan Allah jika ia jarang mengingat-Nya?

Penutup

Pada akhirnya, zikir bukan sekadar rangkaian kalimat yang diulang oleh lisan, melainkan perjalanan p**ang seorang hamba menuju Rabb-nya. Ia menerangi hati, melapangkan rezeki, menumbuhkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, menghadirkan muraqabah, hingga mengantarkan seorang hamba mengetuk pintu ihsan. Semakin banyak seorang hamba mengingat Allah, semakin ia menyadari bahwa seluruh pencariannya di dunia ini bermuara pada satu hal: ridha Allah Ta'ala.

Karena itu, jangan pernah meremehkan zikir meskipun sedikit. Yang dicari Allah bukanlah banyaknya amalan yang sesaat, tetapi amalan yang terus hidup dalam keseharian kita. Rasulullah ﷺ bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللّٰهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

"Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus, meskipun sedikit.”
(HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Maka, istiqamahlah. Basahilah lisan dengan zikir, hidupkan hati dengan shalawat, dan teruslah berjalan meski perlahan. Sebab, boleh jadi kelak yang mengantarkan kita kepada rahmat dan perjumpaan dengan Allah bukanlah amalan kita yang terbesar, tetapi zikir-zikir kecil yang tidak pernah kita tinggalkan.

"Ya Allah, jika kami belum pantas menjadi kekasih-Mu, maka jangan halangi kami untuk mencintai-Mu. Jadikanlah lisan kami senantiasa basah dengan zikir, hati kami dipenuhi cahaya-Mu, dan wafatkan kami dalam keadaan mencintai-Mu dan dicintai oleh-Mu. Aamiin. Wallohu a'lam.

KATIB AHBABURROSUL
Kamis Malam, 09, 16 & 23 Juli 2026
Teks & Grafis: Ellya Rahmawati
Referensi Penulisan:
https://www.youtube.com/live/8TyRROlVw9k?si=Y7dnzs046O_c9T7h

MEMBACA ISYARAT AKHIR ZAMAN: MENJAGA CAHAYA PEWARIS NABI DI TENGAH BERGESERNYA OTORITAS KEILMUANOleh: Sayyid Seif AlwiDi...
22/07/2026

MEMBACA ISYARAT AKHIR ZAMAN: MENJAGA CAHAYA PEWARIS NABI DI TENGAH BERGESERNYA OTORITAS KEILMUAN
Oleh: Sayyid Seif Alwi

Di akhir zaman, yang paling kita khawatirkan bukanlah sedikitnya orang yang berbicara tentang agama, tetapi sedikitnya orang yang layak dijadikan rujukan dalam agama. Sebab ketika para pewaris Nabi (ulama) tak lagi menjadi tempat bertanya, di situlah fitnah ilmu perlahan bermula.

Kita hidup pada zaman ketika ilmu agama dapat diakses hanya dalam hitungan detik. Namun, kemudahan mendapatkan informasi ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman pemahaman. Pop**aritas sering kali lebih didengar daripada kedalaman ilmu, dan banyaknya pengikut acap kali dianggap lebih utama daripada keberkahan sanad keilmuan.

Rasulullah ﷺ telah mengingatkan umatnya bahwa salah satu isyarat akhir zaman adalah diangkatnya ilmu dan merebaknya kebodohan. Maka menjaga kemuliaan para ulama dan fuqaha bukan sekadar persoalan adab, melainkan bagian dari menjaga agama itu sendiri agar tetap diwariskan secara utuh kepada generasi-generasi setelah kita.

Diangkatnya Ilmu dan Pudarnya Otoritas Ulama

Rasulullah ﷺ bersabda:

سَيَأْتِي زَمَانٌ عَلَى أُمَّتِي يَفِرُّونَ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَالْفُقَهَاءِ، فَيَبْتَلِيهِمُ اللّٰهُ بِثَلَاثِ بَلِيَّاتٍ: يَرْفَعُ اللّٰهُ الْبَرَكَةَ مِنْ كَسْبِهِمْ، وَيُسَلِّطُ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ سُلْطَانًا ظَالِمًا، وَيَخْرُجُونَ مِنَ الدُّنْيَا بِغَيْرِ إِيمَانٍ

"Akan datang suatu zaman pada umatku, mereka menjauh dan berpaling dari para ulama dan fuqaha. Maka Allah akan menimpakan kepada mereka tiga musibah: Allah mencabut keberkahan dari usaha mereka, Allah menguasakan atas mereka para pemimpin yang zalim, dan mereka keluar (wafat) dari dunia tanpa membawa iman."

Makna riwayat ini selaras dengan hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari tentang diangkatnya ilmu dengan wafatnya para ulama.

إِنَّ اللّٰهَ لَا يَنْتَزِعُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَٰكِنَّ اللّٰهَ يَنْتَزِعُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّىٰ إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

"Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari manusia begitu saja. Akan tetapi, Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama. Hingga apabila tidak tersisa seorang alim pun, manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Tatkala mereka ditanya lalu berfatwa tanpa ilmu, maka mereka menjadi sesat dan menyesatkan orang lain "

Kedua hadis di atas menegaskan bahwa sanad keilmuan yang tersambung kepada Rasulullah SAW adalah validitas mutlak agama. Tanpa rujukan kepada para ulama yang mumpuni, agama mudah direduksi menjadi sekadar opini liar.

Ulama: Penjaga Sanad dan Pewaris Para Nabi

Ulama dan fuqaha bukan sekadar orang yang banyak ilmunya, tetapi mereka adalah pewaris risalah kenabian yang menjaga sanad keilmuan Islam dari generasi ke generasi. Sanad bukan hanya rangkaian nama para guru, melainkan validitas agama yang diwariskan dengan ilmu, amal, dan adab.

Allah Ta'ala berfirman:

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

"Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat."
(QS. Al-Mujadalah: 11)

Sahabat Abdullah bin Abbas ra. menafsirkan ayat ini berkata:

دَرَجَاتُ الْعُلَمَاءِ فَوْقَ الْمُؤْمِنِينَ بِسَبْعِمِائَةِ دَرَجَةٍ، مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ خَمْسُمِائَةِ عَامٍ

"Kedudukan para ulama berada di atas orang-orang mukmin dengan selisih tujuh ratus tingkatan, dan jarak antara satu tingkatan dengan tingkatan lainnya sejauh perjalanan lima ratus tahun."

Gambaran ini menunjukkan betapa tinggi kemuliaan orang-orang yang menggabungkan ilmu, amal, dan adab dalam kehidupannya.

Hāfizhul Qur'ān dan Hāmilul Qur'ān

Pada zaman ini, kita patut bergembira dengan semakin banyaknya para penghafal Al-Qur'an. Namun, jangan sampai kegembiraan itu membuat umat melupakan pentingnya melahirkan para ulama dan fuqaha. Islam tidak mempertentangkan keduanya, tetapi memuliakan keduanya sesuai dengan kedudukannya masing-masing.

Hāfizhul Qur'an (حَافِظُ الْقُرْآنِ) adalah mereka yang menjaga hafalan Al-Qur'an, sedangkan Hāmilul Qur'ān (حَامِلُ الْقُرْآنِ) adalah mereka yang memahami, mengamalkan, serta membawa cahaya Al-Qur'an dalam seluruh kehidupannya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ أَكْرَمَ الْعِبَادِ إِلَى اللّٰهِ بَعْدَ الْأَنْبِيَاءِ الْعُلَمَاءُ ثُمَّ حَمَلَةُ الْقُرْآنِ

"Sesungguhnya hamba Allah yang paling mulia setelah para nabi adalah para ulama, kemudian di bawahnya adalah Hāmilul Qur'ān (para penghafal Al-Qur'an yang memahami dengan benar dan mengamalkannya)."

Maka janganlah kita hanya bercita-cita menjadi penghafal Al-Qur'an, tetapi berdoalah agar Allah menjadikan kita pembawa Al-Qur'an; yang hidup dengan ilmu, amal, adab, dan akhlaknya.

Melahirkan Ulama Tidak Dilahirkan dalam Semalam

Menghafal atau mencetak seorang hafidzul Qur'an dapat ditempuh dalam hitungan bulan. Namun, mencetak dan melahirkan seorang ulama dan fuqaha merupakan perjalanan yang jauh lebih panjang dengan waktu yang lama. Ia lahir dari ketekunan menuntut ilmu, menjaga sanad, berkhidmah kepada para guru, mengamalkan ilmunya, dan mewariskannya kepada umat.

Jadi, mencetak seorang alim itu tidak mudah dibandingkan hanya mencetak seorang yang hafal al-Qur'an.

Kealiman tidak ditunjukkan oleh pop**aritas, banyaknya pengikut, ataupun selembar ijazah semata. Kealiman diuji oleh kedalaman ilmu, keluasan pemahaman, ketawadhuan, dan pengakuan para ahli ilmu terhadapnya.

Karena itu, jangan pernah menyepelekan para ulama dan fuqaha. Sebab yang sedang kita muliakan bukanlah pribadi mereka semata, melainkan warisan kenabian yang Allah titipkan kepada mereka.

Tiga Pilar Cinta dalam Mendidik Generasi

Lebih mudah membuat pintar orang yang benar dibandingkan membenahi orang pintar yang kehilangan arah. Karena itu, tugas terbesar kita bukan hanya melahirkan generasi yang cerdas, tetapi juga generasi yang mencintai agamanya.

Tiga pilar yang harus ditanamkan kepada generasi kita, sebagaimana anjuran Rasulullah ﷺ:

أَدِّبُوا أَوْلَادَكُمْ عَلَى ثَلَاثِ خِصَالٍ: حُبِّ نَبِيِّكُمْ، وَحُبِّ أَهْلِ بَيْتِهِ، وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ

"Didiklah anak-anak kalian dengan tiga perkara: mencintai Nabi kalian, mencintai Ahlul Baitnya, dan membaca (mempelajari) Al-Qur'an."

1. Mencintai Rasulullah ﷺ dengan meneladani sunnah dan akhlaknya.
2. Mencintai Ahlul Bait Rasulullah ﷺ sebagai bentuk penghormatan terhadap risalah yang beliau wariskan.
3. Mencintai Al-Qur'an dengan membaca, mempelajari, memahami, serta mengamalkannya dalam kehidupan.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

إِنَّ اللّٰهَ يَرْفَعُ بِهٰذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

"Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan Kitab ini (Al-Qur'an), dan Dia juga merendahkan kaum yang lain dengannya."
(HR. Imam Muslim)

Allah akan memuliakan mereka yang mendekat kepada Al-Qur'an dan mengamalkannya, serta merendahkan mereka yang berpaling dari petunjuk-Nya.

Penutup

Di tengah isyarat akhir zaman yang mulai memperlihatkan memudarnya otoritas keilmuan, jangan sampai kita hanya mewariskan dunia kepada anak-anak kita. Wariskan p**a ilmu, adab, dan kecintaan kepada Allah, Rasul-Nya, Al-Qur'an, serta para pewaris Nabi. Sebab, investasi terindah bukanlah anak yang sekadar pintar atau banyak hafalannya, tetapi anak yang saleh, alim, dan faqih dalam agamanya.

Menghafal Al-Qur'an adalah kemuliaan, namun bertafaqquh fiddin adalah kewajiban. Jadikan anak-anak kita bukan hanya penghafal Al-Qur'an, tetapi juga pencinta ilmu yang rendah hati, memuliakan para ulama, dan menjadikan agama sebagai cahaya dalam setiap langkah hidupnya.

Kelak, ketika kita telah berada di alam kubur, bukan harta yang akan menemani kita, melainkan doa yang tak pernah putus dari anak-anak yang saleh. Itulah investasi terindah di akhir zaman: melahirkan generasi yang bukan hanya berhasil di dunia, tetapi juga menjadi cahaya yang mengantarkan kedua orang tuanya menuju kemuliaan di akhirat.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa mencintai ilmu, memuliakan para ulama, istiqamah menghadiri majelis-majelis ilmu, dan diwafatkan dalam naungan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ, keluarga beliau, serta Al-Qur'an yang mulia. Aamiin. Wallohu a'lam bishshowab.

KATIB AHBABURROSUL
Selasa, 07 Juli 2026
Penulis: Susi Ilmiyatin
Editor & Ilustrator: Ellya Rahmawati

Referensi Penulisan: https://www.youtube.com/live/bCAF60pWjhM?si=6d4VI9GhryXl4a4f

Referensi Penulisan:https://www.youtube.com/live/9O2XRfTGD7A?si=jX5uH7LnBVEPact8INSAN HAKIKI: MEMBANGUNKAN BAYI MAKNAWI ...
16/07/2026

Referensi Penulisan:
https://www.youtube.com/live/9O2XRfTGD7A?si=jX5uH7LnBVEPact8

INSAN HAKIKI: MEMBANGUNKAN BAYI MAKNAWI DI DALAM HATI
Oleh: Sayyid Seif Alwi
_

Kebanyakan manusia menilai dirinya dari apa yang tampak secara lahiriah. Tubuh yang sehat, wajah yang rupawan, kedudukan, jabatan, maupun harta sering dijadikan ukuran kemuliaan. Padahal, seluruh kenikmatan dunia itu bersifat sementara dan akan ditinggalkan ketika ajal menjemput.

Sulthonul Awliya Syekh Abdul Qadir Al-Jilani qs. menjelaskan bahwa hakikat manusia bukanlah jasadnya, melainkan ruh yang Allah titipkan di dalam hati.

Beliau berkata, alam makrifat adalah alam lahut, yaitu negeri asal tempat diciptakannya ruh yang suci (Ruhul Qudus) dalam bentuk yang paling baik.

Yang dimaksud Ruhul Qudus ini bukanlah jasad manusia, melainkan الْإِنْسَانُ الْحَقِيقِي (al-insān al-haqīqī), yaitu diri sejati yang tersimpan di dalam lubuk hati. Jasad hanyalah wadah, sedangkan ruh adalah hakikat kehidupan yang kelak akan kembali menghadap Allah Ta'ala.

Jalan Membangunkan Insan Hakiki

Lalu, bagaimana insan hakiki itu dibangunkan?
Syekh Abdul Qadir Al-Jilani menjelaskan bahwa perjalanan tersebut dimulai dengan taubat, dilanjutkan dengan talqin, kemudian membiasakan lisan berdzikir, khususnya mengucapkan kalimat tauhid:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ

Pada tahap awal, dzikir dilakukan dengan lisan. Namun apabila dilakukan terus-menerus dengan penuh keikhlasan, dzikir akan meresap ke dalam hati hingga hati menjadi hidup.

Ketika hati telah hidup, dzikir tidak lagi sekadar menjadi ucapan bibir. Hati pun ikut mengingat Allah. Inilah yang oleh para ulama disebut lisan batin, yaitu keadaan ketika hati senantiasa berdzikir meskipun seseorang sedang bekerja, berbicara, atau bahkan ketika jasadnya tertidur.

Tiflul Ma'ani: Bayi Maknawi

Ketika hati mulai hidup oleh cahaya dzikir, lahirlah apa yang oleh para ulama tasawuf disebut طِفْلُ الْمَعَانِي (Tiflul Ma'ani), yaitu bayi maknawi.

Istilah ini tentu bukan menunjukkan adanya bayi secara fisik di dalam diri manusia, melainkan sebuah ungkapan majazi (kiasan) yang menggambarkan lahirnya ruhani yang mulai hidup menuju kesempurnaan.

Syekh Abdul Qadir Al-Jilani menjelaskan beberapa hikmah mengapa insan hakiki diibaratkan sebagai bayi.

Pertama, karena ia lahir dari hati sebagaimana bayi lahir dari rahim ibunya. Setelah lahir, ia memerlukan pemeliharaan agar terus tumbuh menuju kedewasaan ruhani.

Kedua, sebagaimana seorang anak memerlukan pendidikan agar berkembang, demikian p**a ruh membutuhkan ilmu, dzikir, ibadah, dan akhlak mulia agar semakin mengenal Allah.

Ketiga, bayi lahir dalam keadaan suci. Demikian p**a bayi maknawi lahir dari hati yang telah dibersihkan melalui taubat, dzikir, dan penyucian jiwa sehingga kembali kepada fitrahnya.

Keempat, ruh yang suci sering digambarkan sebagai anak kecil karena melambangkan kelembutan, kejernihan, dan kebersihan hati. Itulah sebabnya 'Bayi maknawi' sering kali hadir dalam mimpi sebagai sosok pemuda yang sangat tampan, bersih, dan bercahaya seperti malaikat.

Kelima, Allah Ta'ala mensifatkan para pemuda pemudi surga dengan sifat anak yang masih belia. Sebagaimana digambarkan dalam QS. Al-Waqi'ah: 17

يَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُخَلَّدُونَ

"Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda.”

Pada ayat lain Allah berfirman:

وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ غِلْمَانٌ لَّهُمْ كَأَنَّهُمْ لُؤْلُؤٌ مَكْنُونٌ

"Dan berkeliling melayani mereka anak-anak muda, seakan-akan mereka adalah mutiara yang tersimpan."
(QS. At-Thur: 24)

Keenam, bayi melambangkan kelembutan dan bersih. Maka hati yang hidup akan memancarkan akhlak yang lembut, dan kebersihan jiwa.

Ketujuh, penyebutan 'Bayi Maknawi' merupakan ungkapan majazi, bukan menunjukkan bentuk ruh secara hakiki. Yang ingin ditonjolkan adalah keindahan, kesucian, dan pertumbuhan ruh menuju kesempurnaan. Sebutan ini juga mengingatkan bahwa insan hakiki memiliki hubungan dengan alam asalnya, yaitu alam lahut, sedangkan jasad hanyalah kendaraan sementara selama hidup di dunia.

Kemuliaan Rasulullah ﷺ di Alam Lahut dan Kenikmatan Tertinggi bagi Ahli Surga

Rasulullah ﷺ memperoleh kedudukan yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. Beliau mencapai maqam kedekatan kepada Allah yang tidak sanggup dicapai bahkan oleh Malaikat Jibril 'alaihis salam. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah ﷺ berkata:

لِي مَعَ اللّٰهِ وَقْتٌ لَا يَسَعُ فِيهِ مَلَكٌ مُقَرَّبٌ وَلَا نَبِيٌّ مُرْسَلٌ

"Aku memiliki waktu khusus bersama Allah, yang di dalamnya tidak ada kesempatan bagi malaikat yang dekat kepada Allah maupun nabi yang diutus."

Yang dimaksud dengan 'nabi yang diutus' adalah sisi kemanusiaan Nabi Muhammad ﷺ, sementara yang dimaksud malaikat terdekat adalah sisi spritual beliau yang diciptakan dari nur jabarut.

Peristiwa Isra Mi'raj menjadi bukti kemuliaan tersebut. Ketika Rasulullah ﷺ sampai di Sidratul Muntaha, Malaikat Jibril tidak lagi melanjutkan perjalanan. Dalam berbagai kitab sirah disebutkan bahwa Jibril as. berkata:

لَوْ دَنَوْتُ أُنْمُلَةً لَاحْتَرَقْتُ

"Seandainya aku mendekat hanya sejengkal jari saja, niscaya aku akan terbakar."

Ungkapan ini menunjukkan bahwa setiap makhluk memiliki batas maqam yang Allah tetapkan baginya. Adapun Rasulullah ﷺ memperoleh anugerah khusus untuk melanjutkan perjalanan menuju maqam yang tidak dicapai oleh makhluk lainnya.

Karena itu, siapa pun yang ingin dekat kepada Allah hendaknya mengikuti jejak Rasulullah ﷺ dalam akidah, ibadah, akhlak, dan adab. Tidak ada jalan menuju Allah yang lebih selamat selain jalan yang telah ditempuh oleh Baginda Nabi Muhammad ﷺ.

Kenikmatan Tertinggi bagi Ahli Surga

Ketika mendengar kata 'surga', kebanyakan manusia membayangkan istana yang megah, sungai-sungai yang mengalir, buah-buahan yang lezat, bidadari, madu, dan susu. Semua itu memang merupakan kenikmatan yang Allah janjikan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.

Namun, para ulama tasawuf menjelaskan bahwa seluruh kenikmatan tersebut masih berada di bawah satu kenikmatan yang paling agung, yaitu ru'yatullah, anugerah memandang Allah Ta'ala.

Dalam kitab Sirrul Asrar disebutkan sebuah riwayat:

إِنَّ لِلّٰهِ جَنَّةً لَا فِيهَا حُورٌ وَلَا قُصُورٌ وَلَا عَسَلٌ وَلَا لَبَنٌ، بَلْ اَنْ يَنْظُرَ إِلَى وَجْهِ اللّٰهِ تَعَالَى

"Sesungguhnya Allah memiliki suatu surga yang di dalamnya tidak terdapat bidadari, istana, madu maupun susu. Yang ada hanya diperkenankan bagi penghuninya kemampuan bisa melihat Allah dengan kasat mata."

Allah Ta'ala berfirman QS. Al-Qiyamah ayat 22–23:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ ۝ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

"Pada hari itu banyak wajah yang berseri-seri, memandang kepada Tuhannya."

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ الْقَمَرَ لَيْلَةَ الْبَدْرِ

"Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian sebagaimana kalian melihat bulan pada malam purnama."
(HR. Imam Al-Bukhari)

Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini bahwa orang-orang beriman akan memperoleh kemuliaan melihat Allah di akhirat sesuai dengan kehendak-Nya, tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk dan tanpa membahas bagaimana hakikatnya. Allah Maha Suci dari arah, tempat, dan sifat-sifat makhluk.

Dalam kitab ini juga dinukil sebuah riwayat yang menggambarkan keagungan Allah Ta'ala:

لَوْ كَشَفْتُ سُبُحَاتِ وَجْهِ جَلَالِي لَأَحْرَقْتُ كُلَّ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرِي

"Seandainya Aku menyingkap cahaya-cahaya keagungan Wajah-Ku, niscaya akan terbakar segala sesuatu yang dijangkau oleh penglihatan-Ku."

Menjadi Insan Hakiki

Seluruh perjalanan tasawuf bermuara pada satu tujuan, yaitu menghidupkan kembali insan hakiki yang Allah titipkan di dalam hati.

Hati yang hidup akan dipenuhi dzikir. Dzikir melahirkan ketenangan. Ketenangan melahirkan akhlak yang mulia, yang akan mengantarkan seorang hamba kepada makrifat dan kedekatan dengan Allah.

Karena itu, jangan hanya sibuk memperindah jasad, tetapi lalai merawat ruh. Jangan hanya memberi makan tubuh, sementara hati dibiarkan lapar oleh sedikitnya dzikir dan jauhnya dari ilmu.

Rawatlah Tiflul Ma'ani dengan taubat yang tulus, dzikir yang istiqamah, tilawah Al-Qur'an, majelis ilmu, mencintai para ulama, berbakti kepada kedua orang tua, dan meneladani Rasulullah ﷺ. Itulah bekal terbaik untuk kembali menuju negeri asal ruh, yaitu keridhaan Allah Ta'ala.

Penutup

Perjalanan menuju Allah adalah perjalanan hati. Semakin bersih hati seorang hamba, semakin hidup insan hakiki di dalam dirinya, maka akan semakin kuat p**a cahaya makrifat yang menerangi seluruh kehidupannya.

Namun, perjalanan tersebut memerlukan adab, bimbingan guru mursyid yang alim, saleh, dan memiliki sanad keilmuan yang bersambung, agar setiap hakikat dipahami secara benar serta terhindar dari kekeliruan dalam menempuh jalan menuju Allah Ta'ala.

Semoga Allah menghidupkan hati kita dengan cahaya dzikir, menumbuhkan Tiflul Ma'ani dalam jiwa kita, serta membimbing langkah kita melalui para ulama dan mursyid yang rabbani hingga istiqamah mengikuti Rasulullah ﷺ, dan semoga pada akhirnya Allah menganugerahkan kepada kita keridhaan-Nya dan nikmat tertinggi bagi para penghuni surga, yaitu anugerah memandang-Nya. Aamiin. Wallohu a'lam bishshowab.

Katib Ahbaburrosul
Malam Jumat, 02 Juli 2026
Teks & Grafis: Elghe

Address

Karawang

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Srikandi Ahbaburrosul posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share